OUR NETWORK
Jangan Mau Dibohongi Pakai Sepakbola
Pesepakbola Arema FC Ahmad Bustomi (kiri) berusaha mempertahankan bola dari hadangan pesepakbola Persija Jakarta, Sandi Darma Sutte (kanan) dalam pertandingan Piala Presiden di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (11/2). Pada akhir babak pertama Persija mengimbangi arema dengan skor 1-1. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/ama/17.
Pesepakbola Arema FC Ahmad Bustomi (kiri) berusaha mempertahankan bola dari hadangan pesepakbola Persija Jakarta, Sandi Darma Sutte (kanan), dalam pertandingan Piala Presiden di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu (11/2). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto.

Kampanye yang diiringi dengan janji-janji adalah ritus yang menyebalkan. Bagaimana bisa orang-orang berteriak kegirangan mendengarkan seseorang di atas panggung mengobral janji-janji yang sekadar mimpi? Apalagi janji-janji itu memiliki ruang lingkup yang kelewat luas sehingga dampaknya tidak benar-benar terasa.

Sialnya, janji-janji itu bukan cuma menyenggol soal sepakbola, tapi juga telah masuk ke dalamnya.

Siapa yang tidak mau masuk ke Piala Dunia? Siapa pula yang tak mau dibikinkan stadion megah seperti di Eropa? Janji-janji ini sering terdengar saat kampanye. Kenyataannya nihil.

Sepakbola sudah kepalang punya tempat di lubuk hati terdalam banyak masyarakat Indonesia. Hal ini terbilang ironis karena sulit untuk membanggakan sepakbola Indonesia, kecuali gairah yang ditunjukkan para penggemar.

Sudah banyak diskusi soal apa yang salah sebenarnya dengan sepakbola Indonesia. Pernyataan yang melambangkan rasa frustrasi macam “Dari 250 juta warga Indonesia, mengapa begitu sulit mencari 11 yang terbaik” masih terus terdengar. Jelas, itu adalah pertanyaan bodoh karena pertanyaan yang lebih tepat adalah “Dari segelintir pemimpin mengapa begitu sulit menemukan yang peduli terhadap sepakbola”.

Apa Gunanya Stadion Sepakbola?

Pengambil kebijakan memegang peranan penting dalam kemajuan sepakbola sebuah negara. Yang mesti diperhatikan adalah sulit bagi sebuah negara untuk maju dalam semua bidang. Ada yang liganya kompetitif, tapi timnasnya tidak. Ada yang kesebelasan liganya hebat, kesebelasan negaranya jagoan, tapi liganya sulit untuk di-industri-kan.

Lantas, kalau ingin masuk ke Piala Dunia, apakah sudah cukup dengan sekadar membangun stadion megah? Berdasarkan Tribun Pekanbaru, Stadion Utama Riau yang luar biasa megahnya kini menjadi habitat yang menyenangkan buat ilalang untuk tumbuh hingga dua meter. Belum lagi, setiap malam, stadion yang menjadi lokasi pembukaan Pekan Olahraga Nasional 2012 ini menjadi sarang geng motor dan muda-mudi untuk berbuat mesum.

Dengan iklim sepakbola Indonesia saat ini, bagaimana caranya pemerintah daerah membantu sebuah kesebelasan? Hal ini mestinya dibalas lagi dengan pertanyaan, “Atas urusan apa pemerintah daerah mengurusi kesebelasan profesional?”

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tahun 2011, pemerintah daerah sudah tidak boleh lagi mengalokasikan dana APBD untuk kesebelasan. Hal ini sejalan dengan niat Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) untuk mem-profesional-kan kesebelasan-kesebelasan di Indonesia.

Hal ini mirip dengan yang terjadi di Italia di mana mayoritas stadion yang ada dimiliki oleh pemerintah daerah. Setiap kesebelasan lebih memilih menyewa stadion. Untuk jangka waktu pendek, cara seperti ini mungkin menguntungkan. Namun, uang yang dikeluarkan klub seperti menguap begitu saja. Berbeda jika mereka membangun sendiri stadionnya.

