Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Setajam Mata Najwa

Facebook: Ladang Dakwah atau Medan Ujaran Kebencian?

Kata boikot akhir-akhir ini adalah sebuah ungkapan yang selalu digunakan oleh Front Pembela Islam (FPI) dan Alumni 212 ketika mereka tidak suka terhadap sebuah kelompok,...

Birahi Komunikasi dalam Remang Teknologi

Menekankan hoax sebagai satu-satunya tantangan budaya komunikasi tidak seluruhnya dapat dibenarkan. Jika berani melihat lebih luas, dewasa ini sistem komunikasi yang diam-diam diamini masyarakat...

Milenial dan Fenomena Akun Seken Berjejak Negatif

Bahasan soal hoax, berita, akun, dan situs palsu memang menjemukan. Pengguna internet Indonesia tampaknya sangat lambat belajar mendeteksi berita palsu yang disebarkan akun dan...

ITE dan Teror Digital

Bagaimana semestinya sebuah undang-undang melindungi warganya? Fadhli Rahim, seorang PNS asal kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, divonis delapan bulan penjara. Ia terjerat pidana karena ucapannya di...
Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola

Publik sering mendapat kejutan dari lontaran-lontaran pertanyaan tajam Najwa Shihab. Ekspresi tatapannya selalu membuat keki bagi narasumber dan sulit ditebak arah peluru-peluru pertanyaaan investigatifnya. Begitulah konsistensi penampilan putri Prof Quraish Shihab itu setiap membawakan acara “Mata Najwa”.

Namun kali ini, Najwa benar-benar mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Melalui akun twitter pribadinya tadi malam, dia menguumumkan bahwa acara “Mata Najwa” akan segera mencapai pengujung. Episode kontroversial “Eksklusif Bersama Novel Baswedan” dinyatakan Najwa menjadi episode live terakhir Mata Najwa. Dia juga hendak pamit undur dari Metro TV.

“Mata Najwa” telah mengudara selama 511 episode sejak penayangan perdananya pada 25 November 2009 bertajuk “Dunia Kotak Ajaib”. Sedangkan Najwa Shihab telah menjadi reporter selama 17 tahun. Teka teki di balik kejadian ini langsung menjadi rumor liar dengan banyak spekulasi.

Ada yang memprediksi karena tekanan politik. Ada yang mengira karena Najwa ingin sekadar break. Ada juga yang menanggapi dingin dengan asumsi ini hanya bagian dramatisasi industri media dan nanti hanya akan ganti format atau ganti acara. Sebagian besar tetap masih penasaran dan sulit memprediksi alasan sesungguhnya.

Lepas dari pro dan kontra atas pilihan dan pendapatnya, Najwa menjadi fenomena perempuan Indonesia. Putri dari pakar tafsir Quraish Shihab ini selalu sukses menyihir ratusan hingga ribuan penonton dan jutaan pasang mata. Bukan semata kecantikan modalnya, namun kecerdasan dan kepercayaan dirinya.

Semua ini penting menjadi pembelajaran dan rujukan keteladanan bagi perempuan Indonesia, khususnya generasi milenial. Generasi perempuan milenial menjadi harapan bangsa dalam menguatkan tiang negara sekaligus menunjukkan daya saingnya di kancah global.

Potret Perempuan

Perempuan memiliki eksistensi dan nilai strategis dalam kehidupan. Agama memberikan keistimewaan kepadanya untuk dihargai. Negara juga menyandarkan tiangnya kepada perempuan. Sayangnya, budaya patriarki selama ini menempatkan perempuan dalam posisi sub-ordinan atau “tiyang wingking” dibandingkan kaum laki-laki.

Secara kuantitas, perempuan hampir seimbang dengan laki-laki. Kementerian Dalam Negeri RI (2012) melaporkan bahwa 49,13% penduduk Indonesia adalah perempuan. Hampir semua profesi yang dimiliki laki-laki juga mampu diraih perempuan. Misalnya kepala negara, kepala daerah, anggota legislatif, pejabat eksekutif, pejabat yudikatif, menteri, wirausahawan, pilot, tentara, polisi, dan lainnya.

Kaum perempuan merupakan jumlah yang terbesar dalam proses produksi. Perempuan perdesaan mayoritas bekerja sebagai buruh tani dan buruh kebun (69,32%). Mayoritas buruh pada industri perkotaan juga kaum perempuan. Ironisnya, laki-laki memperoleh upah sekitar 40% lebih tinggi dibanding perempuan.

