Kamis, November 26, 2020

Pahlawan Bangsa dari Etnis Tionghoa

Mengingat Mantan

Presiden ke-6 Indonesia yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, didampingi Ani Yudhoyono, bersalaman dengan Bupati Jepara Ahmad Marzuki (kanan) di Jepara,...

Indonesia-Australia yang Nyaris Terpeleset

Rabu (4/1) beredar kabar Istana kalang kabut setelah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengumumkan penghentian sementara semua kerjasama militer Indonesia dengan Australia. Alasannya, perwira...

Prahara Ahok di Mata Masyarakat Demokratis dan Kaum Beriman

Belakangan ini keadaan Indonesia kian memanas. Demo-demo yang dilakukan di beberapa daerah mengisyaratkan adanya gerakan beberapa golongan Islam atas dasar klaim keimanan. Di sisi...

Sentimen Anti-Cina dan Tren Kawin

Menjelang akhir Desember 2016 lalu berhembus isu bahwa Indonesia kedatangan 10 juta pekerja asal Cina. Taksiran angka 10 juta cukup fantastis mengingat jumlah tenaga...
Azmi Abubakar
Azmi Abubakar
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa

Para pahlawan bangsa berikut ini berjasa besar terhadap etnis dan kaumnya masing-masing, sangat dihormati, bernyali besar dan teruji. Mereka memiliki lawan yang sama, Belanda! Ya, etnis Ambon memiliki pahlawan bernama Pattimura, etnis Jawa memiliki Diponegoro, Minangkabau memiliki Imam Bonjol, maka etnis Tionghoa memiliki Tjoe Bou San!

30.000 orang Tionghoa berhasil dikumpulkan tanda tangannya oleh pemuda Tjoe Bou San (28 tahun) untuk menolak Kewarganegaraan Belanda. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1919.

Bukan hal mudah untuk mengumpulkan dan meyakinkan orang sebanyak itu, hal tersebut hanya mampu dilakukan oleh seorang berjiwa pemimpin dan dihormati oleh kaumnya. Apalagi ini, membuat mereka, yaitu para penandatangan, mengambil resiko tinggi, karena harus berhadapan dengan pemerintah Hindia Belanda.

Tak terbayang, bagaimana caranya, Tjoe yang begitu muda, mampu meyakinkan kaumnya. Gerakan penolakan ini menggemparkan pemerintahan Belanda, bahkan nun jauh di sana, Negara Tiongkok sendiri hanya mengakui, jikalau Peranakan Tionghoa yang berada di Hindia Belanda, wajib mengikuti aturan hukum Belanda yang berlaku. Dengan kata lain, Tiongkok lepas tangan.

Bukankah itu bagian dari gerakan perjuangan Bangsa Indonesia?

Muda, Cerdas dan Pemberani 

Tjoe Bou San, pada usia 27 tahun sudah menjadi pimpinan redaksi merangkap pimpinan umum di media SinPo, sebuah media yang besar dan sangat kuat pengaruhnya di Hindia Belanda.

Keberaniannya melawan Belanda dengan aksi melakukan penolakan kewarganegaraan ini, menurut saya, harus diakui menimbulkan tambahan semangat bagi kalangan Nasionalis Indonesia pada saat itu, gerakan yang sangat inspiratif.

Perjuangan “30 Ribu” etnis tionghoa yang penuh keberanian ini, haruslah dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan Bangsa Indonesia, sebagaimana perjuangan Pattimura ataupun Diponegoro yang membela kaum dan bangsanya saat itu.

Akumulasi dari seluruh perlawanan (berbagai wilayah maupun berbagai etnis/kelompok, dalam teritori kolonial) terhadap Belanda haruslah dipandang sebagai perjuangan “bersama”, yakni perjuangan atas nama Bangsa Indonesia!

Tjoe meninggal pada 3 November 1925, di usia yang masih sangat muda, 34 tahun. Semenjak meninggalnya Tjoe Bou San, Media SinPo kemudian dilanjutkan kepemimpinannya (pimred) oleh Kwee Kek Beng.

SinPo adalah sebuah media yang sangat menyokong perjuangan/pergerakan ke arah Indonesia Merdeka. Tradisi keberanian SinPo yang dimulai oleh Tjoe, tetap dilanjutkan oleh Kwee Kek Beng (diakui sendiri olehnya). SinPo adalah Media pertama, yang dengan berani memuat teks Lagu Indonesia Raya (10 November 1928).

SinPo adalah media yang telah dengan berani menggunakan istilah “Indonesia” pada tahun 1926, 2 tahun sebelum Sumpah Pemuda. Tentu saja, ini tak terlepas dari semangat yang telah dirintis oleh “Muda Perwira” Tjoe Bou San!

Berbanggalah Indonesia!

Sumber:

–Pergerakan Tionghoa di Hindia Olanda dan Mr. P.H.Fromberg Sr.. oleh: Tjoe Bou San, terbit tahun 1921.
–Prisma, No 10, 1984, artikel Leo Suryadinata, Kwee Kek Beng: Dilema Peranakan Berhaluan Nasionalisme Tionghoa.

 

Azmi Abubakar
Azmi Abubakar
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Pendiri Museum Pustaka Peranakan Tionghoa
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Diego Maradona Abadi, Karena Karya Seni Tak Pernah Mati

Satu kata dalam bahasa Indonesia yang paling menyebalkan buat saya adalah “andai”. Ia hadir dengan dua konsekuensi: (1) memberikan harapan, sekaligus (2) penegasan bahwa...

Fenomena Pernikahan Dini di Tengah Pandemi

Maraknya pernikahan dini menjadi fenomena baru di masa pandemi Covid-19. Berdasarkan catatan Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama, teradapat sebanyak 34.000 permohonan dispensasi perkawinan yang...

Tips Menjaga Kesehatan Saat Tidak WFH di Saat Pandemi COVID-19

Beberapa kantor di Indonesia sudah menerapkan sistem kerja work from home, di mana karyawan bekerja di rumah tanpa perlu ke kantor. Namun, tidak sedikit...

Dampak Video Asusila yang Beredar bagi Remaja

Peristiwa penyebaran video asusila di media sosial masih seringkali terjadi, pemeran dalam video tersebut tidak hanya orang dewasa saja bahkan dikalangan remaja juga banyak...

How Democracies Die, Sebuah Telaah Akademis

Buku How Democracies Die? terbitan 2018 ini, mendadak menjadi perbincangan setelah Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Twitter dan Facebook sembari membaca buku tersebut. Bagi saya,...

ARTIKEL TERPOPULER

Hari Guru Nasional dan Perhatian Pemerintah

Masyarakat Indonesia sedang merayakan hari guru nasional 2019 yang jatuh tepat pada hari senin, tanggal 25 November 2019. Banyak cara untuk merayakan hari guru...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Nyesal, Makan Sop Kambing di Rumah Habib

Hadist-hadist yang mengistimewakan habaib atau dzuriyat (keturunan Nabi Muhammad) itu diyakini kebenarannya oleh sebagian umat Islam. Sebagian orang NU percaya tanpa reserve terhadap hadist...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.