OUR NETWORK

Menyoal Ulama, Dulu dan Kini

Tapi ulama boleh marah, dan harus, jika menghadapi ketidak-adilan dalam masyarakat.

Ulama adalah sebutan bahasa Arab untuk mereka yang memiliki kompetensi keilmuan di bidang agama. Kalau ulama disebut orang alim, artinya juga orang berilmu. Penggunaan ungkapan alim – ulama yang lazim di masyarakat kita merupakan gambaran cita rasa bahasa Indonesia, untuk konsep bahasa Arab yang maknanya ganda. Alim itu orang berilmu. Ulama juga orang berilmu.

Kalau kita sarankan untuk diubah agar kita gunakan alim saja atau ulama saja demi kebenaran, orang pasti tidak mau karena satu kata jelas kurang marem. Lagi pula cita rasa kebahasaan memang tak  ada hubungannya dengan   kebenaran ilmiah.  Jadi, biarlah alim-ulama tetap alim ulama.

Dalam kata ulama, atau alim, orang tidak cukup menunjukkan dirinya memiliki khasanah keilmuan yang luas dan mendalam.  Itu tidak cukup. Orang berilmu selalu menunjukkan dirinya juga beretika. Makin tinggi dan makin luas ilmu seorang alim, makin rendah hati dia, juga makin sopan. Ulama tidak sombong, tidak merusak tata krama. Sikapnya lembut  dan penuh kasih sayang pada sesama. Rujukan etis mereka adalah Gusti Kanjeng Nabi, suri teladan Agung bagi umat manusia. Tak mengherankan  bila ulama disebut pewaris nabi-nabi.

Tapi ulama boleh marah, dan harus, jika menghadapi ketidak-adilan dalam masyarakat. Kiai Kajoran, yang bergelar Panembahan Romo, pernah melawan kesewenang-wenangan Amangkurat I yang berkuasa antara tahun 1646-1677. Raja lalim ini menyimpan dendam pada dunia kiai. Baginda pun membunuh secara kejam 6.000 ulama yang pernah melawannya.

Ini tragedi mengerikan. Tapi dalam sejarah, peran ulama tak dengan sendirinya memudar. Perang Diponegoro tahun 1825-1830 pun melibatkan sejumlah besar ulama. Juga pemberontakan petani Banten tahun 1888. Ini urusan petani tapi para kiai tarekat di Banten pun terlibat. Mereka membagi-bagikan jimat anti peluru kepada para petani yang tampil revolusioner itu. Tapi ironisnya, mereka begitu mudah dibasmi.

Di zaman kemerdekaan, pada tahun 1949 muncul DI/TII, Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, yang melawan pemerintah pusat di bawah pimpinan Karto Suwiryo. Tokoh ini memiliki cita-cita mendirikan Negara Islam Indonesia. Para Kiai, ulama, dari sejumlah pesantren di Jawa Barat, mungkin pesantren Cipari yang menonjol, terlibat dalam gerakan itu. Bahkan berbagai daerah mendukungnya. Dan Karto Suwiryo kelihatan mencorong seperti bintang Timur.

Presiden Soekarno tak kalah ‘sorot’. Tentara bawahannya  menumpas gerakan kemiliteran itu dan Karto Suwiryo tertangkap pada tahun 1962. Dia dijatuhi hukuman mati. Tokoh ini-juga para ulama-yang ditumpas dalam kisah-kisah perlawanan itu, menerima kekalahan dengan jiwa kesatria. Mereka tahu, ditumpas itu risiko bawaan, yang lahir bersama gerakan perlawanan itu. Mereka kalah tapi tak mengumpat, dan tak mengutuk siapapun.

Sejak kekalahan itu aspirasi politik untuk mendirikan Negara Islam tadi seperti sudah padam selama sekitar 32 tahun masa pemerintahan militer Presiden Soeharto. Rezim militer itu begitu keras terhadap politik kaum ulama. Sebutan Negara Islam ada kalanya muncul dalam politik, terutama pada tiap masa kampanye pemilu, tapi itu bukan suara dari bawah, melainkan tuduhan kaum milter terhadap ulama yang berani bersuara agak tegas menyampaikan aspirasi keislamannya.

Rezim militer Orde Baru mempunyai dua kata kunci yang mengerikan. Ulama difitnah dan dituduh mau mendirikan Negara Islam. Kaum sipil, yang bukan bagian dari dunia pesantren, dituduh PKI. Tentara bawahan Presiden Soeharto tahu persis  kedua fitnah itu mampu membungkam lawan-lawan politik mereka.

