Kamis, Maret 4, 2021

Alexis, Politik, dan Problem Soliditas

Mau Dibawa ke Mana Liga Kita, Jenderal?

Masa penantian panjang pada kepastian bergulirnya liga sudah berakhir. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sudah memastikan Liga 1 akan bergulir pada 15 April dan...

Menggelorakan Nasionalisme lewat Sea Games 2017

Pesta akbar kompetisi olahraga antar negara se-ASEAN (SEA Games) sedang berlangsung di Malaysia pada 19-31 Agustus 2017. Tahun ini merupakan perhelatan ke-29, di mana...

Efek Essien: Mengais Berkah dari Nama Besar Si Bison

Merapatnya Essien ke Persib adalah berkah. Bagi Persib, bagi sepakbola Indonesia, dan tentu saja bagi jurnalis olahraga. Hampir semua media olahraga ternama di dunia...

Menakar Konsistensi Real Madrid dan Juventus di Lapangan

“Sakla samanı, gelir zamanı”. Ini peribahasa Turki yang dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan menjadi "make hay while the sun shines”. Pesannya kurang-lebih begini: kita harus memanfaatkan...
Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.

Dunia olah raga dan politik sebenarnya banyak memiliki kesamaan. Di dalam permainan olah raga, sebut saja sepak bola, seorang pemain diberikan keleluasaan untuk melakukan kreativitas di atas lapangan, apalagi jika ia sebagai jenderal lapangan tengah. Di dalam politik lebih-lebih lagi, kreativitas para aktor politik di dalam lapangan politik justru merupakan faktor sangat penting atas keberhasilannya.

Termasuk juga kesamaan yang mewadahi aktivitas olah raga dan politik tersebut adalah organisasi. Salah satu aspek penting dari sebuah organisasi, entah yang bergerak di bidang olah raga maupun politik, adalah masalah soliditas. Soliditas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah keadaan (sifat) solid (kukuh, berbobot, dan sebagainya). Maka, sebuah organisasi bisa disebut solid kalau keadaan atau sifatnya kukuh atau berbobot; ia tidak mudah pecah atau goyah.

Dilema Alexis dan Pogba

Sebagai sebuah organisasi, klub Manchester United (MU) harus mampu membangun soliditas tim yang kuat supaya tetap bisa bertahan di barisan papan atas English Premier Leaguge (EPL). Liga yang disebut-sebut paling kompetitif di dunia itu tentu mengharuskan setiap kontestannya untuk memiliki soliditas tim yang kokoh. Kalau tidak, siap-siap saja terlempar dari persaingan yang sangat ketat itu.

Masalahnya justru inilah yang sekarang tengah dihadapi oleh pelatih Manchester United, Jose Mourinho. The Special One, julukan pelatih berkebangsaan Portugal tersebut, dipusingkan oleh keharusan untuk memainkan pemain-pemain bintangnya, terutama Paul Pogba dan Alexis Sanchez, yang baru hijrah ke Old Trafold dari Arsenal. Keduanya tampaknya ingin dimainkan secara bersama-sama oleh Mou.

Tetapi kemudian ada persoalan. Kedua pemain tersebut biasa bermain di posisi yang sama, yaitu gelandang serang. Mou sebagai seorang pelatih sekaligus manajer lebih memilih Alexis yang ditempatkan di posisi tersebut. Pemain pewaris nomor 7 di The Red Devils itu dianggap lebih tepat untuk memainkan peran sebagai gelandang serang. Alexis pun sementara ini mampu menjawab kepercayaan yang diberikannya.

Namun, ternyata Pogba tidak menyukai strategi yang dipilih Mou. Ia justru memprotes tindakan sang pelatih karena harus memainkan posisi gelandang bertahan. Ia merasa tidak leluasa bermain di posisi tersebut sehingga tidak bisa tampil maksimal. Saat bertanding melawan Newcastle United yang berakhir dengan kekalahan MU 0-1, misalnya, Pogba ditarik karena performanya mengecewakan.

