Minggu, Februari 28, 2021

Pahlawan Bangsa dari Etnis Tionghoa

Jokowi, Kekerasan Seksual, dan Perppu Kebiri

Fenomena kekerasan seksual akhir-akhir ini pasti mengoyak dan menyayat hati kita. Betapa perbuatan keji itu melindas nilai-nilai kemanusiaan dan mengendorkan semangat persaudaraan kita sebagai...

Khalifah Sentris atau Ummah Sentris? [Bagian 3]

Di tulisan saya sebelumnya, saya menguraikan tentang realisme fikih siyasah yang lentur dan fleksibel. Dari perspektif fikih siyasah, kewajiban mendirikan khilafah tidaklah bersifat mutlak,...

Alihan dalam Fantasi Catatan Keseharian

Tukang gambar itu menghadirkan sosok-sosok manusia yang tak terperikan oleh nalar pengunjung pamerannya. Di atas permukaan datar, dunia penggambarannya yang polos dan bersahaja tanpa...

Relationship Goal dan Musim Putus

Musim  penghujan ini sepertinya juga merupakan musim putus cinta bagi pasangan yang awalnya dijadikan relationship goal. Mungkin cuaca yang menyebabkan tidak enak badan ini...
Azmi Abubakar
Azmi Abubakar
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

Para pahlawan bangsa berikut ini berjasa besar terhadap etnis dan kaumnya masing-masing, sangat dihormati, bernyali besar dan teruji. Mereka memiliki lawan yang sama, Belanda! Ya, etnis Ambon memiliki pahlawan bernama Pattimura, etnis Jawa memiliki Diponegoro, Minangkabau memiliki Imam Bonjol, maka etnis Tionghoa memiliki Tjoe Bou San!

30.000 orang Tionghoa berhasil dikumpulkan tanda tangannya oleh pemuda Tjoe Bou San (28 tahun) untuk menolak Kewarganegaraan Belanda. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1919.

Bukan hal mudah untuk mengumpulkan dan meyakinkan orang sebanyak itu, hal tersebut hanya mampu dilakukan oleh seorang berjiwa pemimpin dan dihormati oleh kaumnya. Apalagi ini, membuat mereka, yaitu para penandatangan, mengambil resiko tinggi, karena harus berhadapan dengan pemerintah Hindia Belanda.

Tak terbayang, bagaimana caranya, Tjoe yang begitu muda, mampu meyakinkan kaumnya. Gerakan penolakan ini menggemparkan pemerintahan Belanda, bahkan nun jauh di sana, Negara Tiongkok sendiri hanya mengakui, jikalau Peranakan Tionghoa yang berada di Hindia Belanda, wajib mengikuti aturan hukum Belanda yang berlaku. Dengan kata lain, Tiongkok lepas tangan.

Bukankah itu bagian dari gerakan perjuangan Bangsa Indonesia?

Muda, Cerdas dan Pemberani 

Tjoe Bou San, pada usia 27 tahun sudah menjadi pimpinan redaksi merangkap pimpinan umum di media SinPo, sebuah media yang besar dan sangat kuat pengaruhnya di Hindia Belanda.

Keberaniannya melawan Belanda dengan aksi melakukan penolakan kewarganegaraan ini, menurut saya, harus diakui menimbulkan tambahan semangat bagi kalangan Nasionalis Indonesia pada saat itu, gerakan yang sangat inspiratif.

Perjuangan “30 Ribu” etnis tionghoa yang penuh keberanian ini, haruslah dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan Bangsa Indonesia, sebagaimana perjuangan Pattimura ataupun Diponegoro yang membela kaum dan bangsanya saat itu.

Akumulasi dari seluruh perlawanan (berbagai wilayah maupun berbagai etnis/kelompok, dalam teritori kolonial) terhadap Belanda haruslah dipandang sebagai perjuangan “bersama”, yakni perjuangan atas nama Bangsa Indonesia!

Tjoe meninggal pada 3 November 1925, di usia yang masih sangat muda, 34 tahun. Semenjak meninggalnya Tjoe Bou San, Media SinPo kemudian dilanjutkan kepemimpinannya (pimred) oleh Kwee Kek Beng.

SinPo adalah sebuah media yang sangat menyokong perjuangan/pergerakan ke arah Indonesia Merdeka. Tradisi keberanian SinPo yang dimulai oleh Tjoe, tetap dilanjutkan oleh Kwee Kek Beng (diakui sendiri olehnya). SinPo adalah Media pertama, yang dengan berani memuat teks Lagu Indonesia Raya (10 November 1928).

SinPo adalah media yang telah dengan berani menggunakan istilah “Indonesia” pada tahun 1926, 2 tahun sebelum Sumpah Pemuda. Tentu saja, ini tak terlepas dari semangat yang telah dirintis oleh “Muda Perwira” Tjoe Bou San!

Berbanggalah Indonesia!

Sumber:

–Pergerakan Tionghoa di Hindia Olanda dan Mr. P.H.Fromberg Sr.. oleh: Tjoe Bou San, terbit tahun 1921.
–Prisma, No 10, 1984, artikel Leo Suryadinata, Kwee Kek Beng: Dilema Peranakan Berhaluan Nasionalisme Tionghoa.

 

Azmi Abubakar
Azmi Abubakar
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.