OUR NETWORK

Menghayati Bahasa, Jalan Baru Bahtiar Effendy

Bahasa Indonesia sebagai alat artikulasi ilmiah baru menemukan bentuknya yang cemerlang dalam “Merambah Jalan Baru Islam” berkat Fachry dan Bahtiar.

Saya baru takziyah di malam ketiga (Sabtu malam) setelah Prof. Dr. Bahtiar Effendy wafat pada hari Kamis, 21 November 2019. Terlambat memang. Tapi, saya harap almarhum bahagia, bahwa pada siang harinya saya mengisahkan almarhum berikut kontribusi dan posisi intelektualnya di Indonesia kepada kader-kader terbaik Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Graha Insan Cita, Depok, Jawa Barat.

Mereka—yang datang dari berbagai daerah Indonesia—adalah peserta Senior Course, satu jenjang pelatihan di atas Latihan Kader (LK) 3 di lingkungan internal HMI. Sudah tentu kami juga berdoa khusus untuk almarhum. 

Tema yang diberikan Panitia kepada saya sebenarnya adalah “Kesusastraan dan Literasi”. Panitia berharap tema tersebut dapat menumbuhkan semacam kesadaran budaya kepada kader-kader HMI di tengah begitu kuatnya orientasi politik mereka. Bahtiar Effendy memang bukan sastrawan atau kritikus sastra, namun satu aspek dari spirit intelektualnya relevan dengan tema tersebut—seperti akan ditunjukkan nanti. 

Di rumah duka, pada malam ketiga itu diselenggarakan tahlilan, doa bersama untuk almarhum yang adalah salah seorang ketua PP Muhammadiyah. Tahlilan diikuti keluarga, kerabat, tetangga, aktivis Pemuda Muhammadiyah, beberapa intelektual muda dari Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Universitas Pamulang.

Hadir pula Prof. Dr. Komaruddin Hidayat dan Prof. Dr. Ryas Rasyid. Setelah tahlilan, Komaruddin Hidayat memberikan tawshiyyah, renungan tentang maut dan kenangan tentang almarhum. “Mendoakan orang yang sudah meninggal ibarat mengirimkan pulsa kepada almarhum,” kata Komar. Orang yang sudah meninggal selalu menunggu kiriman pulsa, terutama di hari Jumat, sebab pada hari itu khatib Jumat selalu mendoakan mereka. 

Bahtiar Effendy adalah senior saya di pesantren Pabelan, IAIN (kini UIN) Ciputat, dan HMI Cabang Ciputat. Namun, saya baru bertemu beliau setelah saya selesai kuliah. Ketika itu almarhum baru pulang setelah menyelesaikan studi S3-nya di Amerika Serikat, 1994. Sudah tentu saya membaca karya senior-senior saya di Ciputat dengan penuh antusias dan rasa bangga. Salah satunya adalah karya Fachry Ali dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam (Bandung: Mizan, 1986).  

Bagi saya ketika itu, buku ini memberikan hal baru, yaitu kerangka sosiologis dalam memahami fenomena Islam, khususnya neomodernisme Islam Indonesia. Maklumlah, bagi orang pesantren seperti saya, sebagaimana juga bagi banyak mahasiswa IAIN (kini: UIN) Jakarta, Islam melulu dipelajari dari aspek normatifnya, ajaran-ajarannya. Nah, buku itu memberikan wawasan tentang pentingnya ilmu-ilmu sosial untuk studi Islam, terutama Islam empiris.

Demikianlah selanjutnya kami mempelajari Islam normatif dengan sangat antusias, dan pada saat yang sama mempelajari ilmu-ilmu sosial—terutama di kelompok-kelompok studi—dengan sama antuasiasnya. 

Lebih dari itu, bagi saya pribadi, dalam buku itu ada hal lain yang tak kalah penting, bahkan lebih penting lagi. Yaitu penggunaan bahasa Indonesia sebagai alat artikulasi ilmiah. Sudah tentu banyak karya ilmiah ditulis dalam bahasa Indonesia. Tapi, bagi saya ketika itu, Merambah Jalan Baru Islam merupakan artikulasi bahasa Indonesia yang demikian canggih sebagai bahasa ilmiah dan akademis, atau sebagai bahasa keilmuan secara umum.

Sebagai bahasa ilmiah atau keilmuan, bahasa Indonesia di situ tampak berkilauan, bercahaya, begitu hidup, cemerlang, dan terasa sangat modern. Bahasa Indonesia seakan menemukan bentuk artikulasinya yang maksimal sebagai bahasa keilmuan, sebagai bahasa ilmiah, sebagai bahasa akademis. 

