Kamis, Maret 4, 2021

Mem-“Bilal”-kan Toa

Libido, Tubuh, dan Akal Pencerahan

Layar merah tua pelan terbuka. Irama musik India mengalun dinamis. Satu persatu, dewi-dewi dalam mitologi India muncul dari balik panggung yang berseni dan berteknologi...

Perbaikan yang Bisa Dilakukan Untuk Pemilu 2024

Pemilihan umum (Pemilu) serentak telah terlaksana pada 17 April lalu. Saya berterima kasih dan mengapresiasi kepada seluruh penyelenggara, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan...

Perubahan Iklim dan Dunia yang Terancam Kelaparan-Kemiskinan

Di balik optimisme peningkatan kondisi perekonomian gobal, ternyata kemiskinan tetap menjadi ancaman yang mengintai masyarakat di berbagai belahan dunia. Ketika Konferensi Komite Keamanan Pangan...

Hikayat Peci: Dari Heroik Menjadi Picisan

Ramadan menjadi “bulan peci”. Permintaan peci di pasar meningkat selama Ramadan. Pengguna peci meningkat pesat, berlipat ketimbang bulan-bulan biasa. Lelaki berpeci saat Ramadan adalah...
Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

toaJalaluddin Rumi, sufi Persia tersohor itu, berkisah dalam magnum opus-nya: Matsnawi. Alkisah, ada seorang muazin bersuara jelek. Saudara-saudara Muslimnya telah berulang kali menasehatinya untuk tak lagi azan dan menggantikan tugasnya itu pada yang lain, yang suaranya merdu, agar kalimat-kalimat indah dalam azan itu disempurnakan dengan lantunan suara yang merdu, sehingga utuh memberi kedamaian bagi pendengarnya dan benar-benar memotivasi pendengarnya untuk terpanggil ke masjid atau salat.

Namun, muazin itu tetap ngotot. Anehnya, suatu saat, seorang non-Muslim justru datang mencari muazin tersebut untuk memberinya hadiah lantaran azannya tersebut. “Katakan padaku, siapa dan di mana muazin itu? Suaranya membahagiakan hatiku,” katanya.

“Kebahagiaan bagaimana yang bisa kau dapat dari suara jelek itu?” tanya salah seorang Muslim yang ditemuinya.

Lalu, ia bercerita, “suara azannya menembus gereja kami. Aku memiliki seorang anak cantik yang berperangai baik. Ia cinta dan ingin menikahi seorang Muslim, serta tertarik mempelajari Islam. Aku gelisah karenanya. Aku kuatir dia menjadi Muslim. Hingga suatu saat, ia mendengar suara itu, dan merasa terganggu sekali dengannya. Ketika ia tahu itu suara azan, ia berbalik benci pada Islam. Maka, itu menjadi kegembiraan tak terkira bagiku. Karenanya, aku ingin memberinya hadiah sebagai ucapan terima kasih.”

Saya tak tahu, apakah cerita itu fakta atau hanya cara Rumi melakukan otokritik. Yang jelas, kritiknya mengena. Dan juga, kisah semacam itu jamak terjadi di masyarakat kita: betapa banyak orang terganggu dengan toa masjid yang bising tak karuan?

Sebelumnya, saya mau tegaskan bahwa kolom ini bukan secara khusus akan membahas masalah yang terjadi di Tanjung Balai, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu. Sebab, menurut saya, apa yang terjadi di sana adalah kompleks. Insiden toa bisa jadi hanya pemicu saja. Maka, kolom ini benar-benar hanya sebuah pandangan kritis terhadap fenomena kebisingan toa yang kerap terjadi di masjid-masjid di berbagai wilayah di Indonesia.

Kita meyakini bahwa pada aspeknya yang paling mendasar, Islam hadir sebagai rahmat, dan itu adalah antitesa dari gangguan. Sehingga, segala sesuatu yang bersifat menganggu, pasti bukan hanya tak islami, tapi bertentangan dengan nilai dan hukum Islam. Rasul, misalnya, sangat menekankan kita agar memuliakan tetangga.

Begitu pula al-Qur’an dalam an-Nisa’: 36 yang memerintahkan kita berbuat baik pada tetangga yang dekat maupun jauh. Maka, sudah tentu menganggu tetangga adalah sesuatu yang dikecam Islam. Bayangkan, apa jadinya jika itu dilakukan oleh masjid dengan azannya?

Bagi saya, toa itu seperti lisan. Al-Qur’an, begitu pula Nabi, mewajibkan untuk menjaganya. Bukan hanya secara kualitas, yakni apa-apa yang keluar darinya harus positif. Melainkan juga kuantitasnya: suara maupun volumenya. Bahkan dalam QS al-Hujurat ayat 2 dan 3, Allah secara tegas melarang setiap orang meninggikan suaranya di atas suara Nabi atau bersuara keras. Ini adalah etika Islam, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Di sisi lain, toa itu bagai Harun di sisi Musa atau Bilal di sisi Nabi. Sesuatu yang baik, ia butuh metode penyampaian yang baik. Diutus Harun untuk menjadi “juru bicara” Musa, sebagaimana Bilal dipilih Nabi lantaran suaranya yang merdu untuk mengumandangkan azan. Begitu pula azan atau apa pun syiar Islam yang hendak kita sampaikan, ia wajib memenuhi unsur ke-‘Harun’-an atau ke-‘Bilal’-an. Jika tidak, sebagaimana kisah Rumi di atas, tentu itu akan jadi kontraproduktif bagi aktivitas dakwah kita.

Untuk menghayati aktivitas keberagamaan, sifat dasar kita selalu butuh pada keheningan atau irama yang lembut dan syahdu, merdu. Nabi menyepi di gua Hira untuk itu. Para sufi menyebutnya khalwat: pergi dari kebisingan, menyepi dalam keheningan, masuk dalam ke-khusyuk-an. Bahkan, seperti pernah ditulis almarhum almaghfurlah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), untuk sebuah lagu agama juga (misalnya baladanya Trio Bimbo atau lagu-lagu rohani dari kalangan gereja) biasanya dalam bentuk lembut.

Akhirnya, perlu ditegaskan di sini bahwa kritik ini tak hanya berlaku pada toa. Toa hanyalah salah satunya, dan ia menjadi satu-satunya contoh yang dibawa di sini tak lebih lantaran saat ini kita sedang dihebohkan oleh itu, dalam kaitannya dengan kejadian di Tanjung Balai. Kritik ini berlaku juga bagi lonceng gereja, bedug, pengajian menutup jalan raya, atau apa pun saja yang sifatnya menganggu.

Mungkin, perlu juga ditegaskan di sini bahwa tentu bukan berarti saya tak setuju pada toa. Karena, pada dasarnya toa itu bebas nilai. Ia akan baik jika digunakan secara proporsional dan bijak, sehingga tak berefek samping yang menganggu. Karena itu, saya mendukung agar takmir masjid masing-masing atau secara umum pemerintah mengatur masalah ini, membuat patokan-patokannya, agar ia tetap menjadi berkah bagi keberagamaan kita, bukan justru petaka.

Arab Saudi pun menerapkan aturan ini dan secara tegas menyita speaker yang dinilai terlalu kencang dalam menyiarkan azan. Karena, jangankan amar ma’ruf, nahi munkar pun harus ditegakkan dengan cara-cara yang ma’ruf.

Avatar
Husein Ja'far Al Hadar
Vlogger Islam Cinta yang tak lagi jomblo. Direktur Cultural Islamic Academy, Jakarta. Mahasiswa Tafsir Qur’an Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.