OUR NETWORK

Narasi Heroik Para Pelaku Teror

“Ini bagian dari jihad. Ini gerakan mati syahid. Kita sedang menuju surga!”

Banyak orang terkejut mengetahui fakta bahwa keluarga pelaku teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Dita Oepriarto, tidak berasal dari kalangan menengah bawah. Dita dan keluarga sudah 8 tahun tinggal di perumahan elite. Rumah yang ia tempati berada di kisaran harga Rp 1 miliar lebih. Bahkan dari hasil usahanya menjual minyak jintan hitam, minyak wijen, dan berbagai macam minyak lainnya, Dita dapat membeli mobil untuk keluarganya. Keluarga Dita hidup layak, tapi mengapa ia melakukan bom bunuh diri?

Survei Wahid Foundation pada tahun 2017 menunjukkan bahwa status pendidikan, pendapatan, dan tempat tinggal (desa/kota) tidak memiliki korelasi terhadap radikalisme. Dalam survei tersebut, faktor penting yang memengaruhi radikalisme justru pemahaman literal terhadap konsep jihad dengan menggunakan tindak kekerasan. Munculnya pemahaman literal seperti itu tidak lepas dari ceramah-ceramah yang membawa ke arah permusuhan dan saling curiga.

Narasi-narasi tentang jihad kemudian dibangun. Eks teroris Khairul Gazali menyatakan bahwa salah satu yang dijanjikan kepada para pelaku teror adalah iming-iming masuk surga. Adik kelas Dita di SMA 5 Surabaya, Ahmad Faiz, sendiri menceritakan di laman Facebooknya bahwa sejak SMA benih-benih radikalisme sudah ditanamkan melalui majalah Sabili yang isinya membahas soal pembantaian umat Islam di Bosnia. Narasi ini kemudian dipakai untuk membakar semangat anak muda agar membela agamanya, menjadi mujahid pembela Islam dengan menjadi pelaku teror. Narasi-narasi heroik semacam ini bukan hal baru bagi kita.

“Islam sedang ditindas!”

“Islam mengalami kekalahan!”

“Ini tentang membela agama!”

“Kita sedang melawan kafir dan thaghut. Halal darahnya!”

“Ini bagian dari jihad. Ini gerakan mati syahid. Kita sedang menuju surga.”

Semua narasi ini sudah sering kita dengar dari kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan agama. Saya kemudian jadi teringat perang berdarah antara Akhaia dan Troya yang dikisahkan Homerus dalam epik Yunani, The Iliad.  Dalam buku tiga The Iliad yang juga dibahas dalam kolom sebelumnya, terjadi duel antara Menelaus dari Akhaia dan Paris dari Troya untuk memperebutkan Helen, istri Menelaus yang dibawa lari oleh Paris. Keduanya sepakat dan berjanji bahwa tidak akan ada lagi peperangan. Siapa yang memenangkan duel tersebut membawa pulang Helen. Ketika Menelaus hendak membunuh Paris, Dewi Aphrodite menyelamatkannya dan membawanya pergi dari arena duel. Secara de facto, Menelaus tetap dianggap memenangkan duel tersebut.

Namun dalam buku empat The Iliad, Homerus justru menceritakan bahwa ketika itu, para Dewa menggunakan kekuatannya agar peperangan terus berlanjut. Dewi Hera bertengkar dengan Dewa Zeus yang menyatakan bahwa perang dimenangkan oleh Akhaia. Meski Hera adalah Dewi yang berpihak kepada Akhaia, ia belum puas sebelum melihat kota Troya betul-betul hancur. Dewa Zeus tak melarang, tapi ia mengingatkan Hera bahwa jika suatu saat sebagai Dewa ia ingin menghancurkan kota-kota yang dicintai Hera, jangan coba-coba untuk menghentikannya.

Hera kemudian mengirimkan Dewi Athena untuk menggoda salah satu pemanah Troya Pandarus agar berani melanggar kesepakatan dengan memanah pemimpin Akhaia Menelaus. “Punyakah kamu nyali untuk memanah Menelaus? Bayangkan bagaimana warga Troya akan berterima kasih kepadamu, bagaimana harumnya namamu di mata warga Troya dan Pangeran Paris utamanya. Kamu akan bersinar dan mendapat banyak hadiah darinya. Biarkan dia melihat Menelaus, putra Atreus yang tangguh, jatuh karena anak panahmu. Ayo, tembakan panahmu ke Menelaus!” godanya.

Pandarus menembakan panahnya kepada Menelaus, tapi dengan bantuan Dewi Athena pula, panah tersebut gagal menancap di hati Menelaus dan hanya mengenai pinggangnya. Raja tertinggi Akhaia Agamemnon marah besar dan bersumpah akan berperang habis-habisan melawan Troya. Ia menyiapkan pasukannya dan segera menyerang pasukan Troya.

Ketika pasukan Troya terlihat kewalahan menghadapi pasukan Akhaia, Dewa Apollo yang berpihak kepada Troya membakar lagi semangat mereka. “Jangan kehilangan nafsu untuk berperang melawan Akhaia! Memangnya tubuh mereka terbuat dari apa, batu atau besi yang bisa menghalangi dari tajamnya pedang kalian? Tusuk mereka, potong daging mereka!” kata sang Dewa.

Akhaia dan Troya merasa asyik dengan narasi yang disodorkan oleh bisikan para Dewa yang begitu kuat. Seolah-olah mereka sedang berjuang untuk harga diri suku dan kota mereka. Mereka merasa akan jadi pahlawan dalam medan perang tersebut. Saking asyiknya dengan narasi heroik yang terbangun, darah tumpah di mana-mana, pejuang-pejuang terhebat mereka mati dalam perang kali ini. Mereka menjadi korban dari keyakinan mereka sendiri terhadap narasi yang dihembuskan oleh kekuatan-kekuatan di belakang mereka!

Survei Wahid Foundation kini semakin dapat dipahami. Ini memang bukan soal status pendidikan, pendapatan, atau tempat tinggal. Bagi keluarga Dita dan para pelaku teror lainnya, ini soal narasi heroik yang begitu menggiurkan dan sulit ditolak. Barangkali ini pula yang terjadi dalam kasus radikalisme dan terorisme di berbagai negara.

Seperti yang terjadi dalam kisah mitologi Yunani di atas, apakah para pelaku teror itu korban narasi dan hanya wayang dari dalang yang sebenarnya sedang memainkan lakon?

Tsamara Amany
Ketua Bidang Eksternal DPP PSI, Penulis buku "Curhat Perempuan: Tentang Jokowi, Ahok, dan Isu-isu Politik Kekinian".

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…