OUR NETWORK

Pekerti Tuan Besar Besar dalam Puisi

Apakah politik begitu mudah menghapus trauma sosial atas kekerasan yang terjadi di Aceh semasa berstatus DOM di masa Orde Baru – yang mana Prabowo adalah salah operator penting dalam proses kekerasan itu? Sementara sebaliknya, Capres yang sosoknya dipuji dalam sebuah puisi justru meraih suara minus?
Sumber foto galeribukujakarta.com

Puisi memuji, politik mengingkari, ungkapan ini mungkin bisa dijadikan acuan untuk memahami hubungan antara puisi, masyarakat, dan politik di era aplikasi digital ini. Alih-alih tersambung dalam satu dinamika ideal yang saling mengisi, antara Puisi, Masyarakat, dan Politik malahan cenderung saling menjauhi.

Hal itu akan terlihat bila kita tertarik mengkaji fenomena mengejutkan pada hasil pemungutan suara Pilpres 2019 di provinsi Aceh, yang seorang penyairnya (L.K Ara) telah menulis puisi untuk Jokowi, Capres RI Pemilu 2019.

Puisi L.K Ara berjudul Bandara Rembele – Untuk Jokowi (2018),  ditulis sebagai ungkapan sanjungan dan rasa terimakasih seorang anggota masyarakat atas pembangunan di tanah kelahirannya.

Mulanya saya menduga, isi puisi itu juga pantulan dari rasa terimakasih yang terpendam dalam kebanyakan hati masyarakat Aceh – yang mungkin saja akan diwujudkan pada momentum politik – Pilpres 2019 dengan cara mendukung Jokowi yang menjadi sosok sasaran puisi itu.

Nyatanya, pilihan politik masyarakat Aceh sebagaimana tampak pada hasil quick count atas pemungutan suara 17 April 2019 lalu, rupanya telah mementahkan sangkaan semacam itu. Capres Prabowo Subianto meraih suara di atas 87% berdasarkan quick count sejumlah lembaga survei hingga satu hari setelah hari pemungutan suara 17 April.

Walaupun ada kemungkinan kemenangan itu efek dari melonjaknya suara partai-partai berbendera Islam di Aceh, tetap patut ditanyakan: apakah politik begitu mudah menghapus trauma sosial atas kekerasan yang terjadi di Aceh semasa berstatus DOM di masa Orde Baru – yang mana Prabowo adalah salah operator penting dalam proses kekerasan itu? Sementara sebaliknya, Capres yang sosoknya dipuji dalam sebuah puisi justru meraih suara minus?

Fokus bahasan tulisan ini cukup jelas, yakni ingin melihat seberapa jauh puisi telah ditinggalkan masyarakat dalam hubungan dengan cara masyarakat menentukan kriteria ideal seorang pemimpin politik. Kalau L.K Ara merespon pembangunan sebagai sesuatu yang bernilai bagi daerah kelahirannya, dalam kasus pilihan politik mayoritas warga Aceh, pembangunan dan pemimpin yang mewujudkan pembangunan itu justru tak mempunyai nilai apa-apa.

Akibatnya, puisi tentang pemimpin dan pembangunan pun bukanlah suatu yang bernilai untuk diapresiasi. Pertanyaannya kemudian, apa lagi yang layak menjadi tolok ukur apresiasi terhadap seorang pemimpin?

Hemat saya, pertanyaan semacam ini berlaku universal dalam seluruh masyarakat. Sebab masyarakat yang tidak memiliki tolok ukur untuk seorang pemimpin ideal, pada dasarnya menjebak diri pada dinamika yang penuh kekosongan. Layaknya wadah kosong, dinamika semacam itu rentan untuk dimanipulasi. Dan politik dalam dinamika yang termanipulasi tentu cenderung manipulatif pula. Yang beroperasi dengan trik dan intrik, hoax, dan ambisi kuasa belaka. Politik semacam itu kehilangan seninya.

Puisi L.K Ara barangkali diciptakan dengan kesadaran adanya kekosongan semacam itu. Ia mencoba mengisinya dengan mencermati segi-segi positif dari seorang pemimpin melalui bukti-bukti pembangunan di daerahnya.

Hasilnya, puisi Bandara Rembele – Untuk Jokowi  (hadir dalam bentuk puisi pujian. Suatu bentuk yang lazim dalam khazanah sastra kebudayaan kita. Tak kecuali dalam khazanah tradisi sastra Aceh. Hal itu dikarenakan Pemimpin merupakan subyek sakral, yang opini dan tanggapan mengenainya tidak dapat dilakukan dengan cara-cara profan. Untuk itu diperlukan apa yang kita sebut “apresiasi”.

Dalam kebudayaan, apresiasi terhadap pemimpin dihidupkan antara lain dengan menjaga sikap hormat dan penekanan pada budi pekerti. Seperti baris puisi Bandara Rembele berikut:

Orang-orang memandang ke tubuhnya yang dibalut opoh ulen-ulen/ kain adat Gayo./ Orang-orang juga memandang senyumnya yang tulus.

