Kamis, Januari 28, 2021

Narasi Curang dan People Power Adalah Kekhawatiran Prabowo-Sandiaga Kalah

Telolet, Klakson, dan Ironi Jalanan Kita

Klakson berasal dari bahasa Yunani Kuno, yaitu "klazo" yang artinya "menjerit". Ia adalah simbol teguran paling keras di jalan. Maka, jika ia masih dimodifikasi...

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

  Paus Fransiskus mencium kaki sejumlah pengungsi, termasuk tiga pria Muslim, saat ritual pencucian-kaki di pusat pengungsi Castelnuovo di Porto dekat Roma, Italia, Kamis (24/3)....

Memahami Ayat-Ayat Polemik dalam Bible

Yang saya maksud dengan "ayat-ayat polemik" ialah bagian dari Bible yang bukan hanya mendeskripsikan agama lain secara negatif, tapi juga mengkritiknya. Dalam Bible, baik...

Islam dan Multikulturalisme

Semua agama mengklaim: hanya agamanya yang benar. Lainnya salah. Meskipun klaim itu secara teologis masih bisa diperdebatkan, tapi secara sosiologis sulit, karena pandangan tersebut sudah...
Abdul Kadir Karding
Anggota DPR RI.

Semakin mendekati 17 April 2019, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga semakin gencar mengungkap narasi kecurangan di Pemilu nanti. Mulai dari tuduhan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) berpihak, sampai tuduhan keterlibatan aparat penegak hukum menggerakkan dukungan ke petahana. Narasi-narasi tersebut diungkapkan di pelbagai kesempatan dan lintas platform yang akhirnya menjadi isu publik.

Tentu saja narasi-narasi tersebut tidak benar. KPU dan Bawaslu adalah lembaga independen yang terbentuk melalui pengawasan DPR dan rakyat. Orang-orang yang terpilih menjadi anggotanya melalui seleksi kecakapan dan latar belakang secara ketat. Sehingga, hampir tidak mungkin lembaga tersebut bekerja untuk salah satu pasangan calon di Pilpres, apalagi untuk petahana.

Fakta di lapangan pun membuktikan mereka independen. KPU dan Bawaslu tegas menegakkan peraturan Pemilu yang terdapat dalam UU Pemilu No 7 tahun 2017 dan Peraturan KPU (PKPU). Semua laporan mereka proses tanpa pandang bulu. Baik terkait dugaan pelanggaran kepada pihak 01 ataupun 02.

Kalau BPN menyebut ada keberpihakan lantaran hasil penyidikan Bawaslu atas dugaan pelanggaran yang dilakukan pendukung 01 tidak sesuai harapan mereka, justru saya menyangka mereka yang ingin mengintervensi kinerja Bawaslu. Mereka yang memiliki hasrat untuk memanfaatkan KPU dan Bawaslu.

Selain itu, menurut saya, narasi telah terjadi kecurangan sengaja mereka hembuskan untuk memengaruhi opini publik bahwa ketika Prabowo-Sandiaga kalah bukanlah karena suaranya memang lebih sedikit, tapi karena Jokowi-Ma’ruf berlaku curang. Sebagai justifikasi di kemudian hari untuk melakukan delegitimasi terhadap hasil Pemilu.

Ibaratnya, BPN Prabowo-Sandiaga sudah merasa menaiki pesawat yang gagal mesin, sehingga mereka membutuhkan landasan yang bisa meminimalisir benturan. Cara yang terbaik tentu saja dengan menjadikan lawan sebagai kambing hitam atas kekalahan mereka. Tentu saja ini cara yang jahat dan jauh dari sikap kesatria.

Cara tersebut juga berpotensi untuk menciptakan kerusuhan setelah pemilu. Karena bisa memancing emosi dari pendukung Prabowo-Sandiaga yang terlanjur mempercayai narasi tersebut. Hal itu sangat kontraproduktif bagi terciptanya konsolidasi demokrasi di negeri ini. Apalagi, semestinya agenda besar setelah pemilu adalah rekonsiliasi nasional guna mengembalikan kohesi sosial masyarakat yang mungkin sempat terbelah selama Pemilu.

