Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

“Nasihat Emas” Seputar Korupsi untuk Patrialis Akbar

Felix Siauw Ustad Malapraktik

Apa beda ustad sejati dengan ustad malapraktik? Ustad sejati tahu, bahwa dalam tradisi keilmuan Islam, perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah rahmat, anugerah bagi umat. Ini...

Menagih Janji Gubernur Ganjar

Mana bukti menjadikan Jawa Tengah "Ijo Royo-royo" dan "Ora Ngapusi”? Perempuan-perempuan di Desa Tegaldowo dan Desa Timbrangan, Rembang, sudah 447 hari lebih bertahan di tenda...

Membangun Desa, Menagih Nawa Cita Jokowi

Pemerintahan Presiden Joko Widodo menyediakan dana lebih banyak untuk pembangunan daerah dan membangun desa. Ini sesuai dengan janji Nawa Cita yang antara lain “membangun...

Agama: Sumber Berkah atau Bencana?

Agama itu berkah atau bencana sangat tergantung pada penafsir agama dan pengalaman kaum beragama. Karena baik Alquran maupun Injil tidak bisa berbicara sendiri, dalam...
Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com

jenggot-patrialis
[Sumber Youtube.com]
Judul kolom ini terinspirasi dari salah satu tayangan Patrialis Akbar di Robbani TV yang saya tonton di Youtube. Judul tayangan itu: “Nasihat Emas Seputar Jenggot”. Namun, saya beri tanda petik untuk judul kolom saya ini karena tentu siapalah saya yang akan menasihati Pak Patrialis. Saya selipkan saja di kolom ini nama-nama yang mungkin Patrialis perlu belajar darinya.

 

Adapun kolom ini sendiri, sebut saja ini semacam hikmah: namanya hikmah, dari mulut seorang munafik saja, kan, tak apa, masak dari jari saya tak boleh?! Inilah sedikit hikmah yang berhasil saya pungut dan akan saya pegang untuk hidup saya, serta syukur-syukur kalau Pak Patrialis mau juga ambil. Monggo, Pak!

Pertama, saya baru tahu bahwa Patrialis kini berpenampilan sesuai sunnah Rasul, khususnya berjenggot. Seperti dikisahkannya di tayangan itu, ia sadar akan pentingnya berpenampilan sesuai sunnah Rasul saat ia di Madinah. Namun, kini ia justru ditangkap tangan dengan tuduhan kasus korupsi.

Tentu, kita semua menyayangkan itu. Sebab, di atas apa yang menjadi sunnah Rasul, ada kewajiban yang sangat besar yang diamanatkan Rasul pada kita, yakni kewajiban untuk menjaga diri dari nafsu korupsi karena itu akan mengantarkan seseorang ke neraka, meskipun ia mati dalam peperangan bersama Rasul.

Belajarlah dari kisah Kirkirah dalam HR. Bukhari atau kisah salah satu sahabat yang mati dalam Perang Khaibar namun Rasul katakan keduanya menghuni neraka lantaran mengkorupsi harta rampasan perang, meskipun hanya selimut.

Simbol dan isi sama-sama penting, sebagaimana syariat dan hakikat. Berpenampilan seperti Rasul itu penting: ia sunnah dan berpahala. Tapi, yang tak kalah atau bahkan lebih penting adalah berakhlak seperti Rasul. Salat itu penting, tapi jangan lupakan tujuan syariat salat itu sendiri: hindari kemunkaran. Jika tidak, kuatir orang menduga yang simbolik itu hanya kedok (apalagi cuitan akun anonim yang selalu sadis) atau setidaknya simbol-simbol itu akan tercoreng oleh tindakannya yang tak mencerminkan simbol-simbol yang melekat pada dirinya.

Kedua, Islam bukan hanya ajarkan kita luruskan shaf saat salat berjamaah, tapi juga luruskan kata dan perbuatan. Al-Qur’an ajarkan itu dalam QS. Ash-Shaff: 2, yakni: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” Juga dalam QS. Al-Baqarah: 44, yakni: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?”

