Minggu, Januari 17, 2021

Nyala Membara Aksi Kamisan

Penderitaan Liverpool Itu Akan Berakhir Musim Ini

Jika saja penyair Sapardi mengerti sedikit saja soal sepakbola, barangkali ia akan menulis: "Tak ada yang lebih tabah dari pendukung Liverpool." Ya, itu mungkin...

Pokemon Go dan Untung-Rugi Game Berbasis GPS

Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi (ICT) yang sangat pesat akhirnya meningkatkan mobilitas umat manusia pada tingkat yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, terutama dengan penemuan...

Setelah Kematian Santoso

Satuan Tugas Tinombala sukses melumpuhkan gembong teroris Santoso alias Abu Wardah, Senin (18/7). Capaian tersebut laik diapresiasi mengingat Satgas sebelumnya yang sejak 2015 menjalankan...

Urgensi UU Penghapusan Kekerasan Seksual

Pro dan kontra terkait peraturan pemerintah pengganti undang-undang tentang kebiri masih berlangsung. Namun Perppu Nomor 1 Tahun 2016 telah disetujui Presiden. Perppu ini menggantikan...
Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.

“Hidup Korban…” “Jangan Diam…” “Lawan…!”

Aktivis mana yang tak tahu jargon ini? Ya, jargon yang selalu diteriakan pada setiap hari kamis di depan istana presiden. Diteriakan oleh para keluarga korban kekejaman rezim yang menuntut keadilan, serta para aktivis dan simpatisan yang juga ikut hadir dalam aksi setiap kamis tersebut, Aksi Kamisan.

http://Dokumentasi%20Pribadi

Aksi Kamisan ini pertamakali diadakan pada 18 Januari 2007, sebuah aksi diam yang diinisiasi oleh Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) bersama Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK) dan KontraS. Aksi Kamisan ini pada awalnya merupakan sebuah aksi diam yang sudah direncanakan dan disepakati mengenai kapan, warna dan pakaiannya, hingga mascot yang akan dipakai.

Hari kamis merupakan hari yang disepakati, lokasi yang dipilih adalah di depan istana presiden karena istana merupakan simbol pusat kekuasaan, hitam dan memegang payung mengartikan bahwa rasa keteguhan, keberanian untuk mereka selalu menuntut hak mereka dan tanggung jawab negara.

Aksi Kamisan dilatarbelakangi oleh berbagai kasus pelanggaran HAM. Jika ditarik kebelakang, banyak sekali pelanggaran HAM terjadi yang justru diaktori oleh negara, yang paling populer adalah apa yang terjadi pada tahun 1965 ketika banyak orang yang dituduh sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dibumihanguskan karena kepentingan politik belaka.

Selain itu peristiwa Mei 1998 juga merupakan salah satu tragedi yang memilukan bagi kita, karena banyak terjadi korban jiwa yang berjatuhan. Lebih dari itu, banyak sekali tragedi atau kekerasan HAM yang dilakukan oleh negara seperti hilangnya Widji Thukul, peristiwa Semanggi I dan Semanggi II, Trisakti, peristiwa Tanjung Priok, Talangsari 1989, dan sebagainya.

Peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi ini bukanlah hanya salah satu faktor yang melatarbelakangi Aksi Kamisan ini, yang paling utama justru sikap pemerintah yang seolah abai dan terus diam dalam menyikapi dan menindaklanjuti pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia ini.

Aksi Kamisan ini menjadi sebuah simbolisme gerakan sosial, bahwa sebagai masyarakat, juga memiliki kemampuan untuk bertindak menuntut tanggung jawab negara dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM, hal ini adalah sebuah bentuk dialektika antara struktur dengan agensi, dimana struktur merupakan sistem sosial-politik yang menjadi faktor pembatas dan/atau peluang untuk aktor bertindak.

Kekuatan agensi dalam bertindak melawan struktur seperti Aksi Kamisan ini pernah menarik perhatian pemerintah. Pada 20 Maret 2008 lalu, ketika pemerintahan Susilo Bhambang Yudhoyono (SBY), pernah mengajak pihak keluarga korban untuk berdiskusi bersama dengan pihak istana.

Selain itu, pada tanggal 13 Mei tahun 2018 lalu, pak Jokowi pernah mengajak dan melakukan diskusi dengan keluarga korban dan beberapa peserta Aksi Kamisan untuk berdiskusi.

