OUR NETWORK

Menata Ulang Industri Nasional di Era New Normal

The new normal dalam konteks industri nasional adalah mewujudkan industri nasional yang mandiri dan merupakan industri substitusi impor. Tata kelola perdagangan yang adil dalam jaringan rantai pasok komoditas juga harus diwujudkan.

Pandemi Covid 19 yang melumpuhkan perekonomian menyebabkan pelaku ekonomi dan bisnis mulai menyadari bahwa saat ini kita sedang memasuki era new normal. Sebuah era dimana manusia harus hidup berdampingan dengan virus Covid 19.

Periuk nasi kelompok masyarakat bawah tidak bisa menunggu ditemukannya vaksin untuk virus tersebut, bahkan kelompok masyarakat menengah dan pengusaha sudah mulai mengibarkan bendera putih jika usaha mencegah penularan Covid 19 dengan social dan physical distancing berlangsung lebih lama.

Pemerintah sendiri melalui Presiden Joko Widodo menyerukan bahwa kurva penularan harus turun bulan Mei ini apa pun caranya, tetapi teryata tidak ada penjelasan lebih lanjut dari pemerintah bagaimana cara menurunkan kurva penuluaran dalam satu bulan.

Data triwulan I tahun 2020 sudah menunjukkan beratnya kondisi perekonomian di tahun 2020 ini. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun 2020 hanya sebesar 2,97 persen, melambat dibanding triwulan I tahun 2019 yang mencapai 5,27 persen.

Berdasarkan data triwulan I 2020 hanya ada 3 kelompok industri yang masih tumbuh positif, yaitu industri makanan minuman tumbuh sebesar 3,4 persen, industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh 5,59 persen dan industri alat angkutan tumbuh 4,64 persen. Adapun kelompok industri lain mengalami pertumbuhan negatif. Kondisi pada triwulan I ini sudah memberikan gambaran berat dari perekonomian nasional pada tahun 2020 ini.

Pelajaran apa yang kita dapat dari Covid 19 dari sisi ekonomi? Penulis akan mengkaitkan penularan virus ini dengan kondisi industri nasional yang saat ini mengalami gangguan. Industri pengolahan di Indonesia mengalami masalah pada saat pertama Covid 19 ini menyebabkan industri di China bermasalah.

Manajemen rantai pasok beberapa industri sangat tergantung pada pasokan bahan baku dari China sehingga pada saat ada masalah pada industri bahan baku di negara tersebut, maka industri di Indonesia juga mengalami gangguan produksi. Hal ini menunjukkan ketergantungan impor industri di dalam negeri.

Relationship Marketing

Konsep relationship marketing yang pertama kali dikemukakan oleh Morgan dan Hunt (1994) pada saat mengkaji jaringan produksi industri otomotif di Amerika Serikat merupakan konsep yang relevan untuk menata manajemen rantai pasok industri nasional. Gronroos (1994) mendefinisikan relationship marketing sebagai usaha untuk menjalin, membina dan menjaga hubungan dengan konsumen dan mitra perusahaan, sebagai sebuah hubungan yang saling menguntungkan, sehingga kepentingan masing-masing pihak tetap terjaga.

Relationship marketing bisa dikembangkan menjadi strategi untuk memformulasi ulang tata kelola manajemen rantai pasok industri nasional. Ada 3 konsep dasar yang melandasi strategi ini yaitu kepercayaan pada mitra bisnis, komitmen pada kemitraan bisnis dan power (kekuasaan) yang dimiliki perusahaan. Kepercayaan terkait dengan kredibilitas perusahaan yang ada dalam sebuah manajemen rantai pasok. Komitmen pada kemitraan bisnis terkait dengan pembagian peran dan distribusi keuntungan di antara  perusahaan yang ada di dalam sebuah rantai pasok. Power (kekuasaan) terkait dengan kemampuan perusahaan yang ada di dalam jaringan rantai pasok untuk mempengaruhi perusahaan lain yang menjadi mitra bisnisnya.

Manajemen rantai pasok adalah pengelolaan aliran barang dan informasi secara efisien dari perusahaan pemasok, pabrik sampai dengan distributor, peritel sampai ke konsumen dengan harga yang masuk akal (Schroeder dan Goldstein, 2018).

Dalam konteks itu, industri di Indonesia selalu mengalami masalah dari aspek manajemen rantai pasok. Kita bisa merasakan bagaimana beberapa komoditas pertanian dan peternakan seperti cabe, bawang putih, daging ayam, daging sapi dan beberapa komoditas lain selalu mengalami fluktuasi harga.

Dalam konteks relationship marketing ada kondisi disparitas atau kesenjangan kekuasaan dalam rantai pasok beberapa komoditas di Indonesia. Ada pihak-pihak yang bisa mempengaruhi pasokan barang maupun tingkat harga sehingga konsumen maupun perusahaan lain yang ada di dalam jaringan rantai pasok dirugikan.

Secara sederhana kita bisa melihat jika terjadi fluktuasi atau kondisi harga daging ayam atau cabe rawit dengan harga tinggi, ternyata pada level petani atau peternak tidak menikmati kenaikan harga tersebut, sedangkan konsumen harus membayar harga yang lebih tinggi. Kondisi ini jika dibiarkan akan merusak industri itu sendiri. Kita sudah bisa melihat kemunduran sektor pertanian kita yang tidak menarik karena keuntungan sebagai petani sangat sedikit, padahal beberapa komoditas pertanian dalam kurun waktu tertentu harganya mahal.

Industri New Normal

Kondisi industri nasional yang saat ini sedang terpuruk karena terdampak pandemi Covid 19, bisa menjadi titik awal untuk menata industri nasional di era New Normal. Keterpurukan ekonomi yang terjadi secara global sudah seharusnya mendorong Indonesia untuk mengutamakan kebijakan ekonomi dengan orientasi inward looking.

Kebijakan inward looking ini berarti mengharuskan pemerintah untuk membangun industri substitusi impor dan menata ulang manajemen rantai pasok serta tata kelola perdagangan di Indonesia. Secara khusus kebijakan ini adalah mendorong agar bahan baku industri bisa diproduksi di Indonesia, selain itu penguatan sektor primer yaitu pertanian, peternakan dan perkebunan harus segera dilakukan.

The new normal dalam konteks industri nasional adalah mewujudkan industri nasional yang mandiri dan merupakan industri substitusi impor. Tata kelola perdagangan yang adil dalam jaringan rantai pasok komoditas juga harus diwujudkan. Pemerintah harus bisa mengendalikan power atau kekuasaan yang dimiliki perusahaan yang bisa mempengaruhi pasokan barang dan tingkat harga demi kepentingan mereka sehingga merugikan masyarakat.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.