Pada masa dahulu kala, ketika para pujangga masih menulis puja untuk para penguasa, pujian L.K Ara tentu terlihat lumrah. Pertama, karena sajak pujian merupakan spirit mainstream yang menjadi salah satu akar dalam tradisi penulisan puisi kita.

Sajak-sajak puja itu telah menyumbang wawasan estetika bahasa, kode budaya, sekaligus menjadi tanda sejarah yang merekam pemandangan moral dari subjek-subjek yang disebut dalam puisi. Semakin besar seorang pemimpin dan semakin baik akhlaknya, semakin indah pula untaian puisi yang ditulis para pujangga untuknya.

Jika memperhatikan manuskrip sajak-sajak Melayu, kegemaran memakai semangat sajak puja itu, bahkan masih berlangsung hingga abad abad 19. Ini misalnya ditemukan dalam karya anonim berjudul Syair Peri Tuan Raffles Pergi Ke Minangkabau, yang ditulis di Bengkulu satu tahun sebelum Singapura berdiri.

Noriah Taslim, yang meneliti manuskrip itu menggolongkannya ke dalam genre Puisi Perjalanan. Namun demikian, tekhnik penulisannya jelas tergolong sajak puja, kalau dilihat dari mukadimah dan pujian pada tokoh di dalam syair itu: Inilah karangan suatu kisah /Mengatur nazam syair yang indah /Dari kerana berhati susah /Kepada Tuan Besar disandarkan madah (bait ke 2).

Isinya, menceritakan perjalanan ekspedisi Gubernur Jendral Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles dan istrinya ke pedalaman Minangkabau dalam rangka melakukan pemetaan budaya di kawasan itu. Di sana-sini terdapat pujian yang menggambarkan wibawa dan kecerdasan si Tuan Raffles, seorang pemimpin yang Akalnya baik tangannya murah / Madamnya majlis rupanya indah ( bait 5). Lebih rinci lagi, pada bait lain dikatakan :  Tuan Besar itu baik lakunya //Bicaranya betul dengan sungguhnya //Berkata-kata orang semuanya//Memuji Tuan Besar serta Madamnya

Jelas di situ, pekerti Tuan Raffles rupanya telah mempesona pengarang, dan menjadikannya fokus untuk meningkatkan daya tarik sajak itu. Ukurannya sederhana, Tuan Besar itu bicaranya betul dengan sungguhnya. Dengan kata lain, pekerti Tuan Besar ada pada kesesuaian antara perkataan dan tindakan. Andaikan Raffles seorang pemimpin retorik belaka, yang kata dan perbuatannya tidak sesuai, tentulah pujian itu tak akan pernah dituliskan.

Pada masa yang berdekatan, seorang perintis sastra Melayu modern yang terbesar, Abdullah Bin Abdul Kadir Munsy, juga menulis syair pujian bagi tokoh yang sama.  Burung belibis di atas lantai /Buah ranibai dalam padi /Tuan Raffles orang yang pandai /Tahu sungguh mengambil hati //Buah rambai dalam padi /Lazat cita pula rasanya /Pandai sungguh mengambil hati /Serta dengan budi bahasanya. 

Lagi-lagi, key words yang menonjol, yang menjadi sebab musabab lahirnya pujian pada Tuan Raffles adalah budi bahasa, karena dengan budi bahasa itulah seorang pemimpin merebut hati rakyatnya. Dalam konteks kepemimpinan sekarang, budi bahasa harus dimaknai sebagai kesesuaian antara janji dengan realisasinya. LK Ara, rupanya telah menangkap hal itu dari sosok Jokowi.

Sama seperti Abdullah Bin Abdul Kadir Munsy yang terpesona dengan pekerti Tuan Raffles, ia pun tergoda untuk menulis sajak pujian pada Tuan Jokowi, yang selaku Presiden Republik Indonesia telah membangun landasan kukuh bagi hubungan yang lebih sejati antara pemerintah dengan rakyat Aceh Tengah di masa depan. Yakni sebuah landasan yang menurut puisi LK Ara didasarkan pada cinta. Ia pun menulis di bagian akhir sajak Bandara Rembele:

Buka mata dan layangkan pandang ke tempat paling jauh /ke wilayah tak tersentuh  /Di sana kita bertemu/ memadu cinta untuk negeri tercinta.

Apresiasi yang seperti inilah agaknya yang terlewat dalam pilihan politik masyarakat Aceh sekarang. Sangat disayangkan, andaikata hal itu terjadi karena politik telah beroperasi dengan cara-cara yang profan dan manipulatif. Yang akhirnya membawa masyarakat kehilangan aspek kearifan budayanya dalam mengukur seorang calon pemimpin.

Riki Dhamparan Putra
Sastrawan, Penyair, Pemerhati Budaya, yang lahir di Padang, besar di Bali, dan sekarang tinggal di Jakarta. Buku puisinya adalah Percakapan Lilin (2004), Mencari Kubur Baridin (2014), dan yang terbaru Suaka-Suaka Kearifan (2019). Ia juga deklarator Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.