OUR NETWORK
Ketika Ibracadabra Pulang
[Foto: thesun.co.uk]

“Pulanglah dengan girang,” ujar penyair Joko Pinurbo dalam salah sebuah puisinya, Puisi Surat Pulang, “jika pulang adalah menulis ulang sajak yang rumpang.”

Penggalan puisi di atas agaknya cukup tepat menggambarkan kepulangan Zlatan Ibrahimovic (Ibra) ke Old Traffold, markas klub Manchester United (MU). Meski selama ini Ibra tidak pernah benar-benar meninggalkan kandang MU, tetapi ia sudah tak lagi berstatus pemain MU.

Oleh karena itu, ketika pemain berkebangsaan Swedia itu sudah menyatakan siap kembali merumput bersama tim Setan Merah setelah pulih dari cedera, maka ia pantas disebut pulang kembali ke rumahnya. Kesepakatan antara Ibra dan klub sudah dicapai. Maka, jika tak ada aral melintang, November tahun ini Ibra akan berseragam MU kembali.

Kepulangan Ibra ke Old Traffold, seperti disinggung dalam puisi di atas, patut dimaknai sebagai “menulis ulang sajak yang rumpang.” Ibra memang meninggalkan rumpang atau bolong-bolong di tubuh MU. Apalagi ia dibekap cedera sebelum liga benar-benar berakhir.

Tentang torehan prestasinya, memang tak diragukan lagi. Di musim perdananya saja, bersama tim yang kini dibesut Jose “the special one” Mourinho, Ibra berhasil mengemas 28 gol dalam berbagai kompetisi pads musim 2016-2017. Angka ini menunjukkan tingkat produktivitasnya sebagai bomber yang sangat menakutkan bagi penjaga-penjaga gawang lawannya.

Namun pencapaian personal Ibra, sayangnya, belum mampu membawa klub tersukses di daratan Inggris itu ke singgasana tertinggi, kampiun Premiere Ligue. Padahal salah satu ukuran penting kesuksesan seorang pemain adalah saat ia mampu membawa timnya menjuarai liga. Inilah rumpang yang ditinggalkan Ibra.

Meski MU tampil sebagai juara Piala Liga Eropa, yang membuatnya lolos otomatis ke Liga Champions, itu bukanlah hal prestisius karena merupakan kasta kedua di benua biru. Sama juga dengan dua gelar lain yang diraih MU sebelumnya, yaitu Comunity Shield dan Piala Liga Inggris. Bagi klub sekelas MU, pencapaian tersebut belum sempurna.

Dalam konteks inilah, kembalinya Ibra ke MU di musim ini memiliki misi yang sangat penting, baik bagi Ibra secara personal maupun MU sebagai klub. Rumpang-rumpang yang ditinggalkannya hendak dianyam secara erat sehingga di kemudian hari tidak ada lagi lubang-lubang yang tersisa.

Matahari Kembar?

Di dalam sebuah organisasi, keberadaan seorang pemimpin atau setidaknya seorang yang berpengaruh sangat penting. Dialah yang kerap memberikan sesuatu yang berbeda atau menyajikan sentuhan yang khas sehingga memberikan warna tersendiri terhadap organisasi itu. Namun, hal itu bisa jadi malah membawa masalah manakala ada dua sosok yang sama-sama berpengaruh di dalam organisasi.

Keduanya mampu memberikan warna dan sentuhan magis bagi organisasi itu. Orang sering menyebut keadaan tersebut sebagai adanya matahari kembar. Pada gilirannya semua anggota organisasi mengalami kebingungan atau kegalauan untuk meneladani manakah di antara kedua sosok tersebut yang lebih tepat.

Cobalah tengok kasus dalam berbagai organisasi, baik politik, ekonomi, hukum, bahkan kepemudaan. Tidak sedikit dari organisasi tersebut yang pecah gegara hadirnya dua sosok yang saling berebut pengaruh. Pada gilirannya lahirlah dua kepengurusan yang berbeda pada organisasi yang sama. Akibatnya, mudah ditebak, organisasi tersebut kehilangan soliditasnya.

Berkaca dari sini, apakah kembalinya Ibra ke Old Traffold akan membawa serta problem matahari kembar mengingat sekarang MU sudah memiliki Romelu Lukaku? Dan, seperti telah terlihat di dua pertandingan awal, Lukaku telah menjelma menjadi bomber yang haus gol. Sejauh ini ia menjadi penyerang terproduktif dengan terus mencetak gol.

Baik Ibra maupun Lukaku merupakan tipikal penyelesai akhir atau yang biasa dikenal dengan striker berpunggung 9. Dari sisi kebutuhan tim, keduanya sulit untuk diturunkan secara bersama-sama dalam sebuah pertandingan. Alhasil, mereka berdua mesti bergantian mengisi posisi tersebut.

Dalam situasi seperti ini, peran Mou sebagai manajer sangat diperlukan. Ia harus bisa mengendalikan kedua pemainnya itu agar tidak menonjolkan egonya masing-masing. Sebab, kalau hal itu terjadi, bukan tidak mungkin irama permainan tim justru akan terganggu.

Pengalaman Zinadine Zidan (Zizou) dalam menangani tim bertabur bintang, yakni Real Madrid, tampaknya patut ditiru. Zizou menerapkan sistem rotasi sehingga jatah main setiap pemainnya berkurang dari sebelumnya. Tak terkecuali sang megabintang Christiano Ronaldo pun terkena kebijakan tersebut.

Saya kira jika Mou bisa menerapkan sistem rotasi pada para pemain MU, problem yang telah disinggung di atas tidak akan mengganggu kesolidan skuad Setan Merah. Justru energi para pemain, khususnya Lukaku dan Ibra, akan terawat dengan baik dan selalu tampil fresh. Tentu kondisi ini sangat menguntungkan di tengah kompetisi liga yang ketat.

Selain itu, ada satu hal pada diri Ibra yang sangat diperlukan tim. Dan ini tampaknya disadari betul oleh Mou dan manajemen klub secara keseluruhan. Yakni sosok panutan, khususnya untuk pemain-pemain muda, terutama barisan penyerang. Meski bukan kapten tim, Ibra diyakini bisa memainkan peran penting tersebut untuk terus menjaga laju tim.

Dulu, di masa-masa awal kebangkitan MU, selain Sir Alex Ferguson (Fergie) yang berpengaruh, ada sosok lain yang juga memiliki pengaruh besar, yaitu Eric “the King” Cantona. Cantona memang terkenal temperamental, salah satunya terlihat dari aksi “tendangan kungfu”nya yang sangat terkenal. Namun, hal itu tidak menegasikannya sebagai sosok panutan di kalangan para pemain.

Itulah kenapa Fergie tetap mempertahankan Cantona sekalipun ia mendapatkan sanksi larangan bermain yang cukup panjang. Pelatih tersukses di Liga Inggris itu tidak tergoda untuk menjual Cantona ke klub lain. Sebaliknya, ia meyakini betul bahwa kehadiran Cantona di tim sangat diperlukan dan sulit digantikan oleh pemain-pemain lainnya.

Dalam derajat tertentu Ibra mirip dengan Cantona. Ia tak kurang temperamentalnya seperti pemain Prancis tersebut, tetapi juga sama-sama memberikan pengaruh positif kepada tim. Dan Mou tampaknya juga meyakini bahwa sosok Ibra bisa menjadi faktor pembeda bagi kebangkitan MU.

Karena itulah, pelatih berkebangsaan Portugis itu tidak ragu untuk mengontrak kembali Ibra. Maka, “pulanglah dengan girang,” wahai Ibra, karena kepulanganmu sesungguhnya adalah sebuah tugas untuk “menulis ulang sajak yang rumpang” di kompetisi bola terketat di dunia itu.

Iding Rosyidin

Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…