Minggu, Januari 17, 2021

Menakar Adu Taktik Ahok Versus Yusril

Muslim Uighur di Tengah Polarisasi Politik Lokal

Apa yang paling menjengkelkan dari polariasi politik adalah ia menumpulkan kemampuan kita untuk melihat persoalan dengan jernih. Polarisasi menjadikan pikiran kita monokrom, kesulitan melihat...

Indonesia Darurat Gorengan

  Kalau makanan dianggap sebagai representasi kelas, gorengan adalah berandal yang mengobrak-abrik semua konsepsi jadi-jadian itu. Dari rapat kantor sampai tongkrongan di ujung gang, gorengan...

Bangkitnya Politik Baru Ala Anak Muda

Sejak beberapa waktu belakangan politik di Indonesia disebut-sebut dikuasai oleh politisi-politisi tua. Regenerasi mengalami kemacetan di kalangan elite politik Jakarta, sementara di daerah-daerah kalangan...

Ramadhan dan Dialog Kitab Suci

Ajakan untuk mendialogkan kitab suci kerap berhadapan dengan penolakan dari kalangan tertentu karena alasan supremasis. Di satu sisi, kitab suci mereka dipersepsikan serba-cukup sehingga...
Avatar
Arli Aditya Parikesit
Pengajar di STAI Al-Hikmah, Jakarta. Meraih PhD bidang bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman.

yusril-dhaniBakal calon gubenur DKI Jakarta yang juga Ketua Umum Partai Bulan Bintang Yusril Ihza Mahendra (kanan) bersama musisi Ahmad Dhani usai menggelar pertemuan dan silaturahmi politik di Jakarta, Jumat (4/3). ANTARA FOTO/Teresia May.

Pemilihan Kepala Daerah Jakarta akan digelar pada 2017. Memang masih atau tinggal setahun lagi. Maka, sangat wajar jika partai politik maupun calon perseorangan/independen sudah mulai mempersiapkan diri dari sekarang. Mereka sudah mulai bergerak, dan sudah ada beberapa calon dan partai politik yang membentuk semacam konsorsium untuk mengusung agendanya masing-masing.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bersama pasangannya, Heru Budi Hartono, akan maju sebagai calon independen, dibantu Teman Ahok. Dengan mendirikan banyak gerai di berbagai pusat perbelajaan di Ibu Kota, Teman Ahok berhasil mengumpulkan banyak kartu tanda penduduk (KTP) sebagai syarat pencalonan independen.

Ahok dituduh melakukan “deparpolisasi” dengan menjadi calon independen. Namun, sudah ada beberapa partai yang berkomitmen mendukung Ahok, yaitu Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, Hanura, dan Partai Solidaritas Indonesia. Jadi, tuduhan “deparpolisasi” menjadi absurd.

Yusril Ihza Mahendra berniat maju bersama pasangannya, Adhyaksa Dault. Yusril sangat percaya diri maju di Pilkada DKI, karena kakaknya, Yuslih Ihza Mahendra, berhasil mengalahkan adik Ahok, Basuri Tjahaja Purnama, di Pilkada Belitung Timur. Namun sampai sekarang belum ada partai politik yang secara resmi “melamar” Yusril dan Adhyaksa.

Ada juga beberapa individu lain yang menyatakan ketertarikannya untuk mencalonkan diri, seperti pengusaha muda Sandiaga Uno yang kemungkinan akan dicalonkan oleh Partai Gerindra dan musisi Ahmad Dhani. Partai lain seperti PDI Perjuangan masih melakukan seleksi internal untuk bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur masing-masing.

Ahok menciptakan suatu tren baru, di mana calon independen dapat mengarahkan partai politik untuk mengikuti agendanya sendiri. Selama ini yang terjadi adalah kebalikannya, di mana calon gubernur harus mengikuti agenda partai. Di satu sisi, keberlanjutan tren ini ke depan harus dilihat lagi. Jika hanya bergantung pada figur Ahok semata, dan tidak diikuti oleh yang lain, maka semua akan sia-sia. Pencerahan politik yang elegan adalah pembangunan sistem, bukan mengandalkan pada figur semata.

Sementara itu, di sisi lain, kemunculan Ahok dan Teman Ahok telah memaksa partai politik untuk meninggalkan paradigma seleksi calon gubernur secara konvensional. Nasdem, PKB, Hanura, dan PSI sudah memulainya. Namun, politik adalah semata mengenai kepentingan. Sampai kapan partai-partai tersebut akan mendukung Ahok, misalnya, itu masih tanda tanya besar.

ahok-heruEfektivitas dukungan partai politik terhadap calon independen, dalam hal ini Ahok, masih harus dilihat sewaktu Pilkada Jakarta berlangsung nanti. Berfungsinya mesin partai dari tingkat kelurahan sampai provinsi untuk mendukung calon independen akan menjadi fenomena yang menarik, walau harus dibuktikan efektivitasnya dulu. Ke depan efektivitas gaya outspoken Gubernur Ahok tentu masih harus dibuktikan. Pendek kata, kita membutuhkan sistem yang kuat, sehingga siapa pun yang memerintah, sistem tetap berjalan.

Singapura setelah ditinggal Lee Kwan Yew dan Tiongkok sepeninggal Deng Xiaoping tetap menjadi negara yang memberantas korupsi dan menghukum berat mereka. Menjadi outspoken dalam pembangunan sistem ketatanegaraan, dengan semata mengandalkan relawan mungkin tidak cukup, karena mencakup kebijakan institusi yang harus dieksekusi dengan matang.

Dalam konteks ini sebenarnya Ahok masih memerlukan partai politik. Sebab, jika semua partai politik dilawan, tidak akan ada yang mendukung kebijakannya di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Akhirnya kita harus mencatat bahwa lobi-lobi di luar ruang rapat dan liputan media yang menentukan kebijakan provinsi. Liputan eksklusif dari media umumnya hanya berisi pencitraan untuk rating belaka, sehingga tidak menentukan kebijakan sama sekali.

Yusril dan calon lain bukan tidak memiliki kesempatan untuk mengalahkan Ahok. Jika mereka fokus dalam menyajikan program yang menarik bagi warga Jakarta, dan program tersebut lebih baik dari yang ditawarkan Ahok, bisa jadi mereka yang menang. Dalam politik, misalnya, sah-sah saja bagi Yusril dkk untuk menggarap “barisan sakit hati” karena kebijakan Ahok untuk kemenangan mereka.

Namun, mereka harus hati-hati. Warga Jakarta sangat cerdas dan sangat terdidik, sehingga menggunakan isu seperti suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) untuk menyudutkan Ahok adalah tindakan sia-sia. Bahkan akan langsung menjadi bumerang atau “bunuh diri politik”, karena isu SARA justru membuat pemilih langsung bersimpati dengan Ahok.

Tantangan bagi Yusril dkk adalah mencoba mengkritisi program-program Ahok yang dinilai kurang baik dan menyajikan alternatif yang terbaik. Godaan untuk menyentuh isu SARA yang mengarah ke ideologi fasis harus disingkirkan jauh-jauh. Membangkitkan ideologi fasis seperti yang dilakukan Donald Trump di Amerika Serikat adalah pelanggaran serius terhadap ajaran semua founding fathers kita. Jika isu SARA menjauh dari Pilkada 2017, maka ini menjadi momentum yang akan mencerdaskan siapa pun yang terlibat di dalamnya.

Avatar
Arli Aditya Parikesit
Pengajar di STAI Al-Hikmah, Jakarta. Meraih PhD bidang bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.