Sabtu, Oktober 31, 2020

Menuju “Nasionalisasi” Bahasa Indonesia [Which is Kita Lebih Bangga Berbahasa Asing]

Dunia Terancam Sampah Plastik*

Salah seorang anggota kelompok swadaya masyarakat (KSM) Selayar memilah sampah plastik di Tempat Pengelolaan Sampah 3R (reduce reuse recycle) di Kelurahan Pulubala, Kota Gorontalo,...

Kolom: Kekuasaan Konstitusional Basuki

Pada saat kolom ini ditulis, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tengah menjadi pembicaraan publik karena baru saja melakukan eksekusi penertiban penduduk Kampung Pulo,...

Kasus Pelecehan Seksual Anindya Joediono: Antara Tontonan, Pengabaian, dan Penyalahan Korban

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Begitulah situasi yang mesti dihadapi Anindya Joediono setelah menghadiri diskusi di Asrama Mahasiswa Papua, Tambaksari, Surabaya pada 6 Juli silam....

Diplomasi Sawit Presiden Jokowi

Petani menyiram bibit sawit yang telah disertifikasi di Desa Desa Alue Piet, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh, Rabu (2/3). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas. Lobi Menteri...
Riduan Situmorang
Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

Kado terindah dari sebuah penjajahan adalah bangkitnya rasa nasionalisme. Karena itu, setelah dijajah beratus-ratus tahun, para pemuda kita mengikrarkan sumpah pemuda. Sumpah itu berisi tanah yang satu, bangsa yang satu, dan bahasa yang satu.

Tanah Indonesia harus milik Indonesia. Karena itu, tak sejengkal pun bisa diambil. Bung Karno harus berjuang mati-matian merebut Irian Barat. Soeharto harus mengamankan Irian Jaya melalui Pepera. Habibie harus diturunkan dari jabatannya karena tak kuasa menahan Timor Leste. Indonesia bahkan meradang ketika Mahkamah Internasional menguatkan kepemilikan Malaysia atas Ligitan dan Sipadan.

Bangsa Indonesia juga harga mati. Kita bisa melihatnya dari kata “pribumi” yang pernah menjadi sejarah. Kata ini bahkan pernah menjadi kunci ajaib agar bisa menjadi pemimpin. Penabalan kata ini, meski kemudian disadari keliru, adalah salah satu bukti bahwa rasa kebangsaan Indonesia sangat kuat dan kental.

Kini, meski dengan caranya yang amat politis, hal serupa juga sedang coba ditumbuhkan. Sikap antiasing dan antiaseng dicuat-cuatkan. Pesannya hanya satu: bangsa Indonesia adalah harga mati. Disadari atau tidak, rasa nasionalisme kita atas janji pertama dan kedua patut diacungi jempol.

Lalu, bagaimana rasa nasionalisme kita terhadap janji ketiga: bahasa? Rasanya, kita tak pernah menunjukkan sikap heroik untuk membela bahasa. Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan: apakah kesakralan sumpah pemuda dilihat dari urutannya saja sehingga urutan terakhir hanya embel-embel yang tak perlu dibela mati-matian?

Manakala sebidang tanah dicaplok, kita langsung larut dalam demonstrasi. Hanya karena isu pekerja asing datang, kita langsung meradang ke jalanan? Sementara itu, ketika bahasa Indonesia takluk oleh bahasa asing, bahkan ketika bahasa asing menjadi keseharian, kita hanya diam-diam saja.

Malah, generasi kita, dari yang muda hingga tua, semuanya terlihat lebih bangga dan percaya diri dengan bahasa asing. Tiada hari tanpa bahasa asing. Bacalah setiap artikel! Dengarlah setiap berita! Renungkan kembali setiap percakapan! Simaklah bagaimana para politisi kita berbicara! Teliti cara setiap selebritas kita berujar!

Dari tulisan hingga lisan, bahasa asing selalu ada. Bahasa asing selalu menjadi penguat pesan. Bahasa asing bahkan berubah menjadi simbol kasta sehingga kita lebih bangga menyebut nature daripada alam. Kita lebih percaya diri melafalkan download daripada unduh.

Masuk ke ranah ekonomi, bahasa kita juga diobral, bahkan disingkirkan. Coffee mendadak dipajang di hotel dengan harga yang lebih mahal daripada kopi yang hanya mampir di lepau-lepau. Fried rice disajikan mewah di restoran-restoran ternama dengan bayaran lebih tinggi daripada nasi goreng yang hanya puas di kedai-kedai pinggir jalan.

Bahasa asing seakan mengubah nasi goreng jauh lebih bermartabat hanya dengan menukar namanya menjadi fried rice. Tidak hanya makanan, nama-nama tempat terhormat di bumi Indonesia ini juga selalu dengan label bahasa asing, seolah jika dengan bahasa Indonesia, tempat-tempat itu akan remuk.

Sebenarnya, secara yuridis, kedudukan bahasa Indonesia sangat dimuliakan. Perjanjian antara swasta asing (Nine AM Ltd) dan swasta nasional (PT Bangun Karya Pratama Lestari), misalnya, pernah digagalkan Mahkamah Agung karena isi perjanjian itu dibuat dalam bahasa Inggris.