Potret buram memang masih menghantui kehidupan perempuan di negeri ini. Perempuan menjadi kelompok rentan terhadap kekerasan.

Komnas Perempuan (2017) melaporkan jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 259.150 kasus pada 2016. Sebanyak 245.548 kasus diperoleh dari 358 Pengadilan Agama dan 13.602 kasus yang ditangani oleh 233 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 Provinsi. K

ekerasan personal tertinggi terjadi melalui kekerasan fisik 42 persen, kekerasan seksual 34 persen, kekerasan psikis 14 persen. Sisanya, terjadi kekerasan ekonomi. Angka ini akan semakin tinggi jika mengikuti pendapat Ayu Utami (2013) bahwa kekerasan seksual tidak hanya dimaknai sempit secara fisikal namun hingga emosional dan psikilogis.

Faktor kunci yang mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia adalah pendidikan. Di sektor ini kondisi perempuan masih terpuruk. Sebanyak 27% perempuan tidak tamat SD, 28 % tamat SD, 18% tamat SLTP, 22% tamat SMU/SMK, dan hanya 5% tamat Perguruan Tinggi di perkotaan. Selanjutnya di desa 48% perempuan tidak tamat SD, 34% tamat SD, 11% tamat SLTP, 6% tamat SMU/SMK, dan hanya 1% tamat Perguruan Tinggi.

Alhasil, perempuan masih banyak beraktivitas di sektor informal dengan kualifikasi rendah. Misalnya tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri yang mayoritas adalah pembantu rumah tangga.

Tuntutan dan Tuntunan

Potret positif dan negatif di atas menuntut kebijakan politik yang pro-perempuan dalam semua sektor. Afirmasi politik perempuan menjadi keniscayaan. Pitkin (1967) menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis sehingga penting dilakukan tindakan afirmatif.

Perempuan mempunyai pengalaman yang berbeda dari laki-laki (biologis maupun sosial) yang diwakili (experience argument). Perempuan dan laki-laki mempunyai pertentangan kepentingan sehingga laki-laki tidak dapat mewakili perempuan (interest group argument).

Politik afirmasi telah dianut melalui syarat 30 persen kepengurusan partai politik dan calon legislatif. Hanya pelaksanaannya masih setengah hati dan formalitas belaka. Strategi keseriusan mendorong perempuan tampin di depan masih minim.

Di bidang ekonomi, perempuan juga layak menempati pos-pos pucuk manajerial. Contoh paling barunya manajemen Air Asia yang berani mengangkat aktris Raline Shah sebagai komisaris independen. Raline dianggap sebagai figur tepat dan mewakili perempuan milenial.

Pendidikan perempuan penting menjadi prioritas perhatian. Perempuan memiliki hak berpendidikan setara laki-laki. Sekolah khusus perempuan bahkan diperlukan karena kekhasan kondisi dan peran tuntutan perempuan.

Faktor internal perempuan juga mesti dibangkitkan motivasinya untuk maju berkarya dan berkontribusi. Panggung telah dibuka dan saatnya perempuan berani tampil dan berekspresi. Even-even positif penting diperbanyak guna memberi banyak ruang bagi perempuan bersosialisasi dan berdinamisasi.

Peran perempuan mesti berada pada jalur proporsional dan profesional. Keseimbangan peran penting dilakukan dengan kemampuan manajerial yang andal. Arus globalisasi menuntut perempuan tidak ketinggalan perkembangan dan ikut menyongsong kemajuan.

Di sisi lain, tuntunan budaya dan agama terkait fungsi kodrati perempuan yang suci mesti tetap dijaga. Perempuan merupakan ibu dan manajer rumah tangga. Tidak berlebihan jika ia menjadi tiang utama penopang eksistensi negara.

Era digital telah membuka interaksi dunia dengan minim interaksi fisik. Sistem online dapat memanjakan sekaligus peluang bagi usaha perempuan. Semua dapat dilakukan sambil menjalankan tugas-tugas keperempuanannya. Bangsa ini menaruh asa besar bagi perempuan milenial Indonesia untuk maju dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Potret era Kartini hingga Najwa dan Raline dapat dijadikan spirit bagi perempuan Indonesia dalam menggapai asa tersebut.

Baca juga:

Mata Najwa, Mata Novel, dan Mata Kita, Bukan Mata Dewa

Quraish Shihab, Sunni-Syiah, dan Umat yang Terbelah

Politik Kita di Tengah “Tsamaraisasi Milenial”

Ribut Lupiyanto
Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration); Penggemar Sepakbola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.