Minggu, November 29, 2020

Merusak Rumah Ibadah Itu Ajaran Syaiton

Rupiah Melemah: Menkeu Merasa Untung, Petani Menangis

Saat rupiah tengah terkapar seperti saat ini, kita dapat dengan mudah menilai 2 kubu yang sama kebangetannya. Pertama, kubu yang mengatakan ekonomi kita baik-baik...

Lima Hal yang Gak Dapet di AADC 2

Bintang utama film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2, Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, di Yogyakarta, Jumat (22/4). ANTARA FOTO/Andreas Firti Atmmoko Saya datang ke...

Haruskah Aktivisme Mengikuti Zaman?

Berada di tengah situasi sulit karena pandemi ini, mungkin kita semua merasakan bahwa banyak hal yang perlu kita hadapi dan benahi bersama-sama. Tentu dengan...

Agama dan Budaya Sisa Kotaknya

Rasulullah bersabda “sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” (HR. Al-Baihaqi). Tidak ada satupun ayat atau hadist yang menyatakan bahwa sesungguhnya rasulullah diutus untuk membuat...
Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

Catatan kali ini ingin menyoroti persoalan rumah ibadah yang sudah menaun, kurang mendapat penanganan dari pihak pemerintah. Catatan ini dipicu oleh pengrusakan sebuah masjid di Minahasa yang dilakukan oleh seorang pemeluk Katolik. Sontak masalah ini mendapat perhatian nasional terutama karena masjid adalah tempat ibadah kelompok mayoritas agama di Indonesia.

Sebenarnya persoalan rumah ibadah merupakan persoalan bersama. Semua agama menghadapi masalah ini. Puluhan gereja tidak bisa dibangun. Masjid Ahmadiyyah juga dirusak dan banyak lagi.

Karenanya, persoalan rumah ibadah bukan persoalan bagi kaum minoritas tapi juga kaum mayoritas juga. Menurut laporan Tirto.Id, ada sebanyak 32 gereja ditutup sepanjang 5 tahun pemerintahan Jokowi. Pada tahun 2015, pelarangan pembangunan masjid terjadi di Tolikara.

Catatan kali ini ingin menjawab bagaimana sesungguhnya merusak rumah ibadah, masjid, gereja, sinagog, pura, dan rumah ibadah-rumah ibadah yang lain dalam pandangan Islam? Jawabnya tegas, tidak diperbolehkan.

Dalam surat al-Hajj ayat 39-40 al-Qur’an menyatakan:

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu; (Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Ayat di atas jelas akan perlindungan terhadap seluruh rumah ibadah untuk semua agama.

Ibn Abbas, penafsir al-Qur’an dari kalangan sahabat dalam tafsirnya mengatakan: “Monastri adalah tempat tinggal para pendeta, sinagog adalah adalah tempat ibadah orang Yahudi, gereja adalah tempat ibadah orang Kristen dan Masjid adalah tempat ibadah orang Islam. Maksud Ibn Abbas di sini adalah semua rumah ibadah harus mendapatkan perlindungan.

Muqatil Ibn Sulaiman dalam Tafsirnya juga mengatakan seluruh pemeluk keyakinan di atas memuji Allah di dalam rumah ibadah-rumah ibadah mereka. Karenanya, mereka ini semyua harus dilindungi dari pelbagai serangan (lihat Tafsir Ibn Muqatil, Vol. 2, h. 385, cetakan Dar Al-Kutub Al-Misriyya.

Imam al-Qurtubi menjelaskan dalam tafsirnya (vol.12, p.70), bahwa para Nabi dan kaum berTuhan memerangi musuh-musuh mereka, sementara orang-orang politeis berkeinginan merusak rumah ibadah-rumah ibadah yang dibangun oleh orang-orang dari pelbagai latar belakang keimanan. Ayat di atas menurut Imam al-Qurtubi, Rasulullah diperintahkan untuk melindungi rumah ibadah-rumah iadah tersebut.

Dalam sejarah, selama Rasulullah hidup di Madinah, komunitas Yahudi memiliki sinagog dan pusat pendidikan bagi mereka yang bernama Bayt al-Midras. Rasulullah tidak hanya memberikan lembaga ini hidup, namun juga melindunginya.

Rasulullah juga pernah berkirim surat kepada kaum Kristiani di Monastri Saint Catherine di Gunung Sinai, Mesir. Surat ini semacam surat perjanjian antara Rasulullah dengan kelompok Kristen saat itu.

Isi surat tersebut adalah Rasulullah akan membela mereka dengan dirinya sendiri karena kaum Kristen adalah juga warga negara Rasulullah. Rasulullah akan menentang segala hal yang tidak menyenangkan mereka. Tidak ada paksaan bagi mereka, kata Rasulullah dalam surat perjanjian ini. Rasulullah mengatakan hakim-hakim pemeluk Kristen tidak akan dipecat dari pekerjaan mereka dan para penghuni monastri tidak akan dikeluarkan dari monastri mereka.

Hal yang sangat penting dinyatakan oleh Rasulullah dalam surat ini adalah “tidak seorangpun dibolehkan untuk merusak rumah ibadah mereka, menghancurkan atau mengambil sesuatu dari rumah ibadah mereka untuk di bawah ke rumah ibadah umat Islam. Siapapun yang melanggar maka mereka merusak perjanjian dengan Allah dan RasulNya.

Selanjutnya, dalam surat ini Rasulullah menyatakan orang-orang Kristen adalah sekutu Rasulullah dan mereka memiliki perjanjian dengannya. Tidak seorangpun, menurut Rasulullah, yang berhak memaksa mereka untuk pergi berperang. Orang-orang Muslim yang berperang untuk mereka.

Jika ada perempuan Kristen menikah dengan laki-laki Muslim, maka hal ini tidak bisa terlaksana jika pihak perempuan tidak menginginkannya. Jadi, laki-laki Muslim tidak boleh memaksa untuk perempuan Kristen untuk dinikahi. Dia juga tidak boleh dihalangi untuk pergi beribadah ke geraja mereka. Rasulullah menyatakan bahwa gereja-gereja mereka dihormati oleh Islam. Kaum Kristiani tidak dihalangi untuk memperbaiki gereja mereka.

Meskipun perjanjian ini dibuat oleh Rasulullah dengan kaum Kristiani, namun pesan yang ada dalam perjanjian ini komprehensif. Pesannya adalah Rasulullah sangat menghargai dan bahkan melindungi rumah ibadah-rumah ibadah para pemeluk agama. Rasulullah memberikan contoh bahwa pemimpin mayoritas harus melindungi pada minoritas.

Agama sudah memberikan dasar yang kuat bagi kita untuk menjaga semua rumah ibadah dari kaum yang berbeda keyakinan. Kita tinggal melaksanakan untuk menciptakan kehidupan yang rukun, damai, toleran dan penuh keadilan.

Kini kita menunggu janji-janji pemerintah kita yang akan memberikan perlindungan dan keadilan bagi semua pemeluk agama. Rencana pemerintahan Jokowi untuk menyusun Omnibus Law dimana salah satunya adalah untuk menjaga kesesuaian antara Konstitusi kita dan peraturan-peraturan di bawahnya adalah saat yang tepat. Peraturan-peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip kebebasan beragama (religious freedom) harus dijadikan sebagai salah agenda di dalam Omnibus Law ini.

Syafiq Hasyim
Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Beberapa Kesalahan Berpikir Kita

Proses berpikir merupakan salah satu komposisi dari pola aktifitas manusia dalam kehidupan, sekaligus menjadikan nya sebagai prestise seseorang agar terhindar dari segala bentuk keterasingan...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.