Minggu, Maret 7, 2021

Natal dan Tahun Baru di Tengah Pandemi

Fatwa MUI yang Salah dan Tidak Perlu

Baru-baru ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang tidak perlu dan salah. Fatwa atau petuah itu berjudul "hukum menggunakan atribut keagamaan non-Muslim." Fatwa...

Membangkitkan Ekonomi di Tengah Pandemi

Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi persnya mengenai APBN Selasa (22/9/020) menyatakan, Indonesia dipastikan mengalami resesi ekonomi. Ini karena, pada kuartal ketiga, PDB (produk domestik...

Taktik Conte Setelah Sabtu Malam Kelabu

Antonio Conte mulai merasakan pekan-pekan sulitnya di Liga Premier Inggris. Torehan satu hasil imbang dan dua kekalahan dalam tiga laga terakhir di liga membuat...

Pak Jokowi, Jangan Biarkan Terorisme Dijadikan Proyek

Ada beberapa oknum yang sengaja main proyek keamanan. Seperti preman pasar yang minta jatah keamanan pada pedagang, kalau tidak dibayar mereka akan diteror. Proyek hitam...
Amir Uskara
Amir Uskara
Dr. HM Amir Askara, MKes adalah Ketua Fraksi PPP DPR RI

Harapan pandemi berakhir sirna. Ketika Januari tahun 2020 pandemi mulai menyeruak dunia, publik berharap bulan Juli berhenti. Ternyata, pandemi berlanjut. Pergantian cuaca global dari hujan ke kering, dari dingin ke panas, dan sebaliknya, tak mempengaruhi pandemi. Ia terus merangsak mengacaukan hampir seluruh aspek kehidupan manusia di bumi.

Natal tahun 2020 yang biasanya ceria dan memancarkan rasa bahagia di seluruh dunia, kini terdiam. Gereja-gereja yang ramai, terlihat sepi. Ini karena hukum universal pandemi melarang kerumunan manusia. Jika dilanggar, tak hanya dapat hukuman dari negara. Tapi juga jadi “santapan” virus corona.

Malam tahun baru 2021 pun niscaya mendung. Menggelapkan suka ria. Hukum universal pandemi mencegah seluruh manusia merayakan malam tahun baru dengan bergembira bersama di ruang publik.

Tahun 2021, penduduk bumi masih berada dalam periode pandemi. Kita tak tahu, apakah hari raya Imlek 12 Februari dan Idul Fitri 13 Mei 2021 nanti planet bumi sudah terbebas pandemi?

Semua tergantung manusia, makhluk paling beradab dan berilmu di planet biru ini. Jika manusia mau mengikuti hukum universal untuk menghindari penularan virus corona dengan rumus rajin “mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker” atau 3 M, niscaya penyebaran Covid-19 terhambat. Jika penyebarannya terhambat, virus corona pun akan kehilangan daya hidupnya. Jika daya hidupnya melemah karena virus kehilangan inang, secara alamiah mereka akan punah. Pandemi pun berakhir.

Bagaimana caranya mengurangi dan mengakhiri pandemi? Tergantung sikap publik dunia dalam mencegah penularan corona.

Kedisiplinan publik untuk mematuhi 3M (mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker) akan membentuk herd immunity (HI). Yaitu kekebalan kelompok. Jika semua komponen masyarakat disiplin menerapkan HI, maka HI – HI lain akan terbentuk. Makin banyak HI di suatu area maka makin sedikit penularan Covid-19. Dan seterusnya, sampai suatu titik, penularan corona pun terhenti. Itulah akhir pandemi.

Semua harapan itu hanya mungkin terjadi jika 70 persen populasi dunia menerapkan protokol kesehatan (Prokes) berupa 3M. Sayangnya, harapan tersebut masih jauh. Menurut Satgas Pencegahan Covid-19, per-November 2020, tingkat kepatuhan publik Indonesia berdisiplin menerapkan 3M baru sekitar 50 persen. Paling parah, dalam menerapkan social distance, baru bersinar 39 persen.

Sepintas cukup mudah meng-create HI. Tapi faktanya? Manusia — makhluk paling dinamis di muka bumi — ternyata sulit disiplin dan cenderung jenuh berada dalam keterbatasan aktivitas. Pandemi telah mengerangkeng aktivitas manusia. Tragisnya, ketika manusia ingin melepaskan dari kerangkeng pandemi, virus corona menemukan momentum untuk menyengatnya. Makin dinamis, makin pandemis. Itulah ironi manusia menghadapi fenomena global pandemi corona.

