OUR NETWORK

Regulasi Baru: Serius Pembinaan atau Hanya Gaya-gayaan PSSI?

apakah ide homegrown player yang dilontarkan PSSI memang benar untuk tujuan membina pemain usia muda, atau justru hanya sekadar pengalihan isu dari buruknya komunikasi PSSI dalam menyikapi transfer pemain muda ke mancanegara

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dipastikan akan mengubah regulasi liga kasta tertinggi di Indonesia musim depan. Salah satu aspek yang diubah ialah ketentuan menyangkut usia pemain senior dan penetapan kuota pemain muda pada setiap klub.

Pada Liga 1 musim 2017, ada aturan yang menyebutkan bahwa setiap klub hanya diperbolehkan menggunakan jasa pemain senior di bawah usia 35 tahun. Alasan PSSI untuk “memesiunkan” pemain lebih cepat tersebut bertujuan agar pemain senior cepat beralih menjadi pelatih sehingga pembinaan pemain di level terbawah atau akar rumput (grass root) dapat terjadi. Dengan begitu, transfer ilmu dan keahlian bermain sepak bola yang benar dapat ditularkan kepada anak-anak Indonesia lebih dini.

Aturan tersebut sempat mengundang keresahan para pemain senior yang membayangkan suramnya masa depan mereka saat menginjak usia yang belum tentu dikatakan habis sebagai pemain bola. Selain tanda tanya besar dari pemain, publik sepak bola Indonesia umumnya juga mengkritik pembatasan usia pemain karena dunia sepak bola profesional lebih bergantung pada kontribusi pemain secara pribadi dan tim seraya menjadikan variabel usia pada prioritas yang kesekian. Maksudnya, pemain muda pun jika memang tak berkontribusi positif tentu akan didepak oleh sebuah klub.

Jika berkaca kepada negara-negara Eropa dengan tradisi sepak bola yang matang, usia 35 tahun belum tentu menjadi akhir karier sepak bola. Banyak pemain yang masih dapat berkarier sampai usia lebih dari 35 tahun, bahkan sampai usi 40 tahun, sehingga ada istilah tua-tua keladi. Pemain seperti Bruce Grobbelaar, Gianluigi Buffon, Francesco Totti, Iker Cassilas, atau Andrea Pirlo adalah sedikit nama yang masih dapat berprestasi secara pribadi maupun bagi klub yang di belanya dalam usia yang tidak lagi muda. Untuk konteks lokal, tersebut nama Cristian Gérard Alfaro Gonzáles yang masih tetap sangar di dalam kotak penalti lawan di usianya yang sudah 40 tahun lebih.

Betapa garangnya Cristian “El Loco” Gonzáles menceploskan bola ke gawang lawan terakhir kali terjadi sekitar bulan Maret 2017. Saat itu ia mampu mencetak 5 gol ke gawang Semen Padang di laga semifinal kedua Piala Presiden 2017. Pada Liga 1 musim 2017, Cristian “El Loco” Gonzáles memang tidak dapat membuktikan mampu mencetak banyak gol. Salah satu sebabnya karena ia lebih banyak menghangatkan bangku cadangan.

Namun, jika melihat kenyataan bahwa tidak ada satu pun pemain Arema FC yang tampil dalam daftar top skor Liga 1 musim 2017, kinerja buruk Cristian “El Loco” Gonzáles hanyalah gambaran lebih kecil dari kurang produktifnya Arema FC secara tim sepanjang musim kemarin.

Pada Liga 1 musim 2018 mendatang, PSSI tidak lagi menerapkan pembatasan usia 35 tahun. Jadi, pemain dengan usia berapa pun dapat digunakan jasanya oleh klub. Hal ini tentu angin segar bagi pemain senior yang tak hendak cepat-cepat pensiun. Akan tetapi, aturan ini sekaligus juga ancaman bagi pemain muda yang sangat mungkin tak terpakai di klub apabila para pemain senior menjadi tua-tua keladi alias semakin tua tapi kontribusinya bagi klub justru semakin baik. Sisi positifnya, pemain muda akan lebih termotivasi untuk bersaing dengan para seniornya itu.

