Rabu, Januari 20, 2021

NU Harus Tetap di  Tengah dan Nahdiyin Boleh Pilih Siapa Saja di Pilpres

Literasi Karangkitri Menghidupkan Kampung Halaman

Pada helatan diskusi yang diselenggarakan secara daring oleh Perkumpulan Literasi Indonesia, pada Minggu (26/04/2020). Faiz Ahsoul seorang editor dan pegiat literasi masyarakat mengantarkan sebuah...

Penderitaan Liverpool Itu Akan Berakhir Musim Ini

Jika saja penyair Sapardi mengerti sedikit saja soal sepakbola, barangkali ia akan menulis: "Tak ada yang lebih tabah dari pendukung Liverpool." Ya, itu mungkin...

Islam, Pancasila dan Komunisme

Beberapa waktu lalu beberapa media menyitir pernyataan sejarawan senior LIPI Asvi Warman Adam dan aktivis politik Sukmawati Soekarnoputri yang mengatakan bahwa PKI dulu mendukung...

Masih Adakah Tepo Seliro?

Tepo seliro atau tenggang rasa merupakan nasehat bijak yang berasal dari kearifan lokal Jawa. Dalam khazanah budaya Jawa, tepo saliro didefinisikan sebagai sikap individu...
Saleh Ramli
Wasekjen Gerindra

Beberapa waktu terakhir, di media sosial ramai pembahasan yang menghadapkan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan pendukungnya dengan Nahdlatul Ulama (NU). Bahwa Pilpres 2019 adalah pertarungan Prabowo-Sandiaga dan pendukungnya melawan NU, begitu pun sebaliknya. Bahwa kemenangan Prabowo-Sandiaga adalah kekalahan NU dan kemenangan Jokowi-Ma’ruf adalah kemenangan NU.

Saya sangat menyayangkan pihak-pihak yang sengaja membangun wacana menyesatkan itu. Karena secara logika dan fakta sama sekali tidak benar.

Prabowo-Sandiaga adalah pasangan capres-cawapres yang diusung oleh empat partai politik: Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN–sebagaimana diatur UU Pemilu nomor 7 tahun 2017. Dalam partai-partai tersebut terdapat orang-orang dari pelbagai golongan, termasuk NU. Saya sendiri contohnya. Saya adalah Wasekjen Gerindra sekaligus Ketua PP GP Ansor, badan otonom kepemudaan NU.

Tentu, sebagai nahdiyin, saya tidak mungkin melawan dan memusuhi NU, meskipun mendukung Prabowo-Sandiaga. Justru ikhtiar saya berpartai di Gerindra adalah upaya membesarkan organisasi tersebut. Sebagaimana keyakinan saya bahwa, NU tidak ke mana-mana, tapi harus ada di mana-mana.

Ikhtiar politik saya tidak bertentangan dengan AD/ART ataupun peraturan organisasi lainnya di GP Ansor maupun NU. Keduanya netral dalam politik dan membebaskan setiap kadernya menentukan pilihan politiknya sendiri, sesuai dengan hasil Muktamar NU tahun 1984 di Situbondo yang mengembalikan organisasi itu dan seluruh badan otonomnya ke khittahnya sebagai ormas keagaamaan, buka lagi partai politik seperti pada pemilu 1955 dan 1971. Bukan pula menjadi parpol dalam fusi partai-partai Islam di PPP.

Lagi pula, Prabowo juga seorang nahdliyin. Ia adalah anggota kehormatan Banser NU. Ia pun dekat dengan banyak ulama NU, seperti KH Said Aqil Siraj, KH Maimoen Zubair, dan masih banyak lainnya. Bukan sekali dua ia meminta nasihat kepada kiai-kiai NU dalam menentukan langkahnya. Setahu saya, bahkan kemantapannya menjadi capres juga setelah meminta nasihat kepada kiai-kiai NU. Sehingga, tidak mungkin ia melawan NU.