Oleh karena itulah saya juga menyayangkan pernyataan Amien Rais yang berencana menggerakkan people power seandainya terjadi kecurangan di Pemilu mendatang. Bukan melalui jalur hukum yang tersedia, yakni Mahkamah Konstitusi (MK). Sebagai seorang tokoh reformasi, saya pikir dia telah kehilangan kebijaksanaannya dan tujuan utama reformasi.

Tujuan utama reformasi adalah menciptakan negara Indonesia yang demokratis. Salah satunya dengan menguatkan lembaga-lembaga hukum sebagai pelindung kepentingan rakyat.

Sementara, pernyataan Amien sama saja dengan berupaya mendelegitimasi MK sebagai lembaga hukum yang selama ini telah mampu menjaga kekuatan demokrasi. Misalnya, berkat keputusan MK lah hak penghayat kepercayaan di negeri ini untuk diakui terpenuhi, pun pemilihan umum serentak juga akhirnya dapat terlaksana.

Lagipula, istilah people power tidak layak untuk digunakan dalam sebuah negara yang pemimpinnya dipilih secara demokratis dan melaksanakan kepemimpinan sesuai koridor demokrasi.

People power adalah istilah yang merujuk pada gerakan masyarakat untuk melawan penyimpangan politik, tirani, dan anti-demokrasi dalam pemerintahan sebuah negara. Pak Jokowi tentu saja bukan tirani, menguatkan lembaga pemberantasan korupsi, dan sangat pro demokrasi.

Maka, saya tidak percaya Amien dapat membuat people power. Karena, faktor-faktor untuk melakukan hal itu tidak terpenuhi. Kecuali sengaja dipaksakan dengan instrumen fitnah dan hoaks yang tentu saja tidak bisa dibenarkan dari sudut pandang apapun. Karena sama saja mengorbankan rakyat dan negara untuk kepentingan kekuasaan yang sesaat.

Tidak Akan Menggerus Suara Jokowi-Ma’ruf
Narasi kecurangan yang dihembuskan BPN Prabowo-Sandiaga pun tidak akan memengaruhi pilihan masyarakat kepada Jokowi-Ma’ruf. Di era informasi yang serba terbuka seperti saat ini, masyarakat bisa mengawasi sendiri Pemilu. Mereka bisa menilai kerja-kerja KPU, Bawaslu dan aparat penegak hukum selama Pemilu secara langsung.

Saat ini, selain pendukung Prabowo-Sandiaga, tidak ada publik yang meragukan independensi lembaga-lembaga tersebut selama Pemilu. Sebaliknya, mereka justru mendukung kerja KPU, Bawaslu dan aparat pemerintah untuk menjaga pemilu yang adil, jujur, langsung, bersih dan aman.

Survei lembaga Indikator Politik periode Maret 2019 membuktikannya. Terkait pertanyaan seputar KPU curang, hanya 15 persen dari responden yang percaya, sementara 67 persen menyatakan tidak percaya. Bahkan, dalam survei elektabilitas, Jokowi-Ma’ruf tetap unggul dari Prabowo-Sandiaga dengan angka 55,4 persen berbanding 37,4 persen yang membuktikan narasi kecurangan tidak menggerus suara petahana.

Sebaliknya, dengan selisih sedemikan rupa, saya sebagai Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf percaya kemenangan sudah di depan mata. Karena, semakin BPN Prabowo-Sandiaga menyebar narasi-narasi berbau fitnah, kebohongan dan menciptakan rasa takut pada masyarakat, kepercayaan masyarakat kepada mereka justru akan semakin menurun. Artinya semakin sulit untuk mengejar elektabilitas Jokowi-Ma’ruf.

Abdul Kadir Karding
Anggota DPR RI.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.