in

Setajam Mata Najwa

Publik sering mendapat kejutan dari lontaran-lontaran pertanyaan tajam Najwa Shihab. Ekspresi tatapannya selalu membuat keki bagi narasumber dan sulit ditebak arah peluru-peluru pertanyaaan investigatifnya. Begitulah konsistensi penampilan putri Prof Quraish Shihab itu setiap membawakan acara “Mata Najwa”.

Namun kali ini, Najwa benar-benar mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan. Melalui akun twitter pribadinya tadi malam, dia menguumumkan bahwa acara “Mata Najwa” akan segera mencapai pengujung. Episode kontroversial “Eksklusif Bersama Novel Baswedan” dinyatakan Najwa menjadi episode live terakhir Mata Najwa. Dia juga hendak pamit undur dari Metro TV.

“Mata Najwa” telah mengudara selama 511 episode sejak penayangan perdananya pada 25 November 2009 bertajuk “Dunia Kotak Ajaib”. Sedangkan Najwa Shihab telah menjadi reporter selama 17 tahun. Teka teki di balik kejadian ini langsung menjadi rumor liar dengan banyak spekulasi.

Ada yang memprediksi karena tekanan politik. Ada yang mengira karena Najwa ingin sekadar break. Ada juga yang menanggapi dingin dengan asumsi ini hanya bagian dramatisasi industri media dan nanti hanya akan ganti format atau ganti acara. Sebagian besar tetap masih penasaran dan sulit memprediksi alasan sesungguhnya.

Lepas dari pro dan kontra atas pilihan dan pendapatnya, Najwa menjadi fenomena perempuan Indonesia. Putri dari pakar tafsir Quraish Shihab ini selalu sukses menyihir ratusan hingga ribuan penonton dan jutaan pasang mata. Bukan semata kecantikan modalnya, namun kecerdasan dan kepercayaan dirinya.

Semua ini penting menjadi pembelajaran dan rujukan keteladanan bagi perempuan Indonesia, khususnya generasi milenial. Generasi perempuan milenial menjadi harapan bangsa dalam menguatkan tiang negara sekaligus menunjukkan daya saingnya di kancah global.

Potret Perempuan

Perempuan memiliki eksistensi dan nilai strategis dalam kehidupan. Agama memberikan keistimewaan kepadanya untuk dihargai. Negara juga menyandarkan tiangnya kepada perempuan. Sayangnya, budaya patriarki selama ini menempatkan perempuan dalam posisi sub-ordinan atau “tiyang wingking” dibandingkan kaum laki-laki.

Baca Juga :   Kebebasan Berekspresi, Potret Kemalasan Berpikir?

Secara kuantitas, perempuan hampir seimbang dengan laki-laki. Kementerian Dalam Negeri RI (2012) melaporkan bahwa 49,13% penduduk Indonesia adalah perempuan. Hampir semua profesi yang dimiliki laki-laki juga mampu diraih perempuan. Misalnya kepala negara, kepala daerah, anggota legislatif, pejabat eksekutif, pejabat yudikatif, menteri, wirausahawan, pilot, tentara, polisi, dan lainnya.

Kaum perempuan merupakan jumlah yang terbesar dalam proses produksi. Perempuan perdesaan mayoritas bekerja sebagai buruh tani dan buruh kebun (69,32%). Mayoritas buruh pada industri perkotaan juga kaum perempuan. Ironisnya, laki-laki memperoleh upah sekitar 40% lebih tinggi dibanding perempuan.

Potret buram memang masih menghantui kehidupan perempuan di negeri ini. Perempuan menjadi kelompok rentan terhadap kekerasan.

Komnas Perempuan (2017) melaporkan jumlah kekerasan terhadap perempuan sebanyak 259.150 kasus pada 2016. Sebanyak 245.548 kasus diperoleh dari 358 Pengadilan Agama dan 13.602 kasus yang ditangani oleh 233 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 Provinsi. K

ekerasan personal tertinggi terjadi melalui kekerasan fisik 42 persen, kekerasan seksual 34 persen, kekerasan psikis 14 persen. Sisanya, terjadi kekerasan ekonomi. Angka ini akan semakin tinggi jika mengikuti pendapat Ayu Utami (2013) bahwa kekerasan seksual tidak hanya dimaknai sempit secara fisikal namun hingga emosional dan psikilogis.