Praktik di lapangannya, selama masa kampanye tidak pernah sekalipun Prabowo dan Sandiaga mendiskreditkan NU, baik secara lisan maupun perbuatan. Sebaliknya, mereka selalu berusaha merangkul para nahdiyin. Mereka berkunjung ke pesantren-pesantren dan sowan ke banyak kiai. Bukan sekadar perkara elektoral, tapi karena memang memiliki perhatian kepada pesantren dan NU. Karena, jauh sebelum menjadi pasangan capres-cawapres mereka pun telah sering berkunjung ke pesantren dan kiai-kiai.

Menurut saya, visi-misi Prabowo-Sandiaga sangat selaras dengan kebutuhan nahdiyin. Mereka ingin  lapangan kerja tersedia, kebutuhan pokok murah, dan lain-lain yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat kecil. Hari ini banyak nahdiyin yang masih miskin, rakyat kecil. Tentu apabila semua hal tersebut terwujud, akan memberi manfaat kepada nahdiyin.

Tidak benar pula kalau Prabowo-Sandiaga pro khilafah dan ingin mengganti Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti yang menjadi salah satu dasar argumentasi nahdiyin harus memenangkan Jokowi-Ma’ruf. Mereka berdua adalah nasionalis. Sudah terdidik dari kecil untuk mencintai Indonesia dan mempertahankan Pancasila sebagaimana nahdiyin.

Sehingga, menurut saya, wacana menghadapkan Prabowo-Sandiaga sengaja dihembuskan orang-orang yang ingin menyeret NU ke politik kembali atau menjadikan organisasi itu sebagai tameng politik petahana.

Hal itu sangat disayangkan. Karena, menyeret kembali NU ke politik praktis sama saja mengkhianati hasil Muktamar NU 1984 yang berarti mengkhianati pula pemikiran ulama-ulama NU inisiator kembali ke khittah. Sedangkan, nilai terbesar dalam NU adalah tawadhu kepada kiai dan ulama, bukan yang lain.

Lebih dari itu, menyeret NU kembali ke politik sama saja mengerdilkannya. NU adalah organisasi besar yang memiliki tanggung jawab menjadi penyeimbang kehidupan beragama dan bernegara. Politiknya lebih besar daripada pemilu yang berlangsung lima tahunan. Politik NU adalah politik kebangsaan.

Namun, ketika NU diseret kembali ke politik praktis, posisi tersebut akan menyempit. Ia tidak akan lagi menjadi rumah bagi bersandingnya kepentingan agama dan negara dalam satu atap. Melainkan hanya menjadi rumah bagi segelintir orang dengan segelintir kepentingan politik. Membuat orang di luar NU akan selalu berpikir di mana organisasi itu saat pemilu selayaknya pikiran tentang parpol-parpol.

Di tengah tantangan kehidupan berbangsa yang semakin berat, karena sumber gesekan yang semakin beragam termasuk akibat politik, sudah semestinya menarik NU ke politik praktis yang berpeluang menyempitkannya dihindari. Karena hanya NU yang berpeluang besar berperan menengahi dan menyelesaikan gesekan-gesekan tersebut. Justru NU harus berperan menyeimbangkan kembali kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara setelah pemilu.

Jadi, saya sangat berharap kepada mereka yang selama ini menghembuskan wacana NU versus Prabowo-Sandiaga dan seluruh pendukungnya agar menghentikan tindakannya. Nahdiyin harus dibebaskan menentukan sikap politiknya di pemilu sesuai dengan hati nuraninya. Memilih petahana silakan, memilih Prabowo-Sandiaga silakan. NU harus tetap ada di mana-mana dan menjadi komando bagi terjuwudnya kehidupan berbangsa dan beragama yang harmonis. Karena, hanya dengan cara itulah cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan dapat tercapai.

Saleh Ramli
Wasekjen Gerindra
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.