Dengan memiliki stadion sendiri, klub jelas tak perlu mengeluarkan uang sewa. Sebaliknya, mereka bisa mendapatkan uang dari para penyewa stadion. Di masa kini, stadion bukan cuma dipakai buat sepakbola. Tidak sedikit yang menjadi tempat konser. Belum lagi stadion kerap diintegrasikan dengan pusat perbelanjaan sehingga memiliki nilai lebih. Modal klub pun bisa terkatrol.

Pentingnya Pembinaan

Pada 2005, Persikab Kabupaten Bandung berkandang di Stadion Si Jalak Harupat. Kala itu, Stadion Jalak Harupat adalah stadion berstandar A ketiga setelah Stadion Gelora Bung Karno dan Stadion Jakabaring Palembang. Namun, Persikab justru bermain di Divisi 2 atau tingkat ketiga dalam piramida kompetisi Indonesia.

Persikab masih berkandang di Stadion Si Jalak Harupat saat terdegradasi ke Liga Nusantara pada tahun lalu. Faktanya, stadion megah saja tidak membantu apa-apa tanpa adanya pembinaan.

Siapa yang bertugas membina sepakbola?

Di sinilah pemerintah daerah dan pemerintah pusat berperan. Pemerintah Tiongkok menyiapkan master plan agar mereka bisa menjadi penguasa sepakbola di dunia pada 2050. Apa yang dilakukan Tiongkok memang tidak tanggung-tanggung. Lewat Presiden Xi Jinping, Tiongkok mulai berbenah sedari dini. Sekolah-sekolah dasar sudah memiliki ekstrakulikuler sepakbola. Sekolah sepakbola diperbanyak. Pun halnya dengan sekolah kepelatihan.

Apa yang dilakukan Tiongkok jelas bukan isapan jempol. Lewat pembinaan jangka panjang, mereka bisa menjadi kekuatan utama di Olimpiade 2008 saat menjadi tuan rumah. Keberhasilan tersebut tak lepas dari fokusnya Tiongkok membina atlet-atlet sedari dini. Bahkan, mereka tak luput dalam hal detail.

Sedari kecil, anak-anak dipilah dan dipilih mana yang cocok jadi atlet. Mereka bisa memprediksi bagaimana struktur tubuh si anak di usia 20 tahun atau saat mereka mulai menjadi atlet profesional. Di 2008, Tiongkok menjadi juara umum. Namun, keberhasilan ini seperti tak lengkap karena mereka gagal di sepakbola.

Kini, dengan master plan yang sudah disempurnakan, Tiongkok menyasar langsung tiga hal. Pembinaan tetap jalan, infrastruktur siap dibangun, dan industri sepakbola tengah dirajut. Rencana tak mengawang-awang tapi rencana-rencana itu disusun untuk menunjang tujuan yang tengah dicapai.

Kenapa Harus Sepakbola?

Kita tentu sering mendengar bagaimana prestasi Indonesia di Piala Danone. Anak-anak berusia di bawah 12 tahun ini mampu bersaing dengan negara-negara lain. Pada 2006 tim Danone Indonesia mereka berhasil menempati peringkat keempat!

Lantas, mengapa kondisi tersebut tak berlaku saat mereka mulai dewasa?

Kita mungkin sering bertanya apa untungnya mengelola sebuah kesebelasan? Benarkah kesebelasan di Indonesia menghasilkan keuntungan? Bisa jadi, jawabannya adalah tidak.

Mengapa Polri membuat PS Bhayangkara dan TNI membuat PS TNI? Apakah mereka mengejar keuntungan? Kalau bukan mengejar keuntungan, mengapa mereka membuat kesebelasan? Bukankah itu cuma buang-buang uang?