Faktor kunci yang mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia adalah pendidikan. Di sektor ini kondisi perempuan masih terpuruk. Sebanyak 27% perempuan tidak tamat SD, 28 % tamat SD, 18% tamat SLTP, 22% tamat SMU/SMK, dan hanya 5% tamat Perguruan Tinggi di perkotaan. Selanjutnya di desa 48% perempuan tidak tamat SD, 34% tamat SD, 11% tamat SLTP, 6% tamat SMU/SMK, dan hanya 1% tamat Perguruan Tinggi.

Alhasil, perempuan masih banyak beraktivitas di sektor informal dengan kualifikasi rendah. Misalnya tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri yang mayoritas adalah pembantu rumah tangga.

Baca Juga :   RRI yang Makin Sayup Terdengar

Tuntutan dan Tuntunan

Potret positif dan negatif di atas menuntut kebijakan politik yang pro-perempuan dalam semua sektor. Afirmasi politik perempuan menjadi keniscayaan. Pitkin (1967) menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis sehingga penting dilakukan tindakan afirmatif.

Perempuan mempunyai pengalaman yang berbeda dari laki-laki (biologis maupun sosial) yang diwakili (experience argument). Perempuan dan laki-laki mempunyai pertentangan kepentingan sehingga laki-laki tidak dapat mewakili perempuan (interest group argument).

Politik afirmasi telah dianut melalui syarat 30 persen kepengurusan partai politik dan calon legislatif. Hanya pelaksanaannya masih setengah hati dan formalitas belaka. Strategi keseriusan mendorong perempuan tampin di depan masih minim.

Di bidang ekonomi, perempuan juga layak menempati pos-pos pucuk manajerial. Contoh paling barunya manajemen Air Asia yang berani mengangkat aktris Raline Shah sebagai komisaris independen. Raline dianggap sebagai figur tepat dan mewakili perempuan milenial.

Pendidikan perempuan penting menjadi prioritas perhatian. Perempuan memiliki hak berpendidikan setara laki-laki. Sekolah khusus perempuan bahkan diperlukan karena kekhasan kondisi dan peran tuntutan perempuan.

Faktor internal perempuan juga mesti dibangkitkan motivasinya untuk maju berkarya dan berkontribusi. Panggung telah dibuka dan saatnya perempuan berani tampil dan berekspresi. Even-even positif penting diperbanyak guna memberi banyak ruang bagi perempuan bersosialisasi dan berdinamisasi.

Peran perempuan mesti berada pada jalur proporsional dan profesional. Keseimbangan peran penting dilakukan dengan kemampuan manajerial yang andal. Arus globalisasi menuntut perempuan tidak ketinggalan perkembangan dan ikut menyongsong kemajuan.

Di sisi lain, tuntunan budaya dan agama terkait fungsi kodrati perempuan yang suci mesti tetap dijaga. Perempuan merupakan ibu dan manajer rumah tangga. Tidak berlebihan jika ia menjadi tiang utama penopang eksistensi negara.

Baca Juga :   Perceraian Brangelina dan Dunia Simulakra

Era digital telah membuka interaksi dunia dengan minim interaksi fisik. Sistem online dapat memanjakan sekaligus peluang bagi usaha perempuan. Semua dapat dilakukan sambil menjalankan tugas-tugas keperempuanannya. Bangsa ini menaruh asa besar bagi perempuan milenial Indonesia untuk maju dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Potret era Kartini hingga Najwa dan Raline dapat dijadikan spirit bagi perempuan Indonesia dalam menggapai asa tersebut.

Baca juga:

Mata Najwa, Mata Novel, dan Mata Kita, Bukan Mata Dewa

Quraish Shihab, Sunni-Syiah, dan Umat yang Terbelah

Politik Kita di Tengah “Tsamaraisasi Milenial”

Written by Ribut Lupiyanto

Ribut Lupiyanto

Deputi Direktur C-PubliCA (Center for Public Capacity Acceleration);
Penggemar Sepakbola

Leave a Reply

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR