OUR NETWORK

Berkurban ala Katedral

“Kalian ini bagaimana, sih, kok kurang ajar sekali membangun gereja di lingkungan mayoritas Islam? Nggak toleran, tahu?!”

Di tengah situasi intoleransi yang meninggi, otoritas Kekatolikan Jakarta memberikan kado indah pada umat Muslim, khususnya di wilayah Jakarta. Selain menyediakan halaman gereja sebagai tempat parkir bagi warga Muslim, mereka juga  mengubah jadwal ibadah misa Minggu dari pukul 06.00 WIB menjadi pukul 10.00 WIB agar umat Islam yang salat Idul Adha di Masjid Istiqlal bisa lebih leluasa beribadah.

Kompleks Katedral memang dekat dengan masjid tersebut. Ini berarti kompleks tersebut bisa menampung kebutuhan selama kaum muslimin salat pada Minggu pagi (11/8). Praktik yang sama juga terjadi di Kota Malang.

Tak sedikit orang Islam, apalagi pemeluk agama lainnya, terutama Katolik dan Kristen, berbahagia dengan kerendahan hati Katedral Jakarta. Kerendahan hati ini yang tidak hanya sangat positif, namun berat pengorbanannya.

Pernahkah kita mendengar ada salat Jumat yang, katakanlah, dimajukan waktunya karena ada perayaan ibadah agama lain pada saat yang bersamaan? Rasanya tidak. Kami cukup pandai berapologetika untuk menyatakan ibadah kami tidak bisa digeser sedikit pun, apalagi diliburkan. Sangatlah tidak mungkin.

Itu sebabnya kerelaan Katedral Jakarta dan Malang patut kita, orang Islam, apresiasi dengan sungguh-sungguh. Sebab, apresiasi atas hal ini sangat jarang diajarkan dalam pengajaran Islam klasik yang ada pada sistem pendidikan Islam, bahkan hingga sekarang.

Tanyalah ke sembarang orang Muslim yang sedang melaksanakan pawai menyambut Idul Adha; bagaimana kesan mereka atas kerelaan Katedral tersebut. Jawabnya pasti menarik.

Kebaikan seperti ini biasanya tidak kami percakapkan secara terbuka. Sebab, kami tidak menganggapnya penting untuk dipercakapkan. Ketidakpentingan ini, saya menduga, karena kebaikan seperti itu merupakan “hal yang sudah seharusnya” dilakukan oleh orang dalam posisi minoritas.

Dalam pandangan klasik Islam Indonesia, minoritas memang diciptakan untuk melayani mayoritas. Jika mereka tidak sensitif dan miskin inisiatif untuk hal itu, maka kami marah, tersinggung dan akan menuduh mereka tidak sensitif.

“Kalian ini bagaimana, sih, kok kurang ajar sekali membangun gereja di lingkungan mayoritas Islam? Nggak toleran, tahu?!”

Atau, “Kurang ajar sekali orang Kristen mau nyalon bupati di wilayah orang Islam. Apa mau cari gara-gara?”

Maka, sekali lagi, berbagai kebaikan orang Kristen maupun pemeluk agama lain dalam kaitannya aneka ritual Islam dianggap sebagai sesuatu yang sudah sewajarnya. Minoritas yang merunduk-runduk di depan mayoritas adalah kewajiban. Implikasinya, kami yang mayoritas merasa tidak perlu membalas kebaikan tersebut. “Ngapain dibalas baik, lha wong itu sudah kewajiban mereka, kok.”

Di Jombang, Jawa Timur, tak peduli sesering apa puluhan pendeta berkeliling ke para tokoh Islam lokal saat Idul Fitri, tak bakalan para tokoh tersebut akan berkunjung balik ke gereja saat Natal, apalagi dalam frekuensi yang sama. Tidak.

Dengan perasaan pilu saya memberanikan diri ingin mengatakan: “Kebaikan Katedral ini, maupun kebaikan lainnya, adalah hal biasa saja, tak ada spesialnya, sehingga belum cukup pantas menjadi materi pendidikan etika Islam untuk mendorong siswa membalas kebaikan yang sama.”

Asumsi lain kenapa kami tidak mempercakapkan kebaikan Katedral itu lebih karena kami tidak siap untuk membalas kebaikan tersebut. Banyak di antara kami yang agak bingung dan galau terjebak dilema; membalas balik kebaikan namun di sisi lain merasa kuatir terjerumus dosa jika berbuat baik dalam kadar yang sama. Aneh memang. Tetapi begitulah adanya.

Yang mungkin tidak disadari oleh orang luar Islam, kami dirawat dengan doktrin kewaspadaan tinggi terhadap kekristenan sejak kanak hingga dewasa. Kekristenan adalah jahat. Itu sebabnya ketika mereka berbuat baik, kami menjadi bingung.

Parahnya, ada doktrin susulan yang menyatakan; kebaikan Kristen sesungguhnya tidak tulus, dipenuhi motif yang ingin mendangkalkan iman orang Islam. Tiga hari lalu, sumbangan dua ekor kambing dari komunitas (bajem) Kristen Tangerang ditolak. Panitia Kurban baru mau menerima setelah kata “Kristen” dicoret, diganti “sumbangan dari RT sekitar”.

Aneh memang, tapi begitulah adanya.

Lantas, bagaimana agar situasi seperti ini tidak terus terjadi? Ada dua hal yang perlu dilakukan.

Pertama, bagi orang Kristen/Katolik, teruslah berbuat baik kepada orang Islam. Jangan berhenti sedikit pun. Ibaratnya, orang sakit akan sangat sulit sembuh jika baby sitter-nya cuek dan berhenti merawatnya. Bahkan ketika yang sakit belum bisa mengapresiasinya. Berhenti melakukan kebaikan pada orang sakit tidak akan menghasilkan apa pun kecuali gumpalan kebencian yang menggunung dan potensi destruksi yang mahahebat.

Kedua, orang Islam yang sudah “sembuh,” dari ketidakpedulian perlu mengajak orang Islam lainnya untuk berani mempercakapkan kebaikan tersebut dan mendorong berbuat baik balik, bahkan dengan level yang lebih tinggi dari Kekristenan.

Terima kasih Kekristenan Indonesia dan agama lain yang telah mengajari kami arti pengorbanan. Gaya “kurban” kalian sungguh keren! “Kurban” dari bahasa Arab (قربان), Qurban, yang berarti dekat atau mendekatkan diri pada Tuhan. Kami masih butuh waktu untuk menjadi lebih baik seperti kalian.

Selamat Idul Adha.

Kolom terkait

Maulid Nabi di Natalan Gereja

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Kita “Ibrahim”, Siapa “Ismail” Kita?

Kahlil Gibran dan Anak-Anak Ibrahim

Yesus, Tuhan Kaum Muslim Juga? [Tanggapan untuk Mun’im Sirry]

Aan Anshori
Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), aktifis GUSDURian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…