OUR NETWORK

Ole Gunnar Solskjaer dan Semangat MU untuk “Kembali”

“Nikmati sepakbola, senyum, dan jadilah Man United.”

“MU mencetak lima gol kembali, setelah terakhir kali melakukannya pada pertandingan perpisahan Sir Alex Ferguson, lima tahun lalu,” begitu yang dikatakan komentator kawakan Jon Champion di akhir pertandingan Cardiff City vs Manchester United. Apakah Ole Gunnar Solskjaer memang membawa perbaikan instan di lapangan dan ruang ganti MU?

Sepertinya para Manchunian mesti menunggunya di pertandingan-pertandingan berikutnya. Yang lebih tepat dikatakan, kepergian Jose Mourinho di awal pekan lalu sepertinya memberi sejenis kebebasan.

Mou yang baru lima hari pergi tampak seperti masa silam yang jauh dan mesti dilupakan. “Kami merasa senang (dengan bos baru),” kata Jesse Lingard, setelah pertandingan. “Kami bermain dengan melimpah keasyikan dan penuh energi. Pemain tengah bermain lebih ke depan. Pemain belakang bertahan lebih tinggi. Kami menekan lawan sampai ke pertahanannya.”

Jelas sekali mereka tampak lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya. Marcus Rashford mengambil tendangan bebas, dan masuk. Ander Herrera melepaskan tendangan jarak jauh, dan masuk. Paul Pogba kembali masuk tim, dan menampilkan apa yang gagal ditampilkannya sepanjang paruh awal musim ini; ia kembali memukul dadanya dengan bangga, seperti yang kita lihat di banyak pertandingan timnas Prancis di musim panas lalu di Moskow.

Anthony Martial membuat umpan satu-dua segitiga dengan Lingard dan Pogba, dan ia memungkasinya dengan sejenis gol langka—yang akan sulit terbayangkan tercipta di masa Mou dan tak akan mampu dibuat oleh sontekan keras (dan kaku) ala Lukaku atau sundulan di menit terakhir dalam cara Fellaini. Lingard memutari kiper Neil Etheridge, dan mencetak gol keduanya dengan bergaya.

Para pendukung Cardiff boleh saja menyoraki bekas manajer gagal mereka, Ole Gunnar Solskjaer, tetapi para pendukung MU menyanyikan nama pahlawan Liga Champions ‘99 mereka di hari pertama kembalinya. Dan seperti Solskjaer yang kembali setelah lama pergi, mereka juga kembali membanjiri kolom-kolom komentar berita online dengan penuh kegembiraan dan, terutama, rasa lega.

Tapi bukan hanya mereka. Komponen-komponen lama MU juga terlihat ‘bergairah’ oleh perginya Mou dari Setan Merah. Gary Neville, bek terhebat MU, seorang legenda, kini pandit yang sangat disegani tetapi pelatih yang tidak berhasil, menjabarkan panjang lebar bagaimana memperbaiki MU pasca-Mou. Mantan kapten yang lain, Roy Keane, bersimpati atas pemecatan Mourinho dan menyerang para pemain, tetapi tak diragukan perhatiannya kepada bekas timnya. Peter Schmeichel, oran hebat lain di tahun-tahun hebat MU, kemudian berbicara bahwa ia akan melamar menjadi direktur sepakbola jika mantan klubnya akan memunculkan jabatan itu.

Menyusul kedatangan Solskjaer di ruang ganti, Mike Phelan, bekas pemain United lain dan asisten Sir Alex selama lima musim terakhirnya di Old Trafford, pun kembali ke Carrington. Wayne Rooney, yang pergi lebih awal dari MU karena Mou, mengirimkan pesan pendek kepada Solskjaer; “Nikmati sepakbola, senyum, dan jadilah Man United.”

***

Seperti pesan Rooney, juga gambaran ideal yang disampaikan oleh Neville, Keane, Schmeichel, dan kebanyakan pendukung MU, mereka memang menjadi MU kembali, malam itu, di Cardiff: lentur dan mengalir, dominan dan menyerang. Mencetak satu gol untuk kemudian mundur bertahan, seperti yang mereka lakukan dalam dua setengah musim terakhir, tampaknya tidak akan terjadi lagi. Teriakan “Attack! Attack! Attack!” bukan mustahil akan menggemuruh kembali di Old Trafford ketika mereka menjamu Huddersfield dan Bournemouth di sisa tahun ini. Senyum bayi Ole Gunnar Solskjaer sebagai pemain akan dibawa kembali oleh Solskjaer sang manajer. Kenangan indah akan masa-masa kejayaan bersama Sir Alex akan terhirup lagi di Theatre of Dream.

Tapi apakah “kembali” adalah kata yang tepat?

Sebelum ini, setidaknya ada tiga klub raksasa di Liga Inggris yang selalu memakai kata “kembali”. Mereka mendominasi di satu masa yang panjang, lalu tiba-tiba tenggelam, dan seterusnya yang mereka lakukan adalah meraih apa yang mereka anggap pantas mereka dapatkan lagi: kembalinya dominasi itu. Dan semua orang yang paham sepakbola tahu, kata “kembali” itu bukan saja tak mudah, tapi biasanya membutuhkan waktu yang amat panjang. Beberapa bahkan tak pernah mendapatkan lagi kata “kembali” itu.

Leeds United berjaya luar biasa bersama pelatih Don Revie di akhir ’60-an dan awal ’70-an. Ketika Revie pergi untuk menjadi pelatih timnas Inggris, mereka menarik Brian Clough, pelatih muda paling cemerlang di Inggris, yang mereka harapkan akan melanjutkan dominasi itu. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah sejarah aib, yang kini menjadi dongeng sepakbola. Ketika mereka kembali juara bersama Howard Wilkinson di edisi penutup Liga Inggris pra-Premier League, di musim ‘91, itu hanya menegaskan dimulainya dekade-dekade kemediokeran mereka—sampai sekarang.

Liverpool mengambil hampir semua piala di sepakbola Inggris dan Eropa dari awal ’70-an hingga akhir ’80-an. Lalu era Premier League dimulai, dan tiba-tiba piala-piala diborong semua oleh musuh bebuyutan mereka, Manchester United. Mereka ingin mengembalikan kejayaan itu, dan terus ingin kembali, dan begitu terus setiap musim dimulai, dan tiba-tiba waktu sudah berlalu hampir tiga dekade.

Tim ketiga tentu Manchester United sendiri. Sebelum mereka mendominasi Liga Inggris era ’90-an hingga dua dekade kemudian, mereka adalah tim yang tertatih-tatih menanggung sejarah besar mereka di era ’50-an hingga pertengahan ’60-an. Butuh 26 tahun yang kering dan semusim degradasi untuk “kembali”.

Roda berputar, dan sejarah berulang, demikian orang-orang bijak bilang. Namun, apakah ada roda berputar dan sejarah yang berulang dan masa lalu yang kembali dalam sepakbola? Kenapa di luar selingan-selingan pendek dari Inter dan Milan, dan kasus-kasus penyogokan (yang terungkap), Juventus tak pernah tergoyahkan dari dominasinya di Serie A? Demikian juga Bundesliga; buku sejarah hanya milik Bayern Muenchen, yang lain cuma catatan kaki dan indeks saja. Lalu di La Liga, bagaimana bisa roda berputar jika roda itu sebenarnya sudah rata dibagi dua, antara Barcelona dan Real Madrid saja?

Di Liga Inggris, MU bersama Sir Alex mengangkangi jumlah dan rentang kejayaan yang hampir mustahil diikuti atau diulangi. Mereka tak hanya membuat Liverpool, rival dengan koleksi gelar terdekat, mejan dan berhenti menambah trofi liganya, tetapi juga membuat klub Inggris sisanya hanya bisa mengkhayal suatu saat akan bisa menyamainya. Lalu era itu pun berakhir. Setelah lepas selama lima musim terakhir, tidakkah MU juga hanya bisa mengkhayal untuk bisa mengulanginya lagi?

Bisakah orang-orang Amerika pemilik MU saat ini mengulang kesabaran yang dimiliki Martin Edward, chairman MU saat itu, yang menunggu selama enam musim seorang pelatih bernama Alex Ferguson memberikan gelar liga pertamanya? Bagaimana cara di masa kini MU menemukan kembali pemain sejenis Eric Cantona, yang bukan hanya menjadi pemain penting untuk merebut gelar Liga, tapi juga lambang dari sebuah era?

Kemudian, bagaimana cara MU membentuk kembali Angkatan ’92 yang melegenda itu, manakala salah satu anggota terpenting angkatan itu, Paul Scholes, justru memasukkan putranya ke akademi Manchester City.

Lagi pula, bukankah para pengganggu dominasi MU selama masa-masa digdayanya adalah klub-klub yang keluar dari cerita masa lalunya? Arsenal-nya Wenger, Chelsea-nya Abramovich, dan kini City-nya Sheikh Mansour, semua adalah tim-tim dengan citra dan cita rasa baru, yang justru menegaskan keberbedaannya dengan masa lalunya yang tak terlalu gemerlap.