Pada kesempatan tersebut, peserta Aksi Kamisan menuntut agar Jokowi mengakui kasus pelanggaran HAM yang sudah masuk dalam tahap penyelidikan di Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Selama 13 tahun berjalannya Aksi Kamisan, pada dua kesempatan itu peserta Aksi Kamisan berkesempatan langsung bertemu dengan Presiden.

Namun hingga saat ini, diskusi hanya sekadar diskusi, janji hanya sekedar janji, belum ada perwujudan secara konkrit dari pemerintah dalam menuntaskan kasus HAM. Aksi Kamisan hadir -dan tetap hadir- dikarenakan perilaku negara pada masa lampau, dan sampai hari ini pula, Aksi Kamisan terus bohongi oleh negara.

Jika kita telisik motif atau dorongan para peserta Aksi Kamisan ini, secara kasat mata kita bisa lihat bahwa Aksi Kamisan ini didasari oleh rasa kemanusiaan dan semangat pembebasan, yang itu didorong oleh berbagai kasus-kasus HAM yang telah menimpa para pesertanya.

Escobar (1992) dalam Cribb (2001) menjelaskan bahwa gerakan sosial seperti Aksi Kamisan ini masih relevan karena melibatkan aspek-aspek nilai dan makna kultural juga sumber daya sosial dan ekonomi.

Hal tersebut karena gerakan sosial seperti Aksi Kamisan ini tidak hanya dinilai sebagai bentuk perlawanan yang politis, namun perlawanan ini pasti didorong oleh kepentingan yang bersifat kultural. Kepentingan yang mendorong gerakan sosial merupakan kepentingan yang berhubungan dengan budaya dan identitas, dalam konteks Aksi Kamisan, yakni penuntasan kasus HAM dan pembebasan kemanusiaan (Cribb, 2001).

Wolf (1986) menganggap bahwa gerakan sosial proses untuk mengkonstruksikan pemahaman bahwa segala sesuatunya adalah berjalan dengan apa adanya, seperti hadirnya Aksi Kamisan yang secara implisit ingin mengedukasi bahwa aksi mereka bukanlah aksi yang hadir dari ruang hampa, namun aksi yang memang seharusnya berjalan dengan apa adanya “things are what I say they are”. Karena memang, gerakan sosial merupakan bentuk kekuatan agensi dalam struktur sosial akibat hadirnya perubahan dalam tataran kebudayaan yang disebabkan oleh penetrasi eksternal seperti ekonomi, ataupun nilai-nilai sosial yang berbeda.

Satu hal penting pula yang perlu disoroti pada Aksi Kamisan; regenerasi. Meskipun pada awalnya Aksi Kamisan ini diinisiasi dan diikuti oleh keluarga korban pelanggaran HAM, kali ini, Aksi Kamisan banyak dihadiri oleh anak muda dengan umur kurang lebih 30 tahun, seperti yang dikatakan Ibu Sumarsih, orang tua Bernardus Realino Norma Irawan atau akrab disapa Wawan, yang tewas tertembak dalam Tragedi Semanggi I yang terjadi pada 13 November 1998, berkata: “Ini menjadi kewajiban kita sebagai anak muda  yang setidaknya hadir di Aksi Kamisan di berbagai kota kewajiban kita untuk memperjuangkan tegaknya supremasi hukum dan HAM”

Seperti apa yang dikatakan oleh Cunningham (1999), bahwa dalam memahami perkembangan suatu gerakan sosial, perlu melihat aspek budaya atau kultur, karena itu sumber kepercayaan dari suatu masyarakat.

Adanya enkulturasi pada aspek budaya dalam gerakan sosial, dapat mempengaruhi pemahaman kita tentang dunia, dan dengan berbagai cara kehadiran kita sebagai anggota masyarakat akan menimbulkan proses sosialisasi dimana budaya dilaksanakan dan dikuatkan oleh banyak orang. Walaupun penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu masih jauh dari titik terang, antusiasme generasi muda memberikan harapan baru bagi keluarga korban.

Saat ini, Aksi Kamisan telah berjalan sebanyak 639 kali selama 13 tahun kebelakang. Itu menunjukan konsistensi mereka dalam resistensi. Aksi Kamisan akan terus ada selama kasus pelanggaran HAM masih dan belum terselesaikan. Resistensi tidak akan mati, akan terus ada dan berlipat ganda.

Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.