OUR NETWORK
Piala AFF U18, Sepakbola, dan Tragedi Kemanusiaan Rohingya
Egy Maulana usai mencetak gol ke gawang timnas Myanmar.

Ajang Piala AFF U18 kembali digelar pada 4 September 2017 sampai 17 September 2017 di Myanmar. Kali ini merupakan pelaksanaan edisi ke-14. Piala AFF U18 mulai digelar sejak 2002 dan rutin diselenggarkan tiap tahun sejak 2005.

Tim Nasional Indonesia tercatat pernah sekali menjadi juara dalam ajang Piala AFF U18 atau dikenal pula Piala AFF U19. Kala itu Garuda Muda yang dikapteni Evan Dimas mengalahkan Vietnam pada babak final yang berlangsung di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, tahun 2013. Rekor juara terbanyak dimiliki Thailand dan Australia, masing-masing empat kali.

Piala AFF U18 tahun ini diikuti oleh 11 tim nasional. Indonesia mengirimkan Timnas U19 dan masuk ke dalam grup B bersama tuan rumah Myanmar, Vietnam, Filipina, dan Brunei Darussalam. Laga perdana melawan tuan rumah pada Selasa (5/9) di Thuwunna Stadium dan Indonesia menang dengan skor 2-1.

Timnas Garuda Muda di bawah asuhan pelatih Indra Sjafrie datang ke Myanmar dengan target juara. Indra memiliki keunggulan karena yang menukangi Timnas U-19 kala juara tahun 2013.

Harapannya kesuksesan tersebut dapat diulang tahun ini. Pelatih dingin ini memastikan bahwa tim asuhannya saat ini memiliki kelebihan. Para pemainnya diyakini memiliki kemampuan individu dan intelegensi sedikit di atas Evan Dimas dkk empat tahun lalu.

Tragedi Rohingya

Pelaksanaan Piala AFF U18 kali ini sedikit ternodai oleh tragedi kemanusiaan Rohingya di Myanmar. Tentara dan polisi Myanmar melakukan penyerangan, pembakaran permukiman, pemerkosaan, dan pembantaian massal terhadap warga Rohingya.

European Rohingya Council (ERC) melaporkan bahwa jumlah warga yang tewas antara 2.000 dan 3.000 orang di negara bagian Rakhine. Angka ini hanya dalam waktu tiga hari, dari Jumat (25/8) hingga Minggu (27/8) lalu.

Penduduk Rohingya adalah penganut Muslim yang berjumlah sekitar satu juta orang. Warga ini bermukim di negara bagian Rakhine bagian utara yang mayoritas dihuni warga beragama Budha.

Etnis Rohingya tidak pernah diakui sebagai warga negara Myanmar dan dianggap imigran gelap. Pemerintah Myanmar menggunakan dalih berdasarkan undang-undang 1982. UU tersebut mengharuskan etnis minoritas membuktikan diri sudah mendiami Myanmar sebelum 1923 atau sebelum Perang Anglo-Burma pertama.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Rohingya sebagai etnis yang paling tertindas di dunia. Sebagian besar dari mereka tinggal di negara bagian Rakhine yang terbelakang. Bahasa dengan dialek hampir sama dengan warga Chittagong, Banglades, dan disapa dengan sebutan “Bengali”.

Puncak konflik meletus di negara bagian Rakhine utara, Myanmar, mulai tahun 2012. Konflik terjadi antara orang Buddha Rakhine melawan Muslim Rohingya. Badan PBB urusan pengungsi (UNHCR) melaporkan sekitar 120.000 orang Rohingya mengungsi sejak tahun 2012. Sekitar 300.000 orang Rohingya kini hidup di pesisir selatan Bangladesh yang berbatasan dengan Myanmar.

Sebagian besar warga Rohingya memilih ke Myanmar. Bangladesh sendiri hanya bersedia menampung pengungsi dalam jumlah sedikit sekali. Kebijakannya bahkan secara reguler menghalangi warga Rohingya yang mencoba melintasi perbatasan.