Jadi, sejauh ini, tampaknya “kembali” adalah kata penghiburan, bukan jalan keluar. Ia menenteramkan, tapi tak selalu menuju kepada kejayaan yang telah menjadi masa silam. Penggemar Liverpool dan pendukung Arsenal pasti bisa menjelaskannya lebih gamblang.
Dan tampaknya direksi MU tahu itu. Mungkin karena itu, Soslkjaer, setelah kembali dari kepergiannya yang panjang, hanya diberikan jabatan pelatih sementara.

***

Tak seperti kepada Solskjaer, Wayne Rooney tampaknya lupa mengirim pesan kepada Marco Silva, pelatih Everton, tim pertama dan terakhirnya di Inggris, sebelum ia menyeberang ke Amerika. Kurang dari 24 jam setelah kemenangan besar MU dari Cardiff City, Everton, yang sebenarnya sedang dalam kondisi terbagusnya dibanding musim-musim sebelumnya, di kandangnya sendiri, dibantai Spurs 2-6.

Pertandingan menjadi milik Son Hyun-Min dan Harry Kane, yang masing-masing mencetak dua gol. Tapi headline berita tentu saja milik sang pelatih, Mauricio Pochettino.

Kemenangan ini membuat Spurs hanya berjarak dua angka dari juara bertahan Manchester City dan dua kemenangan dari Liverpool di puncak klasemen. Dan tak mengherankan jika setelah pertandingan, Pochettino, tanpa bermaksud sesumbar, menyebut bahwa timnya bisa jadi adalah salah satu penantang juara.

“Jika kami bisa konsisten dan bermain seperti malam ini, saya kira kami memang penantang juara,” katanya, sembari menambahkan bahwa kompetisi masih panjang.

Namun, dengan kemenangan ini, di pekan pertama Liga Inggris pasca-pemecatan Mourinho oleh Manchester United, jalannya menuju Old Trafford tampaknya semakin pendek saja.

Poch, demikian para penggemar Spurs menyebut dan memujanya, memulai musim ini tanpa belanja satu pemain pun di awal musim. Bandingkan dengan ratusan juta Pound yang dihabiskan City dan Liverpool, dua tim yang kini ada di atas mereka. Dan tak seperti Mou yang terus-terusan merajuk karena pemain-pemain yang diinginkannya tak terbeli, Poch dengan tenang mengolah apa yang ia punya, mempromosikan pemain-pemain muda, dan—seperti yang ditunjukkannya di Goodison Park—tetap menampilkan sepakbola menawan.

Untuk itu semua, Pochettino adalah orang yang paling banyak mendapat pertanyaan soal manajer baru MU setelah kepergian Mou.

Kegemarannya akan pemain-pemain muda mungkin bisa dibayangkan sekualitas cara Fergie membentuk timnya. Tapi, jelas bukan itu yang membuatnya begitu memesona dewan direksi MU—dan mungkin Sir Alex sendiri.

Pochettino, seorang Argentina sekaligus pengikut setia sepakbola ala Marcelo Bielsa yang agresif, adalah antitesis dari sepakbola pragmatis ala Mourinho. Jadi, dia pasti akan menjadi pembasmi yang efektif atas kenangan pahit para penggemar MU atas sepakbola garing dua setengah musim terakhir, sekaligus menjadi jawaban atas gegenpressing yang dibawa Jurgen Klopp ke Liverpool. Di sisi lain, sebagai seorang legenda Espanyol, Pochettino berkembang sebagai pemain dan tumbuh menjadi pelatih di kota yang sama tetapi dari klub yang berbeda dengan Pep Guardiola, sehingga secara taktikal dan mitikal ia akan menjadi penangkal alami bagi Manchester City.

Jelas sudah, Mauricio Pochettino akan memberi tawaran baru bagi MU untuk sepenuhnya menyongsong era pasca-Mou, dan dalam jangka panjang sepenuhnya bisa lepas dari sejarah besar Fergie yang berhantu. Dan tak seperti Solkjaer dan orang-orang dari masa keemasan MU, yang mendambakan kata “kembali” (ke masa lalu), Pochettino adalah sosok yang kompatibel dengan era baru dan para pesaing baru MU.

Tapi sampai saat ini Pochettino adalah pelatih Spurs. Ia sangat dicintai di sana. Ia akan sangat mahal harga tebusannya jika MU (atau klub manapun) memaksa untuk mendapatkan jasanya. Dan Ole Gunnar Solskjaer akan menghadapinya di pertengahan Januari, untuk menjadi batu uji apakah ia layak untuk sepenuhnya “kembali”.

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…