OUR NETWORK

Media dan Jurnalis Kita Masih Antikritik

Klise “kritik harus bertanggung jawab” dikritik, tapi juga terus direproduksi.

Beberapa hari lalu, jurnalis The Guardian Owen Jones menulis kritik tentang jurnalis dan media di Inggris. Ringkasnya, dia bilang bahwa media-media di Inggris sudah serupa sekte yang antikritik dan untuk masuk ke dalam lingkaran elitenya terkadang butuh nepotisme, koneksi keluarga, atau politik.

Profesi jurnalis kemudian menjadi ekslusif—ditandai dengan mayoritas dikuasai lulusan perguruan tinggi yang biasa disebut sebagai Oxbridge—dengan cara pikir yang seragam, menciptakan ruang gema (echo chamber) informasi yang londonsentris, menjadi elemen penting dalam melanggengkan kekuasaan elite politik, institusi yang sangat tertutup, dan karena itu pada tahap selanjutnya bias kelas.

Lebih jauh tentang hal ini ada di buku Owen yang terbit tahun 2011 berjudul Chavs: The Demonization of the Working Class. Dalam buku ini salah satunya Owen menulis bagaimana media melakukan diskriminasi secara sistematis terhadap kelas pekerja Inggris.

Dalam tulisannya, Owen mengutip berbagai data yang menunjukkan tingkat pendidikan dan latar belakang jurnalis di Inggris. Data ini bisa menjadi acuan untuk melihat bagaimana sikap jurnalis tidak akan bisa dilepaskan dari latar belakangnya, apalagi kalau mereka enggan mengakui keistimewaan yang didapatkan dari latar belakang tersebut.

Misalnya saja, data bahwa 94 persen jurnalis di Inggris berlatar belakang kulit putih dan 55 persen di antaranya laki-laki. Sementara itu, hanya ada 0, 4 persen jurnalis yang muslim dan 0, 2 persen berkulit hitam. Owen juga mengutip data bahwa 51 persen posisi eksekutif media di Inggris dikuasai jurnalis dengan latar belakang private education (kira-kira serupa sekolah swasta elite), hanya 19 persen yang lulusan comprehensive school (sejenis sekolah negeri?). 90 persen warga Inggris sendiri lulusan comprehensive school.

Selain menampilkan beberapa data statistik tersebut, ia juga menunjukkan pengalamannya berinteraksi dengan berbagai jurnalis yang berasal dari berbagai media dan spektrum sikap politik. Di antaranya adalah kecenderungan para jurnalis untuk berkumpul dalam membentuk lingkaran-lingkaran ekslusif, dan merumuskan angle berita yang kurang lebih sama dengan mengafirmasi pandangan politik arus utama. Ini yang membentuk echo chamber londonsentris dan membuat angle berita-berita khususnya politik nyaris homogen.

Tentang koneksi politik dan bagaimana media melanggengkan kepentingan elite, misalnya, bisa dilihat dari koran London Evening Standard yang kini dipimpin bekas menteri keuangan Inggris George Osborne—yang sama sekali tidak punya pengalaman sebagai seorang jurnalis. Sebagai gambaran, koran ini punya oplah 800.000an eksemplar per hari yang dibagikan gratis di London.

Tulisan Owen yang sebelumnya berasal dari cuitan di Twitter tersebut kemudian direspons jurnalis-jurnalis Inggris di media sosial. Yang saya catat ada jurnalis The Times, The Telegraph, BBC, Financial Times, Al Jazeera, Channel 4, Sky News, The Guardian, Independent, dan juga media-media lokal di Inggris.

Beberapa meresponsnya dengan marah dan melakukan serangan personal—yang justru menunjukkan poin Owen Jones bahwa elite jurnalis di Inggris antikritik. Ada juga yang coba membalas kritik Owen dengan lebih substantif.

Dari tulisan Owen dan respons terhadapnya, ada dua hal yang menurut saya bisa dipelajari bagi jurnalisme di Indonesia.

Pertama, kritik bahwa dunia media dan jurnalis di Inggris yang secara struktural sangat ekslusif, londonsentris, dan berita-berita antarmedia yang nyaris homogen punya kemiripan dengan apa yang ada di Indonesia. Tentu sudah menjadi klise bahwa media di Indonesia sangat jakartasentris baik dilihat dari struktur industri maupun berita-berita yang diproduksi. Struktur yang terkonsentrasi di Jakarta membuat suara publik di luar Jakarta, apalagi luar Jawa, tidak terepresentasikan secara berimbang.

Sementara dalam hal berita yang nyaris homogen, ini juga bukan hal baru. Dengan karakter media, khususnya daring, yang terobsesi dengan kecepatan, sulit mencari berita-berita dengan sudut pandang yang berbeda. Ini yang pada tahap selanjutnya membentuk ruang gema sendiri, yang, ironisnya, justru mudah dijebol oleh berita-berita palsu dan hoax.

Kedua, selain yang disampaikan Owen, apa yang menarik menurut saya adalah keterbukaan para jurnalis di Inggris untuk berdebat dan saling mengkritik bahkan mencaci satu sama lain di media sosial tentang profesi mereka. Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa profesi yang punya pengaruh besar dalam membentuk opini publik memang sudah semestinya mau dikritik secara terbuka.

Di Indonesia sendiri sejauh yang saya amati, kritik-otokritik dalam jurnalisme, terutama yang dilakukan sesama jurnalis di Indonesia, masih sangat jarang—apalagi dilakukan secara terbuka. Terkesan ada perasaan enggan untuk melakukan kritik. Kalaupun beberapa jurnalis saling melempar kritik di media sosial, biasanya mudah terjebak pada serangan personal atau ad hominem. Kritik terhadap struktur kerap dianggap sebagai serangan personal.

Berdasarkan pengalaman saya, banyak jurnalis dan media yang juga enggan menerima kritik dan justru bersikap defensif ketika dikritik. Alih-alih menerima kritik, yang ada pemberi kritik akan diserang balik dan justru menjauh dari substansi kritik yang disampaikan. Klise “kritik harus bertanggung jawab” atau “kritik harus disertasi solusi” terus direproduksi untuk mementahkan kritik itu sendiri.

Wisnu Prasetya Utomo
Peneliti media pusat kajian media dan komunikasi Remotivi. Pendukung klub sepak bola Manchester United dan Inter Milan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…