in

Di Sepakbola, Maaf Hanyalah Kata Belaka


Cristiano Ronaldo [Bola.net]
Saat bertanding di atas lapangan, pesepakbola bisa menjadi makhluk yang paling jahat yang pernah ada di muka bumi. Setelah mencelakakan orang, dalam sekejap ia bisa tersenyum senang, merayakan keberhasilan bersama rekan-rekan. Di sepakbola, maaf hanyalah kata belaka.

 

Dalam kehidupan, permintaan maaf baru dikatakan tulus saat seseorang menunjukkan empatinya. Apabila parameternya seperti ini, permintaan maaf dalam sebuah pertandingan sepakbola adalah kemustahilan. Bukan romansa persahabatan yang dibutuhkan dalam sebuah pertandingan, melainkan hasil akhir yang menentukan (baca: kemenangan).

Stadion Phillips, 15 September 2015. Malam itu seperti malam-malam kebanyakan yang menjadi mimpi kesebelasan besar: Bertanding di Liga Champions merajut impian dan kejayaan.

Bagi Shaw, itu adalah kali pertamanya di musim keduanya bersama Manchester United. Di kesebelasan sebelumnya, Southampton, jangankan bermimpi main di Eropa, bertahan di Premier League saja agaknya merupakan anugerah.

Pertandingan baru berusia 14 menit saat Shaw mendapatkan peluang untuk menerobos kotak penalti PSV Eindhoven. Segalanya berjalan lancar sampai Hector Moreno melancarkan tekel yang membuat Shaw terkapar.

Awalnya, Shaw tak merasakan apa pun, sampai ia melihat ke arah bench Manchester United. Para penghuninya menunjukkan wajah ketakutan. Di situ Shaw tahu kalau ada hal buruk yang menimpanya. “[Aku] memegangi pahaku dan melihat ke arah kakiku, dan yang kulihat, kakiku tengah menggantung di sana,” kenang Shaw.

Moreno menghampiri Shaw dan meminta maaf. Di saat itu, menerima maaf adalah perkara mudah. Kaki patah tak masalah. Usianya masih muda, kariernya masih panjang. Banyak pesepakbola dengan patah kaki yang masih bisa bersinar.

Lambat laun, Shaw mulai menyadari kalau maaf Moreno hanyalah kata belaka. Belum kering bibirnya terucap, Moreno mencetak gol penyama kedudukan sebelum wasit meniup peluit babak pertama berakhir. Di akhir pertandingan, luka itu mulai terasa menyakitkan setelah situs resmi UEFA menobatkan Moreno sebagai pemain terbaik dalam pertandingan tersebut.

Rasa sakit itu mulai terasa saat Shaw terbaring di rumah sakit. Selain rasa nyeri dari kakinya, Shaw mulai merasakan guncangan psikologis. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berbaring dan membayangkan akan seburuk apa masa depannya. Memang, rekan-rekannya, bahkan Moreno, sempat menjenguk. Namun, kesendirian adalah teman sejatinya.

Patah tulang kaki amatlah mengerikan, utamanya buat pesepakbola. Secara fisik, penyembuhannya bisa mencapai satu tahun. Tak berlatih dan bertanding selama itu akan membuat performa pesepakbola tak bisa kembali dengan instan. Belum lagi rasa trauma yang menghantui saat ada lawan yang bermain secara agresif.

Benar saja. Kini, Shaw bukan lagi pilihan utama Jose Mourinho di sisi kiri. Terlihat jelas adanya penurunan performa dari saat ia bermain di Southampton. Padahal, Shaw pernah mendapatkan label pemain muda termahal saat didatangkan United senilai 30 juta paun. Publik kini justru menganggapnya sebagai pembelian yang penuh kesia-siaan.

Kebohongan Perayaan Gol

Cristiano Ronaldo barangkali amat berterima kasih pada Manchester United dan Sir Alex Ferguson yang telah mendidik dan menggiringnya sebagai salah satu pesepakbola terbaik di dunia. Ia masih menganggap Sir Alex sebagai sosok penting dalam kehidupannya.

