Selasa, Oktober 20, 2020

Mem-“Bilal”-kan Toa

Bom, Bir, Babak-belur

Di Perang Dunia II, London dihujani 10 ribu tembakan oleh bom-bom Jerman. Di pekan ke-17, kemarin, klub London Arsenal dihujani tiga gol dari para...

Bersama Membenci Buku Kiri

Pada era Revolusi Industri 4.0 ini, ada salah satu hantu yang paling ditakuti bangsa Indonesia: Hantu Komunis. Setiap tahun teror ketakutan ini terus dihembuskan...

Pekerti Tuan Besar Besar dalam Puisi

Puisi memuji, politik mengingkari, ungkapan ini mungkin bisa dijadikan acuan untuk memahami hubungan antara puisi, masyarakat, dan politik di era aplikasi digital ini. Alih-alih tersambung...

Sudah Mabrurkah Hajimu?

“Semoga menjadi haji mabrur!” Inilah doa yang selalu kita panjatkan pada saat mengetahui ada teman, sahabat, atau keluarga yang berangkat ke tanah suci untuk...
Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

toaJalaluddin Rumi, sufi Persia tersohor itu, berkisah dalam magnum opus-nya: Matsnawi. Alkisah, ada seorang muazin bersuara jelek. Saudara-saudara Muslimnya telah berulang kali menasehatinya untuk tak lagi azan dan menggantikan tugasnya itu pada yang lain, yang suaranya merdu, agar kalimat-kalimat indah dalam azan itu disempurnakan dengan lantunan suara yang merdu, sehingga utuh memberi kedamaian bagi pendengarnya dan benar-benar memotivasi pendengarnya untuk terpanggil ke masjid atau salat.

Namun, muazin itu tetap ngotot. Anehnya, suatu saat, seorang non-Muslim justru datang mencari muazin tersebut untuk memberinya hadiah lantaran azannya tersebut. “Katakan padaku, siapa dan di mana muazin itu? Suaranya membahagiakan hatiku,” katanya.

“Kebahagiaan bagaimana yang bisa kau dapat dari suara jelek itu?” tanya salah seorang Muslim yang ditemuinya.

Lalu, ia bercerita, “suara azannya menembus gereja kami. Aku memiliki seorang anak cantik yang berperangai baik. Ia cinta dan ingin menikahi seorang Muslim, serta tertarik mempelajari Islam. Aku gelisah karenanya. Aku kuatir dia menjadi Muslim. Hingga suatu saat, ia mendengar suara itu, dan merasa terganggu sekali dengannya. Ketika ia tahu itu suara azan, ia berbalik benci pada Islam. Maka, itu menjadi kegembiraan tak terkira bagiku. Karenanya, aku ingin memberinya hadiah sebagai ucapan terima kasih.”

Saya tak tahu, apakah cerita itu fakta atau hanya cara Rumi melakukan otokritik. Yang jelas, kritiknya mengena. Dan juga, kisah semacam itu jamak terjadi di masyarakat kita: betapa banyak orang terganggu dengan toa masjid yang bising tak karuan?

Sebelumnya, saya mau tegaskan bahwa kolom ini bukan secara khusus akan membahas masalah yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Sebab, menurut saya, apa yang terjadi di sana adalah kompleks. Insiden toa bisa jadi hanya pemicu saja. Maka, kolom ini benar-benar hanya sebuah pandangan kritis terhadap fenomena kebisingan toa yang kerap terjadi di masjid-masjid di berbagai wilayah di Indonesia.

Kita meyakini bahwa pada aspeknya yang paling mendasar, Islam hadir sebagai rahmat, dan itu adalah antitesa dari gangguan. Sehingga, segala sesuatu yang bersifat menganggu, pasti bukan hanya tak islami, tapi bertentangan dengan nilai dan hukum Islam. Rasul, misalnya, sangat menekankan kita agar memuliakan tetangga.

Begitu pula al-Qur’an dalam an-Nisa’: 36 yang memerintahkan kita berbuat baik pada tetangga yang dekat maupun jauh. Maka, sudah tentu menganggu tetangga adalah sesuatu yang dikecam Islam. Bayangkan, apa jadinya jika itu dilakukan oleh masjid dengan azannya?

Bagi saya, toa itu seperti lisan. Al-Qur’an, begitu pula Nabi, mewajibkan untuk menjaganya. Bukan hanya secara kualitas, yakni apa-apa yang keluar darinya harus positif. Melainkan juga kuantitasnya: suara maupun volumenya. Bahkan dalam QS al-Hujurat ayat 2 dan 3, Allah secara tegas melarang setiap orang meninggikan suaranya di atas suara Nabi atau bersuara keras. Ini adalah etika Islam, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Di sisi lain, toa itu bagai Harun di sisi Musa atau Bilal di sisi Nabi. Sesuatu yang baik, ia butuh metode penyampaian yang baik. Diutus Harun untuk menjadi “juru bicara” Musa, sebagaimana Bilal dipilih Nabi lantaran suaranya yang merdu untuk mengumandangkan azan. Begitu pula azan atau apa pun syiar Islam yang hendak kita sampaikan, ia wajib memenuhi unsur ke-‘Harun’-an atau ke-‘Bilal’-an. Jika tidak, sebagaimana kisah Rumi di atas, tentu itu akan jadi kontraproduktif bagi aktivitas dakwah kita.

Untuk menghayati aktivitas keberagamaan, sifat dasar kita selalu butuh pada keheningan atau irama yang lembut dan syahdu, merdu. Nabi menyepi di gua Hira untuk itu. Para sufi menyebutnya khalwat: pergi dari kebisingan, menyepi dalam keheningan, masuk dalam ke-khusyuk-an. Bahkan, seperti pernah ditulis almarhum almaghfurlah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), untuk sebuah lagu agama juga (misalnya baladanya Trio Bimbo atau lagu-lagu rohani dari kalangan gereja) biasanya dalam bentuk lembut.

Akhirnya, perlu ditegaskan di sini bahwa kritik ini tak hanya berlaku pada toa. Toa hanyalah salah satunya, dan ia menjadi satu-satunya contoh yang dibawa di sini tak lebih lantaran saat ini kita sedang dihebohkan oleh itu, dalam kaitannya dengan kejadian di Tanjung Balai. Kritik ini berlaku juga bagi lonceng gereja, bedug, pengajian menutup jalan raya, atau apa pun saja yang sifatnya menganggu.

Mungkin, perlu juga ditegaskan di sini bahwa tentu bukan berarti saya tak setuju pada toa. Karena, pada dasarnya toa itu bebas nilai. Ia akan baik jika digunakan secara proporsional dan bijak, sehingga tak berefek samping yang menganggu. Karena itu, saya mendukung agar takmir masjid masing-masing atau secara umum pemerintah mengatur masalah ini, membuat patokan-patokannya, agar ia tetap menjadi berkah bagi keberagamaan kita, bukan justru petaka.

Arab Saudi pun menerapkan aturan ini dan secara tegas menyita speaker yang dinilai terlalu kencang dalam menyiarkan azan. Karena, jangankan amar ma’ruf, nahi munkar pun harus ditegakkan dengan cara-cara yang ma’ruf.

Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

Adakah Yahudi yang Baik di Mata Islam?

Yahudi, selain Kristen, adalah agama yang paling tidak disukai oleh kita, umat Islam di Indonesia atau di mana saja. Entah karena motif politik atau...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.