Selasa, Januari 26, 2021

Ketika Ibracadabra Pulang

Mou dan Harapan “Setan Merah”

Manchester United menang lagi. Empat gol yang bersarang di gawang kiper Swansea, Lukasz Fabianski, Sabtu lalu (19/08), semakin mengukuhkan status tim berjuluk "Setan Merah"...

Perasaan Suporter dan Kegagalan Indonesia di Piala AFF 2016

Buat sebagian orang, "kalah" bukanlah kata kerja, melainkan kata sifat. "Kalah" memuat banyak unsur yang biasanya sama sekali tak diinginkan: marah, jengah, memalukan; menjadi...

Menakar Jurus Fassone-Mirabelli, Duet Maut AC Milan

Di saat beberapa klub rival masih tertegun dengan begitu cepatnya proses perpindahan Leonardo Bonucci dari Juventus ke AC Milan, tim berjuluk I Rossoneri ini...

Menanti Gocetan Tangan Dingin Indra Sjafri

"Alhamdulillah dan bersyukur kami mampu menang atas Filipina, apalagi dengan skor sangat telak. Apresiasi serta terimakasih kepada pemain yang sudah berjuang di laga ini,"...
Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

[Foto: thesun.co.uk]
 

“Pulanglah dengan girang,” ujar penyair Joko Pinurbo dalam salah sebuah puisinya, Puisi Surat Pulang, “jika pulang adalah menulis ulang sajak yang rumpang.”

Penggalan puisi di atas agaknya cukup tepat menggambarkan kepulangan Zlatan Ibrahimovic (Ibra) ke Old Traffold, markas klub Manchester United (MU). Meski selama ini Ibra tidak pernah benar-benar meninggalkan kandang MU, tetapi ia sudah tak lagi berstatus pemain MU.

Oleh karena itu, ketika pemain berkebangsaan Swedia itu sudah menyatakan siap kembali merumput bersama tim Setan Merah setelah pulih dari cedera, maka ia pantas disebut pulang kembali ke rumahnya. Kesepakatan antara Ibra dan klub sudah dicapai. Maka, jika tak ada aral melintang, November tahun ini Ibra akan berseragam MU kembali.

Kepulangan Ibra ke Old Traffold, seperti disinggung dalam puisi di atas, patut dimaknai sebagai “menulis ulang sajak yang rumpang.” Ibra memang meninggalkan rumpang atau bolong-bolong di tubuh MU. Apalagi ia dibekap cedera sebelum liga benar-benar berakhir.

Tentang torehan prestasinya, memang tak diragukan lagi. Di musim perdananya saja, bersama tim yang kini dibesut Jose “the special one” Mourinho, Ibra berhasil mengemas 28 gol dalam berbagai kompetisi pads musim 2016-2017. Angka ini menunjukkan tingkat produktivitasnya sebagai bomber yang sangat menakutkan bagi penjaga-penjaga gawang lawannya.

Namun pencapaian personal Ibra, sayangnya, belum mampu membawa klub tersukses di daratan Inggris itu ke singgasana tertinggi, kampiun Premiere Ligue. Padahal salah satu ukuran penting kesuksesan seorang pemain adalah saat ia mampu membawa timnya menjuarai liga. Inilah rumpang yang ditinggalkan Ibra.

Meski MU tampil sebagai juara Piala Liga Eropa, yang membuatnya lolos otomatis ke Liga Champions, itu bukanlah hal prestisius karena merupakan kasta kedua di benua biru. Sama juga dengan dua gelar lain yang diraih MU sebelumnya, yaitu Comunity Shield dan Piala Liga Inggris. Bagi klub sekelas MU, pencapaian tersebut belum sempurna.

Dalam konteks inilah, kembalinya Ibra ke MU di musim ini memiliki misi yang sangat penting, baik bagi Ibra secara personal maupun MU sebagai klub. Rumpang-rumpang yang ditinggalkannya hendak dianyam secara erat sehingga di kemudian hari tidak ada lagi lubang-lubang yang tersisa.

Matahari Kembar?

Di dalam sebuah organisasi, keberadaan seorang pemimpin atau setidaknya seorang yang berpengaruh sangat penting. Dialah yang kerap memberikan sesuatu yang berbeda atau menyajikan sentuhan yang khas sehingga memberikan warna tersendiri terhadap organisasi itu. Namun, hal itu bisa jadi malah membawa masalah manakala ada dua sosok yang sama-sama berpengaruh di dalam organisasi.

