OUR NETWORK

Nabi Saja Mudik

Puasa, sejatinya mengantarkan manusia untuk mudik, yakni ‘melenyapkan’ ego dirinya. Dengan hilangnya ego sang diri, maka manusia mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk berkorban
Foto Arsip lebaran dulu)

Mudik di tengah pandemi Covid-19, manusia Indonesia tetap membludak di pintu toll, di pasar pasar, di mall-mall, dan di jalanan. Hal ini tidak jauh berbeda (walaupun tetap beda) dengan menjelang Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya di saat detik-detik akhir, shaf sholat jamaah semakin maju ke depan, karena manusia Indonesia sudah disibukkan dengan aktivitas ekonomi dan kebanggaan diri untuk tampil beda saat silahturahmi.

Tentunya tidak semua manusia Indonesia memahami mudik sebagai pulang kampung secara fisik dengan keinginan menunjukkan status sosial dan capaiannya di kota. Di masa pandemi ini, banyak sekali manusia Indonesia pulang kampung karena putus hubungan kerja dan kegagalan hidup di kota. Pulang membawa tragedi.

Jadi mudik di masa pandemi untuk sebagian manusia Indonesia: pertama, mudik agar tetap bahagia secara materialistik, individualistik, sosial dan kedua, mudik agar tetap survive dan selamat dari terpaan badai pandemi yang tak jelas kapan berakhirnya.

Kita semua yakin bahwa mudik itu penting, tetapi dalam kondisi pandemi, kita perlu memaknai lebih serius dan mendalam lagi. Selain dari dua hal di atas, tentunya sebagian dari manusia Indonesia, mudik juga mempunyai pengertian yang lebih prinsipil daripada hanya pulang kampung secara fisik.

Mudik dan Politik

Mudik adalah proses politik dengan Allah (Tuhan). Proses politik ini merupakan relasi antara Penguasa dan yang dikuasai, dimana yang dikuasai tahu diri bahwa dirinya tidaklah penting dihadapan PenguasaNya.

Oleh sebab itu, ingatan atas Penguasa sesungguhnya (Sejatinya) membuat manusia, makhluk yang dikuasai sebagai bawahan dari Penguasa (Allah) secara sadar pulang ke tempat asal. Singkatnya, mudik adalah proses politik kepulangan manusia kepada Penciptanya; Kembali ke yang asali.

Dalam hal kembali ke asali, mudik seharusnya dimakna lebih transcendental dan esoterik daripada sekedar kegairahan pulang kampung secara fisik, sebab sungkem sesungguhnya adalah kepada Allah. Fenomena ini bukanlah sesuatu yang abstrak dan sifatnya langitan, tetapi setiap orang yang beragama memiliki pengalaman mendalam dalam dimensi spiritual untuk terus diselami. Seharusnya pengalaman spiritual ini terus menerus dihayati dalam rangka merasakan kehadiran sang Pencipta (asali).

Mudik sebagai Purifikasi

Fenomena mudik juga dimaknai sebagai purifikasi manusia dari segala hal yang melingkupi dan melabelinya. Mudik bertujuan untuk Kembali fitrah, yakni pure (murni). Idul fitri adalah tujuan akhir terminal mudik agar kembali ke kemurnian/kesucian/kebeningan diri manusia.

Selama sebelas bulan manusia telah menjadi keruh, butek, dan ruwet. Selama sebulan, dengan puasa, manusia berusaha dimurnikan dan dirapikan serta ditransparansikan/dibeningkan agar dirinya yang memang mempunyai sifat rentan terhindar dari korupsi diri (sifat ignorance, sombong/arogan, egoisme, bangga diri, iri, dengki, dan penyakit hati lainnya).

Agama hanya membantu mengantarkan manusia kembali ke jalan pemurniaan. Agama bukanlah tujuan akhir manusia beragama sehingga amat sangat berbahaya Ketika manusia berhenti kepada agama saja. Oleh sebab itu agama dalam Islam hanyalah syariat (a way) untuk tahu diri dan paham makna inna lilahi wa inna ilahi raji’un, yakni sesungguhnya kita adalah milik Allah dan semuanya akan kembali pada Allah. Dengan syariat, manusia menjadi aman dan selamat (Islam).

Sangkan Paraning Dumadi

Dengan proses pemurnian, maka Islam sebagai kerja mencari aman dan selamat menuju Allah (ngAllah) dapat tercapai. Hal ini relavan dengan konsep Jawa: sangkan paraning dumadi, yakni ilmu memahami asal usul manusia dan terminal akhir hidup manusia. Konsep ini, memberi petunjuk bagi kita untuk tahu diri, yakni manusia terdiri dari hardware dan software.

Hardware berisi fisik kita yang berasal dari alam dan akan kembali ke alam sedangkan software kita akan kembali ke sang Pencipta, the Divine Reality (Allah). Di sini, mudik tidaklah dipahami dalam kerangka hardware yang terlihat dipermukaan, tetapi utamanya dipahami dalam gambaran besar software kita.

Di hari H, Idul Fitri, manusia dituntut software-nya bening dan transparan sehingga urusan  politik (mudik) dengan Allah terwujud, yakni diri kita berada di titik nol. Di titik ini, manusia menjadi lenyap realitas eksistensialnya karena Allah merupakan satu-satunya wujud Nyata di dunia (the Ultimate reality).

Di hari Idul Fitri, kita tidak selalu merayakan hari kemenangan di dimensi permukaan/banal dan material semata. Namun utamanya, kita menampilkan kebaruan dalam bersikap sehingga yang terlihat di realitas bukanlah baju baru secara literal, tetapi baju baru secara substansial.

Misalnya, menolong sesama manusia dengan cara apapun juga dalam menghadapi kesulitan menghadapi pandemi Covid-19. Dalam kosmologi Jawa, agama adalah ageman (baju) bagi penganutnya. Oleh sebab itu ageman yang dipakai di hari kemenangannya (idul fitri) adalah ageman kesalehan sosial. Mudik itu adalah kerja-kerja internal demi pakai (ageman) kesalehan sosial manusia.

Mengapa bukan kesalehan ritual individual?

Dalam HR Bukhari (7/226) disebutkan “setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukKu dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara lansung”. Dalam konteks ini, ritual puasa begitu amat sangat individual. Ritual puasa yang sangat pribadi ini memberi manusia kekuatan yang luar biasa dalam mengendalikan, mengontrol ego dan hasrat dirinya. Dari kekuatan kontrol inilah manusia dapat mudik, yakni secara politis ‘lenyap’ dihadapan Allah.

Puasa, sejatinya mengantarkan manusia untuk mudik, yakni ‘melenyapkan’ ego dirinya. Dengan hilangnya ego sang diri, maka manusia mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk berkorban.

Konsep korban inilah yang dicontohkan oleh para nabi-nabi terdahulu seperti Ibrahim (Abraham), Noah (Nuh), Isa (Jesus), Musa (Moses), Muhammad, dan yang lainnya kepada kita. Kita tidak perlu berpikir keras untuk memahaminya, cukup mempraktekkannya. Dengan berkorban, maka puasa secara prinsipil adalah untuk kemanusiaan, bukan untuk pribadi yang ingin surga.

Misalnya, Ketika Nabi Muhammad berdakwah di Thaif lalu dilempari batu oleh warga Thaif sampai lari dengan darah bercucuran. Singkat cerita Allah mengutus Jibril dan malaikat penjaga gunung. Malaikat berkata, “Wahai Muhammad, Tuhan mengizinkanmu untuk menimpakan gunung Abu Qubais dan gunung Qaiqa’an pada penduduk Tha’if.” Lalu Nabi menjawabnya, “Jangan. Siapa tahu Allah akan mengeluarkan seseorang yang mengucapkan (kalimat) ‘la ilaha illallah’ dari rahim mereka,”.

Kisah di atas menunjukkan tauladan bahwa nabi bertindak bukan untuk kepentingan ego dirinya dan berkorban bukan untuk pengikutnya, tetapi orang-orang yang menyakitinya. Di sini, Nabi berada di level puasa demi mengemban tugas kemanusiaan.

Pengorbanan nabi adalah mudiknya (pelenyapan eksistensi dirinya atas wujud Allah). Saking fitrahnya (bening), Beliau tetap berpikir positif dengan membiarkan penduduk Thaif. Dengan kepercayaan Nabi terhadap wujud Allah, maka hasil dari pengorbanannya atas kemanusiaan diserahkannya kepada Allah.

Jadi secara esoterik, mudik adalah relasi politis dengan Allah, purifikasi manusia dari egonya, dan sangkan paraning dumadi. Semua itu ditampilkan dalam wujud pengorbanan demi kemanusiaan dan kesalehan sosial.

Musa Maliki
Dosen Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta; Kandidat Doktor Charles Darwin University, Australia; Anggota Kehormatan Jaringan Intelektual Berkemajuan; Karyanya (bersama Asrudin Aswar) "Oksidentalisme: Pandangan Hassan Hanafi terhadap Tradisi Ilmu Hubungan Internasional Barat" (2019)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…