Homegrown Player

Pada Liga 1 musim 2017, PSSI sempat mewajibkan setiap klub untuk mempunyai 5 pemain muda di bawah 23 tahun dan memainkan 3 di antaranya dalam setiap pertandingan minimal 45 menit, baik sejak awal laga atau sebagai pemain pengganti. Aturan ini sengaja dibuat agar pemain muda mendapatkan lebih banyak jam bermain.

Secara konsep aturan ini sangat baik untuk pembinaan pemain muda, sekalipun dari segi kebutuhan tim yang berkompetisi untuk mengejar gelar juara bisa menjadi titik kelemahan. Pasalnya, tidak semua pemain muda yang dimiliki klub punya kualitas mental bertanding yang dapat mengimbangi para pemain yang sudah berpengalaman. Artinya, sebuah klub harus berhitung matang dalam menurunkan komposisi pemainnya.

Namun demikian, di musim lalu cukup kentara kalau PSSI sesungguhnya tidak serius meyasar aspek pembinaan pemain muda, tetapi hanya menyasar target jangka pendek dalam rangka persiapan tim nasional Indonesia menghadapi beberapa turnamen, baik di Sea Games maupun kualifikasi Piala Asia U-23. Buktinya, pasca kegagalan tim nasional Indonesia U-23 di dua turnamen tersebut, PSSI menganulir aturan yang mengharuskan klub memainkan 3 pemain berusia di bawah 23 tahun dengan minimal 45 menit bermain dalam setiap laganya.

Penghapusan regulasi resmi diberlakukan pada paruh kedua Liga 1. Imbasnya, para pemain berusia di bawah 23 tahun yang di paruh musim pertama menikmati lebih banyak menit bermain tidak mengalaminya lagi di paruh kedua kompetisi. Klub-klub lebih memilih untuk memainkan pemain yang mental bertandingnya lebih baik dari para pemain muda dalam mengejar tangga juara. Apalagi banyak pemain muda yang sebelumnya bahkan belum pernah merasakan atmosfer liga kasta tertinggi.

Menjelang Liga 1 musim 2018, aturan mengenai pendaftaran pemain muda kembali diterapkan. Bahkan kali ini kuotanya ditambah dari 5 menjadi 7 pemain. Dalam keterangannya kepada pers (Minggu, 24/12/2017), Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono menjelaskan bahwa aturan baru tersebut mengadopsi konsep homegrown player yang berlaku di liga-liga Eropa, terutama Inggris, juga di Jepang dan Australia.

Inggris memang mewajibkan setiap klub mempunyai 8 homegrown player dan 17 pemain bebas atau nonhomegrown player. Homegrown player adalah pemain asli binaan (akademi) yang pernah dibibit selama 3 tahun (sejak usia 18 tahun) baik di satu klub atau banyak klub di Inggris, dan tidak pindah ke luar Inggris selama masa itu. Sekalipun FA memang tidak mewajibkan klub memainkan homegrown player dalam sebuah laga, namun aturan itu memungkinkan klub memaksimalkan skuatnya.

Jika sebuah klub hanya punya 4 pemain homegrown player, maka otomatis skuatnya mengecil hanya menjadi 21 pemain. Klub memang masih dapat menyiasatinya dengan mendaftarkan pemain di bawah usia 21 tahun yang sah dimainkan untuk memenuhi aturan homegrown player secara maksimal. Dengan skuat yang penuh, tentu klub menjadi lebih luwes dalam menerapkan komposisi pemain juga merotasinya.

Aturan FA tersebut hendak menjamin pemain lokal Inggris punya kesempatan bermain di kasta tertinggi liga Inggris. Belakangan bahkan FA mewacanakan batas usia lebih rendah untuk homegrown player, yakni 18 tahun, dan menambah jumlahnya dari 8 menjadi 12 pemain. Dengan begitu, jika kuota pemain setiap klub adalah 25 orang, maka hampir setengahnya adalah pemain homegrown player. Hal ini tentu akan membuat pemain lokal Inggris lebih punya kesempatan bermain. Sudah jamak terjadi klub-klub besar Inggris nyaris semua pemainnya berasal dari mancanegara bukan asli Inggris karena aturan pemain asing hanya berlaku untuk pemain Uni Eropa dan Non Uni Eropa. Tentu ini pembahasan yang lain lagi.

