OUR NETWORK
Mengungkap Kisah Radikalisme Agama di Pakistan
among
Talha dan Maulana Abdul Aziz dalam film “Among The Believers” (2015)

Among The Believers adalah sebuah film dokumenter yang mengisahkan sosok sentral di balik meningkatnya radikalisme agama di Pakistan. Dalam Screen Docs Expanded, di Erasmus Huis, Jakarta, 1-4 Desember 2016 lalu, Among The Believers diputar. Kisah film ini sangat relevan dengan situasi kekinian di Indonesia.

Alkisah, di sudut kota Islamabad, Pakistan, sebuah masjid berdiri tegak menantang langit. Dua menaranya menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri, mengawal kubah masjid. Warna merah mendominasi kompleks masjid yang cukup megah ini. Karena itu, masjid ini dinamakan Masjid Merah (Lal Mosque).

Masjid itu menjadi pusat perhatian di masa kepemimpinan Pervez Musharraf yang giat mengkampanyekan War On Terror bersama aliansinya, Amerika Serikat, karena penyerbuan masjid oleh petugas keamanan yang menyebabkan meninggalnya kurang lebih 150 orang dari kedua belah pihak. Penyerbuan ini dikarenakan Masjid Merah dan jaringan madrasahnya di seluruh Pakistan menjadi pusat radikalisasi dan berafiliasi dengan Al-Qaidah—kemudian dengan ISIS di tahun 2014.

Secara historis, jaringan pengikut Masjid Merah membangun afiliasi dengan Amerika Serikat untuk melawan tentara pendudukan Uni Sovyet di Afghanistan di tahun 1990-an. Bahkan, beberapa pimpinan madrasah tersebut diundang ke Gedung Putih dan diterima oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Ronald Reagan, dan dianugerahi penghargaan.

Namun, ketika Uni Sovyet jatuh, Amerika berpaling dari kelompok ini. Lepas dari Amerika, kelompok ini membangun afiliasi baru dengan Osama Bin Laden dan Al-Qaidaa. Afiliasi baru ini meneguhkan posisi madrasah yang tersebar di seluruh Pakistan ini sebagai pusat pendidikan mujahidin.

Pada titik itu, kita melihat geopolitik Pakistan yang bertetangga dengan Afghanistan, pusat gerakan Taliban, menjadi satu dilema tersendiri. Maka, Pakistan menjadi aliansi utama AS di kawasan untuk memerangi Taliban pasca invasi ke Afghanistan tahun 2001.

Selain profil Maulana Abdul Aziz, film ini juga memunculkan figur lain yang tak kalah berpengaruh, Dr. Pervez Hoodbhoy, seorang aktivis dan fisikawan. Sebagai warga negara Pakistan, ia resah melihat masjid-masjid dan madrasah diisi oleh pemahaman yang radikal. Kekhawatiran ini beralasan seiring meningkatnya kekerasan dan pembunuhan atas nama jihad yang dilakukan oleh jaringan madrasah ini.

Puncaknya adalah ketika sebuah sekolah di Peshawar diserang oleh Taliban, 132 orang siswa di antaranya meninggal, ia bersama kelompok moderat mengkampanyekan “Reclaim our Madrasa, Reclaim our Mosque”. Desakan untuk menghentikan jaringan Masjid Merah kian menguat. Apakah kelompok ini bisa dihentikan?

“Yang bisa menghentikan serangkaian kekerasan ini adalah penegakan syariah di Pakistan yang berdasarkan al-Qur’an,”—yang menjadi doktrin utama dari madrasah ini—demikian jawab Maulana Aziz.

Maulana juga mendeklarasikan perang kepada pemerintah Pakistan. “Bila dalam memperjuangkan hal ini mereka akan menembak kami, silakan saja. Tapi bila mereka meminta kami berubah pikiran, lupakan saja.” Sebagaimana praktik doktrinasi, pemikiran-pemikiran yang ada ditanamkan sedemikian rupa sehingga “murid-muridnya tidak akan lupa hingga mereka mati.”

Hal itu mengingatkan saya pada pola-pola deradikalisasi kepada tahanan terorisme yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satu metodenya adalah mengundang ulama moderat ke penjara untuk berdiskusi dengan tahanan ini. Harapannya, tahanan ini bisa berubah pikiran dan mengalami moderasi dalam pemikiran keagamaanya.

Berulang kali didatangi, tidak juga membuahkan hasil. Maka, sebaiknya, tokoh-tokoh yang termasuk ideologi ini memang tidak didoktrin ulang dengan pemahaman yang moderat, karena memang tidak akan bisa diubah. Yang perlu didekati dengan metode seperti ini adalah pengikut-pengikutnya yang berada di level kedua, ketiga, dan seterusnya daripada tokoh utamanya.

Di sisi berlawanan, ada figur Tariq, seorang kepala desa yang gigih membangun masyarakatnya melalui pendidikan yang inklusif. Ia menyumbangkan sebidang tanahnya untuk gedung sekolah. Berbeda dengan madrasah Masjid Merah, sekolah Tariq mengizinkan dinyanyikannya lagu kebangsaan Pakistan, belajar matematika, bahasa Inggris, hingga komputer.

Bagi Tariq, inilah jihadnya. Mendidik anak-anak generasi muda Pakistan. Sekolah ini menjadi suaka yang nyaman bagi Zarina (12), gadis pemberani yang melarikan diri dari komplek madrasah Masjid Merah. Usia Zarina yang masih di usia sekolah ini menjadi alasan sang ayah menolak seorang laki-laki yang datang bersama ibunya untuk melamar Zarina.

Namun seiring meningkatnya ancaman dari militan, sekolah ini akhirnya ditutup. Padahal ketika sekolah di sekolah Tariq, Zarina senang dan antusias mengikuti setiap mata pelajaran. Namun ketika sekolah dihentikan karena ancaman militan, takdir lain menanti Zarina: menikah muda.

Lain lagi dengan Talha (12). Ia berasal dari keluarga Muslim moderat di Kashmir. Ia giat menghafal ayat-ayat suci al-Qur’an—walau tidak tahu artinya. Di madrasah, ia bercita-cita menjadi jihadis. Ketika kasus Masjid Merah mencuat, ayahnya datang menjemputnya dan memintanya pulang—permintaan yang ia tolak. Ia meyakini apa yang ia lakukan benar. Namun, Talha kemudian pindah ke sekolah yang lebih baik dan di sana ia diajarkan tentang al-Qur’an dengan maknanya.

Film dokumenter karya Hemal Trivedi (India) dan Mohammed Naqvitak (US) ini skenarionya ditulis oleh Jonathan Goodman Levitt. Judul film ini mengingatkan kita pada novel karya penulis V.S. Naipaul dengan judul yang sama, yang menuliskan perjalanan spiritual selama enam bulan yang menggambarkan negara-negara yang dilalui Naipaul yang bercita-cita menegakkan negara Islam.

Film ini menginspirasi bagi gerakan Islam di mana pun bahwa perbedaan penafsiran agama, antara yang literer dan kontekstual, serta perebutan wacana di ruang publik, terjadi di mana pun. Namun selama kelompok moderat diam dan tidak beraksi, ruang-ruang publik akan terus diisi oleh narasi literer dan intoleran, yang dapat saja menjurus pada aksi-aksi kekerasan yang tidak kita inginkan.

Ahmad Imam Mujadid Rais

Direktur Riset Maarif Institute for Culture and Humanity, Master of International Relations di The University of Melbourne, dan Penikmat Film

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…