in ,

Pak Jokowi, Papua Itu Pergumulan Sepanjang Hayat


opm
Ilustrasi [Sumber: http://news.okezone.com]
Mencermati tokoh-tokoh gerakan politik Papua, saya seakan melihat sosok si lelaki tua Santiago dalam kisah Lelaki Tua dan Laut karya Ernest Hemingway. Santiago yang telah mengalami sial selama 80 hari di lautan tanpa berhasil menangkap seekor ikan pun, tetap semangat kembali ke laut. Tujuannya jelas, fokus ingin mendapatkan ikan, walaupun seorang diri.

Mengapa kisah Lelaki Tua dan Laut saya ambil untuk mengisahkan gerakan politik di Papua saat ini?

Coba bayangkan, seorang lelaki tua dengan pengalaman yang panjang, ketika berhenti begitu saja hanya karena kesialan yang menimpanya, maka ia tidak akan pernah meraih apa pun. Santiago tidak begitu, tubuh rentanya dipacu oleh semangat untuk mendapatkan hasil, berjibaku dengan segala cara yang pernah dia tahu, untuk fokus mendapatkan ikan terbesar dari yang pernah ia tangkap sebelumnya.

Semangat dan fokus. Itulah modal gerakan politik di Papua.

Saya melihat ada semacam pergulatan antara Papua dengan Indonesia, laksana pertarungan si Santiago dengan lautan. Pergulatan itu berumur panjang, 50 tahun lebih. Saling intai dan saling intip terjadi dalam pergulatan itu. Namun tak kunjung usai, karena semangatnya tidak pernah padam.

Indonesia laksana lautan yang menyembunyikan si ikan besar (baca: kemerdekaan dalam segala makna). Sementara Santiago laksana Papua yang hendak mengail si ikan telah berupaya mendapatkannya sekian lama. Namun si ikan tetap liar. Ia meronta, melawan sehabis tenaga. Bahkan melukai si nelayan tua itu. Sia-siakah upaya si lelaki tua itu? Tentu saja tidak!

Apa yang terjadi di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York tempo hari ketika ada enam negara Pasifik bersikap berpihak kepada Papua perlu diletakkan dalam metafor Hemingway itu. Agar sari pati dari perlawanan Papua bisa diresapi lebih dalam.


Sikap beberapa negara Pasifik yang mempertanyakan perilaku Indonesia di Papua, khususnya dalam hal perlakuan kepada Papua yang belum sesuai dengan nilai-nilai standar hak asasi manusia yang berlaku secara universal, perlu disikapi lebih kalem oleh Indonesia. Karena itu tidak bernada ancaman, melainkan suara ajakan untuk bersama memperbaiki Papua.

Dari enam negara yang menyuarakan perasaan luka hati Papua itu, tidak satu pun dari mereka yang memiliki kemampuan untuk menyerang Indonesia secara politik, apalagi fisik. Juga tak ada pula kemampuan negara-negara itu untuk merongrong kedaulatan Indonesia secara ekonomi. Karena itu, suara dari Pasifik itu tidak lebih dari suara kemanusiaan.

Dalam percaturan di Pasifik dengan semangat Melanesia Brotherhoods, tentu Papua dengan mudah mendapatkan simpati dan dukungan. Kristalisasinya Gerakan Merdeka Papua Barat (United Liberation Movement for West Papua-ULMWP). Hal itu pun telah dirintis lama, sejak tahun 1980-an. Bergerak dari Papua Nugini ke Vanuatu. Dan setelah 2000-an merembes ke Solomon, Fiji, dan Samoa. Jadi, gerakan Papua di Pasifik persis laksana perahu-perahu dari Biak di masa antik dulu meniti gelombang ke timur terus selatan.

Mengapa arus Papua mengalir ke timur terus selatan, karena ke barat tidak mudah. Jika di masa lalu terhadang oleh gelombang kora-kora Tidore, di masa kini belum mendapat dermaga dengan tuan rumah yang pas.

Dalam mengarah ke barat, Papua seperti perahu yang terapung-apung dengan persedian air dan makanan habis di lautan luas. Berjuang sendirian dengan segala luka dan perih yang dibawa badan.

Sedari awal reformasi belum ada gelombang solidaritas, simpati, dan empati yang berarti yang terbawa oleh angin laut Jawa ke Papua

Dalam situasi terabaikan seperti itu, perahu Papua terbawa arus ke timur, terus ke selatan. Mendapat dermaga untuk bersandar, bahkan juga tumpangan selama perbaikan perahu diupayakan. Tentu itu menggembirakan, karena memperoleh pelayanan. Dalam hubungan enam negara pulau di Pasifik dengan Papua, itulah yang terjadi kini.

Lantas bagaimana Indonesia perlu bersikap?

Perahu Papua sudah telanjur dibawa arus ke Pasifik. Diplomasi menghardik pemberi dermaga tempat bersandar dan berteduh si lelaki tua dengan perahunya di Pasifik, seperti sikap di forum PBB itu, tentu kini bukanlah cara yang pas.

Untuk bersikap ke depan, tentu perlu kembali ke kisah lelaki tua Santiago. Diplomasi Indonesia perlu mengambil sisi lain dari semangat Santiago. Santiago dalam keletihannya, setelah pertarungan sepanjang malam, terus berjuang mendapatkan si ikan. Dengan seluruh pengalamannya, ia mencoba memenangkan pertarungan dengan lautan untuk mendapatkan si ikan.

Artinya, mengelola Papua adalah pertarungan antara mengelola semangat dengan kesabaran yang membutuhkan waktu. Bagi Papua, aksi-aksi politik dengan melibatkan komunitas Melanesia di Pasifik juga merupakan ujian atas kesabaran dan merawat semangat dalam keterbatasan kekuatan.

Bagi pemerintah, dalam urusan Papua, perlu pula bersikap bahwa pertarungan untuk Papua bukanlah yang bisa dimenangkan dalam waktu singkat. Serta perlu bertindak secara fokus. Boleh dikatakan, urusan Papua adalah urusan sepanjang hayat Indonesia. Kuncinya paradigma Indonesia dalam memperlakukan Papua harus berubah.

Namun persoalannya adalah, adakah para pengambil kebijakan di Indonesia kini membaca dan menghayati karya sastra Lelaki Tua dan Laut (Old Man and the Sea) dari Hermingway itu? Bacalah, sebelum terlambat. Agar bisa mengambil hikmahnya! Semoga.


Pemerhati masalah sejarah politik. Saat ini aktif di INRISE dan Papua Resource Center – YLBHI.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR