OUR NETWORK

Para Pemilik dan (Nasib) Klubnya Masing-masing

Mereka menghadirkan gelar, masing-masing untuk MU, Chelsea, dan Manchester City, mungkin jauh lebih banyak, dan masih akan terus. Tapi, tak seperti dilakukan Vichai di Leicester, mereka tak mencipta keajaiban.

Vichai Srivaddhanaprabha, pemilik Leicester City, tergelincir di parkiran stadion yang dinamai dengan nama perusahaannya. Bersama empat staffnya, dan helikopter yang dinaikinya. Ia meninggal seketika. Ia meninggalkan duka mendalam bagi klub yang selama delapan musim dinaunginya.

Ia, tentu saja dengan uangnya, pada 2010, memungut klub yang memiliki sejarah panjang sebagai klub kecil itu dari dasar klasemen kasta kedua Liga Inggris. Enam tahun kemudian, di musim 2015-2016, terciptalah sejarah besar yang akan diingat dalam waktu panjang—sebuah kisah legenda, lebih tepatnya; mereka menyebutnya sebagai The Unbelieveble. Leicester juara liga. Untuk pertama kalinya. Boleh jadi untuk sekali-kalinya.

Pemakaman Vichai dilakukan di Bangkok, tapi jelas Leicester-lah yang paling berduka. Semuanya tampak menghitam, muram, dan menangis. Sepanjang pekan, King Power Stadium berubah jadi pemakaman; ada upacara, juga bunga-bunga tanda bela sungkawa. Demikian juga di stadion-stadion di Inggris.

Dalam seragam Manchester City, Riyad Mahrez mempersembahkan golnya ke gawang Spurs untuk mantan bosnya. Dalam pertandingan melawan Liverpool, Arsenal menerakan lambang rubah dalam warna gelap di pita hitam yang dikenakan para pemainnya. Di kaos dalam para pemain Leicester yang tengah bermain di Cardiff, seperti yang ditunjukkan Demarai Gray setelah mencetak gol tunggal timnya di Cardiff City Stadium, wajah dan nama Vichai dicetak, dan ditunjukkan lewat moncong kamera kepada dunia, bahwa ia dan rekan-rekan setim mencintainya.

Di kepala kiper Kasper Schmeichel, sebagaimana yang ia bilang, akan tinggal selamanya ingatan tentang saat-saat terakhir ia melihat dan melambai kepada Vichai, yang hanya berjarak beberapa menit saja dari kejadian nahas itu. Tapi yang terhebat, nama Vichai akan tinggal selamanya di lagu-lagu yang dinyanyikan para suporter Leicester City. “Champions of England, you made us sing that!” teriak mereka.

Bagaimana nama Vichai akan tinggal di dalam sejarah, Leicester khususnya, dan sejarah sepakbola Inggris lebih luasnya, mungkin akan membuat para pemilik klub lain iri. Orang-orang seperti Malcolm Glazer atau Roman Abramovich atau Khaldoon Mubarak, seberapa pun mereka mendapatkan gelar dengan klub-klub yang mereka beli yang kemudian mereka guyur dengan uang.

Mereka menghadirkan gelar, masing-masing untuk MU, Chelsea, dan Manchester City, mungkin jauh lebih banyak, dan masih akan terus. Tapi, tak seperti dilakukan Vichai di Leicester, mereka tak mencipta keajaiban.

***

Cardiff City, tim yang menjamu Leicester City di pekan perkabungan itu, dipuji karena menyambut lawan yang berduka dengan cara sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Mereka menyampaikan rasa duka yang mendalam di buku program pertandingan, yang kemudian disusul oleh prosesi mengheningkan cipta yang hikmat sekaligus megah. Tapi, mereka sendiri kurang beruntung dengan para pemilik mereka.

Sam Hammam menjadi pemilik Cardiff City pada tahun 2000. Hammam adalah orang yang ingin memindah Wimbledon ‘The Crazy Gang” FC (juara FA Cup 1988) dari London ke Dublin, dan kemudian menjadi biang keladi perubahan klub bersejarah itu menjadi MK Dons. Hal serupa ingin ia ulangi di ibukota Wales. Ia dengan segera ingin mengubah nama klub dan mengubah kostum tim tersebut, dari biru-putih ke hijau-merah-putih (warna bendera Wales), agar timnya memperoleh dukungan dari seluruh negeri.

