Senin, November 30, 2020

Menuju Spiritualitas Gitu Aja, Kok, Repot

Teror #2019GantiPresiden, dari Tagar hingga Intimidasi

Gerakan dengan tagar #2019GantiPresiden bukan hanya di media sosial seperti Twitter dan Facebook, bukan pula sebatas kaos, ia merangsek ke ruang publik Car Free...

Perempuan Harus Bersatu Merealisasikan RUU PKS

Melalui tulisan ini saya ingin menegaskan sikap: saya setuju dengan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dan siap berada di garis terdepan merealisasikannya....

Mimbar Dakwah, Antara Keinginan dan Kebutuhan

Saya jadi ingat pernah dua pekan belajar pada Ustaz Rohman dan Ustaz Makin di Pesantren Al-Azhar, Pare, Kediri, Jawa Timur. Ya, hanya dua pekan...

Hentikan Glorifikasi Basuki

Glorifikasi secara etimologis adalah meluhurkan atau memuliakan. Secara terminologis adalah pekerjaan menempatkan seseorang pada posisi yang mulia, tidak punya salah, dan kalaupun ada kesalahan...
Avatar
Rinto Pangaribuan
Pegiat di Ut Omens Unum Sint Institute - Jakarta

gus-dur-repot“Gitu aja, kok, repot!?” Kita mungkin merindukan ungkapan ini. Terbayang gestur Gus Dur kala mengucapkannya. Suaranya enteng meluncur bebas. Nadanya santai. Nuansa humor terasa mengiring seraya meredakan ketegangan. Pesannya jelas. Jangan merumitkan yang sederhana!

Pernyataan ini rasanya masih relevan sampai sekarang. Apalagi jika mengamati iklim kehidupan beragama di Indonesia. Tiba-tiba, banyak organisasi pembela agama mengapung ke permukaan. Dengan sukarela, mereka mau merepotkan diri mengurusi banyak hal. Misalnya, menjadi “pengawas” kampanye kontestan pilkada. Ada juga yang kerja keras memeriksa simbol pada uang kertas. Sementara lainnya sibuk “menjaga” toko pada hari Natal.

Pendeknya, polisi dan tentara moral tumbuh seperti jamur di musim hujan. Mereka berperan layaknya penanggung jawab integritas akhlak anak bangsa. Mereka menggantikan tugas aparatur negara dalam menerjemahkan hukum serta keadilan.

Fundamentalisme Agama Menguat
Fenomena ini menunjukkan satu hal. Fundamentalisme agama semakin hari kian menguat. Mereka tak lagi malu-malu menunjukkan eksistensinya. Jumlahnya pun bertambah banyak. Gerakannya pun mulai terstruktur dan massif. Arah geraknya yang bersifat ideologis semakin mengentalkan ciri radikalisme. Tak segan lagi, Pancasila, secara terang-terangan, dihina sebagai panca gila atau pantat cina.

Apa dampaknya? Agama, dalam bentuk fundamentalisme, akhirnya terlalu sering melanggar konstitusi. Dia memperkosa kedaulatan hukum. Demi menjaga moral sekaligus membela Tuhan, mereka sering mengambil jalan pintas. Dia menjadi hakim atas segalanya. Sehingga, kata Gus Dur, muncul kerancuan mengenai pemilik kedaulatan hukum tertinggi di negara ini (Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 2011:157).

Jika ini dibiarkan terus, maka demokrasi kita sedang berjalan menuju kehancuran. Diskursus, sebagai nadi demokrasi, berdenyut lemah. Perang gagasan tak mungkin tercipta. Dengan begitu, segala perbedaan diharamkan lalu segera harus dimusnahkan. Ujungnya, jelas saja, adalah penghinaan terhadap hak asasi kemanusiaan. Hak untuk menentukan cara hidup sendiri diinjak-injak atas nama Tuhan.

Kata Gus Mus, radikalisme agama akan mereduksi kekayaan budaya dan kebebasan beragama (Ilusi Negara Islam, 2009: 233). Agama ujungnya menampakkan diri dalam rupa formalitas. Ini tentu akan mengganti kepercayaan menjadi ideologi, di mana kepentingan politik akan mengubah batas-batasnya. Agama akhirnya menjadi tujuan akhir, bukan lagi jalan sebagaimana semula diwahyukan. Kalau begini terus, ajaran kitab suci berganti menjadi hukum positif dengan segala sanksi menakutkan. Hasil akhirnya, iman mengecil jadi seremonial belaka.

Sejumlah warga yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Muslim Sualwesi Tengah berunjukrasa di depan Kantor Polda Sulawesi Tengah di Palu, Minggu (9/10). Aksi itu sebagai bentuk protes dan menuntut pertanggungjawaban Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok atas pernyataannya yang dinilai melecehkan agama. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd/16
Sejumlah warga yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Muslim Sulawesi Tengah berunjukrasa di depan Kantor Polda Sulawesi Tengah di Palu, Minggu (9/10/2016). Mereka menuntut pertanggungjawaban Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas pernyataannya yang dinilai melecehkan agama. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd/16

Fenomena ini pun menggambarkan semangat berlebihan dalam beragama. Segala yang ekstrem akan selalu kontraproduktif. Hasil reaksinya pasti tidak sesuai dengan harapan awal.
Sebenarnya, ada motif mulia tersembunyi di balik semua keganjilan ini. Dari situ tersirat, kita berkerinduan menerapkan ajaran Tuhan dalam kehidupan bermasyarakat. Itu tandanya agama masih menjadi orientasi bangsa ini.