Keduanya mampu memberikan warna dan sentuhan magis bagi organisasi itu. Orang sering menyebut keadaan tersebut sebagai adanya matahari kembar. Pada gilirannya semua anggota organisasi mengalami kebingungan atau kegalauan untuk meneladani manakah di antara kedua sosok tersebut yang lebih tepat.

Cobalah tengok kasus dalam berbagai organisasi, baik politik, ekonomi, hukum, bahkan kepemudaan. Tidak sedikit dari organisasi tersebut yang pecah gegara hadirnya dua sosok yang saling berebut pengaruh. Pada gilirannya lahirlah dua kepengurusan yang berbeda pada organisasi yang sama. Akibatnya, mudah ditebak, organisasi tersebut kehilangan soliditasnya.

Berkaca dari sini, apakah kembalinya Ibra ke Old Traffold akan membawa serta problem matahari kembar mengingat sekarang MU sudah memiliki Romelu Lukaku? Dan, seperti telah terlihat di dua pertandingan awal, Lukaku telah menjelma menjadi bomber yang haus gol. Sejauh ini ia menjadi penyerang terproduktif dengan terus mencetak gol.

Baik Ibra maupun Lukaku merupakan tipikal penyelesai akhir atau yang biasa dikenal dengan striker berpunggung 9. Dari sisi kebutuhan tim, keduanya sulit untuk diturunkan secara bersama-sama dalam sebuah pertandingan. Alhasil, mereka berdua mesti bergantian mengisi posisi tersebut.

Dalam situasi seperti ini, peran Mou sebagai manajer sangat diperlukan. Ia harus bisa mengendalikan kedua pemainnya itu agar tidak menonjolkan egonya masing-masing. Sebab, kalau hal itu terjadi, bukan tidak mungkin irama permainan tim justru akan terganggu.

Pengalaman Zinadine Zidan (Zizou) dalam menangani tim bertabur bintang, yakni Real Madrid, tampaknya patut ditiru. Zizou menerapkan sistem rotasi sehingga jatah main setiap pemainnya berkurang dari sebelumnya. Tak terkecuali sang megabintang Christiano Ronaldo pun terkena kebijakan tersebut.

Saya kira jika Mou bisa menerapkan sistem rotasi pada para pemain MU, problem yang telah disinggung di atas tidak akan mengganggu kesolidan skuad Setan Merah. Justru energi para pemain, khususnya Lukaku dan Ibra, akan terawat dengan baik dan selalu tampil fresh. Tentu kondisi ini sangat menguntungkan di tengah kompetisi liga yang ketat.

Selain itu, ada satu hal pada diri Ibra yang sangat diperlukan tim. Dan ini tampaknya disadari betul oleh Mou dan manajemen klub secara keseluruhan. Yakni sosok panutan, khususnya untuk pemain-pemain muda, terutama barisan penyerang. Meski bukan kapten tim, Ibra diyakini bisa memainkan peran penting tersebut untuk terus menjaga laju tim.

Dulu, di masa-masa awal kebangkitan MU, selain Sir Alex Ferguson (Fergie) yang berpengaruh, ada sosok lain yang juga memiliki pengaruh besar, yaitu Eric “the King” Cantona. Cantona memang terkenal temperamental, salah satunya terlihat dari aksi “tendangan kungfu”nya yang sangat terkenal. Namun, hal itu tidak menegasikannya sebagai sosok panutan di kalangan para pemain.

Itulah kenapa Fergie tetap mempertahankan Cantona sekalipun ia mendapatkan sanksi larangan bermain yang cukup panjang. Pelatih tersukses di Liga Inggris itu tidak tergoda untuk menjual Cantona ke klub lain. Sebaliknya, ia meyakini betul bahwa kehadiran Cantona di tim sangat diperlukan dan sulit digantikan oleh pemain-pemain lainnya.

Dalam derajat tertentu Ibra mirip dengan Cantona. Ia tak kurang temperamentalnya seperti pemain Prancis tersebut, tetapi juga sama-sama memberikan pengaruh positif kepada tim. Dan Mou tampaknya juga meyakini bahwa sosok Ibra bisa menjadi faktor pembeda bagi kebangkitan MU.

Karena itulah, pelatih berkebangsaan Portugis itu tidak ragu untuk mengontrak kembali Ibra. Maka, “pulanglah dengan girang,” wahai Ibra, karena kepulanganmu sesungguhnya adalah sebuah tugas untuk “menulis ulang sajak yang rumpang” di kompetisi bola terketat di dunia itu.

 

Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.