Sabtu, Januari 16, 2021

Menolak Modernisasi Bukan Ketertinggalan

Horor Itu Bernama Jakarta (489 Tahun)

Menaiki lift gedung sendirian di malam buta bukanlah pengalaman yang selalu menyenangkan. Imajinasi kita acap bergulir liar dan "kreatif." Kita, misalnya, tiba-tiba dapat membatin,...

Menyambut Perang Akbar AS versus Iran

Hubungan Amerika Serikat dan Iran mengalami eskalasi luar biasa dalam beberapa bulan terakhir.  Yang terbaru, Presiden Iran Hassan Rouhani meluncurkan sistem pertahanan udara yang...

Irma Bule dan Teologi Kontra Kemiskinan

Kita sering menghukum asap, tanpa melihat–apalagi menghukum–api. Allah memang sejak awal menyindir kita sebagai makhluk yang berkecenderungan tergesa-gesa (QS. Al Isra’: 11). Itulah yang kita...

Pandemi dan Ancaman Krisis Indonesia

Pandemi Covid-19 memukul banyak sektor perekonomian. Mula-mula terdampak adalah sektor penerbangan dan pariwisata. Segera begitu kabar penyebaran virus merebak, berbagai negara menutup atau membatasi...
Avatar
Anzi Matta
Hobi menulis dan menggambar

wajahyogyakartaSejumlah wartawan memotret unjuk rasa Aliansi Masyarakat Peduli Tata Ruang Yogyakarta berjudul “Manusia Semen” di DPRD DIY, Senin (29/2). Massa meminta Pemerintah Yogyakarta memperhatikan tata ruang Yogyakarta yang makin berantakan, penuh hotel, apartemen, dan mal yang tidak memperhatikan amdal dan sumber air bersih. ANTARA FOTO/Regina Safri

Ada pemandangan berbeda di kota-kota kecil di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Atas nama pariwisata untuk pertumbuhan ekonomi, pembangunan mal-mal dan hotel-hotel bintang lima di kota-kota kecil tampak begitu mencolok mata. Itu artinya perkembangan di kota-kota kecil sudah mulai maju dengan pesat. Dan pertumbuhan ekonomi dari sektor industri hanya berlaku bagi segilintir orang atau kelompok tertentu saja.

Bagi masyarakat asli setempat atau masyarakat yang mata pencahariannya dari pertanian, misalnya, tentu berbeda. Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Yogyakarta memang memiliki agenda-agenda untuk pembangunan daerah. Yang kita tahu sebagian besar dari pembangunan hotel-hotel bintang lima, pusat perbelanjaan, dan sebagainya itu sebagai tolok ukur kemajuan di era global.

Pada tahun 2015 di Yogyakarta, Istijab Danugaro, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, mengatakan pembangunan hotel berbintang mencapai 87 hotel dengan 1.000 hotel non-bintang. Di tahun 2016, ada tambahan pembangunan 10 hotel bintang tiga di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, yang berhasil mendapatkan izin dari pemerintah daerah.

Permasalahan yang terjadi di Yogyakarta adalah pembangunan hotel-hotel tersebut merebut lahan masyarakat. Jumlah penduduk dan pengguna kendaraan yang meningkat tidak diimbangi dengan ruang kota dan jalan-jalan yang kecil membuat Kota Pelajar itu makin padat dan semrawut.

Sumber daya alam juga semakin sulit dicari. Masyarakat Yogyakarta yang kebutuhan sehari-harinya masih bertumpu pada bantuan sumur air di rumah mereka mulai kesulitan dan bahkan kehabisan air. Karena pompa air di hotel-hotel yang dibangun di sekitar tempat tinggal masyarakat membutuhkan banyak sumber air untuk kebutuhan harian hotel.

Selain kesulitan memperoleh kebutuhan sehari-hari, kita tahu bahwa ini tidak hanya sekadar permasalahan kebutuhan primer seperti pangan tetapi juga lahan sebagai tempat tinggal. Masyarakat kelas menengah tentu ingin “melek” teknologi dan mengikuti perkembangan zaman modern. Sebab, modernisasi itu bukan hanya berupa tren jenis pakaian dalam satu musim, tetapi juga gaya hidup seperti yang termasuk dalam perkembangan yang serba modern itu.

Maka, cukup logis jika masyarakat di kota-kota kecil menerima modernisasi sebagai perubahan paling besar yang dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan mereka itu sendiri. Kemudahan dalam memenuhi kebutuhan dan hasrat mereka. Seperti kemudahan berkomunikasi dengan gadget terbaru, kemudahan menggarap lahan dengan mesin traktor keluaran terbaru, hingga kemudahan dalam produksi atas nama pertumbuhan ekonomi.