Banyak kajian dan pendapat menyertai dinamika tragedi Rohingya. Aroma kekerasan berbau agama memang lebih menyeruak. Selainnya ada pandangan bahwa kekerasan lebih disebabkan faktor ekonomi dan sumber daya alam. Apa pun itu, atas nama kemanusiaan, pembantaian massal terhadap warga Rohingya patut dikutuk dan mendesak agar dihentikan.

Konstribusi Sepakbola

Sepakbola sebagai olahraga terpopuler di dunia, termasuk Indonesia dan ASEAN, memiliki multidimensi. Sepakbola bukan sekadar olahraga yang hanya bisa dinikmati dan diteropong dalam prestasi kalah-menang. Olahraga ini sejatinya memiliki nilai, spirit, pesan hingga peran yang dapat dioptimalkan dalam berbagai hal, termasuk menyangkut perdamaian dan kemanusiaan.

Lapangan hijau menjadi medan simbolisasi perdamaian dan kemanusiaan. Sekat SARA dan politik lenyap dan tergantikan persatuan. Iklim dan regulasi sportivitas merupakan nilai yang menjunjung kemanusiaan.

Banyak laga amal demi kemanusiaan diselenggarakan melalui sepakbola. Simpati kemanusiaan juga kerap ditampilkan saat laga berlangsung, melalui selebrasi, simbolisasi, maupun koreografi suporter. Bahkan demi protes atas nama kemanusiaan, bisa saja ada aksi boikot pertandingan.
Timnas Garuda Muda memang penting fokus pada kemenangan hingga menggapai asa juara. Namun, kontribusi kemanusiaan juga tidak kalah berharganya untuk dipersembahkan. Apalagi Piala AFF U18 kali ini mendapatkan momentum diselenggarakan di Myanmar dan Timnas di laga perdana melawan Myanmar.

Laga Garuda Muda dan timnas Myanmar tentu menjadi perhatian media lokal hingga internasional. Pesan-pesan kemanusiaan penting diselipkan dalam laga pembuka dan itu terbukti kemarin. Tentu dengan tetap menjunjung sportivitas dan regulasi persepakbolaan internasional.

Suporter membentangkan spanduk maupun peraga lain melalui koreografi menarik yang memberikan pesan kemanusiaan mengecam tindakan Myanmar terhadap warga Rohingya. Pesan tersebut akan lebih sampai jika diberikan dengan simbol yang mengena atau tulisan berbahasa Myanmar dan/atau Inggris.

Pada laga berikutnya, timnas juga dapat menunjukkan keberpihakannya kepada Rohingya yang tertindas dan terbantai dengan menggunakan pita hitam misalnya. Pita hitam selalu menjadi simbol berkabung kemanusiaan karena bencana, kematian, dan sejenisnya.

Pemain-pemain potensial mencetak gol juga penting menyiapkan atraksi dan tulisan pesan kemanusiaan. Biasanya tulisan dibubuhkan pada kaos dalam dan dibuka sesaat setelah mencetak gol. Pernyataan sikap pengecaman dan kepedulian kemanusiaan juga dapat diberikan ketika dilakukan konferensi pers seusai pertandingan maupun wawancara bebas di luarnya.

Hubungan Indonesia-Myanmar turut terimbas menghangat akibat tragedi Rohingya. Aksi simpati dan demonstrasi banyak terjadi di dalam negeri. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi secara khusus sudah bertolak dan melakukan misi diplomasi ke pemerintah Myanmar menemui Aung San Suu Kyi.

Sepakbola penting memberikan peran, meski tidak langsung dan bersifat simbolik. Namun demikian sportivitas harus tetap diutamakan kala bertanding dengan Myanmar dan timnas negara lain hingga akhir turnamen. Spirit dan kontribusi kemanusiaan dapat menjadi energi tersendiri yang menambah motivasi guna merengkuh juara kembali ke pangkuan Indonesia untuk kedua kalinya.

Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration);
Penggemar Sepakbola

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…