Kamis, Januari 28, 2021

Mengapa Top 10 Negara Paling Bahagia, Mayoritas Warga Tak Lagi Menganggap Agama Penting?

Saat PMKRI Mempolisikan Rizieq Shihab: Berkah atau Musibah?

Dengan berseragam lengkap organisasinya, Angelius Wake Kako, Ketua Presidium Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI), mendatangi Polda Metro Jaya, Senin (26/12). Dia melaporkan Rizieq Shihab...

Menyidik Makar, Mempertaruhkan Kredibilitas Polri

Polri terus maju, melanjutkan penyidikan terhadap kerusuhan 21-22 Mei, serta yang berkaitan dengan kejadian sebelumnya. Ada sejumlah nama penting yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,...

Saya dan Bahtiar Effendy

Saya sudah lama mengenal nama Bahtiar Effendy. Tepatnya sejak SMA kelas 1 ketika masih nyantri di Pondok Pesantren Darul Arqam, Garut. Awalnya, terprovokasi oleh...

Mr. President, Njenengan Salah Pilih Menag!

Awal periode kedua Presiden Joko Widodo menegaskan: “Harus ada upaya serius untuk mencegah meluasnya, apa yang selama ini banyak disebut sebagai radikalisme. Kita ingin...
Denny JA
Denny JA
Entrepreneur

Bagaimana menjelaskan pertanyaan yang menjadi judul esai di atas? Hal inilah berulang-ulang penulis renungkan. Dua data lengkap lebih dari seratus negara baru selesai dibaca. Dua set data ini hasil dari lembaga riset kredibel. Jejak lembaga tersebut diketahui dan dipuji kalangan akademisi. Yang satu dikerjakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri, melalui Sustainable Development Solution Network (SDSN). Sudah terbit rangking 153 negara berdasarkan kebahagiaan warga negara, tahun 2020.

Dalam menyusun rangking ini, SDSN menggunakan data survei dunia Gallup World Poll dan World Values Survey. Satu lagi set data juga dari Gallup Poll, tahun 2009. Data ini membuat list negara berdasarkan pertanyaan “seberapa penting agama dalam hidupmu?” Dua set data itu berdiri sendiri-sendiri. Yang satu tidak untuk menjelaskan yang lain.

Tapi, jika kita periksa hasilnya, dan dipadukan, Wow! Top 10 negara yang warganya paling bahagia tak lagi menganggap agama itu penting dalam hidupnya. Benarkah?

Baiklah kita mulai dengan dua riset itu dahulu.

Sejak tahun 2012, PBB melalui SDSN memulai cara lain mengukur pertumbuhan satu negara. Manusia tak hanya hidup dari roti. Sangat tidak komprehensif jika mengukur kemajuan sebuah negara semata dari kemajuan ekonomi. Juga sudah dikembangkan Human Development Index (HDI). Ukuran pertumbuhan negara dilihat lebih multi dimensional. Tak hanya sisi ekonomi yang dinilai, tapi juga kesehatan, pendidikan, bahkan kualitas pemerintahan.

Di tahun 2012, HDI pun dianggap belum memadai. Fokus harus lebih kepada kebahagiaan warga negara. Apa guna semua pembangunan jika warga tak bahagia? Bukankah kebahagiaan adalah makna hidup terdalam? Dan biarlah warga negara itu sendiri yang menilai kebahagian melalui self claim. Jangan para ahli yang mengklaim.

Mereka pun ditanya: bapak ibu, saudara-saudari, apakah anda merasa bahagia atau tidak bahagia? Mereka pun diberikan skala 0-10. Angka 10 untuk bahagia paripurna. Angka 0 untuk tak bahagia yang total.

Lalu para ahli berbagai bidang, mulai dari ekonomi, sosiologi, pendidikan hingga psikologi memperkaya temuan itu. Sejak tahun 2012, List dan laporan yang diberi nama World Happiness Report sudah dipublikasi. Di tahun 2020, ini report tahunan ke delapan.

Sebanyak 153 negara dinilai dan dibuatkan rangking. Indonesia, misalnya, berada di rangking ke-84, dengan nilai rata rata skor: 5.286. Top 10 negara yang warga negara bahagia tahun 2020, dan skornya sebagai berikut: (1)

1. Finlandia (7.809)
2. Denmark (7.646)
3. Switzerland (7.560)
4. Iceland (7504)
5. Norway (7488)
6. Netherlands (7449)
7. Sweden (7353)
8. New Zealand (7300)
9. Austria (7294)
10. Luxembeg (7238)

Sepuluh negara paling bahagia didominasi oleh negara skandinavia (Nordic countries).