Sudah tentu fenomena kebahasaan itu muncul dalam satu konteks. Konteksnya adalah bahwa bahasa Indonesia pelan-pelan mencoba melepaskan dua aksen atau dua corak lamanya, yaitu aksen kemelayuan dan aksen kearaban. Banyak intelektual, cendekiawan, ulama, dan akademisi Muslim dari generasi terdahulu menulis dalam bahasa Indonesia namun beraksen Melayu atau beraksen Arab.

Yang pertama tentu merupakan konsekuensi dari fakta bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Yang kedua merupakan konsekuensi dari literatur berbahasa Arab yang merupakan refenrensi utama para penulis Muslim, khususnya ulama. 

Di tengah dua aksen atau corak itu, bahasa Indonesia sesungguhnya berusaha mencari aksen atau coraknya sendiri, yang berbeda dari aksen-aksen lama, atau bahkan yang baru sama sekali. Dalam konteks Ciputat, usaha itu sebenarnya dimulai oleh senior-senior Fachry Ali dan Bahtiar Effendy. Namun, pada hemat saya, bahasa Indonesia sebagai alat artikulasi ilmiah atau keilmuan baru menemukan bentuknya yang cemerlang dalam Merambah Jalan Baru Islam. Tentu saja penggunaan bahasa Indonesia yang cemerlang dalam buku itu merupakan capaian intelektual tersendiri. 

Tidak bisa tidak, capaian intelektual itu hanya dimungkinkan oleh penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap bahasa Indonesia. Demikianlah, bersama Fachry Ali, almarhum Bahtiar Effendy adalah intelektual yang bukan saja menghayati isu atau subjek yang sedang menjadi perhatiannya, melainkan juga menghayati bahasa Indonesia sebagai alat artikulasi ilmiahnya.

Dalam arti itu, bahasa Indonesia sebagai alat artikulasi keilmuan merupakan jalan baru almarhum Bahtiar Effendy (dan Fachry Ali). Mereka menghayati dan merambah jalan baru itu dengan hasil yang mengesankan, yang terus mereka pertahankan dalam karya-karya berikutnya. 

Menghayati bahasa Indonesia sebagai alat artikulasi intelektual. Itulah satu aspek dari spirit intelektual almarhum Bahtiar Effendy. Menghayati bahasa sering kali dipandang sebagai tugas sastrawan dan linguis, sebab merekalah yang secara formal bergelut dengan bahasa.

Sastrawan memiliki peluang melakukan percobaan-percobaan bahasa, bahkan jika perlu dengan menerobos batas-batas aturan baku bahasa. Linguis bertugas membuat rumusan-rumusan bahasa atas dasar fenomena dan data kebahasaan yang tersedia. Kerja kebahasaan itu mensyaratkan baik sastrawan maupun linguis untuk menghayati bahasa sedalam mungkin. Namun, Bahtiar Effendy menunjukkan bahwa menghayati bahasa sejatinya juga merupakan panggilan moral seorang intelektual, sebab bahasa bagaimanapun merupakan alat artikulasinya yang sangat menentukan.  

Waktu saya kuliah dulu, kalau saya mendapat tugas menulis makalah atau ingin menulis artikel untuk koran, terlebih dahulu saya akan membaca Merambah Jalan Baru Islam. Bukan terutama untuk menangkap isinya, melainkan untuk mereguk energi bahasanya yang canggih itu, untuk meneguk bentuk artikulasinya yang cemerlang itu. 

Selamat jalan, Bang Bahtiar. Selamat merambah jalan baru yang lain. Alfatihah…. 

Bacaan keren terkait

Mengenang Sahabat Karib Saya, Bahtiar Effendy

Islam dalam Teks dan Konteks: Obituari Bahtiar Effendy*

Profesor Bahtiar adalah Api dalam Sekam

Guru yang Inspiratif dan Humoris, Mengenang Pak Bahtiar Effendy

Bahtiar Effendy dan Cita-Cita Demokrasi

Jamal D. Rahman
Penyair, esais, dan dosen sastra UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah Jakarta. Pemimpin Redaksi "Jurnal Sajak". Mantan pemimpin redaksi majalah sastra "Horison" (2003-2016). Buku puisinya: Airmata Diam, Reruntuhan Cahaya, Garam-Garam Hujan, dan Rubaiyat Matahari. Bukunya yang akan segera terbit: Wahdatul Wujud: Artikulasi Islam dalam Sastra Indonesia Modern dan Secangkir Kopi Seorang Musafir (kumpulan esai). Penerima Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) 2016.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…