Bahkan, saya masih ingat kata almarhum Kiai saya, “Jangan sampai lisan lebih panjang dari tangan. Berbicaralah secukupnya, berbuatlah sebanyak-banyaknya.”

Pak Patrialis masyaAllah dalam nasihat-nasihatnya, dalam video ataupun saya baca kutipan-kutipan komentarnya di media massa soal koruptor. Ia sangat keras: “Miskinkan, biar kapok!” katanya sekitar enam tahun lalu. Namun, ia tampaknya sedang lupa atau khilaf, namanya juga manusia. Semoga kasus ini mengingatkannya, sehingga setelah ini ia benar-benar berislam secara kaffah (utuh).

HATTA-ballyDalam perkara ini, ada baiknya Patrialis belajar dari Bung Hatta dengan segala keteladanannya dalam kesederhanaan. Bung Hatta sangat mengimpikan sepatu bermerek “Bally” dan berusaha menabung untuk itu. Ia sampai menggunting potongan iklan sepatu itu dan menyelipkan potongan iklan itu di buku hariannya. Namun, hingga wafat beliau tak pernah mampu membelinya.

Ketiga, Patrialis itu seorang hakim. Di pengadilan konstitusi, tak ada yang boleh memanggil namanya, melainkan “Yang Mulia”. Karena itu memang jabatan yang sangat mulia, apalagi dalam Islam. Ia wakil Tuhan di muka bumi yang sudah tak ada lagi nabi ini: penentu mana yang benar (haqq) dan salah (bathil) sesuai konstitusi bangsa ini.

Maka, korupsi seharusnya sangat jauh dari dia. Yang tak etis saja bisa jadi terlarang bagi dia dalam posisinya sebagai hakim. Contohlah Pak Baharuddin Lopa yang parsel Lebaran yang halal-halal saja sebenarnya, tapi dia haramkan untuk diri dan jajarannya demi integritasnya sebagai hakim.

Sampai di sini, saya jadi teringat fikih yang mengamanatkan kita untuk wajib mempelajari apa yang berkaitan dengan diri kita dan sunnah tentang hal-hal yang kemungkinan tak berkaitan dengan kita. Ini soal priorotas. Maka, sepulangnya dari Madinah, Patrialis seharusnya memprioritaskan mempelajari dan mengamalkan hal-hal yang wajib dalam kaitannya dengan dia sebagai hakim terlebih dulu, baru dia laksanakan sunnah-sunnah Nabi seperti berjenggot dan lain-lain. Syukur-syukur bisa beriringan.

Keempat, dalam salah satu video dan beberapa komentarnya, saya ketahui Patrialis sangat keras menilai pemimpin non-Muslim, Syiah, dan lainnya. Dalam hal itu, menurut saya, sebaiknya dia berhati-hati dan menjaga lisan sebelum benar-benar mempelajari Islam: Al-Qur’an dan Sunnah. Belajarlah dari Imam Malik yang pernah berkata, “Aku tidak akan memberi fatwa sebelum tujuh puluh orang (ulama) bersaksi bahwa aku ahli untuk memberikan fatwa.”

Sudah sepatutnya dia memprioritaskan untuk fokus pada diri sendiri dan apa yang menjadi bidang dia yang sudah sangat paham dia akan perkara itu.

Patrialis sudah pernah mengenyam seluruh jabatan dalam sistem Trias Politica: legislatif sebagai anggota DPR yang terhormat, eksekutif sebagai Menteri Hukum dan HAM, dan yudikatif sebagai Hakim Mahkamah Konstitus.

Kini, ia “berjaket oranye”. Bisa jadi ini justru momentum paling berharga bagi dia. Ia sedang mendapat “jabatan langit” untuk merenungkan, menasihati, dan memutuskan posisinya sebagai hamba Tuhan. Ia bisa tetap terhormat dan mulia, utamanya di sisi Tuhan, jika betul-betul amanat dalam jabatannya sebagai hamba kali ini, sebagaimana nasihat-nasihat emasnya.

Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.