Rencana Hammam tidak terlaksana, tapi bukan berarti tak ada yang kembali mencobanya. Vincent Tan, seorang datuk sekaligus taipan Malaysia, membeli klub ini di tahun yang sama ketika Vichai membeli Leicester City. Tan membuat promosi Cardiff City ke Liga Premier untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, dan karena itu ia ingin mencoba menciptakan sejarah lain.

Ia menganggap seragam biru The Bluebird kurang menjual. Ia mau menggantinya menjadi merah, agar menyerupai Manchester United, brand sepakbola paling dikenal di Asia. Dan ia melakukannya. Ketika klub ini terjatuh kembali ke degradasi, alih-alih menjadi terkenal seperti Manchester United, ia mengembalikan seragam Cardiff kembali biru.

Saat Cardiff City menjamu Leicester City di pekan ke-11, mereka kalah. Itu kekalahan yang rutin, sejak mereka kembali promosi di awal musim ini. Dan itu membuat mereka tampak terlalu meyakinkan untuk tak ke mana-mana selain kembali ke kasta kedua. Meskipun, sejak mengakuisi Cardiff City, Datuk Tan tak pernah lupa untuk mengajak semua orang mengunjungi Malaysia.

***

Real Valladolid di Liga Spanyol pasti jauh lebih beruntung berkait pemiliknya. Setidaknya, sejauh ini.

Di era ketika sepakbola adalah mainan kecil orang-orang kaya, menemukan pemilik yang baik seperti yang didapati Leicester City pada diri Vichai adalah berkah. Tapi bagaimana jika pemilik klub kalian adalah seorang pesepakbola yang baik? Atau, lebih tepatnya, pesepakbola hebat?

Di awal musim ini, setelah kembali dari Segunda ke La Liga usai absen selama tiga musim, saham mayoritas Valladolid dibeli oleh Ronaldo Nazario—“Ronaldo yang asli,” demikian kalau mengutip kalimat Jose Mourinho. Dan itu membuat Ronaldo resmi menjadi pemilik klub itu.

Mungkin tidak berhubungan, tapi boleh jadi juga sangat berkaitan, Valladolid yang merupakan tim promosi, yang pemainnya hasil pinjam sana pinjam sini, merangsek ke dalam persaingan di sepertiga awal liga ini. Di pekan ke-11, ketika mereka dijamu di Bernabeu, mereka datang sebagai tim berperingkat lebih atas daripada Real Madrid.

Ronaldo, salah satu Galactico yang pernah bermain untuk Los Blancos, menonton di tribun VVIP. Di sampingnya adalah Florentino Perez, Presiden Real Madrid, orang yang dulu mendatangkannya dengan harga 46 juta Euro pada 2002—jauh lebih mahal dibanding uang yang dikeluarkan Ronaldo untuk menjadi pemilik Valladolid 16 tahun kemudian. Ronaldo tampak gembira. Gigi besar dan senyum lebarnya berkali-kali muncul di layar kaca.

Mungkin ia berbahagia karena bisa kembali ke klub lamanya, bersanding sejajar (atau lebih tinggi, jika mengacu kepada klasemen sementara) dengan orang yang dulu menggajinya, sementara di bangku cadangan bekas teman setimnya, Santiago Solari, sedang mencoba mengembalikan marwah juara Eropa tiga musim terakhir.

Tapi mungkin juga, ia sedang menertawakan Benzema dan Marco Asensio, yang tak kunjung menemukan mulut gawang Valladolid yang dijaga Jordi Masip, bekas kiper cadangan Barcelona—sampai Vinicius Júnior, seorang remaja Brazil tonggos seperti dirinya dulu, masuk dan mengirim umpan yang membelok jadi gol.

***

Di Italia, seorang taipan sedang membenci klub yang dulu dimilikinya, yang membesar olehnya, dan tentu saja membesarkan bisnis dan karir politiknya. “Milan tidak seperti itu. Milan tidak bermain dengan satu penyerang. Milan selalu bermain dengan dua penyerang,” gerutunya. Maka, ia kemudian membeli klub di Seri C, S.S. Monza.

Taipan itu bernama Silvio Berlusconi.

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…