Catatan lain, homegrown player di liga Inggris tidak niscaya merupakan pemain berkebangsaan Inggris. Sekadar contoh Cesc Fabregas yang direkrut Arsenal pada usia 18 tahun, dan ia tak keluar Inggris sampai di usia 21 tahun, maka dalam konteks di atas Fabregas adalah homegrown player, meskipun berkebangsaan Spanyol.

Nah, kemudian apa sejatinya yang dimaksud dengan homegrown player oleh PSSI. Sampai saat ini memang belum ada keterangan yang lengkap mengenai hal itu, kecuali keterangan Joko Driyono bahwa konsep itu mengadopsi apa yang berlaku pula di mancanegara, hanya saja batas usianya lebih tinggi, yaitu 23 tahun. Di luar negeri, batas usia 23 sebenarnya usia sudah matang sebagai pesepak bola sehingga sedikit banyak tidak terlalu berpengaruh bagi pembinaan pemain.

“Teman teman harus punya perbandingan dengan Jepang, Australia, dan negara-negara Eropa. Eropa misalkan menggunakan aturan homegrown player. Artinya, pemain yang sekurang-kurangnya dilatih 36 bulan di akademi di negara itu. Dan setiap klub wajib mendaftarkan sekurang kurangnya 5-6 pemain di skuat mereka. Kami juga ingin jadi contoh, yang ke depan akan jadi pertimbangan adanya homegrown player,” kata Joko Driyono seperti dikutip tribunnews.com.

Hal yang patut disoroti dari aturan homegrown player ala PSSI ke depan adalah apakah ke-7 pemain juga akan mendapatkan minimal menit bermain seperti diterapkan pada paruh pertama Liga 1 musim 2017 atau tidak. Jika tidak, maka aturan 7 homegrown player bagi klub Liga 1 sepertinya tidak akan banyak artinya bagi pembinaan pemain muda. Klub tentu akan lebih memilih pemain jadi, yang dalam rencana Liga 1 musim depan kuotanya sebanyak 23 pemain.

Selain itu, penerapan aturan homegrown player untuk konteks Indonesia agaknya baru akan berarti baru pada 3 tahun ke depan, dengan catatan setiap klub telah mempunyai akademi sendiri-sendiri sejak tahun ini. Jawab dengan jujur, manakah klub di Indonesia yang telah mempunyai akademi sendiri?

Hal yang juga perlu disoroti adalah beban klub yang semakin berat. Jika klub memenuhi kuota maksimal 30 pemain tentu beban pengeluarannya menjadi jauh lebih besar dibandingkan dengan musim lalu di mana rata-rata klub hanya mempunyai 23 pemain, yang 4 di antaranya adalah pemain asing.

Kalau demikian, apakah ide homegrown player yang dilontarkan PSSI memang benar untuk tujuan membina pemain usia muda, atau justru sekadar pengalihan isu dari buruknya komunikasi PSSI dalam menyikapi transfer pemain muda ke mancanegara. Atau memang hanya sekadar gaya-gayaan agar terdengar keren? Entahlah.

Kolom terkait:

PSSI Menyoal Kebebasan Pemain Berlaga di Liga Asing

Duka Timnas Italia, Dagelan Liga Indonesia

Mau Dibawa ke Mana Liga Kita, Jenderal?

Belajar Kebijakan dan Kesabaran dari Timnas Jerman

Jangan Mau Dibohongi Pakai Sepakbola

Andriansyah Syihabuddin
Editor di sebuah penerbit di Jakarta, CEO Islam-Detik.Com. Kajian Islam bisa di lihat di Youtube Santri Abadi https://www.youtube.com/channel/UC8mAuwvH3gu1bEU1MHLV2Mg

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…