in ,

Mengenang Huston Smith


huston-smith
Huston Smith, penulis buku “The Religions of Man” (1958), wafat di usia 97 tahun. [Foto Associated Press]
Huston Cummings Smith, guru para guru agama-agama sedunia, salah satu tokoh studi perbandingan agama, dan salah satu pembela kebebasan beragama di dunia, wafat pada 30 Desember 2016 lalu, dalam usia 97 tahun. Sayang, kita di Indonesia tak terlalu peduli padanya (tak ada satu pun berita ditulis mengenainya, setahu saya), justru ketika kita, yang sedang diterjang wabah meningkatnya intoleransi, harus belajar banyak darinya.

 

Dilahirkan pada 1919, Smith tumbuh dalam keluarga misionaris di Suzhou, China, dan menghabiskan 17 tahun masa kecil dan remajanya di sana. Sesudah lulus dari Universitas Chicago, dia mengajar di Massachusetts Institute Technology (MIT), Washington University, Syracuse University, dan terakhir University of California di Berkeley.

Smith menulis sekitar 15 buku, 70 artikel di jurnal ilmiah, dan terlibat dalam pembuatan sekitar 10 film dokumenter tentang agama-agama manusia. Pada 1996, hidup dan karya-karyanya dikupas Bill Moyes dalam lima serial program khusus PBS (Public Broadcasting Service) berjudul “The Wisdom of Faith with Huston Smith,” yang memperoleh nominasi Emmy Award.

Pengamat/Partisipan
Dalam obituarinya, harian New York Times menyebut Smith paling dikenal berkat bukunya yang kini sudah menjadi klasik, The Religions of Man (1958), “yang sepanjang setengah abad terus menjadi buku-ajar standar bagi kelas-kelas perbandingan agama di berbagai universitas.” Mengutip Stephen Prothero, gurubesar agama-agama pada Universitas Boston, koran itu juga menyebutnya “buku terpenting tentang perbandingan agama sepanjang masa.”

Pada 1991, buku itu diperingkas dan diberi judul baru yang lebih sadar-gender, The World’s Religions (karena man, dalam judul pertama, jelas tidak mencakup woman). Dalam kedua versinya, “buku itu sudah terjual lebih dari tiga juta kopi.”

Buku itu menggambarkan agama-agama besar dunia, termasuk kepercayaan penduduk asli Amerika, dari sudut pandang mereka yang mengimaninya—“an insiders’ view,” kata Smith. Tidak ada pretensi untuk judgmental, menilai yang benar atau salah dalam satu agama. Tak heran jika semua pembacanya, terlepas dari agama apa pun yang dipeluknya, senang membaca paparan Smith tentang agama mereka.

Untuk dapat menulisnya, Smith membaca semua kitab suci agama-agama dan mewawancarai wakil-wakilnya yang terpenting. Tapi dia juga harus menjadi pengamat-partisipan dalam ritual semua agama yang dibahasnya. Dia ingin ikut merasakan bagaimana kaum beriman itu “mengekspresikan Yang Mutlak”, yang sebenarnya tak tergambarkan kata-kata. Dia tidak saja ikut menari sufi berputar (darwish) mengikuti Rumi, atau mempraktikkan yoga, tapi juga mencicipi obat yang konon, menurut kepercayaan penduduk asli Amerika, bisa membawa kita kepada pengalaman trance bertemu dengan Yang Mutlak…

Baca Juga :   Geert Wilders, Politik di Belanda, dan Sebagian dari Kita

Buku itu diakhiri dengan semacam prinsip emas ke arah upaya saling memahami dan koeksistensi di antara agama-agama. Kata Smith, “If, then, we are to be true to our own faith, we must attend to others when they speak, as deeply and as alertly as we hope they will attend to us.” Ada kebersahajaan dalam kalimat ini, yang menjadikannya sulit diterjemahkan. Tapi saduran sederhananya mungkin demikian: “Perlakukanlah agama lain seperti halnya kamu ingin orang lain memperlakukan agamamu sendiri.”

Melawan Arus, Berpikiran Terbuka
Prinsip di atas jelas bukan hal baru dewasa ini. Penulis seperti Karen Armstrong dipuji banyak orang belakangan ini karena mempraktikkan model riset dan penulisan seperti itu—dan dia memang mengakui pengaruh Smith atasnya.

