Rabu, Maret 3, 2021

Nalar Beragama Muslim Indonesia

Pendukung Jokowi atau Bukan, di Jalan Tol Kita Semua Konsumen

Transportasi adalah contoh sempurna bagaimana uang pajak menjadi amunisi yang semakin merugikan warga negara pembayarnya, karena sebenarnya hanya dianggap konsumen. Mula-mula kita membayar pajak untuk...

Ketika Media Sosial Menjadi Semakin Personal

JILLY tiba-tiba menyeletuk, ”Gus, ada titipan pertanyaan dari Ibu saya: mengapa sekarang jarang fesbukan? Ibu saya selalu mengikuti tulisan-tulisan Gus Can.” Saya tergelak. Pertama, ada...

Benarkah Sukarno Anti Pengusaha Tionghoa?

“Kenapa pengusaha China saya batasi, karena saya tidak ingin kalian jadi babu di rumah sendiri. Ini tanah air kita yang kita perjuangkan dengan darah....

Bang Buyung dan Konstitusi Baru

Tahun lalu, tepatnya 1 Juni 2014, Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) menganugerahkan "Muhammad Yamin Award" kepada Bang Adnan Buyung Nasution. PUSaKO menilai buku/disertasi Bang Buyung...
Avatar
Fadhli Lukman
Pelajar ilmu al-Qur'an dan sosial kemasyarakatan yang sedang menempuh PhD di Albert-Ludwigs-Universität Freiburg.

Ribuan orang memadati kawasan Bundaran Air Mancur Bank Indonesia sebelum menuju ke depan Istana Merdeka di Jakarta, Jumat (4/11). Mereka berunjuk rasa menuntut pemerintah untuk mengusut kasus dugaan penistaan agama dengan terlapor Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/foc/16.
Ratusan ribu orang memadati kawasan Bundaran Air Mancur Bank Indonesia sebelum menuju ke depan Istana Merdeka di Jakarta, Jumat (4/11). Mereka menuntut pemerintah untuk mengusut kasus dugaan penistaan agama dengan terlapor Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/foc/16.

Apakah Anda melihat pos atau meme tentang penolakan perayaan Tahun Baru 1 Januari 2017 ini? Saya ingin sedikit mendiskusikan fenomena tersebut dalam kerangka nalar beragama Muslim Indonesia. Bagi saya, fenomena itu merupakan salah satu fragmen yang memperlihatkan krisis epistemologis yang dialami oleh Muslim Indonesia.

Paling tidak ada dua argumen yang muncul menjelang dan pada saat tahun baru kemarin. Argumen pertama berkaitan dengan bentuk, sementara yang kedua dengan identitas. Yang pertama menyasar praktik, tingkah, atau perilaku. Argumen ini menyerang agenda-agenda tahun baruan yang dianggap mencederai moralitas agama.

Adapun argumen kedua menekankan tentang who we are and are not; tentang self dan others. Argumen ini menyebutkan bahwa tahun baru Masehi bukanlah tahun baru Islam, dan elemen-elemen yang digunakan dalam perayaannya tidak berasal dari budaya Islam. Oleh sebab itu, tinggalkan!

Tidak sedikit pula yang membawanya kepada logika khas pengusung khilāfah. “Bagaimana Anda sebagai seorang Muslim tapi tidak menerapkan hukum Tuhan secara kaffah, malah mengikuti tradisi dari luar?!” Muslim yang merayakan tahun baru kemudian diklaim telah terjerumus ke dalam tasyabbuh dan oleh karenanya termasuk kepada minhum/others dan kafir.

Saya tidak ingin berdalam-dalam membicarakan penolakan ini. Boleh atau tidak-bolehkan perayaan tahun baru Masehi bukanlah hal yang akan dibicarakan dalam tulisan ini. Saya hanya ingin melihat salah satu bentuk argumen yang dikemukakan untuk memperlihatkan krisis epistemologis yang dialami oleh Muslim Indonesia saat ini.

