Sabtu, Februari 27, 2021

Orang-Orang (Luar) Biasa, Orang-Orang Baik

Maju

Pada 17 Agustus 2020 lalu, bocah-bocah masih di rumah. Mereka tak berada di halaman sekolah atau lapangan untuk mengikuti upacara. Di rumah, mereka tetap...

Hukum dan HAM di Mata Pemerintah

"..mari kita tidak jadi biarawan hukum, yang hanya menikmati atmosfir kemurnian hukum kemurnian hukum dengan memisahkan hukum dari kehidupan keseharian dan elemen kemanusiaan.." Pelibatan...

Intoleransi atau Ketidakadilan?

Sehari sebelum aksi 4 November lalu, Ian Wilson menulis "Making enemies out of friends" (New Mandala). Dia mempertanyakan dugaan bahwa peristiwa itu hanya didorong...

Petani Jambu dan Harapan Baru

Sektor pertanian adalah cerita kebesaran Indonesia, setidaknya pada masa lalu. Indonesia pernah menjadi eksportir gula nomor 2 terbesar dunia, sebelum menjadi importir sejak 20...
Avatar
Raja Juli Antoni
Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Andrea Hirata kembali mengeluarkan novel terbarunya awal tahun ini: Orang-orang Biasa (OOB). Seperti sebelumnya, Andrea berhasil menyihir saya untuk tidak beranjak membaca novelnya. Sekali baca harus sampai khatam. Bikin penasaran.

Novel setebal 262 halaman ini memiliki kemiripan dengan novel-novel Andrea sebelumnya, terutama Laskar Pelangi (LK). Pertama, Andrea sangat doyan membangun plot novelnya  dengan  merangkai kata dan kalimat yang kental dengan “cemeeh”. Ia bercerita dengan detail sekaligus mencemooh, meledek, dan mentertawakan dengan renyah kemiskinan dan kebodohan masing-masing karakter di novelnya.

Hal itu salah satu kenikmatan membaca novel-novel Andrea. Sebagai seorang Melayu, Andrea sangat mahir memilih kata dan meletakannya dalam analogi-analogi sederhana tidak terduga. Selain itu, Andrea seolah-olah memberikan pesan bahwa kemiskinan dan kebodohan tidak perlu disesali apalagi dikutuk. Orang-orang bodoh dan miskin, di tengah kesulitan yang menghimpit mereka, adalah orang-orang punya logikanya sendiri. Mereka punya cara untuk survive tanpa perlu dikasihani. Bahkan, mereka adalah sumber air kearifan yang tidak pernah kering.

Kesamaan kedua adalah pada temanya. Seperti LK, OOB bercerita tentang sekumpulan siswa yang berjuang melawan realitas hidup yang getir.  OOB menuturkan tentang ” 10  sekawan” yang tidak berprestasi –untuk tidak mengatakan bodoh– dan dililit kemiskinan. Mereka penunggu setia shaf belakang kelas dan bertahun-tahun tidak naik kelas sampai ada keinsafaan  diri sendiri untuk mundur secara teratatur atau dipaksa keluar dari sekolah.

Lintang-nya OOB adalah Aini, putri Dinah, salah seorang anggota 10 sekawan. Aini yang mendapat “warisan kebodohan” dari Dinah, termotivasi untuk belajar serius ketika menemui ayah yang dicintainya meninggal dunia. Sebelum meninggal, tenaga medis di Puskesmas mengatakan bahwa hanya dokter ahli yang dapat mengetahui penyakit dan menyembuhkan ayahnya.

Dendam dengan kematian ayahnya, Aini belajar dengan serius untuk melawan kebodohan agar kelak menjadi dokter ahli. Usaha tidak pernah bohong pada hasil. Akhirnya Aini lulus ujian masuk di Fakultas Kedokteran di sebuah universitas negeri.

Namun, disinilah perkaranya dimulai. Dinah, ibunya Aini, tentu saja tidak bisa  membiayai puluhan juta dana kuliah Aini. Bank dan koperasi tentu saja menolak proposal pinjaman Dinah, seorang pedagang mainan di emperan yang tidak punya agunan apa-apa. Momentum ini yang menyebabkan 10 sekawan berkumpul kembali. Semua usaha dilakukan termasuk usaha merampok bank.

Selain kebaikan hati 10 sekawan, Andrea juga menyisipkan cerita orang biasa yang bisa diteladani. Adalah Abdul Rojali, seorang “polisi kampung” yang menolak mempergunakan otoritasnya untuk meluluskan anak kesayangannya di sebuah sekolah kebidanan.

Tentu tidak fair membandingkan LP dan OOB, dua novel yang ditulis dalam konteks berbeda. Namun saya merasa Andrea sulit keluar dari bayang-bayang LK sebagai magnum opus-nya.

OOB, bagaiman pun, adalah bacaan menarik. Membaca sebuah karya fiksi jelas memiliki kenikmatan tersendiri. Kita dibawa mengarungi dunia lain yang penuh misteri yang tidak terduga dan terantisipasi.

Dari karya sastra seperti OOB juga, tanpa bermaksud berdakwah dan menggurui, pembaca diajak berimajinasi bahwa masih banyak kebaikan dan kearifan yang bisa tumbuh subur negeri ini. Ketika hari-hari ini kebaikan sulit ditemukan pada diri elit pintar nan kaya, kita justru mendapatkannya dari orang-orang biasa yang kerap dianggap miskin, bodoh dan tidak beradab.

Kranji, puasa hari ke 27

*) suka baca novel, cerpen dan puisi

Avatar
Raja Juli Antoni
Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.