Sabtu, Oktober 24, 2020

Pancasila dan Esensi Ketuhanan

Setelah Juru Bicara ISIS Muhammad Al-Adnani Terbunuh

Milisi Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memang tengah terpojok di basis pertahanan mereka di Irak, Suriah. Puncak kejayaan mereka yang mereka raih dua...

Masih tentang Calon Perseorangan dalam Pilkada

Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat mesti berpacu dengan waktu. Waktu yang sangat singkat harus dimaksimalkan oleh pemerintah dan DPR untuk menuntaskan revisi Undang-Undang Nomor...

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Logo 3D Twitter dan bendera Negara Islam terlihat dalam gambar ilustrasi yang diambil Kamis (18/2). ANTARA FOTO/REUTERS/Dado Ruvic/Illustration Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi...

Ancaman Terorisme dan Paradoks Perlindungan Data

Warga memperlihatkan sejumlah foto dan nama daftar pencarian orang (DPO) tindak pidana terorisme yang disebar melalui internet di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Jumat (22/1). ANTARA...
M Japar
Dosen Universitas Negeri Jakarta

Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juli merupakan momentum penting untuk melakukan refleksi kebangsaan. Masalah-masalah yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai indikator belum berhasilnya pengamalan nilai-nilai Pancasila, perlu untuk direnungkan dan dievaluasi. Dalam implementasi sila Ketuhanan, masalah klasik yang masih ada sampai saat ini adalah persoalan toleransi baik dalam hal sosial maupun keagaaman.

Dalam narasi yang lebih formal dikatakan bahwa pandangan hidup yang dilandasi semangat Ketuhanan yang berkebudayaan menempati posisi yang tinggi dalam dasar negara Pancasila. Sila Ketuhanan memberi jiwa, spirit, atau pancaran kepada sila-sila yang lain.

Pengamalan sila Ketuhanan begitu penting dan akan memberi warna bagi pengamalan ke empat sila lainnya. Bung Karno sebagai Presiden pertama di Indonesia, melukiskan Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur, Ketuhanan yang menghormati satu sama lain dengan menanggalkan “egoisme agama”.

Ketuhanan yang hakiki memandang manusia sebagai perwujudan cinta kasih Tuhan. Oleh karena itu, manusia harus mengembangkan hubungan cinta kasih terhadap sesama manusia, juga dengan alam sekitar. Cinta kasih yang menurut Bimbo meliputi warga sekampung dan senegara bahkan sedunia.

Perbedaan agama adalah sebuah keniscayaan, juga sebuah kewajaran jika pemeluk agama secara personal merasa agamanya yang paling baik dan benar. Tetapi sejatinya semua agama memiliki titik temu dalam ajakan mencintai dan menyebarkan kasih sayang di muka bumi. Di antaranya dapat dicermati pada ajakan “Cintailah sesama manusia seperti anda mencintai dirimu sendiri”.

Interaksi dan relasi sosial dalam masyarakat yang heterogen tetapi didasari oleh ketulusan kasih sayang sering membuat keakraban yang melibat hati sesama pemeluk agama. Agama yang dianut tidak menghambat interaksi dan relasi kemanusiaan, malah dapat menjadi dasar untuk saling mengenal dan saling belajar bertoleransi dalam menjalankan kebaikan sehingga tercipta masyarakat yang harmonis.

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, harus lebih dipahami pada makna Ketuhanan, yaitu sikap meniru,  mendekati, dan menjiwai cinta kasih Tuhan. Jika warga negara mampu meniru, mendekati dan menjiwai sifat cinta kasih Tuhan sesuai ajaran agama masing-masing, maka semua warga negara dapat mencapai kecenderungan yang sama yaitu titik temu keesaan, yaitu bersatu dalam kebajikan.

Sila ini menghendaki agar bangsa Indonesia yang berketuhahan dapat menjiwai sifat kasihnya sayang-Nya dan menjadikan-Nya sebagai sumber moralitas dalam kehidupan pribadi dan sosial. Kecintaan terhadap Tuhan dapat memancarkan kasih sayang kepada sesama makhluk melalui sikap keagaaman yang tulus dan toleran, menjalin komunikasi yang luas dalam bergotong royong, melaksanakan kebajikan bagi semua, dengan konsisten berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan serta secara tulus berbuat kebaikan dengan sikap hidup yang amanah, jujur dan tidak korupsi.

Dari deskripsi di atas, maka sudah selayaknya bangsa Indonesia melakukan refleksi ketuhanan. Apakah kita sudah secara konsisten menempatkan cinta kita kepada Tuhan melalui kecintaan kita terhadap sesama? Apakah kita sudah bisa menempatkan cinta kita terhadap Tuhan dengan sikap ikhlas melihat perbedaan dan menghormati perbedaan?

Pertanyaan-pertanyaan itu sangat mendasar karena bagaimanapun dalam menjalankan kehidupan bertoleransi di  masyarakat, negara dan pemerintah memiliki peran yang diperlukan. Negara harus hadir dalam kehidupan publik, karena bisa saja sikap intoleransi masyarakat bukan dipicu oleh sentimen keagamaan tetapi muncul karena ketidakadilan dan kesenjangan ekonomi yang nampak di depan mata. Potensi-potensi intoleran dapat dikurangi dengan pembangunan yang berkeadilan.

M Japar
Dosen Universitas Negeri Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.