Supaya tak dianggap anti-Islam, Golkar membentuk secara khusus sayap Islam di dalam organisasi itu. Sejumlah ulama ‘istana’ dipelihara dengan baik. Malah ada pula wadah kelembagaan khusus bagi mereka. Sebagian dari mereka ‘dikandangkan’ di MUI, tapi tetap diinteli secara ketat. Sudah rela disebut ulama plat merah pun, mereka tak pernah memperoleh kesempatan menjadi diri sendiri.

Jarang mereka berani menyampaikan aspirasi keulamaannya, yang boleh jadi merupakan inti harga diri mereka sendiri. Mereka tertekan dan sumpek, tapi diam.  Senang, diam–sedihpun mereka tetap diam. Di zaman itu ulama kelihatan begitu jinak. Mereka menerima kekalahan sebagai kewajaran dalam ‘permainan’. Mereka sadar; kalah, ya kalah.

Antara tahun 2004-2014, suara orang-orang yang belakangan menyebut dengan tegas diri mereka ulama, kelihatan merajalela. Satu golongan mencoba mendominasi diskursus politik dengan cita rasa Islam secara terbuka, satu  golongan lain gigih membesarkan diri secara diam-diam. Pemerintah yang luar biasa sibuk, termasuk menyusun lagu-lagu, tak tahu menahu adanya kekuatan itu. Kemudian mereka ‘mengerek’ bendera setinggi-tingginya. Dan pemerintah juga tidak tahu. Apa yang tak mengusik harga diri, kelihatannya tak dianggap gangguan.

Lalu muncul Presiden Jokowi. Dia berhadapan dengan lawan politik yang didukung sisa-sisa Orde Baru, yang terlatih menerkam musuh dengan ‘gerpol’, gerakan politik yang berbau fitnah, dia difitnah PKI. Para veteran orde Baru memang bukan politisi karena kebohongannya selalu segera ketahuan. Politisi sejati, bohong pun benar dan tetap tertutup selembar ‘daun’ sejarah yang gelap.

Golongan yang meneguhkan diri selama sepuluh tahun, dan menyebut dirinya ulama itu pun memusuhi Presiden Jokowi. Dari mana mereka? Di mana pesantren tempat mereka mengabdi dunia pendidikan? Kelihatannya asal usul tak begitu penting. Pakaian serba putih itu sudah dianggap cukup. Syukur ada seuntai tasbih. Lalu ada yang memutar-mutar tasbih sambil mengutuk Presiden Jokowi yang sengaja memilih bersikap membiarkannya.

Para ulama itu mendapat kekuatan tambahan dari partai-partai politik. Sebagian mudah memberi orang lain gelar ulama yang juga memusuhi Presiden Jokowi. Sebagian lagi politisi yang dengki lahir-batin pada beliau. Dan lawan politik utamanya jengkrakan mendapat dukungan itu. Seharusnya dia tersinggung. Harga dirinya sebagai kesatria seharusnya terusik. “Apa dosaku maka aku harus melawan orang dengan dukungan fitnah dan intimidasi macam itu?” Kalau cukup memiliki kecanggihan politik dan moral, dia akan memprotes ketidakadilan itu. Tapi dia malah makin jejingkarakan dan terus jejingkrakan ketika para ulama pendukungnya itu makin gencar menyerang Presiden kita.  Tapi beliau tak pernah menaruh peduli pada orang-orang yang menganggapnya musuh.

Ra popo,” katanya kalem. Lama-lama, ‘ra popo’ itu berubah dari kesabaran menjadi mantra. Ancaman yang ditanggapi dengan ‘ra popo’ benar-benar ‘ra popo’ dan dia selamat dari jebakan. Selain itu, secara psikologis ‘ra popo’ itu sikap mengecilkan lawan. Anggap dia kecil, dan musuh-musuh itu otomatis menjadi kecil.

Tapi serangan dan fitnah tak kunjung habis. Orang yang menganggap dirinya paling terpelajar meremehkan beliau.  Dan kecanggihannya berdiplomasi pada tingkat dunia dilihat sebelah mata. Mereka yang ahli menipu diri sendiri tak peduli prestasi beliau. Mereka pun tak peduli pada kata Yusuf Kalla bahwa Jokowi Presiden terhebat sepanjang sejarah dunia. Dia telah mencapai prestasi luar biasa, Tukang fitnah juga tak peduli para tokoh dunia mengagumi Presiden kita. Mungkin mereka sudah kalap.

Para ulama menempuh segala cara untuk menjatuhkan harga diri Presiden. Mereka tidak tahu Presiden orang yang sudah begitu rendah hati sehingga tak bisa lagi direndahkan.

Ulama dan Presiden Jokowi bukan pasangan  ideal wakil penguasa  ‘langit’ dan wakil penguasa ‘bumi’.  Tapi politik selalu fleksibel. Besok pagi siapa tahu gagasan ideal itu terbentuk sebelum ayam berkokok?

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…