Saat ini, di saat Natal dan menjemput tahun baru 2021, orang terinfeksi covid makin banyak jumlahnya. Gelombamg kedua pandemi tengah menyerbu seluruh dunia. Gelombang itu makin besar saat manusia merayaakan Natal dan tahun Baru 2021 di seluruh dunia. Pergerakan manusia di hari Natal dan tahun baru tak terhindarkan. Kerumunan manusia tanpa sadar makin banyak terjadi. Lalu salahkah bila pandemi makin luas dan ngeri?

Itulah yang kini terjadi di dunia. Tak terkecuali di Indonesia. Setelah hampir satu tahun didera pandemi, kasus positif corona terus bertambah. Segala upaya mengatasi pandemi nyaris sia-sia akibat ketidakdisiplinan menerapkan standard operational (SOP) 3M.

Saat ini, di hari Natal kasus positif corona di Indonesia telah mencapai 700.097. Pertambahannya dari hari sebelumnya, 24 Desember, 7. 259 kasus. Kondisi ini niscaya makin besar lagi karena adanya libur Natal dan tahun baru 2021.

Kita masih ingat betapa gegabahnya Presiden AS Donald Trump dan Presiden Brazil Jair Bolsonaro menghadapi pandemi. Keduanya abai terhadap SOP 3M. Bahkan ketika keduanya positif Covid-19. Akibatnya pandemi di kedua negara besar itu sangat dahsyat. Penyebaran virus begitu masif dan tak terkendali. Ini karena dua presidennya menganggap remeh pandemi.

Kini jumlah kasus positif di AS mencapai 18,5 juta jiwa. Lalu, dengan banyaknya kasus positif itu, apakah rakyat AS sadar akan bahaya masa depannya? No.

Kini, saat merayakan Natal dan tahun baru 2021, jutaan warga Amerika Serikat meninggalkan rumah mereka dan berlibur ke luar kota. Berdasarkan data Transportation Security Administration, lebih dari 5 juta warga AS telah berlibur sejak Jumat hingga Selasa pekan lalu.

Diperkirakan lebih dari 85 juta warga Amerika akan berlibur sejak Rabu jelang Natal hingga 3 Januari nanti. Dan liburan adalah identik dengan abainya penerapan 3M.

Fenomena di atas menggambarkan betapa sulitnya publik Amerika melakukan disiplin 3M dan tinggal di rumah di masa endemi. Hal yang sama terjadi di Brazil, Mexico, Chili, lalu di Itali, Spanyol, dan Inggris. Mereka sulit mengambil nisbah deraan corona sebelumnya. Kini saat pandemi memasuki fase kedua, kondisi mereka makin parah dan sulit dikendalikan.

Bagaimana Indonesia? Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 memaparkan: perkembangan angka positivity rate atau rasio positif pada tingkat nasional per-13 Desember 2020 mengalami kenaikan 18,1 persen. Padahal sebelumnya hanya 13,81 persen. Dengan standar WHO 5 persen, berarti positivity rate di Indonesia tinggi sekali. Kenaikan tinggi itu terjadi saat liburan panjang 28 Oktober – 02 November 2020 lalu.

Positivity rate merupakan persentase perbandingan antara jumlah kasus positif warga terinfeksi virus corona dengan jumlah tes yang dilakukan. Dalam hal ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan ambang batas persentase positivity rate sebesar 5 persen.

Angka positivity rate tersebut, jelas sangat tinggi. Jauh lebih tinggi dari standar yang ditentukan WHO. Kondisi ini sangat berbahaya. Bahaya ini hanya bisa ditekan dengan kepatuhan publik terhadap protokol kesehatan — disiplin menerapkan 3 M.

Dari gambaran itu, Natal 2020 dan Tahun Baru 2021, harus dirayakan dengan Prokes ketat. Tanpa disiplin 3 M, peringatan Natal dan perayaan tahun baru 2021 hanya akan menyisakan tragedi: Pandemi makin tak terkendali. Bahaya sekali untuk masa depan bangsa ini. Ngeri.

Amir Uskara
Amir Uskara
Dr. HM Amir Askara, MKes adalah Ketua Fraksi PPP DPR RI
Berita sebelumnyaSelamat Natal Om Nemu
Berita berikutnyaTips Menulis Novel
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.