Jumat, Desember 4, 2020

Mengenang Sahabat Karib Saya, Bahtiar Effendy

Menagih Janji Gubernur Ganjar

Mana bukti menjadikan Jawa Tengah "Ijo Royo-royo" dan "Ora Ngapusi”? Perempuan-perempuan di Desa Tegaldowo dan Desa Timbrangan, Rembang, sudah 447 hari lebih bertahan di tenda...

Politik Giring “Nidji” dan Kemudaan

Vokalis band pop Giring ‘Nidji’ Ganesha mencoba peruntungannya di bidang politik. Nidji bukanlah satu-satu kaum muda yang menjatuhkan keputusan memasuki gelanggang politik. Sebelumnya, yang paling...

Minangkabau Darurat Kemanusiaan

Sewaktu kecil tahun 70an, kami bangga sebagai orang Minangkabau, betapa tidak ranah Minang yang begitu indah secara fisik dijalankan dengan sistim atau software adat...

Khilafah: Konsep atau Keniscayaan?

Setiap membaca kisah Khalifah Umar bin Khattab menyusuri kota Madinah guna membantu kaum miskin dan menegakkan keadilan bagi kaum marginal, bergetar rasanya hati ini. Siapakah...
Avatar
M. Din Syamsuddin
M. Din Syamsuddin Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu, Ketua Umum PP Muhammadiyah (2005–2015), Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations/CDCC

Tadi pagi dalam perjalanan dari bandara ke rumah duka ada seorang wartawan bertanya tentang Almarhum Bahtiar Effendy dan saya jawab ringkas:

Almarhum Bahtiar Effendy adalah sahabat karib saya sejak di Fakultas Ushuluddin IAIN (kini Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah) Jakarta pada 1980-an hingga sama-sama melanjutkan studi ke Amerika pada tahun 1986.

Kami juga sama-sama mewakili pemuda Indonesia pada Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian di Nairobi Tahun 1984. Sejak itu kami bersahabat dekat seperti saudara sendiri. Almarhum adalah teman sehati, mitra diskusi dan debat. Dan saya pula yang mengajaknya bergabung dan aktif di Muhammadiyah hingga akhir hayatnya.

Almarhum Prof. Bahtiar Effendy adalah sosok cendekiawan sejati, dan penulis. Pendidikannya di dua dunia, tradisi pesantren dan kebebasan Barat, membawanya kepada pemaduan pendekatan doktrinal dan empirikal tentang Islam dan umat Islam.

Penguasaannya akan metode ilmu-ilmu sosial memberinya pisau analisa yang tajam dalam membaca fenomena sosiologis umat Islam. Sepulang dari Amerika pada 1991 kami berdua memimpin (saya sebagai direktur dan almarhum sebagai wakil direktur) Centre for Policy and Development Studies/CPDS yang, antara lain, berusaha mendekatkan hubungan umat Islam dengan ABRI dan antara Islam dan Negara (lembaga ini didukung oleh Mayjen. Prabowo Subianto).

Sebagai anak pesantren, komitmen almarhum terhadap kepentingan umat Islam sangat kuat, maka dia concerned and engaged dalam problematika politik Islam di Indonesia. Terakhir almarhum geram jika ada perlakuan yang tidak adil terhadap umat Islam. Namun, dia tidak mau menyampaikannya secara terbuka, sehingga sering mendorong saya untuk berbicara. Almarhum adalah ilmuwan kritis, tapi bukan tipe ilmuwan yg menggebu-gebu mengkritik di ruang publik.

Almarhum adalah pendiri sekaligus dekan pertama FISIP UIN Jakarta. Dia juga yang memulai ide pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII). Banyak idenya tentang pengembangan dan penguasaan ilmu-ilmu sosial di kalangan mahasiswa Islam, namun belum sepenuhnya terwujud lewat FISIP UIN Jakarta.

Sebagai muhajirun di Muhammadiyah (almarhum berasal dari keluarga NU; bapaknya Bendahara NU di Ambarawa dan adiknya Bendahara PP GP Ansor dan PPP), almarhum menerima Muhammadiyah secara sejati dan cenderung fanatik, ditandai dengan kegeramannya terhadap pihak luar yang menjadikan Muhammadiyah “target politik”, atau perilaku orang dalam yang dinilainya merugikan Muhammadiyah.

Selama saya menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005-2019 dan 2010-2015 saya banyak mendengar kritik dan sarannya. Nyaris almarhum menjadi “penasihat politik” bagi saya, dan saya berperan sebagai semacam “penasihat spritual” baginya. Almarhum kemudian terpilih sebagai anggota PP Muhammadiyah Periode 2015-2020 sebagai Ketua membidangi Hubungan dan Kerja sama Luar Negeri hingga akhir hayatnya.

Masih ada obsesi almarhum yang sejalan dengan obsesi saya dan belum menjadi kenyataan adalah relasi Islam dan negara di Indonesia yang belum simbiotik-mutualistik dan proporsional.

Semoga semua jasanya menjadi amal jariah yang diganjari Allah SWT; dan semoga sakit yang dideritanya sejak lama menjadi penghapus dosa-dosanya.

Baca juga

Islam dalam Teks dan Konteks: Obituari Bahtiar Effendy*

Avatar
M. Din Syamsuddin
M. Din Syamsuddin Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu, Ketua Umum PP Muhammadiyah (2005–2015), Chairman of Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations/CDCC
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.