Data set kedua sama sekali berbeda. Data ini dari Gallup Poll untuk kategoti seberapa penting agama itu dalam persepsi warga. Pertanyaannya sederhana saja: Apakah agama itu penting dalam hidupmu sehari hari? Is religion important in your daily life? Jawabannya hanya Yes atau NO. Namun ada pula yang tak menjawab, atau menjawab tak tahu.

Berdasarkan jawaban itu, di tahun 2009, Gallup Poll menyusun list negara berdasarkan prosentase Yes. Maka tersusunlah list 149 negara, dalam berbagai kategori. Yang paling puncak, di atas 90 persen warga negara menyatakan agama penting dalam hidupnya sehari-hari. Yang paling rendah, di bawah 40 persen menyatakan agama itu penting dalam hidupnya sehari- hari. Alias mayoritas menganggap agama tak lagi penting dalam kehidupan sehari- hari.

Kita pun mendapatkan peta dunia di era Google. Di negara mana saja yang penduduknya menganggap agama itu penting, di atas 50 persen? Bahkan di atas 90 persen? Contoh list negara yang menyatakan agama itu penting 90 persen ke atas, misalnya India, Arab Saudi, Mesir, Filipina, Indonesia.

Contoh list negara yang tak menganggap agama penting, di bawah 40 persen, misalnya Jepang, Hongkong, Perancis, Inggris dan Australia.

Sekarang, kita padukan dua data di atas. Untuk Top 10 negara yang paling warganya paling bahagia (World Happines Report, 2020), apakah penduduk di negara itu menganggap agama penting dalam hidup mereka sehari hari (Important of Religion by Countries, Gallup Poll, 2009). (2)

Di bawah ini, rangking top 10 negara yang membuat warga bahagia. Di sampingnya prosentase seberapa penting agama bagi hidup sehari- hari mereka.

1. Finlandia (28 persen)
2. Denmark (19 persen)
3. Switzerland (41 persen)
4. Iceland (tak ada data)
5. Norway (22 persen)
6. Netherlands (33 persen)
7. Sweden (15 persen)
8. New Zealand (33 persen)
9. Austria (55 persen)
10. Luxembeg (39 persen)

Delapan dari sembilan negara yang warganya paling bahagia, mayoritas warganya tak menganggap agama hal yang penting dalam hidupnya. Hanya satu, di Austria saja, yang di atas 50 persen warga menganggap agama penting.

Di Swedia bahkan hanya 15 persen populasi menganggap agama itu penting. Juga di Denmark hanya 19 persen menganggap agama itu penting.

Jika dibuat rata rata negara di atas hanya 31.6 persen dari penduduk di berbagai negara itu menganggap agama penting. Dengan kata lain, mayoritas warga negara yang paling bahagia di dunia, tak menganggap agama penting dalam hidup mereka sehari- hari.

Bagaimana dengan negara yang menganggap agama penting di atas 90 persen? Bagaimana tingkat bahagia warga di negara itu?

Saya ambil contoh pusat agama yang berbeda- beda. Dalam tanda kurung, masing masing nama agama mayoritas. Di sampingnya data berapa persen warga menganggap agama penting di negara itu. Di sampingnya lagi, bagaimana rangking negara tersebut berdasarkan kebahagian warga negara.

1. India (Hindu, 90 persen, 144)
2. Philipines (Katolik, 96 persen, 52)
3. Arab Saudi (Islam, 93 persen, 27)
4. Thailand (Budha, 97 persen, 54)
5. Indonesia (Islam, 99 persen: 84)

Untuk negara yang mayoritas penduduknya menganggap agama penting, di atas 90 persen populasi, baik agama Islam, Katolik, Hindu hingga Budha, kebahagian warga negaranya sedang- sedang saja hingga buruk.

Di India, 90 persen warga menganggap agama itu penting (mayoritas Hindu). Rangking bahagia negara itu berada di papan bawah: 144 dari 153 negara yang disurvei.

Di Indonesia, 99 persen warga mengganggap agama penting (mayoritas Islam), rangking bahagia warga ada di paruh papan tengah ke bawah: rangking 84 dari 153 negara yang disurvei.

Bagaimana menjelaskan fenomena ini? Mengapa warga negara yang paling bahagia di ruang publiknya tak lagi menganggap agama penting?

