Rabu, Januari 20, 2021

Menimbang “Gubernur Kita” Sandiaga Uno

Ihwal Gangguan Mental Hari Ini [Masih Waraskah Anda?]

Hari ini ada banyak peningkatan angka orang-orang yang mengalami gangguan mental. Seperti dilansir dari laporan gangguan mental Badan Kesehatan Dunia (WHO), satu dari empat...

Sekolah Sehari Penuh, Apakah Perlu?

Setelah dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy langsung mencuatkan wacana sekolah sehari penuh (full day school). Rencana kebijakan tersebut sontak memancing pro-kontra...

Merayakan Toleransi

Terlalu banyak identitas yang gampang dilekatkan pada seseorang ataupun kelompok. Dari label agama, etnis, hingga hal-hal yang sifatnya remeh temeh. Semuanya adalah kesamaan pada...

“Dian” yang Harus Dipadamkan

Akhir pekan lalu antara lain ditandai berita-berita besar terkait terorisme. Di berbagai belahan dunia, aksi-aksi teroris memakan banyak korban. Di negeri kita, Polri dan...
Avatar
Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah

sandiagaPengusaha nasional Sandiaga Uno (kiri) menyambut kedatangan pebalap nasional Rio Haryanto (kanan) di Gedung Recapital, Jakarta, Selasa (16/2). Sandiaga mendukung Rio  berlaga di ajang Formula 1. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

Keberanian dan optimisme dalam memandang masa depan menjadi kunci pembuka jalan untuk meraih kesuksesan. Inilah salah satu prinsip yang dipegang teguh Sandiaga Salahuddin Uno yang populer disapa Sandi Uno atau Sandiaga Uno.

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIMPI) periode 2005-2008 ini belakangan popularitasnya menanjak lantaran masuk bursa bakal calon Gubernur DKI Jakarta yang kemungkinan besar akan diusung Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Dalam acara-acara yang digelar Partai Gerindra, kehadiran Sandi Uno kerap disambut dengan sebutan “gubernur kita”

Sebagai bakal calon gubernur, Sandi Uno memiliki sejumlah modal sadar yang menjadikannya “berbeda” dibandingkan beberapa bakal calon lain. Pertama, muda, ganteng, pintar, dan kaya raya. Untuk usia muda mungkin tidak begitu istimewa karena sekarang ini sudah banyak politikus yang sukses dalam usia muda.

Begitu juga muda dan ganteng, bahkan sudah banyak yang berhasil memenangkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) seperti Zumi Zola (Gubernur Jambi), Emil Elestianto Dardak (Bupati Trenggalek, Jawa Timur), dan Sigit Purnomo Syamsuddin Said atau Pasha Ungu (Wakil Walikota Palu, Sulawesi Tengah).

Untuk kriteria muda, ganteng, dan pintar juga sudah ada beberapa yang mewakili. Tapi yang memadukan empat kriteria sekaligus (muda, ganteng, pintar, dan kaya raya), saya kira Sandi Uno belum ada duanya.

Soal kepintaran, ia meraih Bachelor of Business Administration dengan yudisium summa cum laude dari Wichita State University, AS (1990), dan meraih gelar Master of Business Administration dari George Washington University, AS (1992) dengan indeks prestasi komulatif (IPK) yang sempurna (4,00).

Sementara dalam hal kekayaan, putra pasangan Razif Halik Uno alias Henk Uno dan Rachmini Rachman alias Mien Uno ini sejak tahun 2007 hingga saat ini beberapa kali masuk jajaran orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dan Forbes. Tahun 2014, misalnya, Sandi Uno masuk urutan ke-47 terkaya di Indonesia versi majalah Forbes dengan jumlah kekayaan lebih dari Rp 6,3 triliun.

Kedua, selain memadukan empat kriteria di atas, Sandi Uno merupakan sosok pemimpin muda yang berpegang tuguh pada prinsip. Ia pernah memimpin HIPMI dan saat ini masih memimpin Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI). Di antara prinsip yang ia pegang, bahwa kegagalan dan kesalahan merupakan suatu keharusan, namun kegigihan dalam upaya untuk lebih berani mencoba adalah kunci keberhasilan. Jika terus berusaha untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan, maka seseorang akan berada di puncak kesusksesan.

Dalam bekerja, Sandi Uno menetapkan etos kerja “4 as”: kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Pada umumnya, kesuksesan orang ditunjang dengan salah satu dari etos kerja ini, atau ditunjang dengan dua etos kerja sekaligus, yakni kerja keras dan kerja tuntas; atau kerja keras dan kerja cerdas; atau kerja keras dan kerja ikhlas. Sangat jarang ada yang mampu memadukan keempat-empatnya.

Untuk modal dasar, saya kira sudah lebih dari cukup bagi Sandi Uno. Masalahnya, untuk meraih jabatan publik seperti gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat, modal dasar baru bisa disebut sebagai modal potensial yang masih membutuhkan upaya lebih lanjut untuk bisa dijadikan modal aktual. Modal aktual seorang bakal calon gubernur adalah keterkenalan (popularitas) dan keterpilihan (elektabilitas) yang dipadukan dengan keterpenuhan syarat-syarat formal sesuai ketentuan undang-undang.

Sejauh ini, modal aktual Sandi Uno masih relatif rendah jika dibandingkan dengan bakal calon lain seperti Yusril Ihza Mahendra, Adyaksa Dault, dan (apalagi) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Maka, untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas merupakan langkah strategis yang niscaya bagi Sandi Uno. Dibutuhkan langkah terobosan untuk bisa mengejar ketertinggalan, misalnya melalui penawaran program-program alternatif untuk membangun kota Jakarta sekaligus untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi ibu kota negara ini.

Dalam menjalankan program, keterlibatan media—baik yang resmi (media cetak, elektronik, dan online) maupun yang tidak resmi (media sosial)—menjadi sangat penting untuk memberitakan dan memviralkan agar publik bisa mengetahuinya secara lebih baik.

Langkah terobosan lain yang perlu dilakukan adalah dengan menggandeng tokoh yang memiliki pengalaman mengesankan dalam memimpin birokrasi, yang jika diekspose akan lebih mudah diterima kalangan media, misalnya kepala daerah yang berhasil memimpin daerahnya. Sejauh ini baru Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Bu Risma) dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Kang Emil) yang disebut-sebut media sebagai bakal calon Gubernur DKI Jakarta. Setelah keduanya menyatakan tidak bersedia, media seperti kehilangan tokoh alternatif.

Sebenarnya masih ada tokoh lain seperti Suyoto, Bupati Bojonegoro, yang berhasil merebut puluhan penghargaan, di antaranya dari luar negeri. Namun karena belum banyak diliput media nasional, popularitas bupati yang akrab disapa Kang Yoto ini tidak setinggi Bu Risma atau Kang Emil. Baru belakangan ini, nama Kang Yoto mulai disebut-sebut sebagai salah satu bakal calon Gubernur DKI Jakarta.

Sebagai profesional di bidang bisnis, tidak ada yang meragukan kemampuan Sandi Uno. Namun dalam memimpin birokrasi pemerintahan, Sandi Uno belum memiliki pengalaman. Karenanya, tentu akan sangat baik jika dalam proses pencalonan Pilkada DKI Jakarta, Sandi Uno, misalnya, bekerjasama dengan Kang Yoto untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas.

Jika popularitas dan elektabitas sudah bisa diraih secara memadai untuk bersaing dengan para bakal calon lain, maka, soal persyaratan formal–seperti partai politik pengusung dan pendukung—akan lebih mudah didapatkan. Saat ini partai-partai masih mencari-cari tokoh siapa yang layak diusung untuk bisa mengalahkan gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama.

Avatar
Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah
Berita sebelumnyaAhok Menohok*
Berita berikutnyaKenapa ISIS Tidak Perangi Israel?
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.