21 Desember 2012, sehari setelah pengundian babak 16 besar Liga Champions, Ronaldo buka suara setelah Real Madrid mesti berhadapan dengan Manchester United. Ini merupakan musim ketiga Ronaldo di tim ibu kota Spanyol tersebut dan yang pertama baginya untuk kembali berhadapan menghadapi tim yang membesarkan namanya.

“Aku tak akan merayakannya kalau aku mencetak gol ke gawang United,” kata Ronaldo kepada harian Spanyol, AS. “Aku masih bicara dengan Ferguson. Aku amat merindukannya dan aku merindukan Manchester United. Aku merasa sangat baik di sana dan kami sudah layaknya keluarga.”


Dua bulan berselang, Ronaldo menghadapi The Red Devils di Santiago Bernabeu. Ia mencetak gol penyama kedudukan setelah United unggul terlebih dahulu lewat sundulan Danny Welbeck. Ronaldo tak merayakan gol.

Sebulan kemudian, di leg kedua, Ronaldo kembali ke Old Trafford. Sebelumnya, Sir Alex sudah mewanti-wanti kepada penggemar United bahwa mereka bebas mem-boo Ronaldo. Tapi, mereka harus ingat kalau dalam enam musimnya bersama Manchester United, Ronaldo turut mengantarkan mereka meraih tiga gelar Premier League dan satu piala Liga Champions.

United unggul terlebih dahulu lewat gol bunuh diri Sergio Ramos di awal babak kedua. Pada menit ke-66, Luka Modrid menyamakan kedudukan yang membuat agregat imbang 2-2.

Tiga menit setelah gol Modric, sebuah tusukan dari Gonzalo Higuain di sisi kiri pertahanan United menghasilkan umpan panjang ke tiang jauh. Di sana, Ronaldo telah menanti dengan menyodorkan kaki kanannya. Setelah menyaksikan gawang David De Gea terkoyak untuk kedua kalinya, Ronaldo berjalan ke belakang gawang. Ia mengangkat tangannya, tanda tak merayakan gol.

Hal ini yang membuat Ronaldo hanya menghasilkan sedikit pembenci di kalangan penggemar Manchester United. Tak merayakan gol, sama artinya seperti permintaan maaf karena itu memang sudah tugas Ronaldo untuk menjebol gawang tim yang masih dicintainya.

Apa yang dilakukan Ronaldo sejatinya tak bisa membuktikan apakah permintaan maafnya benar-benar tulus, atau sekadar gimmick seperti yang dilakukan Robin van Persie. Pasalnya, Ronaldo melakukannya dalam dua pertandingan dengan jarak yang berdekatan, sehingga emosi yang terjalin masih begitu dalam adanya.

Pada musim panas 2012, secara mengejutkan Robin van Persie hijrah ke tim rival Arsenal, Manchester United. Van Persie menjadi satu dari sekian pemain Arsenal yang memutuskan hijrah demi meraih gelar di tim lain seperti Bacary Sagna, Gael Clichy, Samir Nasri, hingga Cesc Fabregas.

3 November 2012, Robin van Persie mencetak gol ke gawang Arsenal dan dia tak melakukan perayaan.

28 April 2013, Robin van Persie mencetak gol ke gawang Arsenal dan dia tak melakukan perayaan.

10 November 2013, Robin van Persie mencegak gol ke gawang Arsenal dan dia berlari kegirangan ke arah penggemar Manchester United, dan meluncur dengan lututnya. Ia merentangkan kedua tangannya seperti yang biasa ia lakukan setelah mencetak gol.
Tak sedikit penggemar sepakbola yang merasa menolak merayakan gol dengan alasan “permintaan maaf” atau sebagai “rasa hormat” merupakan sesuatu yang menjijikkan.

Sehormat apa pun pesepakbola terhadap tim yang dihormatinya, toh ia tak lagi dibayar oleh mereka. Ronaldo tak lagi digaji Manchester United, Van Persie pun tak digaji Arsenal. Lantas, mengapa mereka mesti menahan diri?

