Selasa, Oktober 20, 2020

Sumpah Pemuda: Papua yang Indonesia dan Jakarta yang Bukan

Menakar Taktik Baru ISIS Bermetamorfosa

Melalui kantor beritanya, Amaq, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), kembali mengklaim bertanggungjawab atas serangan teror truk maut di Nice, Prancis. Teror saat...

Keluarga sebagai Sekolah

Tanggal 29 Juni adalah Hari Keluarga Nasional yang diperingati setiap tahun. Peringatan itu menjadi momentum yang tepat untuk mendalami makna dari keluarga, khususnya di...

Surat Cinta Fidelis di Negeri yang Konservatif

Sejak saya ditahan, saya tidak lagi memiliki kebebasan untuk selalu berada di samping istri saya yang sakit hingga akhirnya istri saya meninggal dunia. Padahal,...

Rohingya, Ahmadiyah, dan Mereka yang Luput dari Kemanusiaan Kita

Kita sudah menyimak informasi peristiwa kekerasan yang menimpa komunitas Muslim Rohingnya, Myanmar, di laman media cetak maupun online. Telah terjadi dehumanisasi; pemerkosaan, serta diskriminasi...
Avatar
E.S. Ito
Novelis

papua

Bahasa menunjukkan bangsa. Ungkapan itu sering diartikan bahwa tutur bahasa seseorang menunjukkan tabiat atau tingkah lakunya. Dalam spektrum lebih luas, ungkapan itu juga bisa dimaknai bahwasanya bahasa menunjukkan identitas kelompok masyarakat atau suku bangsa.

Bahasa mungkin adalah identitas paling nyata dari sebuah imaji bernama bangsa. Ikatan yang membuat kita nyaman, terpaut dan merasa menjadi bagian tidak terpisahkan satu sama lain. Dan Bahasa Indonesia adalah proyek nasionalisme terbesar yang pernah kita bangun bahkan sebelum negara ini lahir.

Pergilah ke pelosok Papua, temui saudara-saudara kita yang ada di sana. Berbicaralah dengan mereka. Kita akan menemukan ikatan batin yang kuat karena mereka fasih berbicara dengan bahasa yang sama dengan kita, Bahasa Indonesia.

Hal yang sama tidak akan kita temui mungkin di pelosok Pulau Jawa. Di mana Bahasa Indonesia hanya digunakan untuk keperluan formal dan bukan bahasa sehari-hari. Atau menguping-lah di antara kelas menengah Jakarta yang menjemukan. Dengan segala keterbatasan, mereka ingin terlihat fluent berbahasa Inggris, bahkan dengan sesama anak bangsa sendiri.

Jika bahasa menunjukkan bangsa, maka siapa sebenarnya yang layak disebut bangsa Indonesia saat ini? Apakah kita di Jakarta ini yang ingin mengganti semua kosa kata Indonesia dengan Bahasa Inggris atau saudara-saudara kita di Papua yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai lingua franca mereka.

Bila kita jujur, tentu saudara-saudara kita itu jauh lebih Indonesia dibanding kita. Kitalah sebenarnya yang terus-menerus berusaha membedakan diri dengan saudara-saudara kita di Papua. Bukan karena mereka yang berbeda. Kitalah yang tiada henti merongrong identitas nasional. Sementara mereka justru terus merawatnya lewat bahasa.

Sebagian besar dari kita menganggap Papua sebagai proyek nasional yang belum selesai. Padahal kenyataannya tanah dan putra-putri Papua telah memberikan segalanya untuk Indonesia. Kita memberikan begitu banyak streotype negatif untuk saudara-saudara kita di Tanah Surga itu tanpa sedikit pun memberi ruang untuk mau belajar pada mereka. Pada akhirnya kita memandang Papua dengan konsep daulat raja, upeti diterima maka saudara ada.

Papua hanya akan jadi perbincangan di meja-meja café Jakarta manakala menyangkut masalah Freeport. Dalam persoalan tambang itu semua orang lantang berteriak nasionalisme. Tetapi begitu menyangkut hak-hak dasar masyarakat Papua, kita menganggapnya sebagai masalah lokal yang mungkin bisa diselesaikan oleh Peraturan Daerah atau paling tinggi Otonomi Khusus. Nasionalisme kita yang kabur perlahan-lahan mulai terkubur.

Menjadi Indonesia adalah keseharian saudara-saudara kita di Papua. Sementara kita di Jakarta berusaha keras untuk melepaskan identitas itu. Merekalah seharusnya yang paling pantas mengajukan pertanyaan pada kita, “Apa yang kitorang musti kerjakan agar sodara-sodara tetap jadi Indonesia?”

Baca:

Papua Bukan Cuma Freeport

Benang Kusut Freeport

 

 

Avatar
E.S. Ito
Novelis
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.