Tapi di masa-masa awal Smith berkarir, di tahun 1950-an, itu praktik melawan arus. Pandangan umum yang beredar di masanya adalah bahwa agama itu sejenis buang-buang waktu yang merusak: Karl Marx menyebutnya candu yang terus ditebar kaum penindas agar massa yang tertindas tidak berontak; sedangkan Sigmund Freud memandangnya sebagai delusi agar manusia tetap merasa nyaman di hadapan dunia yang tak menentu. Semuanya seperti melempangkan jalan bagi berkembangnya teori sekularisasi di tahun 1960-an, yang belakangan terbukti tidak memadai atau gagal total.

Smith seperti melawan itu semua. Bukunya, juga film-film dokumenternya, justru ingin menggambarkan bagaimana para pemeluk satu agama merasa nikmat hidup dengan memeluk agama itu. Ketika orang Yahudi membaca bab mengenai agamanya di buku Smith, dia akan merasa bahwa penulisnya sudah pemeluk Yahudi, “sudah menjadi bagian dari kita.” Ketika baca tentang Islam, seorang Muslim seperti merasa bahwa Smith sedang membela agamanya.


Makna historis kiprah Smith ini tak bisa disepelekan. Kata Hossein Nasr, filsuf Muslim asal Iran yang juga mengajar di Amerika dan kawan dekat Smith, tradisi kuliah agama-agama berubah cukup radikal karenanya. Sebelumnya, calon dosen agama-agama akan dipilih berdasarkan sejauhmana dia mengambil jarak dari subyeknya—kata Nasr, “seperti mempekerjakan guru musik hanya jika mereka sendiri tuli.” Pada diri Smith, dosen justru mengajarkan agama-agama seakan dia sendiri adalah pemeluk sejati agama-agama itu. “Smith mengajarkan agama-agama religiously,” tambah Nasr.

Baca Juga :   Argumen Sosiologis terhadap Eksklusivisme Agama

Dengan berpikiran terbuka kepada agama-agama, Smith juga menemukan hal-hal baru yang memperkaya peradaban dunia. Contohnya, dialah yang pertama kali merekam suara chanting para pendeta Budhisme Tibet di India dan melaporkannya di jurnal American Anthropologist (1967). Karenanya, Smith kini tercatat sebagai penemu “the Music of Tibet” itu, yang oleh Journal of Ethnomusicology dipuji sebagai “capaian penting dalam studi tentang musik.”

Sikap terbuka juga mendorong Smith membantu menegakkan hak-hak kelompok agama yang terpinggirkan. Dia, misalnya, membuat dokumenter “Requiem for a Faith” (1968), mengenai penderitaan bangsa Tibet, dan membawa Dalai Lama ke panggung perhatian dunia, lama sebelum aktor Richard Gere lebih jauh mengadvokasikannya.

Keingintahuannya akan agama yang luar-dalam ini terus bertahan hingga dia wafat. Meski seorang Methodist yang taat, Smith juga salat lima kali sehari dalam Bahasa Arab dan praktisi Hatha yoga. Dia juga ikut merayakan Sabbath bersama putrinya, yang sudah menjadi pengikut Yahudi.

Tentang mengapa dan bagaimana dia mempraktikkan spiritualitasnya dalam konteks-konteks yang berbeda, Smith bilang, “Saya hanya beralih ke idiom baru untuk mengekspresikan kebenaran-kebenaran pokok yang sama.”

Dia juga dikenal karena pernyataannya yang kuat tentang isi dan kulit agama: “Selain punya kelopak, kenari juga punya biji-bijian yang menjadi intinya. Demikian juga agama-agama. Mereka punya esensi. Ini bukan satu-satunya cara menggambarkan agama, tapi itulah cara yang saya tempuh: intinya sama, namun jubahnya berbeda-beda.”