Dan pada saat MU melawat ke Huddersfield Town dalam lanjutan Piala FA Sabtu 17/02/18, Pogba bahkan tidak diturunkan. Seperti dilansir theguardian.com (17/02/18), Pogba tidak dimainkan karena sakit. Tetapi beredar juga kabar bahwa sebenarnya ia tidak diikutkan dalam tim karena perseteruannya dengan Mou. Tampaknya keretakan internal di tim MU masih akan terus berlanjut yang mungkin saja bisa mengganggu soliditas tim.

Mengedepankan Profesionalisme

Kalau di dalam organisasi seperti tim sepak bola ditemukan problem soliditas, apatahlagi di dalam organisasi politik. Hampir setiap partai politik di negeri ini kerap ditimpa problem soliditas internal. Seperti halnya di klub sepak bola, gangguan soliditas tersebut bisa muncul karena masalah di kalangan anggota partai atau terkait pilihan pucuk pimpinannya.

Partai Golkar, misalnya, sempat beberapa tahun dilanda keretakan internal sehingga menimbulkan dua kubu kepemimpinan. Beruntung kemudian mereka berhasil bersatu kembali di bawah nakhoda baru. Demikian pula Hanura mengalami hal yang serupa. Bahkan sampai saat ini problem keretakan internal partai ini masih tetap berjalan.

Dalam derajat tertentu, soliditas pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) juga tidak lepas dari persoalan soliditas, terutama terkait dengan partai-partai politik pendukung. Hal ini, misalnya, terlihat pada salah satu partai politik yang sudah menyatakan diri bergabung ke barisan pendukung pemerintah, tetapi dalam beberapa hal sering berseberang jalan dengan pemerintah.

Bahkan partai pendukung utama Jokowi sendiri, yakni PDI Perjuangan, tampaknya menyisakan persoalan soliditas juga dengan Jokowi. Dalam sejumlah kasus, misalnya, tokoh-tokoh PDI Perjuangan yang berada di parlemen kadang menyuarakan sesuatu yang berbeda dengan kebijakan Jokowi. Aneh sebenarnya sikap yang ditunjukkan partai kepala banteng tersebut. Mungkin karena itu pula Jokowi tampak sangat akrab dengan partai lain, Golkar.

Mengatasi persoalan soliditas, antara lain, bisa melalui kepiawaian seorang pemimpin dalam mengendalikan organisasinya. Mungkin saja ia bisa mengakomodasi kepentingan banyak anggotanya, tetapi juga tidak sampai mengorbankan kepentingan bersama atau kepentingan organisasi. Dalam hal ini, ia harus bisa meyakinkan bahwa keputusannya untuk menetapkan seseorang pada jabatan tertentu adalah semata-mata untuk kepentingan organisasi, bukan individu.

Dalam konteks ini, keputusan Mou menempatkan Alexis di posisi gelandang serang, alih-alih Pogba, adalah demi kepentingan tim. Alexis selama ini, terutama ketika masih bermain di Barcelona, terbiasa ditempatkan di posisi tersebut dan kontribusinya terhadap permainan tim Blaugrana sangat positif. Sementara Pogba, meski terbiasa juga di posisi itu, ia pernah dimainkan juga di posisi gelandang bertahan saat masih berseragam Juventus. Oleh karena itu, pilihan Mou bukan tanpa alasan.

Dalam konteks ini, seorang pemain sepak bola atau seorang politisi, mesti bersikap profesional. Ia, misalnya, mesti lebih mengedepankan kepentingan bersama, dalam hal ini tim atau organisasi, daripada kepentingan individu. Pogba tidak perlu terlalu terobsesi untuk ikut membangun serangan atau bahkan menciptakan gol, karena peran seorang pemain tidak hanya dilihat dari torehan golnya semata.

Bagaimanapun Paul Pogba adalah seorang pemain profesional. Karena itu, ia mesti menunjukkan profesionalitasnya sebagai seorang pemain di dalam lapangan. Penghargaan suporter MU atau penonton secara umum akan didapatkan kalau ia benar-benar bermain secara profesional.

Ayo, Pogba, MU menunggu gebrakanmu lagi. GGMU!

Kolom terkait:

Siapa Bakal Tersingkir Setelah MU Membeli Alexis Sanchez?

Saatnya Manchester United Bergegas!

Mou dan Harapan “Setan Merah”

Avatar
Iding Rosyidin
Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penggila sepakbola.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.