Minggu, Maret 7, 2021

Muhammadiyah dan NU: Mitos Islam Berkemajuan dan Pluralisme

Pahlawan Bangsa dari Etnis Tionghoa

Para pahlawan bangsa berikut ini berjasa besar terhadap etnis dan kaumnya masing-masing, sangat dihormati, bernyali besar dan teruji. Mereka memiliki lawan yang sama, Belanda!...

Kebocoran Data Telkomsel, Ini Permainan Siapa?

Kasus Denny Siregar memancing banyak oknum bermain. Ormas anarkis jelas nyari panggung paling depan. Teriak paling kencang. Mengancam paling ganas. Kemudian muncul akun Twitter...

Islam dan Multikulturalisme

Semua agama mengklaim: hanya agamanya yang benar. Lainnya salah. Meskipun klaim itu secara teologis masih bisa diperdebatkan, tapi secara sosiologis sulit, karena pandangan tersebut sudah...

Sumpah Pemuda sebagai Penegasan Posisi Politik

Dengan segenap basa-basi dan klise tentang peringatan Sumpah Pemuda, saya pikir pemahaman soal Sumpah Pemuda ini penting di tengah pendapat arus utama yang memahami...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Sebuah hasil riset menyebutkan bahwa pluralisme di NU hanya mitos. Hanya elitenya. Tapi NU akar rumput adalah intoleran yang eksklusif. Tidak menerima keragaman bahkan cenderung memaksakan. Muhammadiyah pun juga sama: berkemajuan hanya di bagian elitenya, kebanyakan puritan, cenderung romantisme merindukan masa lampau atau ‘nyalaf’ dalam makna generik.

Yudi Latif memilah generasi kelima dan keenam kaum inteligensia Muslim, yang kemudian disebut oleh Budhy Munawar Rahman sebagai Islam progresif? Yakni, Islam yang memberi penekanan utama kepada pengembangan ilmu pengetahuan, diskursus keadilan, keterbukaan, sikap toleransi, dan perlunya membangun integritas moral kaum Muslim dalam membangun kebangsaan Indonesia.

Hal mana bertolak belakang dengan arus utama akar rumput yang dominan memuja pada hal-hal furu’ sebut saja : revisi waktu shalat shubuh, isbal, janggut, minyak wangi, anti China, anti Yahudi, anti Kristen, berebut kekuasaan dan membangun identitas.

Buku berjudul Reorientasi Pembaruan Islam, yang ditulis oleh Budhy Munawar Rachman dan diterbitkan pada tahun 2010 menarik disimak. Pada tanggal 28 Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia mengetok palu membunuh tiga makhluk penting: pluralisme, sekularisme, dan liberalisme agama. Matikah tiga makhluk ini?

Sampai tahap ini bisa dilihat ada gap yang keras— meluas signifikan terhadap keberagamaan warga Persyarikatan Muhammadiyah. Sayang kajian macam ini memang belum banyak dilakukan, terbukti dengan susahnya menemukan buku, tulisan apalagi hasil riset —padahal sangat penting untuk melihat dengan jujur orientasi keberagamaan warga Persyarikatan dari berbagai kelas sosial, status dan kluster.

Betapapun saya tak sepenuhnya percaya jika Muhammadiyah menabalkan diri sebagai Islam medium, Islam kosmopolit, Islam berkemajuan, Islam modern dan berbagai sebutan lainnya yang ditandai dengan berbagai indikator, sebut saja tingkat pendidikan yang tinggi, status sosial mapan dan ekonomi yang kokoh.

Cukup banyak indikator yang justru berbalik— warga Persyarikatan tak sepenuhnya demikian. Bahkan masih banyak warga Persyarikatan yang tak bisa atau tak mampu sekolah di amal usahanya sendiri karena keterbatasan ekonomi. Juga masih banyak warga Persyarikatan yang tak punya akses yang cukup meski sekedar ke amal-amal usaha Muhammadiyah yang representatif sebagai bagian dari warga Persyarikatan. Agar mereka tidak hanya menjadi penonton dan warga yang tidak tersentuh oleh dakwah.

Realitas ini harus disikapi secara jujur, dan lapang hati bahwa masih banyak pekerjaan yang belum selesai atau terlewatkan dan itu wajar, guna mendapatkan pemahaman keberagamaan warga persyarikatan yang utuh, taktis dan komprehensif untuk mengambil kebijakan-kebijakan strategis jangka panjang ke depan.

Dunia demikian cepat berubah dan bisa saja semua berbalik menurut hukum dialektik — yang dulunya disebut tradisional menjadi sangat modern atau sebaliknya, yang dulu menyebut dirinya modern menjadi jumud, kolot dan eksklusif. Siapa bisa cegah? Ibarat pendulum apa pun bisa terjadi.

Boleh jadi kemajuan elite Muhammadiyah tidak berbanding lurus dengan warga persyarikatan kelas bawah bahkan mungkin saja malah bertolak arah — mari kita buktikan. Realitas warga di tingkat yang paling bawah apakah juga paham dan mengerti. Sebuah pertanyaan klise untuk menjawab sesuatu yang sudah jelas.

Pun dengan sikap keberagamaan warga Nahdhiyin yang disebut plural, menjaga keragaman, kebhinekaan dan apapun sebutannya juga hanya klise dan hanya ada di tingkat elitenya, realitasnya warga nahdhiyin juga kurang lebih sama. Pluralisme dan kebhinekaan hanya mitos di tataran akar rumputnya.

Lalu apa hubungannya dengan polemik di atas? Bisa jadi dalam tubuh Muhammadiyah dan NU memang terdapat gap (atau gradasi) ideologi dan pemikiran atas bawah antar elite dan akar rumput.

Meminjam pernyataan Greg Barton bahwa kontribusi dua ormas Islam terbesar di Indonesia ini terhadap moderatisme Islam dan dalam merawat kebangsaan adalah modal sosial penting—jika bukan terpenting–yang menjadikan Indonesia tetap bertahan dengan segala kerentanannya. Gap dan dinamika di dalamnya bisa sangat kompleks, sekompleks Islam itu sendiri, William Lidle melanjutkan. Karena itu, polemik ini menjadi menarik untuk diteruskan dalam berbagai kajian dan riset kata saya menambahkan. Wallahu taala a’lam

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.