OUR NETWORK

Notts County: Sejarah yang Jatuh

“Serasa menonton Juve! Serasa menonton Juve!”

Sejarah itu akhirnya jatuh. Terlalu dalam. Riwayat yang besar, legenda yang selalu diceritakan berulang-ulang, yang bertahan selama lebih dari satu setengah abad, tak mampu menolong. Juga nama-nama yang datang dan pergi. Notts County, klub Inggris yang disebut sebagai yang tertua di dunia sepakbola (berdiri pada 1862, lebih awal empat tahun dibanding terbitnya terjemahan Inggris untuk Max Havelaar), memulai musim ini di National League, sebuah liga amatir, liga level kelima.

Notts County sudah lama beredar di liga-liga level bawah; terakhir, mereka bermain di puncak piramida sepakbola Inggris pada musim 1991-92, tigapuluh tujuh musim lalu, ketika mereka promosi dari divisi dua dan kemudian langsung terdegradasi lagi, dan dengan demikian melewatkan musim pertama era Liga Premier. Namun, jatuh ke level kelima, yang itu berarti ada di luar sistem Football League, sistem yang menaungi 92 klub tertinggi di Liga Inggris, adalah hal yang baru pertama kali terjadi terhadap mereka.

Ada satu bintang di puncak logo klub dari Nottingham ini, yang mereka tambahkan sejak musim 2013. Bintang itu lebih sedikit dibanding burung magpie di gambar yang sama, yang dua jumlahnya. Dan bintang itu menggambarkan, dengan nyaris secara literal, apa yang pernah dicapai klub ini: satu trofi Piala FA. Itu trofi yang sudah sangat lama, 1894, saat mereka menang 4-1 dari Bolton Wanderers di Goodison Park; sudah satu seperempat abad lewat. Dan itu adalah trofi satu-satunya yang mereka punya.

Di depan kandang mereka, Meadow Lane, ada dua patung yang duduk di satu bangku. Itu dua orang penting dalam sejarah County, yaitu Jimmy Sirrel dan Jack Weller. Namun, agak berbeda dari patung-patung manajer di depan stadion-stadion Inggris yang pernah kita lihat dan dengar, dua orang itu diabadikan bukan karena trofi-trofi yang mereka dapatkan. Mereka dianggap berjasa karena (pernah) mengembalikan Notts County ke level teratas sepakbola Inggris, liga yang ikut mereka dirikan pada 1888 bersama sebelas klub lain, setelah terdampar di level bawah selama 54 musim.

Tapi, kebanggaan terbesar Notts County dan para pendukungnya sepertinya memang bukan piala. Jejak mereka dalam sejarah sepakbola tampaknya yang terpenting. Angka tahun 1862 di bawah lambang klub di puncak tribun utama Meadow Lane tampak ditegas-tegaskan dengan didahului kata “founded” (didirikan). Juga, mungkin, dengan sepotong seragam yang kemudian sangat identik dengan sebuah klub yang sangat terkenal, salah satu klub terbaik dan terbesar di dunia: Juventus.

***

Notts County diundang Juventus untuk merayakan peresmian stadion baru mereka yang megah, Juventus Stadium, pada tahun 2011 lalu. Konfigurasi lampu di tengah lapangan yang berbunyi Welcome Home menyambut sang tamu yang tak biasa itu. Alex Del Piero, Gigi Buffon, dan Andrea Pirlo, tiga juara dunia, turun secara bersamaan untuk menghadapi tim yang saat itu ada di liga level tiga sepakbola Ingris.

Pertandingan yang disebut BBC sebagai salah satu pertandingan pramusim paling aneh itu berakhir imbang, 1-1. “Notts County merusak pesta peresmian stadion baru Juve,” kata BBC, dengan sedikit berlebihan. Juve mencetak gol dari sepakan bola mental Luca Toni, yang diawali tendangan penalti yang gagal—hasil pelanggaran yang sumir di kotak penalti lawan khas Juve—dari Quagliarella. Lee Huges, penyerang Notts County, menyamakan kedudukan lewat kemelut di depan gawang, dan menjadi orang non-Italia pertama yang mencetak gol di stadion baru Juve.

Juve selalu menganggap Notts County adalah kakak angkat jauh. Tahun 1903, ketika seragam Juve yang berwarna jambon luntur karena terlalu sering dicuci, John Savage, orang Nottingham yang menjadi anggota tim, diminta tolong untuk mengontak teman di kampung halamannya agar mengirim seragam ke Italia. Teman sekampung Savage, seorang pendukung fanatik Notts County, tentu saja mengirim seragam tim kesayangannya, hitam-putih, ke Turin. Seragam dari pendukung Notts County itu rupanya bertuah bagi Juve. Dan sejak itu kita mengenal Juventus dengan seragam itu.

Mungkin karena keistimewaan macam ini, selain klaim sebagai klub tertua di dunia yang masih ada, persis sepuluh tahun lalu, dua penipu memakai nama klub itu untuk membodohi seisi kota dan seluruh penggemar sepakbola di dunia. Russel King dan Nathan Willett, yang mengaku mewakili sebuah perusahaan keuangan dari Bahrain bernama Munto Finance, mengambil alih klub tersebut. Mereka kemudian berhasil membujuk Sven-Goran Eriksson, yang tiga tahun sebelumnya adalah pelatih tim nasional Inggris, untuk menjadi direktur sepakbola sebuah klub yang ada di dasar klasemen liga kasta keempat.

Bersama Eriksson, mereka memancang target besar: Notts County akan promosi ke Liga Primer dalam lima musim. Untuk mencapai target itu, mereka membeli kiper berbakat Kasper Schmeichel dan bek yang jelang pensiun Sol Campbell. Namun, hanya enam bulan kemudian, Eriksson mundur dari klub tersebut, setelah tahu ia tertipu. Di antara hal-hal memalukan yang diakui Eriksson di buku otobiografinya, My Story, kebanyakan soal perempuan, bab tentang Notts County tampaknya yang paling memukulnya. “Jika semua berjalan lancar, hari ini aku seharusnya masih di klub itu,” katanya, dengan masygul.

Tapi, bukan hanya Eriksson dan Sol Campbell yang pernah terlibat dan mencoba “membangkit batang terendam” ini. Paul Ince, legenda MU dan Inter, menjadi manajer klub ini tak lama setelah kepergian Eriksson. Namun seperti Eriksson, Ince tak menyelesaikan musimnya di klub ini. Kevin Nolan, seorang penyerang yang identik dengan Bolton Wanderers, yang pasti sangat familiar bagi penggemar Liga Inggris di sepanjang tahun 2000-an, menjadi pelatih-yang-bermain bagi Notts County di pengujung karier sepakbolanya, dan ia hanya bertahan enam pekan. Yang paling akhir adalah Harry Kewell, penyerang yang lebih prolifik lagi di puncak kariernya bersama Leeds United, melatih klub ini selama, dan ia pun dipecat setelah, 14 pertandingan.

Neil Ardley, yang menggantikan Kewell, kemudian menjadi pelatih yang mengiringi jatuhnya pemilik sejarah besar ini ke liga amatir. Setelah bertahan selama 157 tahun.

***

Pada pertandingan pertama mereka di National League, Notts County kalah di kandang Eastleigh, 1-0. Di lapangan kecil berpenonton 2600-an, sepertiga tribun diisi oleh pendukung tim tamu, yang punya stadion berkapasitas 20 ribu, nyaris sepuluh kali lipat lebih besarnya lawannya.

“Ini bukan akhir dunia,” tulis Richard Williams di The Guardian. Tentu saja. Toh, di level berapa pun Notts County bermain, para pendukungnya akan tetap menyanyikan lagu pelipur lara andalan mereka: “Serasa menonton Juve! Serasa menonton Juve!”

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…