Warisan Abadi
Saya pertama kali kenal Smith lewat Djohan Effendi, yang sering menjadi mentor para aktivis mahasiswa pada 1980-an. Waktu itu terjemahan Indonesia buku Smith, Agama-agama Manusia, baru saja diterbitkan Yayasan Obor, Djohan menulis kata pengantarnya, dan saya dipinjamkan bukunya. Kata Djohan, yang juga pionir dialog-dialog antaragama di Indonesia, buku itu wajib dibaca semua mahasiswa yang concern pada kerukunan di antara para pemeluk agama.

agama-agama-manusiaMembaca buku itu eye opener bagi saya, bahkan sebuah pengalaman keagamaan tersendiri. Bagi saya, yang lama belajar di pesantren dan diperkenalkan kepada subyek perbandingan agama di IAIN Jakarta (sebelum ada UIN) dengan tujuan menegaskan kebenaran Islam dan kesalahan agama-agama selainnya, pendekatan Smith sungguh mengejutkan: tak mudah, tapi mungkin. Belakangan, lewat berbagai kuliahnya yang terbit, khususnya dalam Islam: Agama dan Peradaban (1995), Nucholish Madjid memberi pendasaran Islam atas apa yang mulai saya kenali pada kesarjanaan Smith.

Saya lebih jauh mengenal wawasan Smith tentang filsafat perennial pada 1994, ketika menghadiri konferensi tentang “Islam and the Challenge of Modernity” di Kuala Lumpur. Dalam presentasinya, Smith mengeritik postmodernisme, yang sedang naik daun di Indonesia kala itu, sebagai “the balkanisation of life and thought” (merujuk kepada penghancuran Semenanjung Balkan akibat menguatnya sentimen primordial). Dari situ saya tahu bahwa ada satu kelompok sarjana, umumnya teolog dan filsuf, Muslim dan bukan, yang bekerja dalam tradisi perennialisme, termasuk Smith.

Baca Juga :   Erdogan dan Operasi Militer Turki di Suriah

Hingga kini saya belum paham betul apa itu perennialisme (atau tradisionalisme Islam, sebutannya yang lain) dan apa yang ditawarkannya untuk menggantikan modernitas. Tapi saya memahami kritik keras mereka kepada saintisme, yang meremehkan agama. Kata Smith: “Sains itu seperti lampu senter di tangan orang-orang yang hidup dalam sebuah balon besar. Mereka dapat menerangi apa saja di dalam balon itu, tapi mereka tidak dapat menyalakannya [lampu-lampu senter itu] di luar balon untuk melihat ke mana balon itu bergerak—atau bahkan apakah balon itu bergerak atau tidak.”

Ketika sekolah pascasarjana pada 2000-an, saya kembali membaca The World’s Religions di satu kelas. Yang menarik, karena kini saya dididik sebagai ilmuwan sosial, saya lebih tertarik pada bagaimana buku itu ditulis (soal pengamat/partisipan, berpikiran terbuka kepada data, misalnya) daripada isinya. Di kampus-kampus Amerika, kita juga diajarkan bahwa meskipun bagian dari sains, ilmu-ilmu sosial wajib menghindar dari saintisme. Semua ini mengingatkan saya pada kerendahhatian Smith dan kebersahajaannya.

Tapi sebagai Muslim di Amerika kala itu, saya juga sangat dibantu oleh pembelaan Smith terhadap Islam yang banyak aspeknya dicurigai akibat peristiwa 11 September 2001. Dia rajin muncul di publik menolak tiga stereotipe yang menjadi dasar Islamofobia: bahwa Islam disebarkan dengan kekerasan; bahwa Islam merendahkan perempuan; dan bahwa fundamentalisme sudah intrinsik dalam Islam.

Hari-hari ini intoleransi atas dasar agama, yang ingin diberangus Smith sepanjang hayatnya, kembali meningkat. Itu bisa dirasakan di Amerika, negerinya Smith, atau di Tanah Air. Banyak analis sosial melihat bahwa hal itu diakibatkan mobilisasi politik dalam rangka memenangkan pemilihan umum.

Apa pun alasannya, kita perlu menengok kembali warisan abadi orang besar seperti Smith—membaca lagi dan mengajarkan Agama-agama Manusia kepada siapa saja. Jika rasa kebersamaan, perilaku saling toleran, cukup menyebar di banyak orang, mobilisasi dan provokasi sebesar apa pun tidak akan banyak berguna.


Written by Ihsan Ali-Fauzi

Ihsan Ali-Fauzi

Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR