Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Nietzsche, Politik Kebiri, dan Insting Kerumunan

Papua dan Nobel untuk Pak Jokowi

Saban tahun di bulan Oktober, Nobel Perdamaian biasanya dianugerahkan kepada sosok/ tokoh yang berjasa besar dalam memperjuangkan dan menjaga perdamaian dan kemanusiaan. Dalam tahun-tahun...

Media dan Kebangkitan PKI

Kurang dari 24 jam setelah terjadi pembunuhan jenderal-jenderal Angkatan Darat, Panglima Daerah Militer Jakarta Raya mengeluarkan instruksi melalui surat perintah No. 01/Drt/10/1965 untuk melarang...

Kongres PAN, Pemilu 2024, dan Era Teknopolitik

Usai PDI Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggelar musyawarah akbar Agustus 2019 lalu, kini giliran Partai Amanat Nasional (PAN) akan mengadakan kongres partai...

Nasib Isu Kesehatan dalam Pilkada 2018

Juni mendatang akan dilangsungkan Pilkada 2018 di 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Para kandidat sudah mulai mensosialisasikan visi misi dan program kerja...
Avatar
Heru Harjo Hutomo
Penulis dan perupa, alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies UGM Yogyakarta.

15 Oktober 1844, seorang bayi yang kelak berbadan ringkih terlahir dari sebuah keluarga Protestan yang taat. Tak sebagaimana ekspresi pemikirannya yang terkesan maskulin, ketika kemudian bayi ini menjadi sebuah dinamit di dunianya, bayi yang akhirnya akrab di sapa Fritz ini sejak kecil tumbuh membesar bersama perempuan: ibu dan seorang adik perempuannya yang judes.

Ketika terjun ke dunia filsafat, dan secara umum kebudayaan, Fritz muda terpengaruh oleh pesimisme Arthur Schopenhauer. Dari filosof yang sampai akhir hayatnya melajang ini,  Friedrich Wilhelm Nietzsche, begitu nama lengkap Fritz, mendalami dan mengelaborasikan lebih lanjut konsep tentang kehendak.

Konstruksi pemikiran Schopenhauer yang muram tapi sinis akhirnya tak lagi memuaskan Fritz muda, ia menangkap adanya resentiment di dalamnya yang menggiring pada nihilisme dan dekadensi. Dengan latar-belakang filologi yang kuat, Fritz pun meneliti seni tragedi di era Yunani purba (The Birth of Tragedy) dan ia menemukan bahwa ternyata ada sebuah daya kreatif purba yang selama ini direpresi oleh peradaban Barat: daya dionisian.

Dionisius merupakan makhluk setengah dewa yang selama ini dinarasikan lekat dengan citra kemabukan. Prinsip pertama seni tragedi Yunani purba yang penuh dengan daya Dionisian adalah benar bahwa hidup itu ngenas dan melankolis sebagaimana yang dinubuatkan oleh Schopenhauer, tapi daya Dionisian itu mampu membuat manusia merumuskan hidupnya sendiri tanpa adanya otoritas eksternal.

Pada titik ini lalu tumbuhlah prinsip humanisme klasik: ketika para dewa tak lagi mengada (The Twilight of Idols), manusialah yang kemudian mengambil kedudukannya dan mutlak bertanggung jawab atas hidup dan segala keputusan yang diambilnya sendiri (amor fati).

Penemuan Fritz itu tentu akan menggoncangkan segala tertib kehidupan selama ini. Mulai dari Sokrates, moralitas kristiani Abad Pertengahan hingga modernisme, semuanya secara munafik berupaya merepresi daya Dionisian itu. Tak hanya peradaban Barat yang secara laten dipengaruhi oleh moralitas Abad Pertengahan, tapi politik modern rupanya juga mengebiri daya kreatif purba tersebut.

Bagi Fritz, segala macam egalitarianisme yang bergincu baik komunisme maupun demokrasi (atau di sini dapat kita tambahkan teokrasi yang kentara dalam ekspresi radikalisme keagamaan atau para pecandu khilafah Islamiyah), sama-sama mengebiri daya hidup purba tersebut.