Gengsi bisa jadi jawaban utamanya. Gengsi kedaerahan dan gengsi instansi bisa menjadi terdepan. Kemenangan bukan disasar demi keuntungan, tapi demi gengsi yang tak tertahankan. Para pemain diajarkan untuk menang demi menyasar gengsi. Menjadi wajar kalau aksi-aksi tidak sportif kerap muncul, seperti mencederai pemain lain dan menghajar wasit.

“Saya melihat Walikota Kediri waktu itu tidak secara blak-blakan membawa nama Persik. Tapi, kami sebagai masyarakat Kediri sadar kalau walikotanya ini memang suka bola. Pun dengan anaknya, Iwan Budianto, yang menjadi manajer Persik. Mereka adalah sosok pejabat yang menurut kami waktu itu cinta bola,” kata Ammar Mildandaru Pratama, penulis senior Panditfootball.

Mildan merasa prestasi Persik secara tidak langsung menaikkan moral masyarakat Kediri. Mereka merasa bisa sejajar dengan kota lain seperti Surabaya dan Malang.

“Dulu, yang suka Persik itu cuma segelintir. Tapi dengan berbagai prestasi yang ditorehkan, sekarang hampir semua Kediri, kota dan kabupaten, jadi mencintai Persik,” ujar Mildan. “Menjadi wajar kalau saat itu walikotanya dipilih lagi di Pilkada.”

Apabila berkaca pada Liga Primer Inggris, Liga Indonesia tentu jauh dari kata “industri”. Premier League bisa memanfaatkan setiap jengkal yang berhubungan dengan liga untuk dikomersialisasikan dan dijadikan keuntungan.

Pemilik Manchester United, Keluarga Glazer, mampu menutup utang-utangnya senilai ratusan juta paun, lewat keuntungan yang diterima United. Ini menunjukkan kalau klub, di Premier League, sudah berada dalam posisi yang mendapatkan keuntungan.

Sepakbola dan Politik

Salah satu hadiah terbaik dari demokrasi adalah semua orang kini bisa menjadi pemimpi; bisa punya mimpi untuk berkuasa dan mengatur segalanya. Mesin partai memang masih bisa diandalkan, tapi suara mengambang kini menjadi favorit untuk diperebutkan.

Massa mengambang, disebut seperti itu, karena ada banyak faktor yang membuat pendirian mereka lemah sehingga belum yakin dan masih mengambang. Tidak terikatnya mereka pada sebuah partai membuat massa mengambang menjadi alasan mengapa janji kampanye tak dibuat asal-asalan.

Sepakbola bukan cuma punya pesona buat masyarakat biasa, tapi juga buat mereka yang ikut Pilkada. Dalam politik, sepakbola diwujudkan dalam janji-janji. Ada yang berhasil, ada yang merasa kalau itu adalah janji yang mustahil.

Di masa kampanye, para calon pemimpin biasanya tiba-tiba rajin hadir di stadion. Ia menanggalkan pakaian keduniawiannya dengan jersey dan syal kesebelasan tertentu. Padahal, cuma penggemar sepakbola yang mengetahui bagaimana daya magis dari sebuah jersey sepakbola meresap ke dalam tubuh.

Jersey yang melekat di tubuh para calon pemimpin, hanya akan membuat mereka terlihat jelek. Terlebih, mereka akan dianggap sombong karena menonjolkan perut yang buncit. Selain itu, senyum mereka juga amat mengganggu saat mengangkat syal dengan kedua tangan. Bagi seorang suporter, tidak seharusnya mengangkat syal sembari tersenyum, karena itu adalah sebuah simbol bagaimana seseorang memiliki kebanggaan terhadap sebuah kesebelasan; Juga, sebagai gestur menantang lawan yang berhadapan.

Maka, jangan mau dibohongi (oleh calon pemimpin) yang pakai janji-janji soal sepakbola, karena biasanya itu omong kosong belaka.

Frasetya Vady Aditya

Managing editor SetanMerah.Net

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…