Senin, April 12, 2021

Partai Solidaritas Indonesia

Soal Katolik dan Anjing itu

Akhir-akhir ini saya melihat demikian banyak posting tentang perempuan Katolik yang bersepatu dan membawa anjing masuk ke masjid. Kabarnya, dia diberitahu bahwa suaminya sudah...

Belajar dari Kisah Akhilles dan Agamemnon

Cerita dimulai pada tahun ke-9, ketika suku-suku dalam wilayah Akhaia yang terletak di semenanjung Peloponesia menjalani perang Troya. Mereka terdiri dari klan-klan, kelompok-kelompok, dan...

Ulama Salafi, Tajam Penanya Bukan Keras Mikrofonnya

Peradaban dibangun oleh budaya baca—literat. Bukan pidato di panggung sambil jari menunjuk berharap applaus. Lebih serem lagi, ngaku failasuf produksinya meme. Peradaban Yunani kuno dibangun...

Konvensi PSI dan Disrupsi Politik

Hari ini dan besok, saya diundang menjadi panelis independen, non-partai, untuk konvensi proses nominasi calon walikota yang akan dicalonkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI),...
Avatar
Kalis Mardiasih
Periset dan anggota tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian.

Meskipun di PSI banyak perempuan dan anak muda, saya sempat belum tertarik betul milih PSI. Ternyata saya ini tipe pemilih yang tradisional betul, tipe-tipe yang kalau nggak PPP ya PKB. Tipe-tipe yang “pokoknya manut Mbah Maimoen”. Kebetulan anak Kiai tempat saya nyantri dulu nyaleg. Gus e itu masih muda dan saya tahu beliau progresif karena aktif di RMI NU.

Pesantren tempat saya ngaji ini juga tipe pesantren yang “cukup”. Pendidikannya ada mulai Paud sampai Stai, semua bangunan layak dan gagah. Unit usahanya ada mulai koperasi, toko alat tulis, toko fashion sampai toko komputer. Tipe pesantren mandiri yang nggak menunggu bantuan sana-sini. Pesantren agak kaya begini biasanya punya Kiai dan Nyai yang ulet. Untuk DPRD, saya kasih suara ke Gus e dengan harapan pendidikan pesantren jadi makin maju. Kebetulan saya juga kenal dekat dengan adiknya Gus e. Calon Nyai muda lulusan Syria mix Paramadina.

Sampai beberapa bulan lalu, kejadiannya malam minggu. Saya dibonceng Agus menuju Ascos dan diskusi kami sampai kepada bahasan politik elektoral.

“Mas serius mau nyoblos PKS?”

“Nggak. Aku mau kasih suara buat PSI.”

Eh? Agus? Akhirnya PSI? Serius?

“Iya serius. Biar partai kecil bisa masuk parlemen.” Lalu, Agus sedikit menjelaskan soal parliementary threshold.

Kemarin saya memberikan suara DPR RI untuk caleg perempuan PSI. Saya pikir-pikir, lucu juga kalau PSI dikasih kesempatan. Soal siapa dibalik PSI dll, ah semua sama saja. Saya berharap satu suara saya bisa membantu kader-kader PSI yang muda dan baik seperti Mas Kokok, Yurgen, Grace Nat, Dara Nasution dll. Di grup WA pertemanan, saya juga iseng minta bantuan ke teman, ayo bantuin PSI. Kali aja parlemen jadi agak seru. Toh kita ini cuma remah-remah, di luar pemilu, yang bisa kita akses dari elit politik cuma tontonan di tipi dan berita di media. Kita perlu tontonan di tipi jadi seru dan berita di media jadi agak bervariasi. Mungkin kader-kader PSI yang memutuskan buat bangun citra “Angry Bird” all the time itu bisa bantu.

Ternyata suara yang didapat PSI jauh dari 4 persen. Hal itu sebetulnya mudah diprediksi. PDI punya penggemar fanatik dari desa ke kota. Golkar, ini organisasi tua dengan jutaan wajah ikatan alumni-alumni kerja profesi tua pula se-Indonesia. Partai lain punya basis pesantren, organisasi agama dan kader anak muda di kampus. PSI tidak punya basis sama sekali. Kebaruan-kebaruan yang ia tawarkan seperti recruitment caleg terbuka dan caleg non-koruptor, hanya menarik bagi orang-orang perkotaan.

Selain itu, attack ke PSI juga cukup keras. Broadcast-broadcast WA yang mengamanatkan jangan sampai umat memilih PSI karena partai anti-syariat sangat efektif untuk mengunci suara. Ya mau bagaimana lagi, sejak awal PSI memilih untuk memakai strategi yang sangat berisiko: membela minoritas, anti diskriminasi dan anti korupsi. Yang terakhir itu, artinya mereka juga melawan partai besar dan partai tua. Di twitter, orang-orang PDI akhirnya juga marah ke PSI. Praktis PSI memang bukan cari teman dan ambil risiko melenggang sendirian. Strategi yang agak nganeh-nganehi di politik Indonesia yang suka berjamaah untuk hal baik maupun buruk.

Cuma yang agak sedih, kenapa perolehan suara partai Berkarya tiba-tiba nyelonong tinggi. Persennya di atas PSI.

Kata orang-orang, “Mungkin orang tua di desa pada salah nyoblos, Mbak. Lambangnya mirip Golkar, jadi partai Berkarya dikira Golkar…”

Semoga kader PSI tetap seru di sosmed, di tipi, dan di mana-mana. Bagaimana pun, lima tahun ke depan, Rocky gerung mungkin masih laris buat gobal-gabul di tipi. Kita perlu orang-orang PSI yang seger-seger biar nggak bosen…

Avatar
Kalis Mardiasih
Periset dan anggota tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.