OUR NETWORK

Pelajaran dari Permainan

Sungguh menjadi contoh bagus dari sikap demokrasi, City memang memenangkan kejuaraan karena memilikin point paling tinggi, tetapi Liverpool juga “menang” dalam persaingan karena memiliki daya juang dan sikap positif, sportif.

Englis Premier League (EPL) telah menuntaskan pekan terakhirnya dan telah memutuskan  Manchester City sebagai juaranya dengan sangat elegan. Sebab, tak ada protes dan kritik atas kemenangan itu. Semata-mata hanya pengakuan dan rasa kagum, serta hormat melihat capaian City di liga yang konon disebut paling kompetitif di dunia.

EPL tahun ini memang lebih menegangkan dan jauh lebih kuat tingkat persaingannya dibanding sejarah EPL sebelumnya. Persaingan City dan Liverpool dalam merebut juara EPL dan perjalanan keduanya dalam Liga Champions juga tak kalah dramatisnya sepanjang kompetisi berjalan.

Persaingan itu sampai pada pertandingan terakhir di EPL, ketika liga-liga lainnya telah menyelesaikan persaingan akibat kompetisi sudah diketahui siapa juaranya beberapa minggu sebelum liga berakhir.

EPL adalah pengecualian, persaingan dijalani sampai minggu terakhir, bahkan dengan kemenangan kedua tim yang bersaing dalam pertandingan terakhirnya. City menang 4-1 atas Brighton and Hove Albion dan Liverpool menang 2-0 atas Wolverhampton Wanderers. Maka mereka hanya berselisih satu point saja, City mengemas 98 point, Liverpool 97 point.

Pacuan dua kuda di EPL

City dan Liverpool nampaknya akan berbagi gelar pada kompetisi tahun ini. Yang satu menjuarai kompetisi dalam negeri yang diikuti oleh pesaing-pesaingnya dan penuh drama selama satu tahun, yang satu lagi akan menjadi juara di Eropa dengan mengalahkan lawan-lawan utamanya dari berbagai kompetisi di kawasan Eropa, Liga Champions.

Gelar itu menjadi kebanggaan bagi mereka. Atau bisa juga Hostpur yang akan meraih gelar Liga Champions itu, meski statistik di EPL menempatkan Liverpool unggul atas Hostpur. Tetapi misteri sepak bola selalu jauh lebih rumit dari permainan apapun dalam kehidupan.

City dan Liverpool memang sudah menjauh dari tim lainnya. Kualitas, kedalaman tim dan permainan serta pemain yang merata, mentalitas yang semakin teruji, serta faktor konsistensi permainan, daya juang, dan komitmen untuk menang yang membedakan dua klub teratas di EPL dengan klub di bawahnya.

Hal itu kemudian terkonfirmasi dengan selisih point yang sangat lebar antara juara dan peringkat kedua dengan peringkat ketiga sampai dengan keenam. Selisihnya mencapai 26 sampai dengan 32 point. Luar biasa banyaknya.

Kedua klub ini seolah hanya bersaing berdua dalam pacuan kuda di EPL, sementara 18 klub lainnya bergelut dalam papan klasemen yang berbeda. Statistik kedua tim menggambarkan hal itu dan itu yang membedakan dengan tim lainnya.

Masa depan tim lain

Kompetisi akan bergulir lagi pada bulan Agustus setelah jeda dan setiap klub akan berburu pemain baru untuk memperkuat daya saing mereka di EPL. Hostpur adalah tim yang paling sedikit perlu berbenah bersama Chelsea agar bisa bersaing pada kompetisi yang akan datang. Sementara MU dan Arsenal merupakan tim peringkat 6 besar yang perlu berbenah total.

Khusus bagi MU, pembenahan total tim dengan belanja pemain yang lebih tepat sasaran dan efisien perlu dilakukan. Karena tim ini paling rendah daya juang dan mentalitas untuk menang. Para pemainnya seperti tidak memiliki semangat untuk menang dan bintangnya selalu direcoki dengan isu transfer ke tim lain.

Jika tidak mengambil langkah langkah serius, EPL akan menjadi “sekedar” ajang perlombaan antara Manchester City dan Liverpool kembali. Sementara klub lainnya hanya akan “berkelahi” untuk memperebutkan peringkat 3, 4, 5, atau bahkan 6. Bagi klub dengan tradisi besar seperti MU, Arsenal dan Chelsea, itu sesutau yang memalukan dan melukai mereka.

Persaingan kedua tim itu sedemikian ketatnya beberapa tahun terakhir ini. Sehingga seolah melupakan tim lainnya pada kompetisi yang akan datang sekalipun. Walaupun sebenarnya bagi Hostpur, Chelsea, Arsenal, dan MU, masih ada ruang di kompetisi tahun depan. Meskipun tidak mudah bagi mereka. Karena kedua tim teratas tengah menjalani fase puncak dalam kematangan sebagai satu tim sepak bola.

Mereka memiliki kelemahan yang serius untuk bersaing tahun depan. Terutama konsistensi permainan, daya juang dan komitmen kuat untuk menang. Yang paling buruk diantara mereka adalah Manchester United. Tim ini sedang mengalami fase buruk dalam tujuh tahun terakhir dengan peluang untuk memenangkan kompetisi tahun depan nyaris mustahil.

Kita tunggu EPL berdenyut kembali pada kompetisi yang akan datang. Sambil melihat pasar pemain bergerak dan respon klub dalam membeli pemainnya. Sementara pelatih masih bisa bekerja dengan tenang, kecuali pada paruh pertama kompetisi nanti klub mereka terseok seok, maka pelatih akan merasakan pahitnya dipecat oleh klub dan pemiliknya.

Menang dan “menang” dalam permainan

Ada pelajaran penting dari permainan dan persaingan dalam permainan, antara City dan Liverpool. Sikap yang dipertontonkan oleh para pemain dan pelatih serta klub, juga para fansnya dalam persiangan itu betul-betul patut dicontoh.

Jiwa sportivitas dan kebesaran hati menerima hasil permainan dan kompetisi nampak dengan kuat dan sangat elegan. Mereka menerima dan saling memberi ucapan selamat. Nilai-nilai luhur dan positif yang bisa menular pada para pendukung klub, diperlihatkan dan dijalankan dengan sangat baik.

Sekali lagi, sungguh menjadi contoh bagus dari sikap demokrasi dan saling mengakui. City memang memenangkan kejuaraan karena memilikin point paling tinggi, tetapi Liverpool juga “menang” dalam persaingan karena memiliki daya juang dan sikap positif, sportif. Mereka juga masih memiliki harapan di Liga Champions.

Dengan demikian, menang dan “menang” sama terhormat dan elegan. Yang satu menang dengan predikat juara, yang satunya menang dengan predikat mental dan sikap juara. Itulah sejatinya para pemain yang bermain dalam permainan.

Mengembangkan sikap sportif dan positif atas jalannya kontestasi. Klub-klub kita di Indonesia dan masyarakat luas bisa mengambil pelajaran dari apa yang berlangsung di EPL. Kompetisi yang ketat hanya bisa dimenangkan dengan kerja keras dan kejujuran, serta komitmen dalam menerima dan menghargai hasil kompetisi. Tanpa itu kita akan memelihara harapan semu dan sikap sinis terhadap permainan dan lawan bermain kita dan akhirnya kehilangan harga diri dan rasa hormat dari lawan dan para fans.

Mari memenangkan permainan dan memenangkan tontonan dengan sikap elegan, agar generasi mencatat pemain dan permainan sebagai keindahan dari nalar kehidupan.

Dekan FKIP UHAMKA dan Intelektual Muhammadiyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…