Karakteristik utama daya Dionisian itu adalah apa yang oleh Fritz sebut sebagai Der Wille zur Macht (The Will to Power), bahwa pertama-tama, seperti halnya akar pepohonan, manusia berkehendak untuk berkuasa bagi hidup dan dirinya sendiri.

Direpresi ataupun dikebiri oleh gincu apa pun, kehendak itu akan senantiasa menjulur, berpilin dan berkelindan dengan akar lainnya. Demikianlah filosofi akar yang, meski terpendam dalam tanah, akan senantiasa tumbuh liar bak seekor ular.

Satu hal yang pasti, menyeksamai Friedrich Wilhelm Nietzsche, begitu nama lengkap Fritz, berarti menyadari adanya politik kebiri yang menandai kemunafikan peradaban modern. Politik modern adalah politik kerumunan yang dihasilkan oleh terlembagakannya insting kawanan (the herd instinct).

Dapat kita rasakan klaim-klaim yang menghunjam dalam keseharian: atas nama rakyat, atas nama kehendak masyarakat. Baik komunisme, demokrasi maupun teokrasi sejenis khilafah Islamiyah adalah sama-sama mewarisi kebiri otonomi diri yang sama, yang otomatis menghilangkan tanggung jawab personal.

Atas nama kehendak masyarakat, apa pun harus terjadi. Tapi, seperti halnya akar, masyarakat yang mana yang akhirnya suka digembar-gemborkan itu? Atau dapatkah di sini dikatakan bahwa rakyat atau masyarakat ujung-ujungnya hanyalah tanah yang memendam kompleksitas akar yang masing-masing menjulur sendiri tanpa adanya struktur?

Insting kawanan, insting kerumunan, acap kita jumpai pada—dalam kacamata Nietzsche—para pengecut dan pecundang. Insting ini terwarisi karena terlembagakannya moralitas yang sarat kebencian (resentiment). Dalam Beyond Good and Evil, Nietzsche menubuahkan tentang moralitas dominan yang sesungguhnya terbit dari mentalitas pecundang. Moralitas ini ditandai dan didorong oleh rasa sakit hati atau kecemburuan pada para pemenang.

Kawanan pecundang kemudian melembagakan kecemburuan ini dengan mengatasnamakannya sebagai kehendak orang banyak. Populisme, dalam terang Nietzsche, pada akhirnya hanyalah geliat sakit hati atau kecemburuan atas kemenangan orang lain dan reaksi atas ketakmampuan diri sendiri yang kemudian dikemas sedemikian rupa dengan gincu apa saja: komunisme, demokrasi, khilafah Islamiyah, dan sebagainya.

Klaim atau tuntutan egalitarianisme yang menandai semua ideologi politik itu hanyalah sebuah cara di mana para pecundang secara sistematis ingin mengebiri daya kreatif yang, sebagaimana akar, sesungguhnya bersifat individual.

Ibarat hutan yang ditumbuhi pepohonan yang tak sama tinggi, politik hari ini adalah politik yang justru mengebiri pepohonan yang menjulang tinggi untuk sejajar atau bahkan lebih rendah dari kebanyakan pepohonan lainnya, dan bukannya mendorong pepohonan yang rendah untuk tumbuh dan mengejar pepohonan yang tinggi untuk sejajar (Era “Klambrangan”, Era Desas-desus, Heru Harjo Hutomo, https://alif.id).

Dengan demikian, ketika politik kebencian itu sudah menjadi kebiasaan, ketika pepohonan yang menjulang tinggi yang secara ideal dapat memayungi pepohonan yang lebih rendah, karena sudah dikebiri dan dipangkas, akhirnya dapat menyebabkan kepanikan dan berujung rusaknya hutan itu sendiri.

Baca juga

Jokowi di Tengah “Negara Bayangan”

Menjadikan RI Negara Polisi

Indonesia dan Rezim Hukum Represif

Populisme Kanan dan Terorisme Gaya Baru

Antara Kebebasan dan Ujaran Kebencian

Avatar
Heru Harjo Hutomo
Penulis dan perupa, alumnus Center for Religious and Cross-Cultural Studies UGM Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.