Beberapa masyarakat dan pemerintah tentu menganggap bahwa penerimaan terhadap modernisasi adalah proses adaptif. Beradaptasi secara sosial, ekonomi, hingga politik. Masyarakat tradisional akan meninggalkan kebudayaan-kebudayaan tradisional mereka yang berguna untuk kebaikan semua. Meninggalkan untuk satu kebudayaan: modernisasi. Satu kebudayaan yang memiliki persamaan dalam ciri atau pola membawa pluralitas global yang baik untuk semua. Untuk mencegah terjadinya “kesalahpahaman” dan kemudahan dalam proses pembangunan, kita akan menganggap bahwa ini untuk kepentingan bersama.

Optimisme terhadap modernisasi hanya memberikan keuntungan pada beberapa pihak. Tentu saja pemerintah dan investor asing. Seperti optimisme modernisasi yang mengatakan bahwa modernisasi akan membawa pembangunan yang lebih baik, bahwa pembangunan yang baik membawa kesejahteraan untuk masyarakat.

Modernisasi memiliki proses, di mana proses tersebut adalah perubahan kultural dan sosioekonomis yang bersifat global. Proses modernisasi terdiri dari empat subproses: perkembangan teknologi, perkembangan pertanian, industrialisasi, dan urbanisasi. Dan dalam tahap selanjutnya diikuti dengan organisasi politik, pendidikan, keagamaan, dan lain-lain.

Modernisasi tidak selamanya membawa pengalaman-pengalaman dan inovasi baru jika pada akhirnya berujung pada eksploitasi teknologi. Setidaknya kita tidak perlu lagi menganggap bahwa pemanasan global, penyakit katastropik, dan kejahatan struktural yang mempengaruhi aktivitas organisme hidup manusia sebagai suatu isu konspirasi.

Untuk negara-negara dunia ketiga, bangsa-bangsa non-Barat, kebutuhan kita dengan negara-negara pertama adalah sesuatu yang berbeda. Bahwasanya mereka akan selalu membutuhkan dan mengkonsumsi secara besar nonrenewable resources. Sedangkan kita sebagai negara berkembang yang akan mengejar “ketertinggalan” sebagai penghasil sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Sesuatu yang lucu mengingat untuk menghasilkan bahan bakar mesin, kita membutuhkan sumber daya alam  yang mana adalah pemenuhan kebutuhan pangan dan tempat tinggal kita.

Dalam proses pembangunan menuju kemajuan dan mengejar ketertinggalan kita, kita akan melalui berbagai macam cara, entah secara persuasif dengan evangelisme (dakwah, seperti bagaimana para misionaris mengkristenkan suku-suku tribal) ataupun dengan tendesi militer agresif.

Banyak dari masyarakat tradisional–suku-suku tribal–yang memilih meninggalkan kebudayaan lama mereka, termasuk kebudayaan tradisional yang berguna (seperti penggarapan lahan pertanian). Ada banyak pula masyarakat yang memutuskan untuk tidak mengikuti perkembangan modern untuk mempertahankan nilai-nilai yang sudah ada dari kebudayaan mereka.

Mereka yang memutuskan untuk menolak bukan karena tidak dapat berkembang ataupun tertinggal, tetapi mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan proses adaptif mereka sendiri. Bagaimana bisa masyarakat-masyarakat tradisional melakukan proses adaptifnya sendiri jika mereka diperkenalkan langsung dengan mesin? Dan jikalau mereka memberikan ruang keterbukaan untuk sesuatu modern yang kita sebut beradab itu, tidak selalu berjalan dengan baik sebagaimana mestinya.

Pembangunan-pembangunan daerah, khususnya oleh perusahaan-perusahaan multinasional dengan ekstraksi migasnya pun, tidak akan cukup memberikan kesempatan karena mereka dipinggirkan dari lahan mereka sendiri. Tidak selamanya berjalan sebagaimana mestinya, karena sistem-sistem nilai modernitas tidak selalu cocok atau sedikit memiliki ciri-ciri dengan kebudayaan tradisional masing-masing.

Dan kota-kota kecil akan “mengejar kertinggalan” mereka dengan kota-kota besar. Infrastruktur akan dibenahi. Regulasi? Entahlah. Jika kita cukup optimistis tanpa melihat data-data angka kemiskinan dan kejahatan struktural lainnya, maka itu tidak menjadi masalah. Jadi, kita tidak perlu khawatir.

Ketidakpuasaan akan standar hidup yang mereka lihat dari Barat menyebabkan apa yang antropolog Paul Magnarella sebut culture of discontent. Yakni, ketika orang-orang mencari sesuatu yang lebih daripada nilai-nilai tradisional mereka. Mereka akan pindah ke kota ataupun “membangun kota sendiri” di lahan mereka untuk kemajuan dan kehidupan yang lebih baik. Kenyataannya, banyak pula masyarakat yang tidak melihat kapabilitas atau mengukur bahwa hal itu melampaui kemampuan dan realitas kebudayaan mereka sendiri.

Apakah perubahan kultural dan sosioekonomis dengan karakteristik Barat akan membantu memecahkan permasalahan-permasalahan yang ada? Apakah justru menimbulkan masalah-masalah yang lebih besar, kompleks, dan bersifat destruktif?

Avatar
Anzi Matta
Hobi menulis dan menggambar
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.