Sabtu, Maret 6, 2021

“Nasihat Emas” Seputar Korupsi untuk Patrialis Akbar

Jokowi dan Kaderisasi Partai

Apa yang terjadi dalam pencalonan pemilihan kepala daerah di beberapa daerah memberi sinyal bahaya dalam kaderisasi pemimpin politik ke depan. Sangat mungkin persoalan keringnya...

Tafsir Konstitusi Presiden Harus “Orang Indonesia Asli”

Ketika masalah kewarganegaraan Archandra Tahar mencuat yang berujung pemberhentian dirinya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, saya langsung teringat soal syarat untuk menjadi...

Saatnya Kita Menyelamatkan Para Mualaf

Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki pertumbuhan mualaf yang sangat signifikan. Selain sebagai negara pemeluk Islam terbesar, Indonesia juga diikuti dengan pertumbuhan perpindahan...

Sudahlah, Inggris, Sepakbola Tak Akan Pulang Kampung

Sepakbola tak akan pulang ke kampung halaman, Inggris. Sori. Ah, sebenarnya tak usah ada sori-sorian. Sepakbola tak akan kembali. Titik. Tidak tahun ini. Tak juga...
Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com

jenggot-patrialis
[Sumber Youtube.com]
Judul kolom ini terinspirasi dari salah satu tayangan Patrialis Akbar di Robbani TV yang saya tonton di Youtube. Judul tayangan itu: “Nasihat Emas Seputar Jenggot”. Namun, saya beri tanda petik untuk judul kolom saya ini karena tentu siapalah saya yang akan menasihati Pak Patrialis. Saya selipkan saja di kolom ini nama-nama yang mungkin Patrialis perlu belajar darinya.

 

Adapun kolom ini sendiri, sebut saja ini semacam hikmah: namanya hikmah, dari mulut seorang munafik saja, kan, tak apa, masak dari jari saya tak boleh?! Inilah sedikit hikmah yang berhasil saya pungut dan akan saya pegang untuk hidup saya, serta syukur-syukur kalau Pak Patrialis mau juga ambil. Monggo, Pak!

Pertama, saya baru tahu bahwa Patrialis kini berpenampilan sesuai sunnah Rasul, khususnya berjenggot. Seperti dikisahkannya di tayangan itu, ia sadar akan pentingnya berpenampilan sesuai sunnah Rasul saat ia di Madinah. Namun, kini ia justru ditangkap tangan dengan tuduhan kasus korupsi.

Tentu, kita semua menyayangkan itu. Sebab, di atas apa yang menjadi sunnah Rasul, ada kewajiban yang sangat besar yang diamanatkan Rasul pada kita, yakni kewajiban untuk menjaga diri dari nafsu korupsi karena itu akan mengantarkan seseorang ke neraka, meskipun ia mati dalam peperangan bersama Rasul.

Belajarlah dari kisah Kirkirah dalam HR. Bukhari atau kisah salah satu sahabat yang mati dalam Perang Khaibar namun Rasul katakan keduanya menghuni neraka lantaran mengkorupsi harta rampasan perang, meskipun hanya selimut.

Simbol dan isi sama-sama penting, sebagaimana syariat dan hakikat. Berpenampilan seperti Rasul itu penting: ia sunnah dan berpahala. Tapi, yang tak kalah atau bahkan lebih penting adalah berakhlak seperti Rasul. Salat itu penting, tapi jangan lupakan tujuan syariat salat itu sendiri: hindari kemunkaran. Jika tidak, kuatir orang menduga yang simbolik itu hanya kedok (apalagi cuitan akun anonim yang selalu sadis) atau setidaknya simbol-simbol itu akan tercoreng oleh tindakannya yang tak mencerminkan simbol-simbol yang melekat pada dirinya.

Kedua, Islam bukan hanya ajarkan kita luruskan shaf saat salat berjamaah, tapi juga luruskan kata dan perbuatan. Al-Qur’an ajarkan itu dalam QS. Ash-Shaff: 2, yakni: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” Juga dalam QS. Al-Baqarah: 44, yakni: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)-mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?”

Bahkan, saya masih ingat kata almarhum Kiai saya, “Jangan sampai lisan lebih panjang dari tangan. Berbicaralah secukupnya, berbuatlah sebanyak-banyaknya.”

Pak Patrialis masyaAllah dalam nasihat-nasihatnya, dalam video ataupun saya baca kutipan-kutipan komentarnya di media massa soal koruptor. Ia sangat keras: “Miskinkan, biar kapok!” katanya sekitar enam tahun lalu. Namun, ia tampaknya sedang lupa atau khilaf, namanya juga manusia. Semoga kasus ini mengingatkannya, sehingga setelah ini ia benar-benar berislam secara kaffah (utuh).

HATTA-ballyDalam perkara ini, ada baiknya Patrialis belajar dari Bung Hatta dengan segala keteladanannya dalam kesederhanaan. Bung Hatta sangat mengimpikan sepatu bermerek “Bally” dan berusaha menabung untuk itu. Ia sampai menggunting potongan iklan sepatu itu dan menyelipkan potongan iklan itu di buku hariannya. Namun, hingga wafat beliau tak pernah mampu membelinya.

Ketiga, Patrialis itu seorang hakim. Di pengadilan konstitusi, tak ada yang boleh memanggil namanya, melainkan “Yang Mulia”. Karena itu memang jabatan yang sangat mulia, apalagi dalam Islam. Ia wakil Tuhan di muka bumi yang sudah tak ada lagi nabi ini: penentu mana yang benar (haqq) dan salah (bathil) sesuai konstitusi bangsa ini.

Maka, korupsi seharusnya sangat jauh dari dia. Yang tak etis saja bisa jadi terlarang bagi dia dalam posisinya sebagai hakim. Contohlah Pak Baharuddin Lopa yang parsel Lebaran yang halal-halal saja sebenarnya, tapi dia haramkan untuk diri dan jajarannya demi integritasnya sebagai hakim.

Sampai di sini, saya jadi teringat fikih yang mengamanatkan kita untuk wajib mempelajari apa yang berkaitan dengan diri kita dan sunnah tentang hal-hal yang kemungkinan tak berkaitan dengan kita. Ini soal priorotas. Maka, sepulangnya dari Madinah, Patrialis seharusnya memprioritaskan mempelajari dan mengamalkan hal-hal yang wajib dalam kaitannya dengan dia sebagai hakim terlebih dulu, baru dia laksanakan sunnah-sunnah Nabi seperti berjenggot dan lain-lain. Syukur-syukur bisa beriringan.

Keempat, dalam salah satu video dan beberapa komentarnya, saya ketahui Patrialis sangat keras menilai pemimpin non-Muslim, Syiah, dan lainnya. Dalam hal itu, menurut saya, sebaiknya dia berhati-hati dan menjaga lisan sebelum benar-benar mempelajari Islam: Al-Qur’an dan Sunnah. Belajarlah dari Imam Malik yang pernah berkata, “Aku tidak akan memberi fatwa sebelum tujuh puluh orang (ulama) bersaksi bahwa aku ahli untuk memberikan fatwa.”

Sudah sepatutnya dia memprioritaskan untuk fokus pada diri sendiri dan apa yang menjadi bidang dia yang sudah sangat paham dia akan perkara itu.

Patrialis sudah pernah mengenyam seluruh jabatan dalam sistem Trias Politica: legislatif sebagai anggota DPR yang terhormat, eksekutif sebagai Menteri Hukum dan HAM, dan yudikatif sebagai Hakim Mahkamah Konstitus.

Kini, ia “berjaket oranye”. Bisa jadi ini justru momentum paling berharga bagi dia. Ia sedang mendapat “jabatan langit” untuk merenungkan, menasihati, dan memutuskan posisinya sebagai hamba Tuhan. Ia bisa tetap terhormat dan mulia, utamanya di sisi Tuhan, jika betul-betul amanat dalam jabatannya sebagai hamba kali ini, sebagaimana nasihat-nasihat emasnya.

Avatar
Sayyed Fadel
Juragan buku, suka ngopi di KedaiSastra.com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.