Setiap 1 Januari, muncul penolakan terhadap tahun baru. Mereka menekankan bahwa tidak ada tahun baru Masehi. Satu-satunya tahun baru yang diakui dalam Islam adalah tahun baru Hijriah. Akan tetapi di luar itu segala aktivitas yang dilakukan selalu merujuk kepada penanggalan luar ini. Organisasi dan instansi mengagendakan tutup buku setiap Desember, penerimaan gaji setiap awal bulan, penomoran surat, dan sebagainya.

Penanggalan Hijriah bukan sama sekali ditinggalkan. Ia tetap digunakan, namun di posisi sekunder. Bahkan dalam kolom waktu dan tempat di poster, undangan, atau selebaran tentang perayaan hari besar Islam tetap saja yang digunakan pertama kali adalah penanggalan Masehi yang biasanya diikuti penanggalan hijriahnya.

Nampaknya hanya di Idul Fitri saja (1 Syawal) mengungguli posisi penanggalan Masehinya. Penolakan terhadap penanggalan Masehi pada momen-momen 1 Januari mencerminkan semangat pengusungan identitas yang kehilangan tempat berpijak.

Penolakan terhadap penanggalan Masehi juga dikaitkan dengan argumen kesucian, dalam arti bahwa kesucian Islam sebagai agama dilekatkan kepada penanggalan Hijriah, dan karenanya, yang selain itu dianggap tidak suci. Ironinya, pada sisi lain sering kali kita melihat sakralitas al-Qur’an dan Islam justru dikaitkan dengan penanggalan Masehi ini.

Kita tidak asing dengan pos di sosial media atau broadcast whatsapp yang seperti ini: “Tsunami Aceh terjadi tanggal 26 Desember, gempa Tasikmalaya terjadi tanggal 26 Mei, bencana ini-itu terjadi pada tanggal 26, mari buka surat ini dan itu ayat 26, perhatikan terjemahannya!” Tidak lupa pos ini dibumbui dengan “like and share” jika di media sosial dan “sebarkan” jika di aplikasi pesan. Pos dan pesan semacam ini mendapatkan banyak sekali apresiasi, sebagaimana banyak pula pengaminan terhadap penolakan penanggalan Masehi di setiap akhir tahun.

meme-ilhamHal serupa juga terjadi dalam rangkaian Aksi Bela Islam beberapa saat lalu. Angka 411 sebagai representasi dari penanggalan Masehi 4 November disucikan dengan menghubungkannya kepada tulisan lafaz nama Allah.

Sebuah foto yang disebar akun Instagram Habib Rizieq mengaitkan angka-angka penanggalan Masehi pidato Ahok di Kepulauan Seribu (27 September), penetapan dirinya sebagai tersangka (16 November), dengan mekanisme penjumlahan tertentu, bertemu di angka 51, nomor ayat yang ia kutip dalam pidato tersebut.

Di sini kita melihat posisi ganda penanggalan Masehi dalam dunia Islam Indonesia. Uniknya, peran ganda tersebut bukanlah peran yang saling melengkapi, tetapi saling bertentangan. Di satu waktu ia dipuja-puja karena dianggap menggambarkan kebesaran Tuhan, akan tetapi di sisi lain ia ditolak dan dianggap sebagai bentuk kerusakan manusia dalam beragama.

Cocokologi, begitulah nalar ini sering disebut. Ia merupakan istilah plesetan, gabungan antara cocok dan logos. Ibarat theos, philos, atau bios, yang masing-masingnya menyatu dengan logos, bergabung menjadi sebuah disiplin ilmu, theology, philology, dan biology. Menyatunya cocok dan logos memimpikan sebuah aktivitas keilmuan dalam mengait-ngaitkan sesuatu yang sebenarnya tidak berhubungan. Ia adalah satir.

Cocokologi merupakan sindiran atas gaya pseudo-scientific yang mengait-kaitkan atau mencocok-cocokkan sesuatu dengan gaya yang seolah akademis. Padahal, tidak ada hukum akal yang bisa menjustifikasinya. Angka-angka penanggalan Masehi dikaitkan dengan angka-angka dalam al-Qur’an. Goresan-goresan abstrak awan, air terjun, kulit jeruk, dan sebagainya dikait-kaitkan dengan penulisan nama Allah. Seolah dengan itu terbangun sebuah argumen betapa maha kuasanya Allah.

