Selasa, Maret 9, 2021

Media dan Jurnalis Kita Masih Antikritik

Kalau Jokowi-Ma’ruf Paham Dunia Digital, Mestinya Dukung Satu Kartu Sakti Sandiaga

Lucu sekali gagasan Jokowi-Ma'ruf Amin ingin mengeluarkan tiga kartu sakti, Kartu Kuliah, Kartu Sembako Murah dan Kartu Pra Kerja untuk membantu masyarakat. Bukan perkara...

Rezim Jokowi dan Rapot Merah Kebebasan Beragama

Ibarat kenaikan kelas, ponten rapot rezim Joko Widodo dalam hal kebebasan beragama selama periode pertama rata-rata merah. Pada Nawacita 2014-2019, Jokowi menjanjikan akan menaruh perhatian...

Gerakan #SaveDPR

Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terdiri dari lintas Fraksi, termasuk dari Fraksi Partai Golkar, menggalang gerakan #SaveDPR untuk menyelamatkan citra DPR terkait...

Membaca Jokowi dari Sampul demi Sampul Tempo

Krista Neher, sosok berpengaruh di dunia digital marketing mengatakan bahwa otak lebih cepat memproses gambar dibandingkan teks. Secara berlebihan bahkan dia mengatakan kemampuan dalam...
Avatar
Wisnu Prasetya Utomo
Peneliti media pusat kajian media dan komunikasi Remotivi. Pendukung klub sepak bola Manchester United dan Inter Milan.

Beberapa hari lalu, jurnalis The Guardian Owen Jones menulis kritik tentang jurnalis dan media di Inggris. Ringkasnya, dia bilang bahwa media-media di Inggris sudah serupa sekte yang antikritik dan untuk masuk ke dalam lingkaran elitenya terkadang butuh nepotisme, koneksi keluarga, atau politik.

Profesi jurnalis kemudian menjadi ekslusif—ditandai dengan mayoritas dikuasai lulusan perguruan tinggi yang biasa disebut sebagai Oxbridge—dengan cara pikir yang seragam, menciptakan ruang gema (echo chamber) informasi yang londonsentris, menjadi elemen penting dalam melanggengkan kekuasaan elite politik, institusi yang sangat tertutup, dan karena itu pada tahap selanjutnya bias kelas.

Lebih jauh tentang hal ini ada di buku Owen yang terbit tahun 2011 berjudul Chavs: The Demonization of the Working Class. Dalam buku ini salah satunya Owen menulis bagaimana media melakukan diskriminasi secara sistematis terhadap kelas pekerja Inggris.

Dalam tulisannya, Owen mengutip berbagai data yang menunjukkan tingkat pendidikan dan latar belakang jurnalis di Inggris. Data ini bisa menjadi acuan untuk melihat bagaimana sikap jurnalis tidak akan bisa dilepaskan dari latar belakangnya, apalagi kalau mereka enggan mengakui keistimewaan yang didapatkan dari latar belakang tersebut.

Misalnya saja, data bahwa 94 persen jurnalis di Inggris berlatar belakang kulit putih dan 55 persen di antaranya laki-laki. Sementara itu, hanya ada 0, 4 persen jurnalis yang muslim dan 0, 2 persen berkulit hitam. Owen juga mengutip data bahwa 51 persen posisi eksekutif media di Inggris dikuasai jurnalis dengan latar belakang private education (kira-kira serupa sekolah swasta elite), hanya 19 persen yang lulusan comprehensive school (sejenis sekolah negeri?). 90 persen warga Inggris sendiri lulusan comprehensive school.

Selain menampilkan beberapa data statistik tersebut, ia juga menunjukkan pengalamannya berinteraksi dengan berbagai jurnalis yang berasal dari berbagai media dan spektrum sikap politik. Di antaranya adalah kecenderungan para jurnalis untuk berkumpul dalam membentuk lingkaran-lingkaran ekslusif, dan merumuskan angle berita yang kurang lebih sama dengan mengafirmasi pandangan politik arus utama. Ini yang membentuk echo chamber londonsentris dan membuat angle berita-berita khususnya politik nyaris homogen.