Tentu beruntung menjadi Ronaldo karena ia mencetak gol di dua masa yang berdekatan. Bandingkan dengan Van Persie yang mesti menunggu lebih dari satu musim untuk bisa meluapkan emosi yang sebenarnya. Lantas, apa artinya dari ucapan Van Persie pada November 2012 ini?

“Aku bermain di sana selama delapan tahun. Aku memiliki waktu yang fantastis di sana dan aku menghormati penggemar, manajer, pemain, dan seluruh klub. Itulah mengapa aku tak merayakan gol?”

Maaf, Basa-basi yang Diperlukan

Meskipun permintaan maaf bisa jadi sekadar basa-basi, tapi itu amat diperlukan saat berhadapan dengan orang yang tepat. Sialnya, hal ini tak bisa dipahami benar oleh Alf-Inge Haaland.

Haaland kala itu digadang-gadang sebagai salah satu pemain Norwegia terbaik yang pernah ada. Di usia 21 tahun, ia sudah bergabung bersama Nottingham Forest. Lalu, pada 1997, Haaland hijrah ke Leeds United. Di sinilah perseteruan itu dimulai.

Pada September 1997, Leeds menjamu Manchester United di Elland Road. Hasil akhir pertandingan menunjukkan kemenangan 1-0 untuk The Peacocks. Namun, bukan itu yang menjadi sorotan utama, melainkan tekel Haaland yang membuat Roy Keane menderita cedera ligamen. Keane pun ditandu keluar lapangan sementara Haaland menerima kartu kuning.

Ada satu hal yang membuat Keane begitu marah, yaitu ucapan Haaland yang menuduh kalau Keane pura-pura cedera untuk menghindari sanksi. Lalu, ada sejumlah pernyataan Haaland di media yang terkesan memprovokasi. Salah satunya yang ini:

“Aku tak berpikir kalau mental Roy Keane itu baik. Dia tak pernah berani menatap mataku sebelum pertandingan. Aku amat tak menyukai United juga para pemainnya,” ucap Haaland.

Empat tahun setelah insiden itu, Keane dan Haaland kembali bertemu. Kini, dalam Derby Manchester. Keane agaknya benar-benar ingin menuntaskan dendamnya. Dengan sengaja, ia menghajar lutut Haaland; salah satu alasan yang membuatnya pensiun dua tahun kemudian.

“Ada sejumlah hal yang aku sesali dalam hidup, tapi dia (Haaland) bukanlah satu di antaranya,” tulis Keane dalam autobiografinya.

Luke Shaw memang sudah benar-benar memaafkan Hector Moreno. Tapi, tetap saja permintaan maaf tak bisa mengembalikan satu tahun percuma yang ia habiskan untuk masa penyembuhan.

Di sisi lain, Van Persie sadar kalau meminta maaf telah mencetak gol ke gawang mantan tim adalah hal yang sia-sia. Untuk apa meminta maaf pada tim yang tak pernah memberikan segalanya untukmu?

Sementara itu, dendam di dada Keane tak pernah redup dan terus membara. Tekel Haaland tak pernah ia lupakan; meski sejatinya bukan tekel itu yang membuatnya penasaran, melainkan ucapan Haaland yang mengiris harga dirinya.

Permintaan maaf, meski sekadar basa-basi, bisa berarti besar. Andai Haaland meminta maaf, mungkin kariernya sebagai pesepakbola masih akan terus berlanjut. Tapi, Haaland tak melakukannya. Ia malah kembali mengeluarkan pernyataan yang bernada provokasi.

Bagaimanapun, permintaan maaf dan memberikan maaf, adalah fondasi dalam kehidupan sosial manusia. Kalau mata dibayar mata, maka dunia akan buta. Kalau kaki patah dibayar tekel brutal yang disengaja, maka sepakbola hanya akan menjadi permainan di kursi roda.

Baca juga:

Habis Manis Ranieri Dibuang

NSB12, Bisnis Sepakbola, dan Sisa-sisa Idealisme


Managing editor SetanMerah.Net

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR