OUR NETWORK
Mungkinkah Muhammad sebagai Nabi bagi Umat Kristiani?

maulid-nabi-muhammad-saw

Masih dalam suasana Maulid Nabi Muhammad, saya ingin mengajukan pertanyaan teologis yang tak umum diajukan: Mungkinkah umat Kristiani mengakui Muhammad sebagai Nabi? Pertanyaan ini pernah disampaikan Khalifah Abbasiyah al-Mahdi kepada Patriakh Timothy I dari Gereja Suriah Timur.

Tentu saja, pertanyaan itu seharusnya dijawab oleh umat Kristiani. Karena itu, saya hanya bermaksud mendiskusikan apa yang dikatakan sebagian penulis Kristen ketika menjawab pertanyaan tersebut. Lebih khusus lagi, saya akan membatasi pada mereka yang membuka kemungkinan mengakui Muhammad sebagai Nabi, baik eksplisit atau implisit. Setahu saya, tidak banyak penulis Kristen yang berbicara soal kenabian Muhammad dari sudut teologis, dan lebih sedikit lagi yang menjawabnya secara afirmatif.

Perlu disebutkan di awal, sebagian orang mungkin bertanya: Apa susahnya umat Kristiani mengimani Muhammad sebagai Nabi? Bukankah kaum Muslim menghormati Yesus (Isa) dan menganggapnya sebagai Nabi yang agung?

Dua pertanyaan di atas tidak bisa saling dihubungkan untuk memunculkan komitmen timbal-balik: Karena kaum Muslim mengimani Yesus sebagai Nabi, maka umat Kristiani semestinya mengimani Muhammad juga.

Pertama, kaum Muslim tidak memperlakukan Yesus sebagaimana umat Kristiani mengimaninya sebagai Tuhan. Jadi, Muslim mengakui Yesus sebagai Nabi berbeda dengan Kristen mengakui kenabian Muhammad.

Kedua, umat Kristiani mengimani keesaan Tuhan. Bagi sebagian kalangan, jika mereka juga mengakui kenabian Muhammad, maka mereka otomatis menjadi Muslim.

Soal Kenabian Muhammad

Sementara kaum Muslim meyakini tidak ada nabi setelah Muhammad, umat Kristiani memahami kenabian lebih dinamis, walaupun dalam pengertian Biblikal tidak ada nabi setelah Yesus. Sebab, Yesus adalah kulminasi wahyu dalam wujudnya yang paripurna. Seperti disebutkan dalam kitab Ibrani 1:1-2, Tuhan berkomunikasi dengan umat manusia melalui para Nabi, dan pada zaman akhir ini “Ia telah berbicara kepada kita dengan perantara Anak-Nya.”

Ayat Ibrani ini memperlihatkan proses gradualitas wahyu yang mencapai kepurnaannya dalam diri Yesus sebagai inkarnasi Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan tidak lagi mewahyukan kehendak-Nya, melainkan diri-Nya dalam wujud Yesus. Ada dua konsekuensi dari kesempurnaan wahyu dalam diri Yesus: (1) tidak ada lagi wahyu setelahnya, dan (2) dengan terputusnya wahyu, berakhir pula era kenabian.

Dalam konteks itu kita bisa memahami kenapa sulit bagi Kristen untuk mengakui Muhammad sebagai Nabi dalam pengertian Biblikal. Wahyu yang paripurna sudah mewujud dalam diri Yesus, yang disaksikan oleh murid-muridnya. Bahkan, Perjanjian Baru dipahami semata sebagai sebuah kesaksian normatif atas pewahyuan Tuhan dalam diri Yesus itu.

Dari sinilah dikenal istilah inkarnasi: Firman menjadi tubuh Yesus. Maka, ada benarnya ketika sebagian sarjana membandingkan Yesus dengan al-Qur’an. Jika dalam tradisi Kristen dikenal inkarnasi, dalam Islam disebut “inlibrasi,” yakni Firman menjadi kitab (al-Qur’an). Sebagaimana al-Qur’an dipahami bersifat eternal, demikian pula Yesus yang (mengutip Ibrani 1:2) “dengannya Tuhan menciptakan alam semesta.”

Maka, ketika Patriakh Timothy ditanya apakah ia mengakui Muhammad sebagai Nabi, ia tidak dapat mengafirmasi sepenuhnya tetapi juga tidak menolak ajaran-ajaran kebaikan yang dibawanya. Dengan pilihan kalimat yang sangat hati-hati, Timothy menjawab: “Muhammad berada di jalannya para Nabi.” Jawaban ini mengena dua sasaran sekaligus. Dia tidak menyakiti perasaan Khalifah Al-Mahdi dan juga tidak menyimpang dari pemahaman ortodoks bahwa tak ada wahyu setelah Yesus.

Sejak pertengahan abad ke-20, sejumlah teolog Kristen mengembangkan perspektif baru dan mencoba merumuskan prinsip-prinsip yang memungkinkan untuk mengakui Muhammad sebagai seorang Nabi. Dalam sebuah konferensi di Spanyol tahun 1977, misalnya, Prof. Gregorio Luiz berargumen bahwa jika istilah “nabi” dipahami secara sosiologis, maka Muhammad boleh dianggap Nabi. Pandangan Luiz kurang mendapat respons karena dia tidak menggunakan istilah “nabi” dalam makna teologis sebagaimana dipahami kaum Muslim.

Terobosan Teologis

Adalah Giulio Basetti-Sani dan Christian Troll yang menawarkan sebuah terobosan penting dalam soal kenabian Muhammad dan ajaran yang dibawanya. Dalam “Secercah Harapan di Balik Caci-Maki Muslim dan Kristen” (Geotimes, 25 November 2016), saya sudah mendiskusikan pandangan Basetti-Sani tentang al-Qur’an dan Nabi Muhammad.

Diilhami oleh mentornya Louis Massignon, Basetti-Sani mengusulkan supaya umat Kristiani mengembangkan sikap positif atas Muhammad tanpa mengorbankan keyakinan teologis mereka. Hal itu dapat dilakukan dengan membedakan antara pengakuan atas kenabian Muhammad dan pengamalan ajaran Islam.

Baginya, mengakui kenabian Muhammad adalah satu hal, dan mengikuti ajarannya adalah hal lain. Dan sikap apresiatif terhadap ajaran Islam tidak berarti meninggalkan ajaran Yesus Kristus karena (sebagaimana judul bukunya) “Qur’an dapat dibaca dalam sinaran Kristus” (The Koran in the Light of Christ).

Troll berbicara soal kenabian Muhammad dalam dua bukunya yang dibaca luas, berjudul Dialogue and Difference: Clarity in Christian-Muslim Relations (2009) dan Muslims Ask, Christians Answer (2012). Dia menyebut Muhammad sebagai “an outstanding religious figure” dan mengajak kaum Kristiani bersikap terbuka mempelajari biografi Muhammad dan ajaran Islam.

“Pengakuan atas Yesus sebagai kepurnaan wahyu, dalam arti Tuhan mewahyukan dirinya dalam diri Yesus,” kata Troll, “tidak berarti bahwa agama lain diremehkan atau ditolak sebagai memiliki hubungan tertentu dengan Tuhan dan menawarkan peribadatan yang absah.” Sebaliknya, agama Islam perlu dipahami sebagai wujud beragam bentuk undangan Tuhan untuk menyingkap makna kepurnaan wahyu.

Baru-baru ini dua penulis Kristen, Craig Considine dan Ian Mevorach, menulis artikel di The Huffington Post menjawab pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini secara afirmatif. Dalam “Why a Christian Can View Muhammad as a Prophet” (26 Januari 2016), Considine berargumen bahwa tidak ada salahnya bagi Kristen mengakui kenabian Muhammad.

Baginya, Muhammad membawa pesan-pesan serupa dengan yang dibawa nabi-nabi sebelumnya, termasuk ajaran cinta-damai dan tidak bisa dikatakan anti-Kristen. Namun demikian, Considine memaknai kata “nabi” dalam pengertian yang luas, sehingga bukan hanya Muhammad yang bisa dianggap sebagai Nabi, tapi juga memungkinkan pengakuan atas nabi-nabi lain setelahnya.

Mevorach, dalam tulisannya “Did Jesus Predict Muhammad” (25 April 2016), membuat pernyataan provokatif. “Jika kita lihat Islam sebagai agama dunia yang dianut oleh 1,6 miliar orang,” tulisnya, “inilah saatnya untuk mengakui Muhammad sebagai Nabi.” Muhammad sebagai “Spirit Kebenaran” telah diprediksi oleh Yesus. Tulisan Mevorach ini mendapat reaksi luas hingga mencapai 600 komentar. Mevorach adalah seorang pastur dengan gelar PhD dan aktif dalam kegiatan dialog lintas agama, terutama Yahudi-Kristen-Islam.

Ada dua hal yang saya tidak setuju dengan Mevorach. Pertama, menurutnya, pengakuan atas kenabian Muhammad didasarkan pada prediksi Yesus dalam Perjanjian Baru. Ini persoalan klasik yang tak meyakinkan.

Kedua, pengakuan atas kenabian Muhammad diperlukan sebagai persyaratan dialog lintas agama. Asumsi dasar kontensi ini sangat problematik karena perbedaan tidak harus menghalangi kerja-kerja dialog. Justru dialog diperlukan karena ada perbedaan yang perlu didialogkan.

Dengan demikian, apakah Muhammad diakui sebagai Nabi atau tidak seharusnya bukan hambatan dialog dan kolaborasi antara komunitas Muslim dan Kristen. Tulisan ini perlu dilanjutkan dengan pertanyaan lain, “bisakah Yesus sebagai Tuhan bagi Muslim?” Kini saatnya Muslim menjawab pertanyaan ini dan akan saya diskusikan dalam tulisan berikutnya sebagai renungan Maulid Yesus.

Baca:

Apakah Muslim dan Kristen Menyembah Tuhan Yang Sama?

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Mun'im Sirry

Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA. Tiga karyanya: “Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis Atas Kritik Al-Quran Terhadap Agama Lain” (Gramedia, 2013), “Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis” (Mizan, 2015), dan “Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions” (Oxford University Press, 2014).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…