OUR NETWORK

Menafsir Pidato Terbaru Al-Baghdadi

baghdadi2-mirror-co-uk
Abu Bakar al-Baghdadi. (Foto: mirror.co.uk)

Memasuki pekan kedua operasi militer membebaskan kota Mosul, Irak, dari ISIS, pada Kamis pagi (3/11/2016), pemimpin puncak Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar al-Baghdadi muncul dalam sebuah rekaman suara berdurasi 31 menit. Pidato Abu Bakar al- Baghdadi telah memecah keheningan selama hampir setahun, setelah terakhir kali menyapa pengikutnya pada akhir tahun 2015 silam.

SITE Intelligence Group, sebuah organisasi pemantau gerakan teroris di dunia maya yang berbasis di Amerika Serikat, telah memverifikasi bahwa rekaman tersebut adalah suara Abu Bakar al-Baghdadi. Rekaman suara al-Baghdadi tersebut disiarkan secara daring oleh Al- Furqan Media, corong propaganda ISIS, yang kemudian dikutip oleh media-media arus utama internasional.

Saya telah mendengar sekaligus membaca transkrip pidato al-Baghdadi. Bagi yang sebelumnya pernah mendengar “gertakan” ISIS, isi pesan al-Baghdadi tak lebih propaganda ISIS yang didaur ulang, tanpa meninggalkan resep utamanya, bertabur ayat dan riwayat sejarah Islam masa lampau, kemudian diparalelkan dengan situasi dan lakon kelompoknya saat ini.

Pidato al-Baghdadi berjudul Hadza ma wa ‘adana Allahu wa Rasuluhu, (Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita). Judul tersebut mengutip al-Qur’an surah al-Ahzab ayat 22. Al-Ahzab adalah bentuk jamak dari Hizb; partai atau klan. Istilah al-Ahzab yang berarti sekutu, konteksnya adalah persekutuan Arab pagan (jahiliyah) dan Arab Yahudi yang memerangi Islam pada tahun 627 M yang dikenal dalam Perang Parit (Khandaq).

Singkatnya, secara tersirat al-Baghdadi sedang menyemangati pasukannya bahwa saat ini mereka sedang melakoni sebuah perang seperti sejarah “Perang Parit”. Dikeroyok aliansi, dikepung dari berbagai penjuru, jumlah pasukan yang tak imbang, namun akhirnya berbuah kemenangan gemilang.

Kemunculan al-Baghdadi ini memang tidak lepas dari situasi terkini ISIS di Mosul. Banyak yang memprediksi, setelah seruan al-Baghdadi, militan ISIS akan bertempur sampai mati demi mempertahankan Mosul, yang dipuji al-Baghdadi sebagai kota mercusuar ISIS di Irak. Benarkah?

Saya sependapat dengan Hassan Hassan, analis jihad Suriah. Hassan berpendapat, ketika ISIS terdesak di Mosul, mereka akan melakukan inhiyaz atau “mundur sementara” ke padang gurun.

Kata inhiyaz muncul pada Mei dalam pidato Abu Muhammad al-Adnani, juru bicara ISIS yang tewas oleh serangan Amerika pada Agustus. Al-Adnani pernah mengatakan bahwa kerugian teritorial tidak berarti kekalahan, gerilyawan harus berjuang sampai akhir, kemudian mundur padang gurun, mempersiapkan come back, seperti yang mereka lakukan pada tahun 2013.

Sementara sebagian besar gerilyawan mundur, sel-sel kelompok tetap beroperasi meneror.
Dua hari setelah al-Baghdadi bersuara, sebuah bom mobil meledak di Turki yang menewaskan 9 orang dan melukai 100 orang lainnya. Ledakan terjadi di kota Diyarbakir, di Turki tenggara. Dan, satu hari setelah kejadian (5/11/2016) seperti dilansir AFP, ISIS mengklaim mendalangi serangan tersebut.

Tak sedikit yang mengaitkan peristiwa ini adalah efek dari seruan al-Baghdadi. Dalam pidatonya, al-Baghdadi memang menyebut militer Turki berkali-kali dengan label murtad dan mendorong pengikutnya untuk melakukan serangan.

Semua ini tidak lepas dari keikutsertaan Turki dalam kekacauan Suriah memerangi ISIS sejak dalam operasi “Badai Eufrat” yang berhasil merebut kota dari ISIS di Suriah utara. Turki dianggap telah mengambil keuntungan dari fakta ISIS yang tengah berperang menghadapi musuhnya dari berbagai kekuatan. Al-Baghdadi menjuluki Turki seperti Dubuk (Hyena), anjing buntung yang tamak.

Belum lagi rencana Turki berpartisipasi dalam memerangi ISIS di Mosul, Irak, yang masih mendapat tentangan dari pemerintah Irak, sehingga membuat hubungan kedua negara ini memanas.

Tampaknya al-Baghdadi ingin menyeret Turki dalam pertempuran Mosul, dan berharap membuat persatuan koalisi goyah. Seperti saya tuliskan, inti pidato al-Baghdadi seperti pengulangan propaganda ISIS yang sudah-sudah, yakni kental dengan aroma sektarianisme dan menyerukan pengikutnya hijrah (migrasi).

ISIS telah berulang kali menyerukan pengikutnya untuk bermigrasi ke tanah kekhalifahan. Tetapi jika mereka tidak dapat menjangkau Irak dan Suriah, mereka dapat bergabung berjihad di mana saja di wilayat atau provinsi, di mana cabang kelompok ini beroperasi. Al-Baghdadi mengulangi panggilan ini dengan mengatakan pengikut memiliki “jalan luas” untuk bermigrasi.

Al-Baghdadi menggambarkan konflik di Irak sebagai konspirasi sektarian terhadap Muslim Sunni. Baghdadi mengklaim bahwa berbagai pihak yang memeranginya saat ini sebenarnya demi menghabisi orang Sunni. Dia menuduh sedang terjadi pembersihan penduduk Sunni dari kota-kota Irak. Sebagai catatan, Mosul adalah kota dengan populasi lebih dari 1 juta, mayoritas Sunni.

Al-Baghdadi kembali menggunakan framing sektarian. Cermati narasinya: Rezim Irak adalah representasi Syiah dan ISIS adalah pembela Sunni Irak. Framing seperti inilah yang selama ini diimpor ISIS ke mana-mana, termasuk ke Indonesia.

Indonesia memang masih masuk dalam radar proyek terorisme ISIS. Al-Baghdadi bahkan menyebut nama Indonesia dalam pidatonya kali ini “Kepada prajurit Khilafah di Khurasan, Bangladesh, Indonesia, Kaukaz, Filipina, Yaman, Jazirah Arab, Sinai, Mesir, Al-Jazair, Tunisia, Libya, Somalia dan Afrika Barat, ketahuilah bahwa hari ini kalian adalah penopang Islam dan pasak Khilafah di bumi ini…,” seru al-Baghdadi.

Singkat kata, bagi saya, pidato al-Baghdadi seperti sisa makanan yang dihangatkan kembali. Namun, kemunculan al-Baghdadi telah menepis rumor kematian dirinya yang sempat ramai di media beberapa waktu lalu.

Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…