OUR NETWORK

Selalu Ada yang Pertama

Kabar gembira, Parma muncul kembali di Serie A.

Seragam berwarna mencolok tapi cantik itu, mungkin salah satu yang tercantik di sepakbola dunia, muncul lagi di halaman koran-koran, di foto-foto di laman sepakbola online, di lini masa media sosial, sejak pertengahan tahun ini. Tidak tiap pekan muncul seperti 25-an tahun lalu, ketika kita setidaknya bisa menemukannya sesekali di cuplikan pertandingan pada rublik olahraga program berita televisi di awal pekan. Tapi kita tahu, kaos biru-kuning sewarna lebah itu adalah Parma.

Tak ada lagi Antonio Bennarivo, Nestor Sensini, Asprilla dan Stoichkov, atau Gianfranco Zola, atau Dino Baggio, Buffon muda, Cannavaro muda, Thuram muda, dan pasangan penyerang Enrico Chiesa dan Hernan Crespo yang sedang ganas-ganasnya. Hanya nama-nama yang asing, terlalu asing malah. Tipikal klub kecil miskin, sembilan pemain mereka adalah milik klub lain. Juga orang-orang bekas, dengan reputasi dan prestasi tertinggal jauh di masa lalu: Biabiany, Bruno Alves, Gervinho. Tapi semua penggemar sepakbola yang tumbuh di tahun 90-an sepakat, kemunculan kembali Parma di Serie A adalah sebuah kabar gembira.

Tak ada sejarah yang terlalu besar bagi klub ini sebelum Calisto Tanzi menanamkan uangnya pada tahun 1990, kecuali mengalahkan Milan di Coppa Italia pada 1986 ketika mereka masih di Serie C1 dan membiarkan seorang penjual sepatu bernama Arrigo Sacchi berkembang sebagai pelatih, yang kemudian mengubah perkembangan taktik sepakbola dunia untuk seterusnya. Tak seperti kebanyakan klub yang menjadi bagian penting sejarah sepakbola Italia, yang berdiri sebelum pergantian abad ke-20, mereka baru muncul di akhir Perang Dunia I. Memulai kiprah dengan nama Verdi FBC pada 1913, Parma berganti-ganti nama, bertukar asal-usul, berpindah-pindah pemilik, dan berkali-kali mengalami lahir kembali—yang itu juga berarti berkali-kali mati.

Mereka muncul pertama kalinya di Serie A pada musim 1990, mendatangkan pemain-memain mahal, bersaing dengan Milan, Inter, dan Juventus, dan meraup delapan trofi sampai kebangkrutan itu datang pada 2004.

Para moralis sepakbola pasti akan menyebut bahwa Keluarga Tanzi dan pabrik susu miliknya membeli piala untuk klub kota kecilnya di utara Italia itu, dan boleh jadi itu benar. Tapi para pencinta Liga Italia tak akan berdebat, kita merindukan kaos kuning bersponsor dada Parmalat—yang tak akan pernah kita jumpai lagi.

Dan bukan kisah yang terlalu istimewa bila sebuah klub di Italia jatuh, bangun, jatuh lagi, dan mungkin tak pernah muncul lagi untuk seterusnya. Skandal, penipuan, dan kebangkrutan adalah bagian penting dalam sejarah sepakbola Italia—”Tanpa skandal, kita tak akan menang,” demikian Genarro Gattuso pernah dikutip. (Tak mengherankan, John Foot, dalam bukunya yang seminal dan tebal, Calcio, meletakkan bab skandal tepat di tengah buku, berdampingan dengan bahasan tentang manajer dan taktik.)

Selain tragedi tentang Tanzi dan Parma, kita sudah mendengar tentang Keluarga Cechi Gori dan Fiorentina, Keluarga Cragnotti dan Lazio, Gaucci dan Perugia, dan masih banyak lagi. Tapi, kejatuhan (dan kebangkitan) Parma adalah sebuah saga yang berbeda.

***

Apa yang berlangsung pada pertengahan musim 2014-2015 itu adalah sebuah tragedi. Saat itu masih Februari, dan tak ada kemungkinan lain bagi Parma kecuali degradasi. Tapi yang lebih buruk dari itu tengah terjadi. Mereka tak bisa main dan menggelar pertandingan karena sama sekali tak punya uang. Mereka tak bisa membayar satpam untuk membuka stadion dan tak mampu menggaji tukang cuci. Dan tentu saja mereka tak bisa melawat ke pertandingan tandang.

Sebelumnya, semua inventaris klub, termasuk di dalamnya kendaraan klub dan alat-alat kesehatan, telah dijual. Jauh sebelum itu, pemain, pelatih, dan staf sudah tak bergaji sejak awal musim. Sementara, pemilik klub kala itu, Tomasso Ghirardi, ditangkap polisi karena kasus pencucian uang.

Klub sempat jatuh ke sebuah holding dari Siprus milik seorang taipan minyak Albania misterius bernama Rezart Taci, sebelum dijual 1 Euro kepada orang yang lebih tidak jelas lagi, Gianpietro Manenti—yang di akhir musim juga menyusul Ghirardi ke bui, dengan kasus yang sama. PSSI-nya Italia kemudian memakai uang hasil pembayaran denda sepanjang musim dari seluruh tim Serie A untuk membiayai Parma hingga akhir kompetisi, agar mereka terdegradasi secara formal. Pengadilan kemudian memerintahkan untuk menjual semua trofi yang mereka punya.

Parma jatuh dan bangkrut lagi; dua kali dalam sembilan tahun. Seperti semua tim pesakitan, mereka mesti ganti nama lagi, dan memulai dari bawah lagi, dari divisi keempat. Nevio Scala, nama besar lain yang pernah menangani Parma, yang bersamanya Parma mendapatkan Coppa Italia, Piala Winners, Piala Super Eropa, dan Piala UEFA, turun gunung untuk menjadi presiden klub, sementara pemain legendaris mereka Luigi Apoloni menjadi pelatih. Turun bersama mereka juga adalah Alessandro Lucarelli, kapten tim, satu-satunya pemain dari Serie A yang tidak pergi. Namun yang terpenting, bangku penonton Ennio Tardini tetap penuh, bahkan lebih penuh dibanding tahun-tahun terakhir mereka di Serie A.

Tiga tahun kemudian, kali ini dengan pemilik dari Cina bernama Jiang Lizhang, mereka sudah kembali ke habitat aslinya, Serie A. Seperti cerita dongeng, demikian media-media Eropa menulis. “Ini tak nyata,” kata Alessandro Lucarelli, yang membersamai Parma promosi tiga divisi dalam tiga musim berturut-turut, sebelum kemudian menyatakan pensiun dan segera saja menjadi legenda. Tapi itu belum keseluruhan cerita. Parma masih punya drama lainnya.

Menjelang Serie A musim 2018 dimulai, pengadilan Italia mengungkap bahwa striker Parma, Emanuele Calaio, mengirim pesan mencurigakan kepada dua pemain Spezia, klub yang dihadapi Parma di pengujung musim 2016-2017 Serie B, yang hasil pertandingannya menentukan nasib promosi Parma. “Jangan bikin aku repot ya, Bro … Kita kan teman,” kira-kira begitu bunyi pesan Calaio kepada Filippo De Col dan Claudio Terzi, keduanya bek. Calaio mengaku bercanda, tapi pengadilan menghukumnya dengan skorsing dua tahun (sebelum dikurangi menjadi setengah musim) dan denda 30 ribu Euro.

Dan Parma mesti memulai perjalanannya kembali ke Serie A dengan utang lima poin, hal yang sebelumnya juga mereka alami di musim 2014-2015 sebelum terjungkal ke Serie D.

***

Setelah mendapatkan poin pertama pada pertandingan pertamanya setelah kembali ke Serie A melawan Udinese, Parma akhirnya memperoleh kemenangan pertamanya.
Federico Dimarco, bek berusia 20 tahun, seorang pemain pinjaman, mencetak gol dari jarak 30 meter, di Giuseppe Meazza, membuat Parma menang 1-0 atas tuan rumah Inter Milan. Itu adalah kemenangan pertama Parma atas Inter sejak 1999; itu juga gol pertama Dimarco di Serie A, dan gol profesional pertama itu dicetaknya ke klub yang meminjamkannya kepada Parma, sekaligus klub yang dipujanya.

Sementara Federico Di Francesco, pemain Sassuolo, tim yang di awal musim terlihat lebih mengancam Juventus dibanding Inter atau Roma, mungkin untuk pertama kalinya merasakan mulutnya diludahi. Pelakunya, Douglas Costa, dikartu merah dan mungkin akan dihukum berat.

Tapi tentu saja yang paling banyak diceritakan dari pertandingan yang berakhir 2-1 untuk tuan rumah Juventus ini adalah gol pertama pemain baru mereka, Cristiano Ronaldo, di pertandingan keempatnya di Serie A.  Ia mencetak gol dari jarak 30 senti, tepat di muka gawang, meneruskan aksi akrobat yang dilakukan bek Leonardo Bonucci. Lima belas menit kemudian ia mencetak gol keduanya. Baru dua. Itu artinya lebih banyak sebiji dibanding gol Gonzalo Higuain, yang mencetak gol pertama—dan satu-satunya—dalam hasil imbang yang didapat klub barunya, Milan, atas Cagliari.

Dan dua gol Ronaldo itu terlihat cukup lumayan jika dibandingkan dengan Frosinone dan Bologna, yang belum lagi mencetak gol pertamanya.

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…