Selasa, Maret 9, 2021

Mewaspadai Radikalisme Islam di Media Sosial

Muslim Uighur di Tengah Polarisasi Politik Lokal

Apa yang paling menjengkelkan dari polariasi politik adalah ia menumpulkan kemampuan kita untuk melihat persoalan dengan jernih. Polarisasi menjadikan pikiran kita monokrom, kesulitan melihat...

‘Budaya’ Sebar Foto dan Screenshot, Wujud Kemarahan dan Kekecewaan Masyarakat Kita

Public shaming baik di dunia offline maupun online sering dipilih masyarakat sebagai cara penghukuman terkait suatu kasus, tetapi hal ini sering diekori dengan sejumlah...

Penting dan Urgen: Menyehatkan Udara yang Kita Hirup

Indeks Kualitas Udara sedang menunjukkan angka 210 untuk wilayah Jakarta ketika tulisan ini dibuat, sehari sebelum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2019 yang jatuh pada...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...
Avatar
Nafi Muthohirin
Peneliti di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Anggota Lembaga Informasi dan Komunikasi PW Muhammadiyah Jawa Timur. Penulis buku "Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus" (2015)

radikalisme-islamLogo 3D Twitter dan bendera Negara Islam terlihat dalam gambar ilustrasi yang diambil Kamis (18/2). ANTARA FOTO/REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

Pemanfaatan media sosial menjadi cara baru bagi kelompok radikal untuk menyebarkan benih-benih ideologi ekstrimis. Facebook, YouTube, Twitter, blog hingga aplikasi layanan pesan gratis seperti WhatsApp kini menjadi alat yang ampuh bagi kelompok teroris untuk melakukan propaganda, mendapatkan pengaruh, dan menjaring keanggotan warga di jejaring sosial (netizen). Dalam konteks ini anak-anak muda menjadi target propagandanya.

Di era digital seperti sekarang, dunia maya telah menjadi kekuatan nyata yang menghubungkan soliditas dan militansi kelompok radikal hingga ke lintas negara. Keberadaannya menawarkan kemudahan dalam berinteraksi dan pengorganisasian. Karena itu, kemunculan mereka di jejaring virtual turut mengubah strategi dan pola teror.

Bahkan pada dekade kedua abad ke-21 ini muncul kecenderungan kelompok radikal meningkatkan interaksi dan propagandanya. Mereka membuat laman-laman tertentu untuk menyebarkan ide dan gagasan kebencian, pemahaman radikal, ancaman, serta cara membuat bom secara otodidak. Sejumlah website tersebut disembunyikan identitasnya dengan alat teknologi enkripsi yang belum diketahui.

Pada akhir 2014, misalnya, Twitter menemukan fakta yang mengejutkan bahwa Negara Islam (ISIS) telah membuat 700 ribu akun Twitter yang punya koneksi dengan berbagai kelompok teroris di belahan dunia. Hal ini membuat manajemen perusahaan berlogo burung biru itu mengawasi secara ketat konten-konten yang dicurigai berisikan agenda terorisme.

Seiring dengan kontrol yang begitu ketat, kelompok radikal tetap tidak kehilangan akal dan terus bercuit menggunakan akun-akun anonim. Penggunaan meme-meme bergambar yang berisikan pesan radikal juga diciptakan dalam rangka menarik simpati anak-anak muda. Lalu, secara konsisten dan kreatif, gambar-gambar meme itu disebar ke Facebook, Twitter, Instagram, dan WhatsApp yang menjangkau ribuan netizen dalam waktu singkat.

Terkait hal ini, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) pada 2011 telah mengidentifikasi tujuh bentuk penggunaan dunia maya untuk kepentingan teroris, di antaranya propaganda, perekrutan, pendanaan, pelatihan, perencanaan, penyebaran teror, dan cyberattack. Dalam banyak kasus, strategi cyberspace ini telah dipraktikkan oleh semua jaringan kelompok teroris, baik di tingkat global (Al-Qaedah dan ISIS) maupun lokal (Jamaah Islamiyah dan Jamaah Ansharut Tauhid).

Dua bulan sebelum serangan teror bom yang terjadi di Jalan Thamrin, Jakarta, misalnya,  muncul sebuah akun Facebook yang mengunggah rekaman audio yang diduga milik Santoso, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT), jaringan teroris yang beroperasi di Poso, Sulawesi Tengah. Meski rekaman berjudul “Seruan Sang Komandan” tersebut hanya berdurasi 9 menit, propaganda itu bernada mengerikan karena bermaksud menghancurkan Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya dan Istana Merdeka, Jakarta.

Selain itu, yang tak kalah menjadi pemberitaan media nasional ialah kemunculan video anak-anak Indonesia yang tengah dilatih perang oleh ISIS di YouTube pada Maret tahun lalu. Contoh lain adalah ketika kelompok Rizky Gunawan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 5 miliar dari hasil meretas sejumlah situs komersil untuk membiayai pelatihan militer teroris di Poso (Petrus Reinhard Golose: 2015).

Pergerakan cyberspace yang dilakukan kelompok teroris terbukti ampuh menjaring simpati dari kalangan anak muda. Kenyataan ini diperparah dengan sejumlah penyebab lain yang mendorong mereka terjebak ke dalam berbagai gerakan radikal yang mengatasnamakan agama, seperti halnya minimnya pemahaman keagamaan, ruang aktualisasi yang kurang, serta tingkat pendidikan dan ekonomi yang masih rendah.

Berbagai aksi terorisme yang terjadi di Indonesia, seperti bom Thamrin (2016), bom Solo (2011), dan bom Mega Kuningan (2009), para pelakunya adalah anak-anak muda yang berusia tidak lebih dari 30 tahun. Kemudian tidak sedikit di antara anak muda dari Indonesia yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Di Indonesia, setiap tahun jumlah pengguna internet berkembang sangat pesat. Laporan penelitian Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama Pusat Kajian Komunikasi (Pusakom) Universitas Indonesia pada 2014 melaporkan, pertumbuhan jumlah pengguna internet di dalam negeri terus meningkat sejak 2005. Jika pada sepuluh tahun lalu jumlahnya 16 juta orang, pada 2014 telah mencapai 88,1 juta netizen (34,9% dari jumlah penduduk Indonesia 252,4 juta jiwa).

Dilihat dari usia netizen, riset tersebut menjelaskan, sebanyak 49% atau hampir setengahnya berusia 18 tahun hingga 25 tahun. Sementara itu, jenjang pendidikan mereka 64,7% lulusan SMA sederajat. Sebanyak 87% para netizen ini mengaku menggunakan media sosial saat terkoneksi dengan internet, sedangkan 68,7% untuk searching dan browsing.

Melihat kenyataan tersebut, dalam Konferensi Tingkat Tinggi AS-Asean di California, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo berpidato mengenai pentingnya memanfaatkan media sosial untuk membendung gerakan ekstrimis terorisme. Di hadapan para pemimpin negara se-Asia dan AS, Jokowi mengajak warga dunia untuk melawan paham-paham radikal yang menyusup di keramaian dunia maya.

Pola gerakan dan strategi baru yang dipraktikkan kelompok teroris ini perlu ditanggapi serius oleh pemerintah. Kini, tidak cukup penanggulangan terorisme hanya dilakukan lewat program sosialisasi deradikasilasi agama “di bawah ruang ber-AC”. Jika cara dan segmentasi sosialisasi ini terus dilanjutkan, proyek ini hanya akan menghabiskan anggaran negara. Sedangkan secara substansi, agenda deradikalisasi tidak mampu menyelesaikan dan menghapus cara pandang sebagian orang yang mulai berpikiran radikal.

Selain itu, pemerintah bersama komunitas-komunitas digital perlu menyikapi serius keberadaan grup-grup percakapan di media sosial yang mengarah kepada radikalisme. Meski pola ini mengurangi intensitas pelaku teroris atau benih dari kelompok radikal untuk melakukan pertemuan dan pidato-pidato di berbagai majelis keagamaan, geliat mereka di jaringan virtual justru lebih membahayakan.

Karena itu, publik sangat berharap draf RUU perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme akhirnya nanti akan membahas penanganan terorisme di dunia maya, agar masa depan generasi muda dapat diselamatkan

Avatar
Nafi Muthohirin
Peneliti di Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Anggota Lembaga Informasi dan Komunikasi PW Muhammadiyah Jawa Timur. Penulis buku "Fundamentalisme Islam: Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivis Dakwah Kampus" (2015)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Harap-Harap Cemas Putusan MK pengujian Perubahan UU KPK

Sudah setahun lebih setelah UU No. 19 Tahun 2019 (perubahan UU KPK) disahkan dan bentuk penolakan pun masih senantiasa digulirkan. Salah satu bentuk penolakan...

Mereformulasi Pengaturan Hukum Mitigasi Bencana

Bencana alam seringkali tidak dapat diprediksikan. Dimana jenis bencana alam yang terjadi tersebut turut menimbulkan korban jiwa, kerugian materil ataupun kerugian imateril kepada masyarakat...

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Injil Muslim: Kontroversi Barnabas Revisited

Minggu ini saya mengajar topik "A Muslim Gospel" (Injil Muslim) dalam mata kuliah "Islam and Christian Theology". Saya menugaskan mahasiswa untuk membaca The Gospel...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.