Selasa, Desember 1, 2020

Melawan Teror

Predator Seksual Mancanegara Mengancam Anak-Anak Kita

Predator seksual dari mancanegara kini mengancam keselamatan anak-anak Indonesia. Seperti diberitakan media, sebagian pelanggan atau pengguna jasa layanan seksual anak laki-laki di bawah umur...

Tragedi Vaksin Palsu dan Tangisan Jonas Salk

Sosok berkacamata dengan bagian ubun-ubun membotak duduk dalam sebuah acara interview televisi lawas. Sebagai pembawa acara, Edward R. Murrow kemudian bertanya, "Siapakah yang memiliki...

Pers Kita dan Jurnalisme Tanda Tanya

Rizal Ramli, Menko Maritim dan Sumber Daya, pada acara Konvensi Nasional Media Massa di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (8/2), ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi. Sampai berapa...

Tantangan Tito Karnavian

Presiden telah menunjuk Komisaris Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai calon Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti yang akan segera memasuki usia pensiun. Komisi III Dewan...
Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.

terorRomo Franz Magnis Suseno (ketiga kanan) dan Alissa Wahid (kanan) bersama warga melakukan aksi solidaritas melawan teror di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (15/1). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/kye/16.

Meski senantiasa menakutkan dan menimbulkan korban jiwa, aksi teror seyogianya tidak membuat masyarakat harus hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan kalah oleh ulah pelaku teror yang memang sengaja membangun suasana mengerikan. Di media massa dan media sosial, setelah serentetan teror dan bom bunuh diri meledak di Paris, Turki, Bamako, Beirut, Nigeria Utara, termasuk di Jalan Thamrin, Jakarta, beberapa hari lalu, kita bisa melihat sebagian masyarakat memang panik dan takut keluar rumah.

Tetapi, di sisi lain, pasca aksi teror dan bom bunuh diri yang menguncang ibu kota, ternyata begitu banyak ajakan dan ungkapan yang memperlihatkan bahwa kita tidak perlu takut teror. Teror adalah musuh bersama yang harus ditaklukkan dan dilawan, bukan justru dihindari. Seruan agar kita tidak takut dan takluk oleh teror tidak hanya dilontarkan oleh Presiden Joko Widodo, sejumlah elite politik, dan pimpinan negara, tetapi juga para netizen.

Dalam bukunya, Terorism and Global Security (2007), Ann E. Robertson menyatakan terorisme adalah tindakan yang bisa terjadi kapan saja, dan di mana saja, serta merupakan ancaman keamanan global yang benar-benar tak bisa diprediksi sekaligus sangat mencemaskan. Pelaku terorisme yang terus mengalami metamorfose dalam berbagai aksi radikal dan pendukung yang fanatik, harus diakui, tidak akan mudah diberantas secara instan.

Berbeda dengan tindak kejahatan konvensional (seperti perampokan, penyanderaan, dan lain-lain) yang bersifat instrumental dan lebih banyak didorong motif ekonomi, terorisme adalah jenis tindak kejahatan kemanusiaan yang lebih banyak didorong oleh fanatisme, sentimen ideologi, dan dendam kesumat yang niscaya tidak akan pernah terhapuskan hingga kapan pun.

Terorisme adalah penggunaan kekerasan yang disengaja dan berarah-tujuan untuk menebarkan ketakutan seluas-luasnya demi tujuan politis (Blackburn, 2008). Beberapa ciri utama yang menandai aksi terorisme adalah penggunaan aksi kekerasan yang biasanya ekstrem, dengan target yang tidak peduli apakah mereka orang-orang yang bersalah atau tidak, karena yang penting adalah bagaimana para pelaku berusaha menarik perhatian dunia atas apa yang mereka lakukan (Robertson, 2007).

Selain sebagai aksi balas dendam, tujuan aksi terorisme yang berbasis ideologi sebetulnya adalah tindakan untuk menyebarkan intimidasi, kepanikan, dan kerusakan di masyarakat. Korban aksi terorisme bukanlah orang-orang yang selalu menjadi target utama aksi, tetapi umumnya adalah orang-orang yang tengah bernasib malang. Oleh para teroris, orang-orang bernasib malang itu dijadikan media untuk mengirimkan pesan kepada elite penguasa yang dinilai telah menyengsarakan kehidupan para teroris dan menistakan keyakinan yang mereka rasa benar.

Masyarakat yang hidupnya dibayang-bayangi kegelisahan dan ketakutan akan aksi teror tidak mustahil menjadi gamang dan mengalami fobia ketika mereka berada di tempat umum, atau di objek-objek tertentu yang biasanya menjadi target para teroris. Ketika fobia yang timbul tidak hanya dialami oleh satu-dua orang, tetapi massal, maka aksi terorisme boleh dikatakan telah berhasil mencapai misinya. Sebaliknya, ketika aksi teror justru memicu munculnya solidaritas dan kohesi sosial masyarakat, maka teror hanya akan menjadi peristiwa yang lewat dan terlewatkan begitu saja.

Michel Wieviorka, dalam bukunya The Making of Terrorism (1994) menyatakan, tindakan terorisme sesungguhnya bukan sekadar metode, tetapi juga logika tindakan. Artinya, ketika para teroris melakukan aksi-aksi ekstrem dan menghalalkan tindak kejahatan kemanusiaan, yang mendasari pilihan aksi mereka adalah fanatisme pada ideologi, agama, dan dorongan berjuang yang diyakini kebenarannya.

Pada titik ini, pendekatan militeristik dan represif yang dikembangkan untuk memberantas teroris seringkali menimbulkan dilema, karena dalam banyak kasus justru membuat terorisme makin mengglobal dan fanatik. Kemunculan terorisme global sedikit-banyak adalah dampak dari pertumbuhan rasa senasib sepenanggungan antar-kelompok teroris dari berbagai negara yang merasa memiliki musuh yang sama. Biasanya, semakin mereka ditekan dan markas mereka diserang lewat senjata yang supercanggih, misalnya, fanatisme dan spirit perlawanan mereka justru makin tumbuh subur dan tak berkesudahan.

Secara fisik, dengan dukungan teknologi militer dan operasi intelijen yang canggih, pelaku terorisme memang sebagian dapat ditangkap, dan aksi-aksi teror mereka mungkin bisa dipatahkan untuk sementara waktu. Tetapi, sepanjang pendekatan yang dikembangkan untuk memberantas aksi terorisme hanya bersifat militeristik, maka sepanjang itu pula aksi terorisme akan tetap mencemaskan dan membuat masyarakat menjadi bangsa yang rentan ketakutan.

Maka, pendekatan yang bersifat militeristik perlu dibarengi dengan pendekatan yang mendekonstruksi ketakutan dan kegelisahan warga masyarakat, dan kemudian merekonstruksinya kembali untuk modal melawan teror.

Untuk melawan aksi terorisme, salah satu langkah taktis yang dibutuhkan adalah bagaimana kita semua tidak terpengaruh oleh efek theatre of terrorism yang dicoba dibangun oleh pelaku terorisme. Kita juga sangat perlu melawan aksi terorisme dengan tindakan psy war dengan tetap bertumpu pada nilai kemanusiaan dan keadaban, karena sesungguhnya itulah yang membedakan kita dengan mereka.

Ibarat menghadapi penjahat jalanan yang makin sadis dan kejam, yang harus kita lakukan melawan terorisme adalah membangun keberanian dan kepedulian bersama agar kita tidak sampai kecolongan berkali-kali oleh aksi teror.

Avatar
Bagong Suyanto
Guru Besar di Departmen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Surabaya.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.