Menurut Mahkamah Agung, perjanjian itu tidak sah karena melanggar ketentuan UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara. Pasal 44 (2) pada UU ini bahkan semakin memuliakan bahasa Indonesia di mana kita diamanatkan untuk membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional.

Namun, kini, justru hal sebaliknya yang terjadi: bahasa internasional malah mengakuisisi bahasa Indonesia. Besar kemungkinan bahasa asing juga akan menggantikan posisi bahasa Indonesia. Tolehlah apa yang pernah disitir The New York Times (25 Juli 2010) dengan judulnya yang provokatif: As English Spreads, Indonesia Fear for Their Languages”.

Di sana dikisahkan beberapa anak yang bermain di Jakarta sudah mahir menggunakan bahasa Inggris, tetapi tak tahu berbahasa Indonesia sama sekali. “Mereka tahu bahwa mereka adalah anak Indonesia. Mereka cinta Indonesia. Hanya saja mereka tak dapat berbahasa Indonesia” demikian kata sang Ibu pada The New York Times.

Pertanyaan ini pun langsung mencuat: mengapa kita tak jua jorjoran memperjuangkan bahasa Indonesia? Mencari jawaban atas pertanyaan ini, kita bisa kembali pada kalimat pembuka tulisan ini: kado terindah dari sebuah penjajahan adalah bangkitnya rasa nasionalisme.

Rasa nasionalisme membuat kita ingin merdeka. Rasa nasionalisme itu tak akan berhenti sehingga kita akan selalu berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan itu pula. Ketika VOC datang, mereka menjarah hasil bumi. Mereka membuat kita bertengkar satu sama lain hingga pada suatu ketika, kita merasa terjajah. Pergerakan perjuangan pun dilangsungkan, dari sporadis hingga massal.

Sayangnya, VOC tidak menjajah kita dari segi bahasa. Petugas dari VOC malah banyak yang berbahasa Melajoe. Bahkan, dalam Verklarend Handwoordenboek der Nederlandse Taal, redaksi M.J. Koenem dan J.B. Drewes (cetakan ke-27, Wolters-Noordhoff, 1983), disebutkan bahwa sedikitnya 110 kata Indonesia justru diangkat menjadi bahasa Belanda, seperti bamboo, melatie, padie.

Setelah VOC bangkrut, Belanda juga tak menjajah bahasa Indonesia. Karena itu, menurut Bennedict Anderson, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang diperintah bukan dalam bahasa Eropa. Kita tidak seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Timor Leste.

Contoh yang sangat baik adalah Timor Leste. Mereka pernah menjadi bagian dari Indonesia. Namun, setelah keluar, mereka malah kembali berbahasa penjajahnya, bahasa Portugis. Ringkasnya, tak ada perjuangan hebat kita untuk bahasa.

Untuk menentukan bahasa pemersatu, kita bahkan tak mengalami perdebatan alot, kecuali perdebatan sederhana antara Muhammad Yamin dan Sanusi Pane. Kita tak mengalami baku hantam seperti yang terjadi di Bangladesh ketika berjuang mempertahankan bahasa Bengalis.

Karena tak mengalami penjajahan secara bahasa, para pejuang dan pelopor kemerdekaan kita dengan bangga justru mengadakan kursus bahasa asing untuk pribumi. Kita bisa membaca iklan kursus bahasa Inggris di koran Daulat Ra’jat edisi perdana (201 September 1931) yang dipimpin Moh. Hatta dan S. Sajharir, dan Soeparman dari Belanda: “Sekolah Oesaha Kita” H.I.S. Partikoelir dengan keradjinan tangan [yang beralamat di] Kepoeh Bendoengan 148, Dajakarta.

Sekolah ini membuka “Cursus orang toea”, salah satunya, untuk bahasa Inggris. Uniknya, di iklan itu, “pengoreos” memberikan “Salam Kebangsaan”.

Kini, kita telah merdeka secara tanah dan bangsa. Memang, masih ada persoalan, tetapi tak serumit ketika masih zaman penjajahan. Sayangnya, di tengah kemerdekaan itu, di tengah tiadanya lagi kolonialisme, kita justru terjajah secara bahasa. Namun, tak satu pun dari kita yang merasa terjajah.

Kita justru bangga sehingga, seperti yang dikatakan Alif Danya Munsyi (2003) dalam judul bukunya, Sembilan dari Sepuluh Kata Bahasa Indonesia adalah Asing. Malah tanpa iklan, bahasa asing justru dipelajari dengan marak semarak-maraknya. Di sana, tak ada salam kebangsaan, seperti dituliskan “pengoeroes”.

Saya tak tahu apakah kita akan memerdekakan atau “menasionalisasi” bahasa Indonesia ini kelak atau tidak. Yang pasti, bagaimana mungkin kita bisa merdeka jika tak kunjung merasa tak terjajah? Semoga kita bisa dengan apik memaknai bulan bahasa kali ini sembari merenungi tema bulan bahasa tahun lalu: menjayakan bahasa Indonesia. Apakah sudah berhasil?

Bacaan terkait

Ketika Nasionalisme dan Merah-Putih Hanya Tameng

Apakah Kita Masih Mencintai Bahasa Indonesia?

Menasionalkan Bahasa Indonesia, Nah?

Bahasa Indonesia, Riwayatmu Kini

Riduan Situmorang
Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.