Dalam sejarah intelektual Islam, perdebatan epistemologis tentang sumber ilmu berkenaan dengan dua hal: akal dan wahyu. Mu’tazilah berkeyakinan bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu bermodalkan akal, sementara Asy’ariyyah memutlakkan peran wahyu. Perdebatan tersebut relevan pada zamannya karena ia berkenaan dengan diskursus kalam dan hukum. Ia belum menyentuh fenomena sains yang rumit misalnya.

Mu’tazilah berkeyakinan bahwa akal manusia mampu menilai sesuatu baik atau buruk. Perbuatan baik dijadikan sebagai premis pertama, dan mengerjakan sesuatu yang baik akan bermanfaat menempati premis kedua. Kesimpulannya, manusia dianjurkan untuk melakukan kebaikan. Adapun Asy’ariyah berargumen bahwa akal tidak bisa berbicara melakukan sesuatu akan mendapat pahala. Dari penjelasan wahyulah manusia bisa mengetahuinya.

Saat ini, cocokologi tidak hanya berkenaan dengan kalām dan hukum. Ia juga berkaitan dengan fenomena awan, pigmen hewan, dan sebagainya. Dengan demikian, idealnya, sumber ilmu yang digunakan harus melampai perdebatan antara akal dan wahyu. Akan tetapi, sayangnya, bukannya melampaui, nalar cocokologi malah mengangkangi keduanya.
Tidak ada hukum akal yang bisa menjustifikasi premis garisan yang membentuk lafaz nama Tuhan di kulit ikan bermuara kepada kesimpulan bahwa “ketik Allāhu akbar, like dan share” adalah wajib sebagaimana Anda suka like dan share foto gadis bening.

Juga tidak ada wahyu eksplisit dan implisit yang berbicara tentang hal itu. Betapapun tradisionalnya perdebatan antara akal dan wahyu, fenomena cocokologi memperlihatkan fenomena epistemologis yang lebih primitif. Ia sama sekali tidak masuk akal, dan juga tidak berkaitan dengan wahyu. Ia hanya resepsi serampangan manusia atas wahyu dengan menanggalkan peran akal.

Begitulah nalar beragama sebagian kita saat ini; sangat gampang tergoda dengan simbol-simbol yang tidak bernilai. Simbol-simbol tersebut dikait-kaitkan sedemikian rupa dengan proyeksi ia menjadi ilmiah, namun justru sebaliknya menjadi menggelikan.

Ada dua hal yang bisa menjelaskan cocokologi ini. Yang pertama adalah pragmatisme dakwah. Dalam kasus tahun baru, tentu sah-sah saja menolak agenda-agenda perayaan tahun baru yang tidak bermanfaat, menabrak moralitas agama dan budaya, dan sangat kental dengan balutan agresivitas kapitalisasi. Akan tetapi, penolakan dengan nalar-nalar yang krisis epistemologis hanya akan membuat basis keilmuan Islam semakin dangkal dan tidak relevan dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Hal ini terbukti juga telah menyentuh dunia pragmatisme politik, ketika nalar cocokologi juga digunakan untuk menggerakkan massa dalam peristiwa politik yang baru-baru ini kita saksikan.

Hal kedua berkenaan dengan apa yang disebut oleh Yudian Wahyudi Ph.D, rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, sebagai respons reaktif orang-orang yang kalah. Saat ini, tidak bisa dipungkiri, peradaban dunia Islam kalah dalam banyak hal dari peradaban Barat, baik ekonomi, politik, teknologi, bahkan nilai. Kekalahan peran penanggalan Hijriah ditanggapi dengan penolakan yang tidak konsisten terhadap penanggalan Masehi.

Dalam pola reaktif yang sama, kemajuan Barat dalam dunia sains dibalas dengan dagelan bumi datar atau analisis pigmen ikan bertulis lafaz Allah. Aktivitas antariksa Barat dibalas dengan analisis garisan-garisan abstrak awan. Lalu semua didaku seolah-olah bukti logis kebesaran Tuhan.

Avatar
Fadhli Lukman
Pelajar ilmu al-Qur'an dan sosial kemasyarakatan yang sedang menempuh PhD di Albert-Ludwigs-Universität Freiburg.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.