Tiga kunci menjadi penentu: Social Trust. Freedom to make life choice. Dan Social Support. Social trust itu dapat dipahami sebagai keakraban warga negara. Jika sesama warna negara terbina kehangatan, saling percaya, perkawanan, terlepas apapun latar belakang identitas warga, itulah eko sistem ruang publik yang membuat nyaman.

Social trust akan rusak jika sebaliknya terjadi. Semangat kebencian, permusuhan, dinding yang tinggi, menjadi pemisah warga negara. Manusia kemudian tidak dinilai dari katakter dan prilakunya, tapi dari agama yang dipeluk, bahkan dari tafsir agamanya. Jika ini yang menjadi warna, keakraban warga negara sirna. Ruang publik yang sektarian, yang diwarnai social hostilities, itu buruk untuk menciptakan social trust.

Di samping banyak sisi baiknya, prilaku beragama di kalangan yang fanatik, dengan kaca mata kuda, yang memonopoli Tuhan dan surga seolah hanya milik kelompoknya semata, yang mengembangkan spirit permusuhan, kebencian bagi yang berbeda tafsir dan agama, merusak social trust itu.

Fanatisme dan separatisme agama menjadi unsur yang memburukkan social trust. Semakin agama dalam semangat sempit di atas semakin tak berperan, semakin baik social trust itu.

Kedua, freedom to make life choice. Setiap warga dewasa akan nyaman jika ia dibiarkan “Be Yourself,” sejauh ia tak melakukan pemaksaan dan kriminal. Soal bagaimana life style yang dipilih, konsep Tuhan mana yang Ia yakini dari 4300 agama yang ada, itu sepenuhnya urusan ia pribadi.

Apa yang akan terjadi di akherat nanti, jika ia percaya, itu konsekwensi pribadi pula. Tak ada yang dapat mengambilh tanggung jawabnya ke Tuhan. Tidak ulama/pendeta. Tidak ormas. Tidak juga negara.

Ruang publik yang dipenuhi oleh ormas agama fanatik acapkali seolah olah menjadi juru bicara Tuhan alam semesta, main hakim sendiri, membakar atau menyegel rumah ibadah dari pemeluk tafsir agama yang berbeda. Ini yang merusak “Freedom to make life choice.”

Sebaliknya, ruang publik yang semakin tidak diwarnai ormas agama yang main hakim sendiri, yang membebaskan individu “Be Yourself,” ia lebih sesuai dengan zaman yang beragam.

Ketiga, social support. Setiap warga negara akan lebih nyaman jika ada support dari lingkungan. Ini terutama menyangkut program kesejahteraan warga negara yang diupayakan pemerintah.

Itu mulai dari program kesehatan, pendidikan, hingga tunjangan bagi ekonomi lemah. Social support ini lebih bisa diberikan oleh negara yang berpenghasilan tinggi. Ini lebih ke dimensi ekonomi.

Tapi memang pada negara yang kuat ekonominya, yang tumbuh karena industri, umumnya warga tak lagi menganggap agama itu penting. Tiga variabel di atas menjelaskan. Mengapa justri pada negara yang ruang publiknya tak lagi diwanai agama, yang mayoritas warga menganggap agama tak lagi penting dalam hidupnya, mereka justru paling bahagia.

Lalu burukkah pengaruh agama di ruang publik berdasarkan data di atas?

Jawabnya penulis: itu tergantung dari bagaimana agama ditafsirkan. Yang buruk itu adalah tafsir agama yang “main hakim sendiri,” membenarkan elemen kekerasan, dan menyebar sentimen permusuhan.

Tapi agama seperti yang dikembangkan Jalaluddin Rumi, itu justru membawa kedalaman. Salah satu renungan Jalaludin Rumi “Agamaku adalah cinta. Setiap hati itu rumah suciku.”

Jika agama yang dominan dipeluk ditafsir dengan spirit Rumi, justru spirit agama itu tak hanya memperkuat social trust dan freedom to make life choice. Ia juga membawa kita pada kebahagiaan otentik.

Catatan

1. World Happiness Report 2020 di berbagai negara dapat dilihat di sini:

https://worldhappiness.report/ed/2020/

2. Gallup Poll 2009 soal list negara berdasarkan pentingnya agama:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Importance_of_religion_by_country

Sumber tulisan Facebook DennyJA_World https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3532483093514481/?d=n

Denny JA
Denny JA
Entrepreneur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.