Sabtu, Januari 16, 2021

Pahlawan Bangsa dari Etnis Tionghoa

Seberapa Syar’ikah Bank Syariah?

Tulisan sebelumnya diakhiri dengan seruan supaya kita jangan sepenuhnya merujuk pada pandangan fuqaha (ahli fikih) terdahulu sebagai pijakan operasional bagi perekonomian modern karena sistem perbankan...

Dari Cantrik, Shastri, hingga Santri

Santri semakin naik daun di negeri kita ini. Sejak empat tahun lalu, santri telah memiliki hari nasional. Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor...

Akhlak untuk Negeri

Rabu, 6 Januari 2021, Bapak Franky Sibarani, Komisaris Utama PT. Semen Baturaja Tbk meminta saya untuk mewakili beliau pada acara peluncuran buku Akhlak untuk...

Jokowi dan Kesenjangan Regulasi Transportasi [Catatan Transportasi 2016]

Indonesia dikenal sebagai Negara Kepulauan. Diperkirakan ada sekitar 17.000 pulau besar dan kecil (ada juga yang menyebut 13.000-an pulau). Logikanya, sebagai Negara Kepulauan, transportasi...
Azmi Abubakar
Azmi Abubakar
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

Para pahlawan bangsa berikut ini berjasa besar terhadap etnis dan kaumnya masing-masing, sangat dihormati, bernyali besar dan teruji. Mereka memiliki lawan yang sama, Belanda! Ya, etnis Ambon memiliki pahlawan bernama Pattimura, etnis Jawa memiliki Diponegoro, Minangkabau memiliki Imam Bonjol, maka etnis Tionghoa memiliki Tjoe Bou San!

30.000 orang Tionghoa berhasil dikumpulkan tanda tangannya oleh pemuda Tjoe Bou San (28 tahun) untuk menolak Kewarganegaraan Belanda. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1919.

Bukan hal mudah untuk mengumpulkan dan meyakinkan orang sebanyak itu, hal tersebut hanya mampu dilakukan oleh seorang berjiwa pemimpin dan dihormati oleh kaumnya. Apalagi ini, membuat mereka, yaitu para penandatangan, mengambil resiko tinggi, karena harus berhadapan dengan pemerintah Hindia Belanda.

Tak terbayang, bagaimana caranya, Tjoe yang begitu muda, mampu meyakinkan kaumnya. Gerakan penolakan ini menggemparkan pemerintahan Belanda, bahkan nun jauh di sana, Negara Tiongkok sendiri hanya mengakui, jikalau Peranakan Tionghoa yang berada di Hindia Belanda, wajib mengikuti aturan hukum Belanda yang berlaku. Dengan kata lain, Tiongkok lepas tangan.

Bukankah itu bagian dari gerakan perjuangan Bangsa Indonesia?

Muda, Cerdas dan Pemberani 

Tjoe Bou San, pada usia 27 tahun sudah menjadi pimpinan redaksi merangkap pimpinan umum di media SinPo, sebuah media yang besar dan sangat kuat pengaruhnya di Hindia Belanda.

Keberaniannya melawan Belanda dengan aksi melakukan penolakan kewarganegaraan ini, menurut saya, harus diakui menimbulkan tambahan semangat bagi kalangan Nasionalis Indonesia pada saat itu, gerakan yang sangat inspiratif.

Perjuangan “30 Ribu” etnis tionghoa yang penuh keberanian ini, haruslah dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan Bangsa Indonesia, sebagaimana perjuangan Pattimura ataupun Diponegoro yang membela kaum dan bangsanya saat itu.

Akumulasi dari seluruh perlawanan (berbagai wilayah maupun berbagai etnis/kelompok, dalam teritori kolonial) terhadap Belanda haruslah dipandang sebagai perjuangan “bersama”, yakni perjuangan atas nama Bangsa Indonesia!

Tjoe meninggal pada 3 November 1925, di usia yang masih sangat muda, 34 tahun. Semenjak meninggalnya Tjoe Bou San, Media SinPo kemudian dilanjutkan kepemimpinannya (pimred) oleh Kwee Kek Beng.

SinPo adalah sebuah media yang sangat menyokong perjuangan/pergerakan ke arah Indonesia Merdeka. Tradisi keberanian SinPo yang dimulai oleh Tjoe, tetap dilanjutkan oleh Kwee Kek Beng (diakui sendiri olehnya). SinPo adalah Media pertama, yang dengan berani memuat teks Lagu Indonesia Raya (10 November 1928).

SinPo adalah media yang telah dengan berani menggunakan istilah “Indonesia” pada tahun 1926, 2 tahun sebelum Sumpah Pemuda. Tentu saja, ini tak terlepas dari semangat yang telah dirintis oleh “Muda Perwira” Tjoe Bou San!

Berbanggalah Indonesia!

Sumber:

–Pergerakan Tionghoa di Hindia Olanda dan Mr. P.H.Fromberg Sr.. oleh: Tjoe Bou San, terbit tahun 1921.
–Prisma, No 10, 1984, artikel Leo Suryadinata, Kwee Kek Beng: Dilema Peranakan Berhaluan Nasionalisme Tionghoa.

 

Azmi Abubakar
Azmi Abubakar
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.