Permasalahannya, pengetahuan yang memadai tidak mendukung semangat itu. Akibatnya, agama memainkan komedi yang justru menjelma menjadi tragedi. Dagelan itu merobek rajutan persatuan dan kesatuan bangsa.

Semangat tinggi dibarengi kurangnya pengetahuan membuat realitas agama berubah ironis. Dia mau merelakan diri jadi pion-pion kekuasaan. Dengan tulus, dia menyerahkan dirinya jadi kaki-tangan kepentingan politik. Jiwanya terkorup sampai rela mengkhianati kejujuran. Tangan moralnya tak bertenaga dalam mengawal derap langkah bangsa.

Krisis Akal Sehat
Agama, dalam hal ini, tentu sudah keluar jalur. Dia menjamah yang bukan urusannya. Dia seolah menderita amnesia identitas. Lupa jati dirinya. Ingatannya menyusut tentang peran dan tugasnya.

Krisis akal sehat menjadi ciri utama fenomena agama saat ini. Daya kritis terkikis oleh fanatisme sempit. Mutu intelektualnya bangkrut tergadai. Padahal, nalar adalah kompas dari kepercayaan. Beriman tanpa akal adalah kebutaan. Jadi, tak mengherankan, jika kesudahannya religiositas sering menyimpang dari lintasan.

Sepanjang sejarah Indonesia, di masa inilah pendangkalan agama berada di titik nadir. Pengetahuan terbatas, kini, tak jadi soal, selama suara tetap kencang. Teriakan mengganti peran logika. Semakin lantang itu artinya semakin benar. Alhasil, banyak dari kita mau membela mati-matian, walau tak mengerti apa yang dibelanya

Spiritualitas Baru: Keugaharian
Kekerasan dan kebencian mendominasi wajah agama. Ini menjadi konteks baru di Indonesia. Dalam situasi demikian, kita perlu menuntut pembaharuan dalam cara berkeyakinan. Kita harus menggagas spiritualitas baru. Sesuatu yang relevan dengan konteks menjamurnya gerakan radikalisme. Sebuah gaya beragama tandingan yang bisa jadi pengimbang.

Cikal bakal dari semua ini adalah kerakusan. Orang memperalat agama untuk memuaskan nafsunya. Mereka bersembunyi di balik jubah religiositas agar perutnya kenyang. Dengan lancang nama Tuhan dimanipulasi demi kekuasaan. Ayat suci dipakai sebagai legitimasi kecurangan. Simbol religi digunakan untuk menggadai keadilan.

Hanya keugaharian (kesederhanaan) yang mampu mengalahkan kerakusan. Agama itu sebenarnya sederhana. Ajarannya hanya cinta kasih. Pengabdiannya pada peri kemanusiaan saja. Pesannya adalah persaudaraan abadi antar umat manusia. Keadilan menjadi arah jalannya.

Dia mengurusi masyarakat, bukan negara. Akibatnya, sifat perjuangannya adalah etis, bukan ideologis. Suaranya hanya menghimbau, bukan melarang. Dia mengajak, bukan memaksa. Jika mau, mari berjalan bersama. Kalau tidak, itu pun tak mengapa. Sesederhana itulah agama.

Fanatisme beragama tak lebih dari galeri kedegilan hati dan pikiran. Gus Mus dalam epilog Ilusi Negara Islam menasihati kita. Dia bilang, “Kebodohan adalah bahaya tersembunyi yang ada pada setiap orang, mengatasinya adalah dengan terus belajar dan mendengarkan orang lain.” Artinya, gaya beragama saat ini merupakan sesuatu yang bisa diperbaiki. Caranya dengan meneguk ilmu sebanyak-banyaknya!

“Bajingan mana pun bisa merobohkan gudang, tetapi butuh seorang pandai kayu untuk membangunnya.” Begitu kata Lyndon B. Johnson, mantan Presiden AS, dalam film All The Way. Hanya dengan belajarlah gelapnya kebodohan bisa diusir pergi. Tanpa ini, yang tersisa hanya fanatisme sempit bersifat menghancurkan.

Kita, pada akhirnya, memang membutuhkan sebuah spiritualitas baru dalam menghadapi situasi ini. Ini menjadi tantangan kepada umat, yang percaya Tuhan, untuk memunculkan budaya tandingan. Kita harus mulai membiasakan diri untuk beragama dengan cara sederhana.

Kita harus mendorong kasih dan pengampunan lebih dari segalanya. Karena, bagaimanapun, seperti Ghandi katakan, cinta dan kebenaran akan selalu keluar sebagai pemenang. Itulah inti sari spiritualitas keugaharian!

Baca juga:

Tak Ada Paksaan dalam Agama. Titik!

Avatar
Rinto Pangaribuan
Pegiat di Ut Omens Unum Sint Institute - Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.