Tentang koneksi politik dan bagaimana media melanggengkan kepentingan elite, misalnya, bisa dilihat dari koran London Evening Standard yang kini dipimpin bekas menteri keuangan Inggris George Osborne—yang sama sekali tidak punya pengalaman sebagai seorang jurnalis. Sebagai gambaran, koran ini punya oplah 800.000an eksemplar per hari yang dibagikan gratis di London.

Tulisan Owen yang sebelumnya berasal dari cuitan di Twitter tersebut kemudian direspons jurnalis-jurnalis Inggris di media sosial. Yang saya catat ada jurnalis The Times, The Telegraph, BBC, Financial Times, Al Jazeera, Channel 4, Sky News, The Guardian, Independent, dan juga media-media lokal di Inggris.

Beberapa meresponsnya dengan marah dan melakukan serangan personal—yang justru menunjukkan poin Owen Jones bahwa elite jurnalis di Inggris antikritik. Ada juga yang coba membalas kritik Owen dengan lebih substantif.

Dari tulisan Owen dan respons terhadapnya, ada dua hal yang menurut saya bisa dipelajari bagi jurnalisme di Indonesia.

Pertama, kritik bahwa dunia media dan jurnalis di Inggris yang secara struktural sangat ekslusif, londonsentris, dan berita-berita antarmedia yang nyaris homogen punya kemiripan dengan apa yang ada di Indonesia. Tentu sudah menjadi klise bahwa media di Indonesia sangat jakartasentris baik dilihat dari struktur industri maupun berita-berita yang diproduksi. Struktur yang terkonsentrasi di Jakarta membuat suara publik di luar Jakarta, apalagi luar Jawa, tidak terepresentasikan secara berimbang.

Sementara dalam hal berita yang nyaris homogen, ini juga bukan hal baru. Dengan karakter media, khususnya daring, yang terobsesi dengan kecepatan, sulit mencari berita-berita dengan sudut pandang yang berbeda. Ini yang pada tahap selanjutnya membentuk ruang gema sendiri, yang, ironisnya, justru mudah dijebol oleh berita-berita palsu dan hoax.

Kedua, selain yang disampaikan Owen, apa yang menarik menurut saya adalah keterbukaan para jurnalis di Inggris untuk berdebat dan saling mengkritik bahkan mencaci satu sama lain di media sosial tentang profesi mereka. Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa profesi yang punya pengaruh besar dalam membentuk opini publik memang sudah semestinya mau dikritik secara terbuka.

Di Indonesia sendiri sejauh yang saya amati, kritik-otokritik dalam jurnalisme, terutama yang dilakukan sesama jurnalis di Indonesia, masih sangat jarang—apalagi dilakukan secara terbuka. Terkesan ada perasaan enggan untuk melakukan kritik. Kalaupun beberapa jurnalis saling melempar kritik di media sosial, biasanya mudah terjebak pada serangan personal atau ad hominem. Kritik terhadap struktur kerap dianggap sebagai serangan personal.

Berdasarkan pengalaman saya, banyak jurnalis dan media yang juga enggan menerima kritik dan justru bersikap defensif ketika dikritik. Alih-alih menerima kritik, yang ada pemberi kritik akan diserang balik dan justru menjauh dari substansi kritik yang disampaikan. Klise “kritik harus bertanggung jawab” atau “kritik harus disertasi solusi” terus direproduksi untuk mementahkan kritik itu sendiri.

Avatar
Wisnu Prasetya Utomo
Peneliti media pusat kajian media dan komunikasi Remotivi. Pendukung klub sepak bola Manchester United dan Inter Milan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Injil Muslim: Kontroversi Barnabas Revisited

Minggu ini saya mengajar topik "A Muslim Gospel" (Injil Muslim) dalam mata kuliah "Islam and Christian Theology". Saya menugaskan mahasiswa untuk membaca The Gospel...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.